Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Perhatian yang Berbeda
Malam itu, aku berjalan pulang dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Kata-kata Anindya masih terngiang jelas di telingaku, dan perasaan hangat yang menyelimuti hatiku membuatku sulit tidur saat tiba di rumah. Selama ribuan tahun, aku hidup dengan aturan yang ketat, menjaga jarak, dan menganggap bahwa perasaan pribadi hanya akan menjadi beban yang mengganggu tugas sebagai penjaga. Namun sejak datang ke kota ini, sejak mengenal orang-orang yang tulus, dan terutama sejak mengenal Anindya… semua pandangan itu perlahan berubah.
Keesokan harinya, aku datang ke pos jaga seperti biasa, tepat pukul tujuh pagi. Namun baru saja aku membuka pintu dan meletakkan tas, aku sudah mendengar suara langkah kaki yang sangat kukenal mendekat.
Aku menoleh, dan terlihat Anindya berjalan menuju ke sini dengan senyum yang sudah terukir di bibirnya. Hari ini dia kembali memakai pakaian kerja, tapi ada perbedaan — rambutnya diatur lebih rapi namun terlihat lebih lembut, dan matanya bersinar lebih cerah dari biasanya. Di tangannya, dia membawa dua buah kotak makan dan dua gelas minum yang ditutup rapat.
“Selamat pagi, Kaito,” sapanya dengan nada lembut yang hanya terdengar saat dia berbicara padaku.
“Pagi, Mbak Anin. Sudah datang pagi sekali,” jawabku sambil tersenyum, merasakan detak jantung yang kembali berdebar begitu melihatnya.
Dia meletakkan barang-barang itu di atas meja pos jaga, lalu menatapku dengan pandangan yang lebih leluasa dan terbuka dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Ini sarapan dan minuman untukmu. Tadi pagi aku sempat singgah di kedai langganan yang menjual bubur ayam dan susu jahe hangat. Aku ingat kamu pernah bilang suka makanan yang tidak terlalu berlemak dan terasa hangat di perut,” ucapnya sambil membuka tutup kotak itu perlahan.
Aku tertegun sejenak, merasa tersentuh sekaligus sedikit malu. “Mbak… kamu tidak perlu bersusah payah membawakan ini setiap hari. Aku bisa menyiapkannya sendiri di rumah.”
Anindya menggeleng pelan, lalu menatap mataku dengan pandangan yang tegas namun lembut. “Bukan susah payah. Justru ini hal yang ingin aku lakukan. Dan ingat, ini bukan hal yang biasa aku lakukan pada orang lain. Selama ini, aku bahkan jarang sekali membawakan makanan untuk siapa pun, termasuk rekan kerja atau tamu penting. Tapi untukmu… rasanya berbeda. Aku senang bisa melakukannya.”
Kata-katanya itu membuatku terdiam. Dia menyadarinya sendiri, dan dengan jujur mengakui bahwa perlakuan ini memang istimewa. Aku hanya bisa mengangguk pelan, lalu menerima hidangan itu dengan rasa terima kasih yang tulus.
“Terima kasih banyak, Mbak. Aku sangat menghargainya.”
“Syukurlah kalau begitu. Makanlah selagi masih hangat. Jangan sampai terburu-buru mengerjakan tugas sampai lupa makan,” pesannya sebelum melangkah pergi menuju lobi, tapi dia sempat menoleh sekali lagi dan tersenyum kecil sebelum menghilang di balik pintu kaca.
Sejak hari itu, perubahan sikap Anindya semakin terlihat jelas dan terasa oleh semua orang, meski dia tidak pernah mengumumkannya secara terang-terangan.
Setiap kali jam istirahat tiba, dia pasti akan turun ke lantai dasar. Kadang dia membawa camilan, kadang hanya sekadar minuman, tapi selalu ada sesuatu yang khusus disiapkan untukku. Dia tidak hanya meletakkannya begitu saja, tapi selalu bertanya dengan teliti: “Apakah rasanya pas?”, “Apakah kamu sudah cukup makan?”, atau “Apakah kamu butuh sesuatu yang lain?”
Hal-hal kecil yang dia lakukan itu semakin menunjukkan betapa istimewanya perlakuan yang dia berikan. Misalnya, saat cuaca berubah menjadi dingin karena hujan turun di pagi hari, dia akan mengirimkan Sari membawa jaket tebal dan teh hangat dengan pesan: “Jangan sampai masuk angin, tugasmu di luar membutuhkan tubuh yang sehat.”
Saat ada barang-barang berat yang harus dipindahkan dan aku dengan santainya mengangkatnya sendirian, dia akan segera datang dengan wajah cemas, bukan karena takut melihat kekuatanku, tapi karena khawatir aku kelelahan.
“Kaito, meskipun kamu punya kekuatan lebih, jangan memaksakan diri terus-menerus ya. Tubuh tetap butuh istirahat, sama seperti orang lain,” katanya sambil memegang lengan bajuku dengan lembut, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja.
Budi yang melihat semua itu selalu menyempatkan diri untuk menggoda aku saat kami sedang sendirian. Dia akan menepuk pundakku sambil tertawa lebar.
“Kaito, Kaito… kamu sadar tidak? Selama bekerja di sini lebih dari lima tahun, belum pernah sekalipun Mbak Anin turun ke pos jaga hanya untuk sekadar menyapa, apalagi membawakan makanan atau minuman. Kalau dia butuh sesuatu, dia akan memanggil lewat telepon atau mengirim sekretarisnya. Tapi sejak kamu datang, dia seperti punya alasan sendiri untuk turun ke bawah setiap hari. Bahkan saat hujan deras tadi, dia tetap mengirimkan jaket dan teh hangat khusus untukmu!”
Pak Suryo yang mendengarnya hanya tersenyum sambil mengangguk setuju. “Memang benar apa kata Budi. Aku juga sudah lama melihatnya. Perlakuan Mbak Anin kepadamu sungguh berbeda. Itu bukan lagi sekadar rasa hormat atau perhatian sebagai atasan. Itu adalah tanda yang sangat jelas dari hati seorang wanita.”
Aku hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal, merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku. Aku tahu mereka benar, karena aku pun bisa merasakannya sendiri.
Suatu sore, hujan turun dengan sangat lebat disertai angin yang cukup kencang. Beberapa bagian atap teras depan sedikit bocor, membuat air merembes turun dan membasahi lantai dekat tempat aku berdiri. Aku baru saja ingin mengatur posisi agar tidak terkena air, ketika tiba-tiba suara sepatu melangkah cepat terdengar.
Anindya datang membawa payung besar, dia berjalan melewati hujan yang menyembur ke samping, sedikit membasahi ujung bajunya, tapi dia tidak peduli. Begitu sampai di hadapanku, dia segera membentangkan payung itu menutupi tubuhku, lalu berdiri tepat di sampingku.
“Kenapa kamu tidak pindah ke tempat yang lebih aman? Lihat, bajumu sudah mulai basah kena air,” katanya dengan nada cemas, tangannya bahkan menyentuh bahuku untuk memeriksa apakah sudah basah atau belum.
“Tidak apa-apa, Mbak. Ini hanya air biasa saja. Aku bisa menahannya dengan energi jika perlu,” jawabku mencoba menenangkannya.
Anindya menggeleng keras, matanya menatapku dengan pandangan yang sedikit memarahi tapi penuh kasih sayang. “Aku tahu kamu bisa melindungi dirimu sendiri, tapi bukan berarti kamu harus membiarkan dirimu basah dan kedinginan! Kalau kamu sakit, siapa yang akan menolong orang lain? Ayo, pindah ke dalam pos jaga yang tertutup rapat. Aku tidak akan membiarkanmu berdiri di sini sampai hujan reda.”
Dia bahkan memegang lenganku perlahan, mengajakku masuk ke dalam ruangan kecil pos jaga itu. Ruangan itu cukup sempit, sehingga saat kami berdua berdiri di dalamnya, jarak kami menjadi sangat dekat — hanya beberapa sentimeter saja. Aku bisa merasakan hangatnya napasnya, mencium wangi lembut sabun bunga yang selalu dia gunakan, dan melihat betapa dekatnya wajahnya dengan wajahku.
Anindya pun menyadari hal itu. Wajahnya langsung memerah seketika, dia sedikit mundur namun tetap menahan pintu agar tidak terbuka terkena angin. Suaranya terdengar lebih pelan dan bergetar karena gugup.
“Maaf… ruangannya memang agak sempit. Tapi lebih baik begini daripada kamu basah kuyup di luar sana.”
“Tidak apa-apa, Mbak. Aku justru merasa aman di sini,” jawabku dengan jujur, mataku menatapnya lekat-lekat.
Di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara hujan yang menghantam atap dan jendela. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, tapi suasana terasa hangat dan penuh pengertian. Anindya akhirnya mengangkat wajahnya, menatap mataku dengan pandangan yang lebih berani dari sebelumnya.
“Kaito… aku tahu perlakuan yang aku berikan ini terasa berlebihan, dan mungkin terlihat aneh bagi orang lain. Tapi aku tidak bisa menahannya. Setiap kali melihatmu, setiap kali tahu kamu sedang bertugas atau beraktivitas, hatiku selalu ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku ingin membagikan apa yang aku punya, ingin membuat hari-harimu terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dan aku sadar… ini bukan hal yang pernah aku rasakan atau lakukan pada siapa pun sepanjang hidupku.”
Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun tegas.
“Aku pernah menjadi wanita yang kuat, yang selalu mengandalkan dirinya sendiri, yang tidak pernah merasa butuh perlindungan atau perhatian khusus dari orang lain. Tapi sejak mengenalmu… aku justru ingin menjadi orang yang bisa melindungimu dengan caraku sendiri. Bukan dengan kekuatan fisik, tapi dengan perhatian, dengan kebaikan, dan dengan ketulusan hatiku. Karena bagiku, meskipun kamu bisa melindungi seluruh dunia, kamu tetaplah manusia yang butuh diperhatikan dan dicintai juga.”
Kata-kata itu menyentuh bagian paling dalam hatiku. Selama ini semua orang melihatku sebagai sosok yang kuat, yang tidak butuh bantuan, yang bisa mengatasi segala hal sendirian. Tapi Anindya melihat lebih dari itu — dia melihatku sebagai manusia biasa yang juga butuh kehangatan, perhatian, dan tempat untuk beristirahat.
Aku melangkah sedikit lebih dekat, membuat jarak kami semakin sempit, lalu mengangkat tanganku perlahan dan menyentuh lembut bahunya. Suaraku terdengar dalam dan tulus saat aku menjawabnya.
“Anin… tidak ada yang berlebihan dari apa yang kamu lakukan. Justru itu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan selama ribuan tahun hidupku. Kamu benar, kekuatanku membuatku terasa jauh dari orang lain, membuatku terasa sendirian. Tapi sejak kamu datang dengan perlakuanmu yang lembut dan tulus itu… rasanya beban di pundakku terasa lebih ringan. Kamu membuatku merasa bahwa aku juga bisa menjadi diriku sendiri, bukan hanya penjaga yang harus selalu tegar.”
Mendengar jawabanku, senyum bahagia yang sangat lebar terukir di bibir Anindya. Matanya sedikit berkaca-kaca, dan dia dengan lembut meletakkan tangannya di atas tanganku yang masih menyentuh bahunya.
“Jadi… kamu tidak keberatan dengan semua perhatian ini? Kamu tidak merasa terganggu atau terbebani?” tanyanya dengan nada berharap.
“Tidak sama sekali. Aku justru sangat menyukainya,” jawabku tegas. “Dan aku berjanji, seiring berjalannya waktu, aku juga akan menunjukkan perasaanku yang sama kepadamu. Dengan caraku sendiri, dengan kesabaran yang sama seperti yang kamu tunjukkan padaku.”
Di luar sana, hujan masih turun dengan derasnya, tapi di dalam ruangan kecil itu, tercipta kehangatan yang tidak bisa dihalangi oleh cuaca apa pun. Perasaan yang tumbuh perlahan itu kini semakin jelas, didukung oleh tindakan nyata yang terus diperlihatkan — bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan perlakuan yang berbeda, yang khusus, dan yang tulus hanya untuk satu orang.
Sejak hari itu, semua orang di gedung itu semakin paham. Tidak ada lagi yang bertanya-tanya atau menggoda secara berlebihan, karena mereka melihat sendiri bagaimana Anindya memperlakukanku dengan cara yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. Dan itu menjadi tanda yang jelas bagi semua orang — bahwa hati wanita itu sudah sepenuhnya terbuka dan jatuh cinta sepenuhnya.