Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Monitor pasien berbunyi semakin cepat. Hana yang tadi paling ribut justru berdiri kaku di samping pintu, matanya membesar melihat garis detak jantung yang tiba-tiba stabil. Beberapa detik kemudian, kelopak mata ayah Yulia bergerak pelan.
"Ayah?" suara Yulia bergetar.
Pria tua di ranjang itu membuka mata. Pandangannya masih kosong dan lemah, tapi ia benar-benar sadar. Bibirnya bergerak seperti ingin bicara, hanya tidak ada suara yang keluar.
Yulia langsung menangis. Ia menggenggam tangan ayahnya dan memanggilnya berkali-kali, seolah takut jika berhenti memanggil, pria itu akan kembali tertidur panjang.
Dokter jaga dan beberapa satpam masuk hampir bersamaan. Mereka semula datang untuk menghentikan tindakan ilegal, tetapi begitu melihat pasien yang selama ini dianggap hampir mustahil sadar kini membuka mata, semua orang di ruangan itu ikut terdiam.
"Panggil dokter saraf. Cepat!" perintah dokter jaga setelah tersadar.
Ayah Yulia segera dibawa untuk pemeriksaan lanjutan. CT scan, MRI, dan pemeriksaan saraf dilakukan berturut-turut. Hasilnya membuat dokter-dokter yang bertugas malam itu saling menatap bingung. Bekas tekanan pada saraf yang selama ini menjadi masalah utama berkurang drastis. Fungsi otaknya belum pulih sempurna, tapi sudah jauh lebih baik dari perkiraan mana pun.
Yulia memegang laporan pemeriksaan dengan tangan gemetar. Ia menoleh pada Arka yang berdiri di ujung koridor.
"Arka, ini..."
"Ayahmu masih perlu pemulihan," potong Arka sebelum Yulia terlalu larut. "Jangan terlalu banyak diajak bicara dulu. Pastikan dokter memantau kondisinya."
Yulia mengangguk berkali-kali. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena putus asa. "Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa."
"Tidak perlu dibalas sekarang."
Arka melirik ke arah Hana yang berdiri agak jauh. Wajah wanita itu sulit dijelaskan. Marah, bingung, penasaran, dan tidak rela bercampur jadi satu. Mungkin baru sekarang Hana sadar bahwa mantan suami yang selama ini ia anggap sampah ternyata menyimpan sesuatu yang tidak ia ketahui.
Arka tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Setelah bertukar nomor dengan Yulia, ia turun ke parkiran. Baru saja ia membuka pintu Porsche, pintu sisi penumpang tiba-tiba ditarik dari luar.
Hana masuk begitu saja.
"Kita perlu bicara."
Arka menatapnya tanpa ekspresi. "Turun."
Hana tidak bergerak. Ia menatap interior Porsche, lalu menatap Arka dari atas sampai bawah. "Mobil ini milik siapa? Sejak kapan kamu bisa mengobati pasien seperti itu? Arka, kita bersama lima tahun. Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Karena kamu terlalu sibuk mencampur obat ke kopiku."
Wajah Hana berubah, tapi ia cepat-cepat melembutkan suara. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar salah. Tapi kita bisa mulai lagi. Aku sudah memutuskan hubungan dengan Bima."
Arka hampir tertawa. "Secepat itu?"
Hana menggeser tubuh lebih dekat. Parfumnya masih sama seperti dulu, aroma manis yang pernah membuat Arka merasa pulang. Sekarang aroma itu hanya membuatnya ingat pada kopi beracun yang ia minum bertahun-tahun.
"Kamu masih mencintaiku, kan?" Hana menyentuh lengan Arka. "Kita sudah melewati banyak hal. Aku hanya tersesat. Beri aku kesempatan. Aku bisa jadi istri yang lebih baik."
Arka menatap tangan Hana di lengannya, lalu menatap wajah wanita itu. Jika ini terjadi kemarin, mungkin ia masih akan goyah. Hana adalah cinta pertamanya, wanita yang pernah ia bela mati-matian. Tapi setelah semua pesan itu, setelah melihat bagaimana Hana dengan santai menunggu dirinya hancur, rasa kasihan yang tersisa pun terasa menjijikkan.
"Kesempatan?" Arka membuka pintu mobil, turun, lalu berjalan ke sisi penumpang.
Hana mengira Arka mulai luluh. Ia bahkan sedikit tersenyum dan menyilangkan kaki, sengaja membuat rok seragam perawatnya tertarik lebih tinggi.
"Aku tahu kamu masih menginginkanku."
Arka membuka pintu sisi penumpang, mencengkeram pergelangan tangan Hana, lalu menariknya keluar tanpa memberi kesempatan berakting lebih lama. Hana terkejut dan hampir jatuh di aspal parkiran.
"Arka!"
Arka melempar tas kecil Hana ke arahnya. "Kesempatanmu cuma satu. Datang saat proses cerai dilanjutkan, tanda tangan baik-baik, lalu hilang dari hidupku."
Hana menatapnya dengan wajah merah karena malu dan marah. Beberapa orang di parkiran mulai melihat ke arah mereka.
"Kamu akan menyesal!"
"Aku sudah menyesal lima tahun."
Arka masuk ke mobil dan menutup pintu. Hana masih berdiri di luar sambil menggenggam tasnya erat-erat. Saat Porsche keluar dari parkiran, ia berteriak memaki, tapi Arka tidak menoleh.
Ia pulang menjelang pagi dan tidak tidur. Tubuhnya terasa panas karena beberapa kali memakai tenaga Hantala. Ia duduk bersila di lantai kontrakan, mengatur napas sampai aliran panas di dadanya perlahan mereda. Saat membuka mata lagi, matahari sudah tinggi.
Ponselnya penuh pesan dari Yulia.
Yulia mengabarkan bahwa kondisi ayahnya stabil. Dokter masih bingung, beberapa kepala bagian bahkan menanyakan siapa Arka sebenarnya. Di pesan terakhir, Yulia menulis bahwa ia hanya menjawab Arka orang baik yang kebetulan lewat.
Arka tersenyum kecil membaca itu. Ia membalas singkat, menyuruh Yulia istirahat dan tidak memikirkan Raka dulu. Jika Raka atau Bima datang mengganggu, ia hanya perlu menelepon.
Tepat pukul dua belas siang, Porsche berhenti di depan vila Bukit Menteng.
Maya Santoso keluar tidak lama kemudian. Hari itu ia tidak memakai gaun malam, melainkan setelan rajut putih yang tampak sederhana tetapi justru membuat tubuhnya terlihat lebih mahal. Atasannya pas di badan, celananya jatuh rapi mengikuti langkahnya, dan setiap gerakannya seperti sengaja dibuat pelan agar orang punya waktu untuk memperhatikan.
Maya membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Aroma parfumnya langsung memenuhi kabin, membuat Arka teringat pada malam sebelumnya tanpa bisa dicegah.
"Tepat waktu," kata Maya sambil memasang sabuk pengaman. "Bagus."
Arka menatap lurus ke depan. "Kita langsung ke Nirwana, Bu?"
Maya tidak menjawab. Ia justru menoleh, memperhatikan wajah Arka cukup lama sampai laki-laki itu merasa tidak nyaman.
"Kamu terlihat berbeda hari ini."
"Kurang tidur."
"Bukan itu." Maya tersenyum. "Semalam kamu masih seperti anak baru yang takut ketahuan mencuri. Hari ini matamu lebih berani."
Arka menggenggam setir sedikit lebih erat. "Bu Maya mau ke mana?"
"Sebelum itu, jawab satu pertanyaan." Maya sedikit condong ke arahnya. Sabuk pengaman membuat lekuk tubuhnya semakin jelas, dan ia tahu Arka menyadarinya meski laki-laki itu berusaha menatap ke depan. "Menurutmu aku cantik?"
Arka menarik napas. "Cantik."
"Kalau begitu, apa kamu pernah berpikir ingin memiliki aku?"
Pertanyaan itu membuat kabin mobil terasa lebih sempit. Arka menoleh sekilas. Maya menatapnya dengan senyum yang tidak bisa disebut bercanda sepenuhnya.
"Bu Maya, kalau Bos Jaya dengar..."
Maya tertawa pelan. "Aku tidak tanya Jaya. Aku tanya kamu."
Arka tidak menjawab. Malam sebelumnya sudah cukup berbahaya. Ia tidak ingin masuk lebih jauh ke permainan wanita ini, tapi Maya jelas bukan tipe orang yang membiarkan buruannya kabur begitu saja.
Setelah puas melihat Arka salah tingkah, Maya menyandarkan tubuhnya lagi.
"Aku menjadikanmu sopirku bukan hanya karena kejadian semalam."
"Lalu karena apa?"
"Aku butuh kamu mendekati seseorang."
Arka mengerutkan dahi. "Mendekati?"
"Menggoda, kalau kamu ingin kata yang lebih jelas."
Arka hampir salah menginjak pedal. "Siapa?"
Maya mengambil ponsel dari tasnya dan menunjukkan sebuah foto. Di layar tampak seorang wanita berwajah dingin dengan gaun formal hitam, berdiri di depan gedung perusahaan besar. Cantiknya bersih, tajam, dan sulit didekati.
"Bianca Lestari," ucap Maya. "Pendiri sekaligus pemilik Lestari Intimates."
Arka tentu tahu nama itu. Bianca bukan hanya mantan penyanyi dan selebritas internet yang pernah memenuhi semua acara televisi. Setelah keluar dari dunia hiburan, ia membangun bisnis pakaian dalam dan produk wanita yang dalam beberapa tahun saja menjadi merek terbesar di Indonesia. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis, tapi gosip tentang kehidupan pribadinya hampir tidak pernah ada.
"Bu Maya bercanda?"
"Aku kelihatan bercanda?"
Arka menatap foto Bianca lagi, lalu menatap Maya. "Orang seperti dia mana mungkin tertarik pada sopir klub malam?"
Maya tersenyum, seolah justru menunggu jawaban itu.
"Makanya aku yang akan membuka pintunya."
Arka belum sempat membalas ketika Maya menyentuh layar ponsel dan memperbesar foto Bianca.
"Masalahnya, kalau kamu gagal, aku akan sangat kecewa."