Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tas yang Melompati Pagar
Udara siang di area halaman belakang SMA Internasional Garuda Bangsa terasa jauh lebih sunyi dibandingkan dengan keriuhan koridor utama. Di lajur ini, dinding pembatas beton setinggi tiga meter yang ditumbuhi tanaman merambat menjadi sekat tebal antara kemegahan dunia atas sekolah dengan jalur jalan raya luar yang sepi. Azrint Breynerlanz berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak berbatu, jemari lentiknya yang dipulas warna merah marun pekat sesekali menyentuh dedaunan hijau yang basah. Dia sengaja keluar dari kelas X-A saat jam kosong untuk mencari udara segar, membiarkan tubuh modelnya yang memiliki tinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter itu bergerak bebas dari pengawasan bising teman-teman kelasnya yang borjuis. Bando mutiara putih di rambutnya yang setengah ikat berkilat samar diterpa cahaya matahari yang menyelinap di balik celah ranting pohon.
Brak!
Sebuah hantaman keras mendadak memecah kesunyian tempat itu. Azrint menghentikan langkah kakinya seketika, bahunya yang ringkih sedikit menegang. Matanya yang sewarna karamel tua melebar saat melihat sebuah tas ransel kulit hitam berlogo rantai besi melompati puncak pagar beton, jatuh berdebam tepat di atas semak-semak mawar yang berada dua meter di depan lajur berjalannya.
"Sialan, nyangkut lagi," sebuah suara bariton yang serak, rendah, dan sarat akan nada berandalan terdengar dari balik dinding pagar.
Sebelum Azrint sempat melangkah mundur untuk menyembunyikan diri, sesosok tubuh tinggi tegap melompat dengan sangat lihai dari atas pagar beton setinggi tiga meter tersebut. Pria itu mendarat dengan posisi bertumpu pada kedua kakinya yang terbalut celana seragam abu-abu yang sengaja dibuat agak longgar di bagian bawah. Dia mengenakan kemeja putih seragam kelas dua SMA yang kancing atasnya sengaja dibuka tiga buah, memperlihatkan untaian kalung perak bermotif tengkorak yang menggantung di dada bidangnya yang atletis.
Pria itu adalah Gava Ernando. Sebagai anak tunggal dari CEO korporasi terbesar kedua di Indonesia sekaligus donatur utama yayasan sekolah, Gava memiliki kuasa mutlak di dunia atas. Namun, status elitis itu tidak menghentikannya untuk menjadi ketua dari The Iron Phantoms geng motor terbesar di ibu kota yang memiliki ratusan anggota fanatik di jalanan. Wajahnya yang tampan dengan garis rahang kaku dan sepasang mata elang yang liar memancarkan aura pemberontak yang sangat pekat.
Gava menegakkan tubuhnya, mengibaskan debu pagar dari lengannya yang kekar sebelum matanya yang tajam mendadak mengunci sosok Azrint yang berdiri diam menatapnya. Selama beberapa detik, atmosfer di sudut halaman belakang itu mendadak membeku, dipenuhi oleh tarikan insting yang tak kasat mata di antara mereka berdua.
"Murid baru?" tanya Gava sembari menaikkan sebelah alisnya yang tebal, matanya menyapu detail fisik Azrint dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat intens dan tajam. "Lo ngapain di sini? Mau melaporkan gue ke guru piket karena bolos, hah?"
Azrint menaikkan dagunya yang anggun, meluruhkan rasa terkejutnya dalam sekejap mata. Sifat manjanya yang diwarnai oleh keangkuhan darah seorang Breynerlanz langsung keluar sebagai perisai pertahanan diri. "Gue gak punya waktu buat mengurusi urusan berandalan konyol kayak lo," ucap Azrint dengan nada suara manjanya yang berjarak, bibirnya yang penuh dan kemerahan alami mengulas senyuman tipis yang sangat dingin. "Dan singkirkan tas kotor lo itu dari jalan gue."
Gava tertegun sejenak mendengarkan nada bicara gadis di depannya. Alih-alih merasa tersinggung, sebuah seringai liar yang sarat akan ketertarikan yang gelap justru terukir di sudut bibirnya yang kaku. Gava melangkah mendekat, langkah kakinya konstan dan mengintimidasi, memperkecil jarak di antara mereka hingga Azrint bisa mencium aroma maskulin berbau kayu cendana yang bercampur samar dengan bau jaket kulit dari tubuh pria kelas dua tersebut.
"Gila. Baru kali ini ada anak kelas satu yang berani ngomong sekasar itu di depan muka gue," ucap Gava dengan nada serak yang merendah, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata karamel milik Azrint. "Nama lo siapa, Manis? Kulit lo... seputih peri, tapi mulut lo tajam juga ya."
"Bukan urusan lo," jawab Azrint tegas, melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak privasinya sembari memegang erat tali tas jinjing mahalnya. "Gue bilang pinggirin tas lo, atau gue panggil sekuriti gerbang depan sekarang juga."
Gava tertawa terkekeh, suara tawa yang kering dan penuh wibawa seorang ketua geng motor yang tidak mengenal kata takut. Dia membungkuk, mengambil ransel hitamnya dari semak mawar dengan satu gerakan tangan yang malas. "Panggil aja kalau lo berani. Sekuriti di depan sana digaji pake uang bokap gue, Manis. Mereka gak bakal berani nyentuh gue bahkan kalau gue membakar aula sekolah ini sekarang."
Azrint menyipitkan matanya yang tajam, darah mafianya bergetar samar mendengar keangkuhan Gava. Di dalam dunia Azrint, orang-orang yang terlalu banyak bicara tentang kekayaan biasanya adalah target yang paling mudah untuk dilumpuhkan. Namun, ada sesuatu dari cara Gava berdiri begitu seimbang, dengan otot lengan yang kokoh khas orang yang terbiasa bertarung di jalanan yang membuat insting waspada Azrint bergetar konstan. Pria di depannya ini memiliki keliaran yang murni, jenis keliaran dunia atas yang tidak bisa dibeli dengan uang belaka.
"Gue gak peduli siapa bokap lo," tegas Azrint dengan suara manjanya yang kian dingin, barisan giginya yang rapi berkilat samar saat dia melangkah melewati Gava begitu saja dengan keanggunan seorang ratu kecil. "Permisi."
Gava tidak menahan langkah Azrint, namun matanya terus mengunci punggung ramping gadis itu yang berjalan menjauh menembus jalan setapak. Tarikan aneh di dalam dada Gava mendadak mendidih sebuah rasa penasaran yang pekat yang belum pernah dia rasakan dari gadis-gadis borjuis lainnya di sekolah ini. Gadis berambut setengah ikat itu tidak menatapnya dengan pandangan memuja seperti siswi lain; dia menatap Gava seolah Gava hanyalah sebutir debu yang mengganggu jalannya.
"Gue bakal cari tahu nama lo, Peri Kecil," seru Gava dari arah belakang dengan nada suara yang sarat akan janji obsesi yang gelap, sembari menyampirkan ranselnya ke pundak tegapnya bersiap untuk melompati pagar luar kembali menuju ratusan anak motor yang sudah menunggunya di jalan raya. "Permainan kita baru aja dimulai." Azrint terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, namun di dalam lubuk hatinya, dia tahu bahwa hari Selasa ini telah melahirkan sebuah jaring intrik baru yang tidak akan membiarkan kehidupan sekolahnya berjalan dengan normal lagi.