NovelToon NovelToon
Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO

Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.

Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.

Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pisang Kepok, Kruk Patah, dan Bunga Lili yang Salah Alamat

Persaingan merebut hati Bu Maya mungkin sudah selesai secara damai, tetapi dinamika baru di desa sejuk itu mendadak jadi konsumsi gosip paling hangat warga warung kopi. Pasalnya, ada dua "korban patah hati" yang kini frekuensi ketemunya makin tidak masuk akal: Dika dan Hani.

Hani, yang sekarang tinggal di rumah sewa sederhana tak jauh dari balai desa sambil menunggu penyelesaian kasus hukum ayahnya, berniat mengubah citranya dari "anak mantan konglomerat manja" menjadi "wanita mandiri dan berbakti". Caranya? Belajar berkebun.

Masalahnya, pengetahuan Hani soal tanaman sama dengan pengetahuan Kian soal memasak telur: Nol besar.

Pagi itu, Dika sedang berjalan pincang menggunakan kruk di sekitar perkebunan pisang milik desanya. Dari kejauhan, ia melihat seorang wanita dengan topi caping rajut impor mahal (satu-satunya sisa barang mewahnya) sedang mencabut tanaman dengan sekuat tenaga sambil menggerutu.

"Aduh! Ini rumput liar kok keras banget sih?!" keluh Hani sambil menarik batang hijau dengan napas terengah-engah.

Dika menghentikan langkahnya, menahan tawa sampai bahunya bergetar. "Mbak Hani... Mbak Hani!"

Hani menoleh dengan wajah belepotan tanah di pipi mulusnya. "Apa?! Mas Dika mau mengetawakan aku lagi?"

"Bukan mau mengetawakan, Mbak..." Dika mendekat, menunjuk tanaman yang dipegang Hani. "Tapi yang Mbak cabut itu bibit pohon pisang kepok milik Pak RT. Rumput liarnya yang di sebelahnya itu."

Hani melotot kaget. "Hah?! Pohon pisang sebesar ini?! Ya ampun, aku kira ini rumput gajah!"

Sebelum Hani sempat melepaskan pohon pisang itu, batangnya yang memang sudah rapuh keburu patah. Hani kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Awas, Mbak!"

Dika yang refleks berusaha menahan tubuh Hani terpaksa melepaskan salah satu kruknya. Brak! Hani jatuh menimpa dada Dika di atas tumpukan daun pisang kering. Kruk kayu Dika beradu keras dengan batu hingga... KRAK! Patah jadi dua bagian.

Suasana mendadak hening.

Wajah Hani hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Dika. Untuk pertama kalinya, Hani tidak melihat Dika sebagai "mas-mas desa biasa". Dari jarak sedekat ini, mata cokelat Dika yang jujur, aroma minyak kayu putih khasnya, dan garis rahangnya yang tegas mendadak membuat dada Hani berdebar kencang—sesuatu yang bahkan belum pernah ia rasakan saat bersama Kian dulu.

Sementara Dika, yang biasanya tenang dan percaya diri menghadapi warga, mendadak gagap melihat mata Hani yang besar dan indah tanpa riasan tebal.

"Mbak... Mbak Hani tidak apa-apa?" tanya Dika, suaranya agak serak.

"A-aku... aku tidak apa-apa," bisik Hani gagap, pipinya mendadak merona merah padam melebihi warna cabai rawit desa. "Tapi... kruk Mas Dika patah..."

"Ah, tidak apa-apa. Kruk bisa dibeli lagi," jawab Dika mencoba santai, padahal jantungnya sudah berdegup seperti drum drumband karang taruna. "Tapi... Mbak Hani bisa berdiri dulu tidak? Mbak nindihin kaki saya yang gips."

"EH! Maaf! Maaf sekali, Mas Dika!" Hani panik, buru-buru berdiri sambil memetani bajunya yang kotor, membuat Dika makin tertawa terkekeh melihat kepanikannya yang menggemaskan.

Sore harinya, Hani merasa sangat bersalah. Ia berniat memberikan hadiah permintaan maaf pada Dika. Karena tidak punya banyak uang, Hani memutuskan memetik bunga di pekarangan rumahnya dan membawanya ke posko karang taruna tempat Dika biasa nongkrong.

Di posko, Dika sedang duduk mencoba menyambung kruknya dengan lakban hitam.

"Mas Dika..." panggil Hani malu-malu dari balik pintu posko. Ia menyembunyikan seikat bunga di belakang punggungnya.

Dika mendongak, tersenyum hangat. "Eh, Mbak Hani. Ada apa? Mau ganti rugi pohon pisang Pak RT?"

"Bukan!" Hani cemberut, lalu memajukan tangannya, menyodorkan seikat bunga berwarna kuning terang dengan wangi yang... cukup menyengat. "Ini... untuk Mas Dika. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menahanku tadi pagi."

Dika menatap bunga itu, lalu menatap Hani dengan mata membelalak. Pria lokal itu mencoba menahan senyumnya setengah mati sampai matanya berair.

"Mbak Hani... tahu tidak ini bunga apa?" tanya Dika pelan.

"Tentu saja tahu! Ini bunga marigold liar, kan? Cantik, warna kuning," jawab Hani bangga sambil menepuk dada.

"Di desa ini, Mbak... orang tua bilang, kalau wanita memberikan Bunga Kenikir kuning ini ke pria... artinya wanita itu sedang mengajak pria itu untuk..." Dika menggantung kalimatnya, menatap Hani dengan binar mata jahil.

"Mengajak apa?!" tanya Hani penasaran.

"Mengajak syukuran panen raya... atau... mengajak berobat ke dukun beranak karena bunganya biasa dipakai jamu herbal," goda Dika sambil tertawa lepas.

"MAS DIKA!" jerit Hani histeris, wajahnya merah padam karena malu. Ia hendak melempar bunga itu, tapi Dika dengan cepat menangkap pergelangan tangan Hani.

Dika mengambil sebatang bunga itu, lalu dengan lembut menyematkannya di selipan rambut Hani. Jemari Dika yang kasar menyentuh pipi Hani secara tak sengaja, membuat wanita kota itu mendadak membeku.

"Tapi buat saya..." bisik Dika lembut dengan gingsul khasnya yang menawan, "...bunga ini kelihatan jauh lebih cantik kalau dipakai Mbak Hani."

Hani menyentuh bunganya, matanya berkedip-kedip tak percaya.

Sementara itu, di balik semak-semak tak jauh dari posko, Kian dan Maya sedang mengintip aksi dua orang tersebut sambil memakan pisang goreng.

"Lihat kan, Bu Guru?" bisik Kian pada Maya. "Teori saya benar. Hani itu tidak jahat, dia cuma butuh pria yang bisa bikin dia tidak jaim. Dan Pak Dika butuh wanita yang bisa bikin hidupnya lebih banyak drama."

"Tapi Kian... apa menurutmu Hani benar-benar suka pada Dika? Atau ini cuma pelarian?" tanya Maya ragu, memiringkan kepalanya.

Kian tersenyum misterius, merangkul bahu Maya hangat. "Di novel cinta, Bu Guru... garis antara pelarian dan cinta sejati itu tipis sekali. Kita lihat saja nanti, siapa tahu di pernikahan kita nanti, mereka berdua yang melempar bunga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!