NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Erhan

Sejak hari itu Zehar mendapat restu dari orang tua Alesha, waktunya seolah terbagi dua.

Di kantor kepolisian, ia bekerja dengan ketelitian dan tanggung jawab seperti biasa, menyelesaikan setiap tugas dengan cepat dan tepat agar tidak ada urusan yang terbengkalai.

Namun di sela waktu luangnya, pikirannya selalu terfokus pada satu hal, bagaimana membebaskan Alesha dari ikatan perjanjian yang telah mengikatnya selama bertahun‑tahun.

Ia tahu, mendapatkan izin dari orang tua Alesha hanyalah langkah awal, tantangan terbesar masih ada di depan, yaitu meyakinkan keluarga Argantara untuk melepaskan hak yang mereka anggap telah mereka miliki.

Setelah menyiapkan data keuangan dan rencana pelunasan yang tersusun rapi, Zehar memberanikan diri untuk datang ke kediaman keluarga Argantara.

Ia mengenakan pakaian sopan dan membawa surat pernyataan tertulis sebagai bukti keseriusannya.

Namun, begitu ia menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu bersedia mengganti seluruh dana bantuan masa lalu secara penuh dan resmi agar perjanjian sepuluh tahun itu dibatalkan sebelum waktunya, sikap kedua orang tua Erhan langsung berubah dingin dan tegas.

Pak Argantara menatap Zehar dengan tatapan tajam, suaranya terdengar berat dan penuh penolakan.

“Nak Zehar, kami menghargai keberanian dan niat baikmu datang ke sini. Tapi perlu kamu pahami, bantuan yang kami berikan bertahun‑tahun yang lalu bukanlah transaksi jual beli yang bisa dibatalkan begitu saja dengan mengembalikan sejumlah uang. Kami melihat Alesha bukan sekadar orang yang berhutang, melainkan sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga. Dia adalah calon istri Erhan, dan kami tidak ingin kehilangan sosok sebaik, secerdas, dan seberhasil dia untuk menjadi menantu kami.”

Ibu Lestari pun menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.

“Selama ini kami menunggu dengan sabar, tidak pernah memaksa apapun. Kami merasa kesepakatan itu sudah disetujui kedua belah pihak, dan akan terwujud pada waktunya. Sekarang tiba‑tiba ada tawaran pelunasan, seolah semua ikatan bisa diputus begitu saja, itu tidak mudah diterima oleh hati kami. Kami tidak ingin membatalkan rencana ini.”

Mendengar jawaban itu, Zehar tidak terkejut sepenuhnya.

Ia sudah menduga bahwa penolakan akan datang, namun ia tetap berusaha menjelaskan dengan tenang dan sopan.

“Saya mengerti perasaan Bapak dan Ibu. Tapi saya mohon lihat dari sisi Alesha juga. Dia menjalani masa ini dengan beban yang sangat berat. Jika ikatan ini dipaksakan tanpa keinginan hatinya, maka pernikahan yang tercipta nanti tidak akan membawa kebahagiaan bagi siapa pun. Saya hanya ingin memastikan semua pihak mendapatkan keadilan dan ketenangan hati.”

Namun, keluarga Argantara tetap bersikukuh pada pendirian mereka.

Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan, hanya menambah kesan bahwa jalan yang diambil Zehar masih terhalang tembok yang kokoh.

Zehar tidak menyerah.

Ia ingat, selama ini Erhan adalah orang yang paling dekat dengan inti masalah ini, dan mungkin hanya lewat dia baru pintu kesepakatan bisa terbuka.

Besok harinya, ia kembali mengajak Erhan bertemu empat mata di tempat yang sama seperti sebelumnya, kafe yang pernah mereka datangi waktu itu.

Begitu duduk dan suasana mulai tenang, Zehar langsung membuka pembicaraan dengan nada rendah namun tulus.

“Mas Erhan, aku datang lagi bukan untuk menantang atau mempersulit keadaan. Aku hanya memohon pertimbanganmu. Ayah dan Ibumu menolak usulanku, tapi aku yakin kamu lebih mengerti bagaimana perasaan Alesha sebenarnya. Bisakah kamu membantuku meyakinkan mereka? Atau setidaknya, bisakah kita menemukan jalan keluar yang tidak menyakiti hati siapa pun?”

Erhan menatap Zehar dalam‑dalam, matanya menyimpan banyak perasaan, campuran antara kecewa, harapan yang mulai pudar, namun juga rasa hormat yang tumbuh melihat keteguhan hati lelaki di hadapannya.

Ia terdiam cukup lama, lalu menghela napas panjang seolah melepaskan beban yang selama ini ia pendam sendiri.

“Aku tahu kamu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang kamu perjuangkan, Zehar,” ujar Erhan perlahan.

“Dan aku juga tidak bisa memaksakan perasaan Alesha untuk mencintaiku jika hatinya sudah tertambat pada orang lain. Tapi sebelum aku benar‑benar melepaskan dia dan meminta orang tuaku untuk membatalkan semuanya, aku ingin memberi diriku satu kesempatan terakhir. Aku ingin berjuang sekali lagi, dengan caraku sendiri.”

Ia menatap lurus ke mata Zehar, menyampaikan syarat yang terlintas di pikirannya.

“Aku punya satu syarat. Izinkan aku mengajak Alesha berkencan dan menghabiskan waktu bersamaku selama satu minggu penuh. Hanya tujuh hari itu saja. Selama waktu itu, aku akan berusaha menunjukkan perasaanku, mendekatinya dengan tulus, dan melihat apakah ada celah sedikit pun di hatinya untukku.”

Erhan berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang mantap namun jujur.

“Jika dalam satu minggu itu dia benar‑benar tidak bisa membuka hatinya sedikit pun, jika dia tetap hanya melihatku sebagai teman atau kewajiban semata, maka aku akan mengakui kekalahanku dengan ikhlas. Aku akan membujuk kedua orang tuaku untuk menerima usulanmu, membatalkan pertunangan, dan melepaskan dia sepenuhnya tanpa syarat apapun lagi. Tapi jika ternyata selama masa itu dia mulai merasa nyaman dan membuka hatinya, maka dengan hormat aku memintamu untuk mundur dan tidak mengganggu lagi.”

Zehar mendengarkan setiap kata dengan hati yang berdebar.

Syarat itu terasa adil, namun juga penuh risiko.

Ia sadar, keputusan ini bukan hanya soal kepercayaan pada Alesha, tapi juga soal memberi kesempatan yang jujur pada semua pihak agar tidak ada rasa bersalah atau penyesalan di kemudian hari.

Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk tegas.

“Aku menerima syarat itu, Mas Erhan. Aku percaya pada perasaan Alesha, dan aku juga percaya bahwa kebahagiaan tidak bisa dipaksakan. Mari kita lakukan ini dengan cara yang terhormat, tanpa kebohongan dan tanpa paksaan.”

Setelah pertemuan itu selesai, Zehar segera menemui Alesha di tempat yang sekarang biasa mereka datangi. Rumah pohon di atas bukit tempat mereka berbagi cerita.

Saat matahari mulai terbenam mewarnai langit dengan warna jingga keemasan, Zehar menceritakan segala hal yang telah terjadi, penolakan keluarga Argantara, pertemuannya dengan Erhan, hingga syarat yang diajukan lelaki itu.

Alesha mendengarkan dengan wajah yang terkejut dan bingung.

“Satu minggu berkencan dengannya? Zehar… aku tidak mengerti maksudmu. Mengapa kamu menyetujuinya? Apakah kamu ragu dengan perasaanku padamu?”

Zehar meraih kedua tangan Alesha, menggenggamnya dengan lembut namun penuh dengan keyakinan.

Ia menatap matanya dalam‑dalam, mencoba menenangkan kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah kekasihnya.

“Dengarkan aku baik‑baik, Sayang. Aku menyetujuinya bukan karena ragu padamu, tapi karena aku ingin semua urusan ini selesai dengan bersih dan adil. Jika kita hanya memaksakan jalan kita sendiri, nanti di kemudian hari mungkin masih ada rasa bersalah, atau orang akan berkata kita mengambil kesempatan di belakang mereka. Syarat ini adalah jalan terakhir agar semuanya jelas dan terang.”

Ia melanjutkan dengan suara yang tenang namun tegas.

“Selama satu minggu ke depan, izinkan Erhan mendekatimu sebagaimana yang dia minta. Lakukan saja dengan jujur, tanpa berpura‑pura, tanpa memaksakan senyum, dan tanpa menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. Jika di akhir masa itu hatimu ternyata berubah dan kamu merasa lebih cocok dengannya, maka aku akan mundur dengan lapang dada. Aku akan menerima keputusanmu dan tidak akan menuntut apa pun lagi.”

Zehar mengusap punggung tangan Alesha, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun penuh keteguhan hati.

“Tapi jika dalam seminggu itu kamu tetap merasa kosong, jika kehadirannya tidak bisa menggantikan posisiku di hatimu, dan jika kamu tetap merasa bahwa akulah tempatmu pulang, maka kita akan melangkah bersama hingga akhir. Aku akan tetap berdiri di sampingmu, menyelesaikan semua urusan masa lalumu, membujuk keluarga mereka, dan memastikan tidak ada lagi hal yang bisa memisahkan kita.”

Air mata Alesha mengalir perlahan mendengar penjelasan itu.

Ia merasa tersentuh melihat betapa besarnya kepercayaan dan pengertian yang Zehar berikan.

Ia menarik tangan Zehar mendekat ke dadanya, seolah ingin meyakinkan lelaki itu bahwa hatinya tidak akan pernah berubah.

“Zehar… kamu tahu jawabannya sudah ada sejak lama. Tapi aku mengerti alasanmu. Aku akan melakukannya, bukan untuk mencari pilihan lain, tapi untuk menutup babak ini dengan cara yang jujur dan membuat semua pihak menerima kenyataan dengan ikhlas. Tidak ada yang akan mengubah perasaanku padamu, percayalah itu.”

Malam itu, di bawah langit yang mulai bertabur bintang, mereka berdua sepakat untuk menjalani ujian ini dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Bagi Zehar, ini adalah bentuk pengorbanan terakhir untuk membuktikan bahwa cinta mereka tidak takut pada ujian apa pun.

Bagi Alesha, ini adalah kesempatan untuk menutup masa lalu dengan kejelasan, sehingga ia bisa melangkah ke masa depan tanpa beban sedikit pun.

Dan bagi Erhan, ini adalah kesempatan terakhir untuk memastikan apakah kebahagiaan yang ia cari benar‑benar ada di depan matanya, atau justru telah lewat tanpa ia sadari.

Seminggu ke depan akan menjadi waktu yang menentukan, bukan hanya untuk masa depan Alesha dan Zehar, tapi juga untuk ketenangan hati Erhan dan kedua keluarga yang selama ini terlibat dalam kisah panjang ini.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!