NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Koridor utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis pagi itu dipenuhi oleh hiruk-pikuk khas awal semester baru.

Suara tawa yang berbaur dengan derap langkah sepatu di atas lantai granit menggaung di sepanjang lorong yang megah. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui deretan jendela kaca setinggi langit-langit, memantulkan kilau keemasan pada pilar-pilar beton yang kokoh.

Di tengah keramaian itu, Arkan Oliver berjalan dengan langkah lebar yang konstan.

Pria itu mengenakan kemeja flanel bergaris gelap yang dibiarkan terbuka, mengekspos kaus putih polos di dalamnya yang melekat pas pada dada bidangnya.

Sebuah tas ransel kulit premium tersampir santai di bahu kanannya. Dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana jins gelap, Arkan memancarkan karisma yang begitu kuat, seperti seorang aktor utama yang baru saja keluar dari layar drama televisi.

"Eh, lihat... itu Kak Arkan, kan?"

"Ganteng banget, ya ampun... denger-denger semester ini dia udah mulai magang jadi direktur di perusahaan papanya."

"Dingin banget mukanya, tapi justru itu yang bikin pengin dideketin!"

Bisik-bisik kagum dari para mahasiswi junior terdengar saling menyusul di sepanjang koridor yang ia lewati. Arkan sama sekali tidak menoleh. Tatapan matanya lurus ke depan, dingin, datar, dan tak acuh.

Bagi seorang pewaris tunggal Oliver Group, perhatian publik seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari. Ia sudah terbiasa membangun dinding pembatas tak kasat mata yang membuat siapa pun enggan melangkah terlalu dekat.

Namun, fokus dingin di mata Arkan mendadak buyar saat ia mendekati area persimpangan koridor menuju gedung perpustakaan.

Dari arah berlawanan, sesosok wanita berjalan dengan langkah yang lambat dan penuh keraguan. Wanita itu mengenakan gamis longgar berwarna hijau zaitun yang anggun, dipadukan dengan khimar lebar berwarna hitam senada dengan cadar sifon yang menutupi separuh wajahnya.

Itu Hilmira.

Hilmira berjalan dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. Kedua tangannya memeluk erat tiga buku literatur tebal di depan dada, seolah buku-buku itu adalah satu-satunya perisai pelindung yang ia miliki dari dunia luar yang asing.

Langkah kakinya tampak kaku, sesekali ia sedikit bergeser ke tepi dinding koridor ketika ada rombongan mahasiswa yang berjalan berlawanan arah sambil tertawa keras.

Di tengah lautan manusia yang berpakaian modis dan saling bercengkerama, Hilmira tampak seperti sebuah anomali. Ia begitu sunyi, sendirian, dan terasing.

Aura rapuh yang memancar dari tubuh mungilnya membuat siapa pun bisa melihat bahwa wanita bercadar itu sedang berjuang keras mengendalikan kecemasannya di tempat umum.

DEG.

Jantung Arkan berdetak dengan ritme yang salah. Langkah kakinya yang semula mantap mendadak melambat secara drastis.

Dari jarak kurang dari sepuluh meter, ia mengunci pandangannya pada Hilmira. Hati Arkan berdesir aneh, sebuah rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya saat melihat bagaimana istrinya harus berjalan menyusuri koridor kampus dengan cara seperti itu. Begitu terisolasi, seolah-olah ia tidak memiliki siapa pun untuk bersandar di dunia ini.

"Kenapa dia harus menunduk serendah itu?" batin Arkan, rahangnya tanpa sadar mengatup rapat.

Ada letupan emosi asing yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya, campuran antara rasa bersalah yang belum tuntas, dan insting protektif pria yang mendadak bangkit menuntut haknya.

Sebagai seorang Oliver, ia terbiasa memiliki kendali penuh atas segalanya. Namun sekarang, melihat Hilmira yang berada di area kekuasaannya sendiri namun harus berpura-pura asing dan berjalan ketakutan, membuat ego Arkan terusik hebat.

Ia ingin sekali melangkah maju, merebut buku-buku berat dari pelukan Hilmira, lalu menggenggam tangan mungil itu di depan semua orang untuk menunjukkan bahwa wanita itu berada di bawah perlindungannya.

Namun, kata-kata dalam kontrak rahasia yang ia susun sendiri kembali terngiang di kepalanya seperti alarm yang berisik.

"Aturan pertama - Garis Pembatas Kampus. Di area akademis, kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Kau dilarang keras menegurku..."

Arkan menarik napas dalam-dalam, menahan kakinya agar tidak melangkah menyimpang dari jalurnya. Ia memaksakan wajahnya kembali sedingin es, meskipun matanya sama sekali tidak bisa beralih dari sosok Hilmira yang kian mendekat.

Jarak mereka kini terpangkas menjadi lima meter... tiga meter... hingga akhirnya mereka berjalan berpapasan tepat di tengah koridor yang ramai.

Saat bahu mereka hampir bersentuhan, Hilmira sedikit mengangkat pandangannya. Melalui celah sempit di antara kerumunan, sepasang mata bulatnya yang indah dan jernih bertabrakan langsung dengan netra elang Arkan yang tajam dan intens.

Detik itu, waktu di sekitar mereka seolah melambat secara dramatis.

Arkan menatap lurus ke dalam mata Hilmira. Tatapannya begitu pekat, sarat akan pesan tersembunyi yang tak mampu ia suarakan, sebuah tatapan yang menuntut Hilmira untuk menyadari keberadaannya, untuk tahu bahwa ia ada di sana memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Namun, Hilmira justru memberikan reaksi yang berbeda. Begitu menyadari mata tajam Arkan sedang menguncinya, kilat kepanikan dan kecanggungan langsung melintas di netra bulat wanita itu.

Sesuai dengan isi kontrak mereka, Hilmira dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke lantai marmer. Ia mempercepat langkah kakinya, melintas melewati Arkan begitu saja tanpa memberikan sapaan, anggukan, atau tanda pengenalan apa pun.

Aroma lembut minyak zaitun dan bedak bayi yang khas dari tubuh Hilmira sempat tertinggal di udara, menyapu indra penciuman Arkan saat wanita itu melewatinya.

Arkan menghentikan langkahnya sepenuhnya. Ia berbalik, menatap punggung mungil Hilmira yang kian menjauh di ujung koridor, perlahan menghilang di antara kerumunan mahasiswa fakultas lain.

"Arkan? Hei, bro! Bengong aja lu di tengah jalan," sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Arkan. Itu teman satu jurusannya, yang kini menatapnya dengan dahi berkerut heran.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia mengepalkan tangan kirinya yang berada di dalam saku celana, merasakan denyut kecemburuan dan ketidakberdayaan kecil yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.

Statusnya boleh saja sebagai suami sah di mata hukum dan keluarga besar mereka, namun di koridor kampus ini, ia dipaksa menerima kenyataan bahwa ia hanyalah orang asing yang tak boleh menyentuh wanitanya sendiri.

"Bukan apa-apa," jawab Arkan dengan suara baritonnya yang kembali dingin dan datar.

Ia kembali membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, namun pikirannya telah tertinggal sepenuhnya pada sosok bercadar yang berjalan sendirian di ujung koridor sana.

Sandiwara satu semester ini baru saja dimulai, tetapi Arkan sudah menyadari bahwa menahan diri untuk tetap menjadi orang asing bagi Hilmira adalah siksaan paling nyata yang harus ia jalani setiap harinya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!