Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 26.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
"Apakah kalian sudah siap ke Bandung, Minions?!"
"Kami siap, MOMMYYY ...!"
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, keluarga kecil itu akhirnya berangkat ke Bandung sesuai dengan rencana.
Beberapa kendaraan dengan tulisan 'Regall Security' terlihat mengawal perjalanan mereka dari Jakarta sampai ke Bandung.
Di dalam mobil utama, Raka dan Triple D tampak sangat menikmati perjalanan itu. Sementara Regatta sesekali memeriksa laporan dari Xion dan Lodra di iPadnya, tentang progres renovasi Panti Asuhan tempat dia tumbuh.
Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil berwarna hitam yang mengikuti perjalanan rombongan keluarga itu ke Bandung.
Itu adalah mobil sewaan milik Nadira Wijaya, dimana dia duduk di dalamnya dengan sorot mata penuh ambisi.
Tatapannya tidak pernah lepas dari iring-iringan keluarga Adinata di depannya.
"Jadi ... kalian ingin bersenang-senang ke Bandung, ya?" gumamnya pelan.
"Harusnya aku dan anakku, yang menikmati semua fasilitas itu! Bukan ja-lang miskin itu!" lanjutnya penuh racun.
(Diiiih! Itu semua milik Regatta, Daj-jaaaaalll! Bukan Raka, wleee!🤪)
"Aku tidak akan menyerah sampai bisa mendapatkan Raka Adinata!" bisiknya penuh ambisi kepada dirinya sendiri.
"Pak, kita akan tetap di sana sampai saya berhasil bertemu dan bicara dengan Raka Adinata, oke?" ujarnya kepada sopir yang dia sewa.
"Baik, Bu!" jawab sopir sewaan itu.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Dua jam kemudian, rombongan itu akhirnya tiba di Bandung dengan selamat.
Raka dan Triple D memilih untuk langsung menuju ke Panti Asuhan Restu Bunda, dimana kedua orangtua angkat Regatta tinggal.
Sementara Regatta, dia meminta izin untuk ke lokasi pertemuan dengan para arsitek yang akan bekerja beberapa bulan ke depan, untuk melakukan renovasi.
"Mas, aku ingin bertemu dengan para arsitek di sebuah restoran dekat sini. Hanya sebentar saja ..." ujar Regatta.
"Baiklah, Sayang. Hati-hati di jalan, oke?" sahut Raka sambil menganggukkan kepalanya.
"I will, Mas. Dan Triple D ... sampai sana kalian langsung makan, ya? Jangan jajan yang aneh-aneh, nanti perutnya sakit!" peringat Regatta kepada ketiga anak sambungnya.
"Oke, Mommy! Kami hanya ingin jajan cilor sama seblak aja, kok! Ingin tahu, bagaimana rasanya ..." jawab Dewinta.
"Boleh, tapi sehabis makan siang. Jangan pakai pedas, agar perut kalian tidak protes, paham?" ujar Regatta.
"Paham, Mommy!"
"Bagus! Anak-anak pintar ... See you, Guys!" ujar Regatta sambil melambaikan tangannya, saat dia pisah mobil.
"Bye, Mommy!"
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Mobil yang dikendarai oleh Lodra itu berhenti di sebuah restoran bernuansa klasik di pusat Kota Bandung.
"Awasi sekitar, aku tidak akan lama!" perintahnya pada Lodra.
"Siap, Queen!"
Di dalam restoran itu, Regatta memilih sebuah tempat paling ujung yang nyaman, sambil memeriksa gambar rancangan yang dia buat untuk diberikan kepada arsitek itu.
Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba seseorang berdiri di depan mejanya.
"Apakah saya boleh duduk di sini?"
Merasa terganggu dengan bayangan yang menghalanginya, Regatta langsung mengangkat kepalanya perlahan.
"Anda ...? Nyonya Nadira Wijaya ternyata ..." ujar Regatta dengan nada datar.
"Kebetulan sekali, ya? Kita bertemu lagi di Kota ini ..." sahut Nadira sambil tersenyum tipis.
Klak!
Regatta menutup iPadnya perlahan, firasatnya mengatakan, wanita ini masih akan terus mengikutinya jika dia menolak.
"Silahkan duduk, Nyonya."
Nadira pun langsung duduk tanpa banyak basa-basi.
"Kota Bandung ini ternyata sangat indah dan nyaman, ya? Udaranya juga sangat sejuk, padahal hari sudah beranjak siang. Pantas mendapat gelar 'Paris Van Java' ..." ujar Nadia, membuka pembicaraan.
"Anda benar," sahut Regatta, singkat.
"Apakah ada yang ingin Anda bicarakan dengan saya, sampai Anda mengikuti perjalanan kami ke sini?" tanya Regatta, on point.
Nadira sedikit terkejut karena wanita di depannya tahu, jika dia mengikuti mereka, namun dia tidak gentar, matanya langsung menatap ke arah Regatta dengan tajam.
"Saya ingin membicarakan tentang Raka Adinata," jawab Nadira to the point.
Aura 'Queen' Mafia langsung keluar dari dalam tubuh Regatta, namun dia masih mempertahankan ekpresi wajah datarnya.
"Apa yang ingin Anda bicarakan tentang suami saya, Nyonya?" tanya Regatta.
"Saya mencintai Raka Adinata sejak lama, jauh sebelum Anda hadir di dalam kehidupannya."
"Dan sayalah wanita yang pantas untuk berdiri disampingnya, bukan Anda. Status saya lebih terhormat dari pada status Anda, yang hanya seorang ... yatim-piatu. Tidak jelas siapa orangtuanya dan statusnya apa ..." jawab Nadira panjang lebar.
Regatta masih mendengarkan ocehan wanita itu dalam diam, namun di dalam hatinya dia sudah bisa menebak, apa yang diinginkan oleh wanita di depannya ini.
Reputasi, Harta, dan Tahta Tertinggi di dalam lingkungan sosialita Ibukota.
"Saya itu lulusan terbaik luar negeri dan memahami dunia bisnis yang lebih baik daripada Anda. Saya pantas untuk Raka dan menjadi 'Ibu Sambung' untuk ketiga anaknya, bukan Anda ... hanya wanita tanpa status yang jelas," ujar Nadira dengan nada sinis.
"Haaaaah!"
Regatta menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, agar emosi di dalam dirinya tidak meledak mendadak.
"Jadi, Anda menemui saya hanya untuk memperdebatkan tentang asal-usul saya, toh? Hahahaha! Lucu sekali! Seorang Nadira Wijaya yang terhormat, bisa-bisanya mengejar pria yang bahkan tidak meliriknya sedikitpun ..." ujar Regatta sambil tertawa pelan.
"Tapi, saya sangat menghargai kejujuran Anda, saat bilang 'Mencintai' SUAMI saya sejak lama ..." lanjutnya, sambil menekan kata 'suami'.
"Jujur? Itu bukanlah kejujuran, tapi saya mengatakan kenyataannya!" sahut Nadira sambil tersenyum sinis.
"Kenyataan bahwa Anda mencintai suami orang lain? Begitukah? Rendah sekali harga diri Anda, Nyonya!" sindir Regatta dengan telak.
Nadira langsung mengepalkan tangannya dengan erat, saat mendengar kata-kata tersebut dari mulut Regatta.
"Anda mungkin berhasil menikah dengannya, namun ... bukan berarti Anda yang pantas mendampinginya!" desis Nadira dengan tatapan nyalang.
Emosi Regatta mulai naik ke ubun-ubun, membuat aura kejamnya langsung keluar begitu saja tanpa kompromi.
"Mas Raka memilih saya, karena 'takdir' yang mempertemukan kami! Semua ini adalah keputusan bersama, saat dia melamar saya untuk menjadi Ibu sambung anak-anaknya!" jawab Regatta dengan nada rendah.
Nadira menggelengkan kepalanya pelan.
"Raka hanya belum mengenal saya lebih dekat ..."
"Jika saja dulu saya lebih berani, maka posisi Anda yang sekarang itu menjadi milik saya!" ujar Nadira, penuh dengan ambisi.
"Anda salah, Nyonya. Kita tidak bisa memaksakan 'takdir', begitu pula dengan kehidupan rumah tangga manusia ..." sahut Regatta dengan nada tenang.
Melihat Regatta yang masih tenang di depannya, membuat Nadira semakin emosional.
"Anda benar-benar tidak mengerti semua ucapan saya, ya?! Anda telah merebut sebuah kehidupan yang seharusnya menjadi milik saya, Regatta Aulia!!!" hardik Nadira dengan wajah emosi.
"Anda itu siapa? Hanya wanita panti yang tidak jelas asal-usulnya! Sementara saya, saya terlahir dari keluarga terpandang yang jelas asal-usulnya! Saya yang berhak menyandang nama 'Nyonya Adinata'! Bukan Anda!" lanjutnya dengan wajah memerah karena kesal tingkat kabupaten.
Beberapa pengunjung restoran itu mulai memperhatikan meja mereka, sementara Regatta masih berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak kelepasan.
"Saya rasa, percakapan hari ini sudah cukup, Nyonya Nadira!" ujar Regatta sambil berdiri, hendak pergi dari sana.
Nadira ikut berdiri dengan wajah angkuh, merasa jika dia memenangkan perdebatan itu.
"Jika Anda benar-benar mencintai Raka, maka tinggalkan dia untuk saya! Hanya saya yang pantas dan setara bersanding dengannya!" ujar Nadira, semakin menjadi.
(Aduduuuuh! Kenapa para daj-jal wanita di dunia ini semakin tidak tahu diri, ya? Selain sombong, tidak punya otak juga! Kesel aku tuh nulis cerita tentang rumtang begini, kesel sama bagian perpe-lakor-annya!🤣🤣🤣🤣🤣)
Regatta menatap Nadira tanpa berkedip, sepertinya 'tombol' batas kesabarannya telah terpicu sekarang.
"Saya telah berusaha untuk menghormati Anda. Namun, Anda terus-terusan menghina status saya!" ujar Regatta dengan nada rendah menakutkan.
Nadira pun semakin nekat, karena dia tidak tahu status Regatta sebenarnya. Jika dia tahu, mungkin mendekat pun dia tidak berani.
"Itulah kenyataannya ... Anda memang tidak pantas! Dan suatu hari nanti ... saya akan mengambil tempat itu! Hahahahaha!" ujar Nadira sambil tertawa angkuh.
Dan~
KLIK!
Tombol batas kesabaran Regatta pun mencapai batas maksimal pertahanannya.
"Tolong hentikan penghinaan Anda terhadap saya, Nyonya Nadira! Ini adalah peringatan terakhir untuk Anda ..." desis Regatta sambil mengepalkan tangannya.
Namun Nadira semakin menjadi, dengan menunjuk-nunjuk da-da Regatta dengan jarinya.
"Bagimana jika saya tidak mau berhenti, hm?"
Regatta langsung menepis tangan Nadira dengan kencang.
Plak!
"Jangan sentuh saya!" hardik Regatta.
"Jika saya menyentuh Anda, apa yang bisa Anda lakukan?" tantang Nadira sambil mendorong bahu Regatta dengan kencang.
Refleks beladiri yang dia pelajari selama bertahun-tahun dilatih bekerja lebih cepat dari pada otaknya. Dan~
PLAK!
PLAK!
Dua tamparan keras akhirnya mendarat mulus di pipi seorang Nadira Wijaya, membuat bibirnya pecah dan mengeluarkan da-rah.
Ruangan itu langsung hening dalam sekejap, karena Nadira tidak dapat membaca refleks Regatta yang sangat cepat itu.
Matanya terbeliak sempurna sambil memegang wajahnya yang terasa panas akibat tamparan Regatta.
"K-KAMU BERANI MENAMPARKU, HAH?!" teriak Nadira, histeris.
Regatta menarik napas panjang, berusaha untuk menstabilkan emosinya.
"Masih untung saya hanya menampar Anda, Nyonya Nadira ... bagaimana jika tangan saya langsung menem-bak mati Anda di sini?" desis Regatta.
"Saya tidak akan melakukan semua itu jika Anda tidak kelewatan dalam menghina asal-usul saya! Dan puncaknya, Anda berani menyentuh saya, saat saya sedang mengatur emosi saya!" lanjutnya dengan nada dingin.
Seorang Manager dan beberapa pegawai restoran itu mulai mendekat, memastikan keadaan tetap terkendali.
Regatta langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan tenang.
"Maafkan saya atas semua keributan ini, Pak Saka ..." ujar Regatta kepada sang Manager restoran itu.
"Anda bisa melihat CCTV restoran ini, siapa yang membuat masalah duluan. Karena saya datang untuk menunggu seseorang, dan seseorang itu bukanlah wanita ini ..." lanjutnya dengan nada tenang.
"Baik, Nyonya. Saya mengerti," jawab Manager Saka.
Setelah mengatakan semua itu, Regatta kembali menatap Nadira dengan tajam.
"Mulai detik ini ... jangan pernah mengikuti keluarga kami dan menganggu suami saya, jika ingin tetap berada di dunia ini bersama putri Anda ..." ujar Regatta dengan sedikit ancaman.
"Jangan pernah melakukan hal-hal yang akan membuat Anda menyesal di kemudian hari, Nyonya Nadira. Jika Anda ingin 'menjual', maka saya dengan senang hati akan 'membelinya' ..." lanjutnya dengan nada peringatan yang absolut.
Tanpa menunggu jawaban pihak lawan, Regatta langsung mengambil tas dan iPadnya, lalu dia melangkah keluar restoran itu dengan tenang.
Nadira masih berdiri sambil memegang wajahnya yang bengkak dengan rasa malu bercampur dengan amarah yang memenuhi da-danya.
"Aku tidak akan menyerah, Regatta! Awas saja kamu!"
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Sementara itu, di salah satu sudut restoran tersebut, ada seorang anggota Regall Security yang mengikuti Regatta diam-diam.
Dia menyaksikan semua kejadian itu dari awal sampai akhir.
Tuuut ...
"Halo ..."
"Lapor, Tuan X! Queen baru saja terlibat perdebatan dengan Nadira Wijaya, dan semuanya terekam jelas di CCTV restoran," lapor orang itu kepada Xion melalui ponsel.
"Amankan rekamannya untuk bukti di kemudian hari nanti!"
"Perketat keamanan di sekitar Triple D dan Tuan Raka! Saya khawatir ... semua ini belum berakhir ..." perintah Xion dengan nada tegas.
"Siap, Tuan X! Perintah akan kami laksanakan!"
"Wanita itu sudah terobsesi dengan Tuan Raka, anak-anak pasti akan menjadi incaran wanita gila itu!"
"Baik, Tuan!"
Klik!
...🍃☀†๏ вє ¢๏и†เиµє∂☀🍃...