Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTRUKTURISASI
Korporasi Benua dan Gestur di Balik Meja Direksi
Tiga tahun telah berlalu sejak hari di mana Kanselir Agung Valerand meninggalkan gerbang Kastil Werner sembari menangis histeris karena selisih satu keping koin emas.
Waktu tiga tahun tersebut telah mengubah peta geopolitik Benua Pusat secara drastis melalui jalur yang tidak pernah diduga oleh ahli strategi militer mana pun: jalur ekspansi korporasi berskala makro. Di bawah kendali manajemen birokrasi Elena, wilayah utara Werner bukan lagi sekadar wilayah adipati yang dingin, melainkan telah bertransformasi menjadi 'Werner Holding Group'—sebuah konglomerat industri fantasi raksasa yang menguasai delapan puluh persen jalur pasokan garam, manufaktur zirah baja, dan jaringan waralaba 'Sasana Tinju dan Terapi Kebugaran Garam Solaria' di seluruh penjuru benua.
TAP. TAP. TAP.
Ketukan ujung sepatu bot besi yang sangat teratur dan kaku menggema di koridor lantai tertinggi Menara Direksi yang baru selesai dibangun. Elena melangkah dengan postur tegap yang dipenuhi oleh aura kedisiplinan kerja tingkat dewa.
Zirah besi pengawalnya kini telah di-upgrade menggunakan paduan logam meteorit perak gelap dari Fasilitas Riset Kuno Solaria, lengkap dengan emblem logo korporasi Werner berbentuk kapak dan pena bulu ayam yang terukir rapi di pundak kiri. Kacamata bacanya bertengger kokoh, dan di bawah ketiak kirinya, map kulit merah tua yang legendaris kini telah digantikan oleh sebuah draf folder mekanis bertenaga kristal mana otomatis.
Elena melirik jam saku peraknya. Pukul delapan pagi tepat. Hari Senin.
"Indeks pertumbuhan ekonomi internal kuartal ini: naik dua ratus persen," gumam Elena pelan, sepasang mata bulatnya yang biasa tampak mengantuk memindai barisan angka proyeksi maya yang mengambang di atas draf foldernya. "Sistem tiga warna pada SOP direksi berjalan dengan efisiensi optimal. Selama Bos tidak menyentuh dokumen anggaran, risiko kebangkrutan berada di angka profesi nol persen."
Elena melangkah masuk ke dalam ruang kerja utama tanpa mengetuk pintu—sebuah hak istimewa yang hanya dimiliki oleh dirinya sebagai Chief Operating Officer (COO) de facto dari seluruh wilayah utara. Namun, begitu ia melangkah melewati ambang pintu, langkah kakinya mendadak terhenti sedikit.
Di balik meja kerja besar berbahan kristal hitam yang baru, Duke Killian Werner—yang kini secara resmi menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Werner Holding Group—sedang duduk menyandarkan tubuh raksasanya. Jubah bulu serigala hitamnya berkibar pelan ditiup angin pagi dari jendela yang terbuka. Namun, pandangan mata merah darah sang Tiran Utara tidak tertuju pada tumpukan dokumen perkamen, melainkan langsung terkunci pada sosok Elena dengan binar mata yang jauh lebih hangat dan intens dibandingkan tiga tahun lalu.
Sebelum Elena sempat mengucapkan salam formalnya, Killian sudah bangkit berdiri. Tubuh raksasanya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa halus, melangkah mendekati meja kecil di sudut ruangan tempat sebuah teko perak mengepulkan uap harum.
"Kamu terlambat tiga puluh detik dari jadwal biasanya, Elena," ucap Killian dengan suara baritonnya yang berat, namun ada nada kelembutan yang sangat kental yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Ia menuangkan cairan teh melati hangat ke dalam sebuah cangkir porselen putih yang baru, lalu berjalan mendekati Elena dan menyodorkannya langsung ke depan tangan gadis itu.
"Ini teh jahe melati dengan campuran madu hutan perbatasan. Aku menyuruh Hans menyiapkannya sejak jam tujuh pagi. Sesuai dengan spesifikasi suhu optimal yang sering kamu keluhkan," lanjut Killian, matanya menatap leher Elena tempat kalung safir api biru bersemayam dengan aman.
Elena menatap cangkir teh di tangan bos tiran tersebut, lalu beralih menatap wajah tampan Killian yang kini berjarak cukup dekat dengannya. Selama tiga tahun ini, hubungan mereka perlahan-lahan bergeser dari sekadar relasi bos-karyawan kaku menjadi sesuatu yang jauh lebih terikat secara emosional. Killian tidak lagi melihat Elena hanya sebagai "alat birokrasi yang berguna", melainkan sebagai satu-satunya wanita yang memegang kendali atas hidup dan hatinya. Sebaliknya, kebarbaran Elena yang kaku kini mulai melunak dalam bentuk perhatian taktis yang elegan terhadap keselamatan sang Duke.
Elena menerima cangkir teh tersebut, membiarkan ujung jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit bersentuhan dengan telapak tangan besar Killian selama beberapa detik—sebuah gestur mikro yang membuat sudut bibir sang Tiran Utara sedikit terangkat puas.
"Tindakan Anda menyiapkan teh untuk staf bawahan dapat dikategorikan sebagai bentuk Executive Care yang sangat baik untuk meningkatkan loyalitas jangka panjang, Bos," ucap Elena pelan, menyesap tehnya dengan anggun tanpa merusak postur tegapnya. "Terima kasih atas investasinya."
"Aku tidak sedang berinvestasi pada staf, Elena. Aku sedang merawat satu-satunya aset paling berharga yang membuat kastil ini tetap berdiri," sahut Killian dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan berbahaya di telinga Elena.
Namun, momen kehangatan mikro tersebut mendadak terputus ketika Killian melangkah kembali ke mejanya dan menjatuhkan sebuah objek logam berbentuk balok hitam legam yang memancarkan energi mengerikan.
DEBUM!
Aura kemarahan mana hitam pembunuh dewa milik Killian mendadak meledak tipis, membuat suhu di dalam ruang kerja instan turun drastis. "Benda ini mendadak muncul di tengah-tengah lapangan Tambang Garam Timur Laut satu jam lalu. Benda ini memblokir seluruh aliran mana penambang kita dan merusak rantai produksi."
Elena meletakkan cangkir tehnya dengan sangat anggun ke atas meja, lalu melangkah mendekati balok hitam tersebut. Sepasang mata bulatnya menajam di balik kacamata bacanya. Ketenangan energinya memancar secara elegan, menekan balik aura hitam Killian agar tidak merusak perabotan baru ruangan.
"Ini bukan sihir dari Kekaisaran Selatan, Bos," ucap Elena dingin, jemarinya mengetuk permukaan balok hitam tersebut, memicu proyeksi layar maya berwarna emas murni yang menampilkan sebuah draf surat keputusan resmi berskala multidimensional.
Di bagian atas proyeksi, tertulis judul dengan huruf cetak tebal yang sangat kaku:
[SURAT KEPUTUSAN PENUNJUKAN KEPALA CABANG BARU DAN NOTIFIKASI AKUISISI PAKSA - NOMOR: 99/SK-DIR/VIII/2026]
Elena membaca baris demi baris teks tersebut dengan artikulasi yang sangat datar namun sarat akan ketajaman analis yang kejam:
"Kepada Manajemen Lokal Werner Holding Group (Anak Perusahaan Sektor Logistik Fantasi Nomor 404).
Menindaklanjuti kegagalan resolusi sengketa hukum dan penahanan ilegal terhadap Direktur Kategori Empat tiga tahun lalu, Dewan Komisaris Direktorat Utama secara resmi telah menolak draf gugatan 'Class Action' yang Anda ajukan.
Melalui surat keputusan ini, Kantor Pusat menetapkan bahwa status independensi ekonomi Werner Holding Group dinyatakan DIBEKUKAN. Mulai hari ini, seluruh operasional tambang, waralaba sasana, dan kas sembilan juta koin emas Anda secara sah dialihkan di bawah kendali Kepala Cabang Baru yang dikirim langsung dari dimensi pusat: Inkuisitor Agung Kategori Satu, Lord Malakar Prime.
Subjek akan tiba di gerbang utama Kastil Werner pada pukul delapan sore lewat tiga puluh menit pagi ini untuk melakukan proses serah terima jabatan secara paksa."
"Malakor Prime...?" Kapten Vance yang baru saja melangkah masuk membawa laporan logistik mingguan seketika memucat setengah mati. "Nona Elena... apakah itu berarti entitas gagak hitam yang Anda hancurkan di kota bawah tiga tahun lalu telah diproduksi ulang oleh perusahaan pusat dalam versi yang lebih kuat?"
"Tepat sekali, Kapten Vance. Ini adalah strategi Corporate Restructuring yang menggunakan metode intervensi fisik bersenjata berat," Elena menjelaskan dengan wajah tanpa dosa, melipat folder mekanisnya dengan satu hentakan tangan yang anggun namun bertenaga. "Mereka mengirim versi 'Prime' karena mereka tahu sistem keamanan tiga warna kita tidak bisa ditembus oleh agen tingkat rendah."
Killian Werner mengepalkan tinjunya dengan sangat erat hingga urat-urat di lengannya menonjol mengerikan, memancarkan kobaran api mana hitamnya yang siap menghancurkan dunia. "Aku tidak peduli apakah dia versi Prime atau dewa sekalipun, Elena! Jika bajingan dari dimensi pusat itu berani menginjakkan kaki di tanahku untuk mengambil hasil kerja keras kita... aku akan membelah kapal dimensinya menjadi abu! Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wilayahmu!"
Elena melangkah maju, berdiri tepat di hadapan tubuh raksasa Killian. Ia mengangkat tangan kanannya, meletakkannya tepat di atas pelindung dada zirah hitam Killian—sebuah gestur fisik yang berani yang langsung meredam kobaran api mana hitam sang Duke dalam sekejap karena kepadatan energi Solaria-nya yang menenangkan.
"Bos, kendalikan emosi militer Anda," ucap Elena, menatap langsung ke dalam mata merah darah Killian dengan tatapan barbar yang luar biasa elegan dan mutlak. "Menghancurkan mereka dengan kekerasan frontal hanya akan memberikan mereka alasan hukum untuk mengirim armada pembersih yang lebih besar. Kita tidak sedang menghadapi ksatria bodoh dari selatan; kita sedang menghadapi entitas hukum korporasi kosmik."
Elena menarik kembali tangannya, lalu membalik halaman draf foldernya dengan senyuman formal yang sangat tipis namun mematikan.
"Mereka mengirim Kepala Cabang Baru dengan draf surat keputusan akuisisi paksa. Namun, mereka lupa bahwa berdasarkan undang-undang hukum komparatif korporasi pasal satu, seorang Kepala Cabang yang baru ditunjuk wajib melampirkan 'Surat Izin Operasional Lintas Dimensi yang Terlegalisasi' dari wilayah setempat sebelum ia bisa mengklaim hak kepemilikan aset."
Elena menatap Killian dengan kilatan mata safir biru yang samar dari balik kacamata bacanya.
"Lord Malakar Prime akan tiba dalam waktu tiga puluh menit. Kita tidak akan menyambutnya dengan denda uang receh atau kertas tagihan denda parkir yang monoton, Bos. Kali ini, kita akan menggunakan 'Protokol Boikot Administrasi dan Pembekuan Hak Akses Wilayah'. Saya telah mengunci seluruh gerbang spasial perbatasan menggunakan kode genetik Solaria dari fasilitas riset kuno kita. Jika dia tidak bisa menunjukkan surat izin operasional yang sah dari meja kerja saya... seluruh pasukan mecha-sihirnya akan terisolasi di luar barier utara tanpa pasokan energi, membiarkan mereka mati membeku secara legal di bawah badai utara."
Killian Werner menatap asisten pribadinya dengan rasa kagum yang begitu mendalam hingga dadanya bergemuruh. Elena tidak lagi sekadar menagih denda uang untuk melucu; ia telah berevolusi menjadi seorang arsitek perang birokrasi tingkat tinggi yang elegan, menggunakan struktur hukum dimensi musuh untuk memotong urat nadi pergerakan mereka bahkan sebelum pertempuran dimulai.
Killian mengulurkan tangan besinya, menepuk pelan pundak zirah perak gelap Elena sembari mencondongkan wajahnya mendekat. "Strategi yang luar biasa bersih, Elena. Jalankan protokolmu. Dan jika ada satu pun dari tikus dimensi itu yang berani membuatmu lelah di gerbang depan... katakan padaku, agar aku bisa memotong mereka di luar jam operasional kantormu."
"Kerja sama taktis diterima, Bos," jawab Elena, membetulkan letak kacamata bacanya sembari melangkah menuju pintu keluar dengan anggun. "Mari menuju gerbang depan. Perang industri jilid dua antara Werner Holding Group melawan Direktorat Lintas Dimensi... resmi dimulai dalam waktu lima belas menit dari sekarang."