NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama malam hari

Seperti biasa, sepulang nongkrong bersama teman-temannya, Steve selalu langsung pulang ke rumah tanpa mampir ke mana-mana.

Hari ini dia gak bawa motor, alhasil nebeng pada Jaya salah satu temannya.

Motor Jaya meliuk-liuk membelah jalanan yang tengah macet padat, Dengan lihai, pemuda itu membelah kemacetan hingga akhirnya tiba di rumah Steve.

Steve turun, terdiam sejenak menatapi Jaya yang membuka helmnya.

"Thanks ya," kata Steve seraya menepuk bahu Jaya pelan.

Jaya mengangguk ringan. "Yoii. Entar Lo dijemput sama Eko kalo masih gak dibolehin bawa motor" katanya, sembari menggunakan helmnya kembali.

"Gue rayu emak dulu supaya dikasih" celetuknya sambil menaik-turunkan alis.

Jaya berdecak dengan seringai tipis. "Ck. Mau di kenalin sama duda kaya lagi? Yaudah, biar Lo gak dikasih makan sekalian" ucapnya terkekeh geli.

Steve ikut tertawa. "Yaudah pulang sono, entar BUNDA Lo nyariin dedek nya lagi" ledeknya. yang langsung mendapat tendangan dari Jaya, membuat Steve mengaduh.

"Bangsat! Dah gue pulang dulu" Jaya kembali menghidupkan motornya, mengangguk sebentar pada Steve sebelum menarik gasnya.

Steve masuk ke dalam pekarangan rumah, namun terdiam sejenak di ambang pintu.

Steve kembali melirik ke belakang, pada langit senja yang berwarna oranye.

Entah kenapa, sejak bertemu pemuda itu beberapa hari lalu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.

Sebelum masuk kamar, Steve menjatuhkan tubuhnya di sofa, memainkan ponselnya sebentar, sebelum ibunya meneriakinya untuk makan siang.

Shafira tengah memasak santai di dapur,aroma bumbu bawang dan cabai menguar di udara.

Senyum kecil tidak pernah pudar dari wajah cantiknya, matanya yang berwarna oranye menyala, menatap tajam pada masakan di depannya.

Steve yang tengah rebahan di sofa segera bangkit dengan perutnya berbunyi mencium aroma harum dari dapur.

Dia meletakkan ponselnya asal, melangkah mendekati dapur.

Dia mendapati Shafira tengah berdiri di depan kompor dengan satu tangan berada di pinggang.

Steve menatap punggung Shafira sejenak, dia kadang merasa kagum pada kecantikan Shafira yang tidak pernah luntur, justru semakin hari wanita itu malah semakin cantik.

Tapi ketika kembali mengingat siapa Shafira sebenarnya, membuat Steve menggelengkan kepala.

Bagaimanpun, ibu angkatnya bukanlah manusia biasa.

Shafira segera menyadari kedatangan Steve, kembali menetralkan wajahnya. "Kau sudah pulang?"

Tanyanya tanpa menoleh.

Steve mendekati Shafira, berdiri diam di sampingnya, sambil menatap kompor di depannya.

"Masak apa Mak?"

Shafira berdecak sebal, menoleh sinis pada Steve yang memasang wajah watados.

"Jangan panggil aku emak Steve!!" Tekan Shafira. "Mau bagaimanpun, aku ini masih muda dan cantik!"

Steve memutar mata malas. "Iya deh, terus panggil apa? Nenek?" Ucapnya asal, yang menyulut emosi Shafira.

"Dasar bocah tidak waras, harusnya kau lebih sedikit sopan pada orang yang memberimu makan!" Sentaknya kesal.

Namun Steve malah cengengesan, membuat Shafira mendelik. "Iya-iya. Yaudah kak, Kaka masak apa?"

Shafira tersenyum kecil, sedikit mencubit perut Steve.

Membuat Steve mengumpat.

"Ck, dasar nenek-nenek!" Gumamnya pelan.

Shafira kembali menoleh. "Kau mengatakan sesuatu?" Tanyanya.

Steve menggeleng pelan, disertai senyum manis.

Di sisi kota lain.

Mobil Tiffany baru saja berhenti di depan gerbang rumah Azura.

Tin

Tin

Gadis itu menyembulkan kepalanya dari dalam mobil lewat jendela.

Tersenyum lebar pada pak jusep.

"Night... Pak juju," sapanya ceria.

Jusep langsung berdiri menghampiri dengan senyum lebar. "Eh, non Fafa"

Tiffany berdecak kesal. "Apaan Fafa-fafa? Fufufafa kali ah!" Katanya judes. Sherina terkikik di sebelahnya, sementara jusep hanya cekikikan.

"Masuk non, Non Azura ada di dalem"kata jusep seraya membuka gerbang rumah Azura.

Tiffany kembali memasukkan kepalanya, melajukan mobilnya perlahan memasuki pekarangan rumah Azura.

"Makasih om juju" teriaknya dari dalam mobil.

Jusep hanya mengangkat jari jempolnya sembari tersenyum lebar.

Dan kembali menutup gerbang.

Tiffany membuka pintu mobil, dan menutupnya keras.

Brughh!!

Di ikuti Sherina di sebelahnya.

Mereka berjalan mendekati pintu depan sembari cekikikan tidak jelas.

Tok

Tok

Tok

"Permisi!"

Ceklek.

Tiffany sedikit mundur ketika pintu terbuka.

Senyum manis selalu terpasang di wajahnya.

Namun, mata Tiffany dan Sherina terbelalak kaget, ketika yang membuka pintu adalah orang asing yang begitu tampan.

"Woah" ucap mereka serentak, terkagum-kagum menatapi Leon yang berdiri dingin di depan pintu, menatap mereka berdua secara bergantian dengan alis terangkat satu.

Leon berdehem pelan, menatap mereka dingin.

"Ekhemm!"

Mereka sedikit tersentak, berdiri canggung mengusap tengkuknya.

"Haii om" sapa Sherina, gadis itu mengulum senyum menatapi Leon yang menatapnya datar.

Dia sedikit mencondongkan tubuhnya pada Tiffany.

"Dia siapa coy? ganteng bingit!" Pekiknya tertahan, Tiffany segera menabok kepala Sherina gemas.

"Gak usah gatel!" Katanya sinis. "Dia udah gue tandain" bisiknya pelan, yang langsung mendapat tatapan sewot dari Sherina.

"Emang dia mau sama modelan kayak Lo? Lo kan berisik!" Bisik Sherina.

Tiffany melotot kesal. Leon menukik alisnya, menatap mereka yang malah ingin bertengkar di depan pintu rumah orang.

"Sungguh tidak sopan!" Tegas Leon tiba-tiba.

Mengalihkan atensi mereka berdua yang langsung membeku diam.

Mereka menundukkan kepalanya, bukan takut, mereka salting ketika mendengar suara Leon yang serak basah juga merdu jadi satu.

"Kalian ingin bertamu malam-malam begini? Apa kalian sudah punya janji?" Tanya Leon datar.

Mereka mengangguk serentak, masih sambil menunduk, bahkan Tiffany menggerak-gerakkan tubuhnya dengan tangan ke belakang.

"Siapa om?" Teriak Excel dari dalam, berjalan mendekati pintu.

Leon sedikit bergeser, membiarkan Excel untuk melihat siapa yang datang.

Mata Excel melebar, dengan mengembangkan senyumnya. "Kak Fafa..kak irin..." panggilnya ceria, langsung berhambur ke pelukan Tiffany yang di sambut senang oleh gadis itu.

"Ecel..."

Tiffany mengurai pelukannya, menatap Excel yang terlihat senang.

"Kaka mau ketemu kak Ara ya? Ka Ara ada di dalem"

Tiffany mengangguk, sedikit melebarkan matanya.

Excel menatap Leon yang masih diam mematung menatapi mereka. "Lho, kok mereka nggak disuruh masuk, Om? Mereka temennya Kak Ara."

Leon menatap datar, berbalik meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah.

Di ikuti oleh mereka.

"Yuk ka" Excel menggenggam tangan Tiffany. Masuk ke dalam rumah, yang di ikuti Sherina di belakangnya.

Azura mencak-mencak di dalam kamarnya, buku yang seharusnya berada di atas meja, kini sudah berpindah tempat berserakan di lantai, bahkan bantal, guling, dan selimut sudah seperti ada maling yang mengacak-acak tempat tidurnya.

Dia kini berdiri di depan meja belajar, terus mengeluarkan apapun yang ada didalam laci meja.

"Dimana sih?"

Dia berdiri kesal, menyugar rambutnya kebelakang.

Menatap sekeliling kamarnya yang sudah seperti kapal pecah, namun benda yang dia cari masih blum ketemu.

Dia mendelik dengan mulut sedikit terbuka.

Dia keluar dari kamarnya, dan menutup pintu keras.

Brak.

"Mami!!!" Teriaknya nyaring berjalan menuju kamar Monica.

Brakk.

Azura membuka pintu kamar keras dengan ekspresi kesal, namun matanya seketika melebar dengan mulut terbuka, tubuhnya mematung diambang pintu.

'sial!'

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!