NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 26.jejak yang hilang

Setelah semua kebenaran terungkap, setelah Rendra memilih Zahra dengan tegas, dan setelah perpisahan yang resmi terjalin, seharusnya hari-hari mulai berjalan tenang. Namun takdir seolah belum selesai menguji hati mereka. Justru di saat Zahra dan Rendra mulai merasakan manisnya kebersamaan, dua orang yang paling dekat dengan mereka perlahan menghilang menjadi sosok yang tak lagi menyapa, tak lagi terlihat, dan tak bisa dijangkau siapa pun.

Awalnya Zahra berpikir sikap Rana yang menjauh hanya butuh waktu. Ia berusaha sabar, memberi ruang, dan sesekali mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar seperti yang biasa dilakukan sahabat.

“Rana, apa kabarmu? Semoga kau sehat ya. Kalau ada waktu, kita bicara sebentar boleh? Aku rindu ngobrol seperti dulu.”

Namun balasan yang datang jauh dari harapan. Kadang baru dibaca berhari-hari kemudian, kadang hanya satu kata singkat “Baik.” Kadang tak ada jawaban sama sekali. Semakin Zahra berusaha mendekat, semakin Rana menutup pintu rapat-rapat.

Suatu hari Zahra menulis pesan lebih panjang, berusaha memohon maaf dan menjelaskan isi hatinya. Tapi balasan Rana datang begitu singkat dan dingin hingga membuat hati Zahra perih “Sudahlah. Jangan cari aku lagi. Aku sedang tenang-tenang di tempat lain. Aku tidak mau tahu urusan kalian sekarang.”

Itu adalah pesan terakhir. Sejak hari itu, nomor Rana sering kali tidak aktif, atau jika aktif, pesan yang dikirim tak pernah lagi dibaca. Ia tak ada di rumah, tak ada di tempat kerabat, tak ada di kebun atau tempat biasa ia singgah. Ibu Rendra pun tampak cemas namun tak bisa berbuat banyak Rana hanya sempat meninggalkan pesan singkat bahwa ia ingin pergi sebentar untuk menenangkan diri, tanpa menyebutkan ke mana atau kapan pulang.

Belum sempat Zahra memikirkan jalan untuk menghadapi sikap Rana, kabar lain datang yang membuatnya semakin gelisah Raka pun tak ada.

Pagi itu, saat hendak sarapan, tempat duduk Raka kosong. Awalnya mereka mengira ia sedang berjalan-jalan pagi seperti biasa. Namun hingga siang, hingga sore, hingga matahari terbenam, sosoknya tak terlihat. Rendra mencoba menelepon, namun suaranya memberitahu bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Ia bertanya ke tetangga, ke teman lama, bahkan ke tempat usaha Raka semuanya mengaku tak melihatnya.

“Bahkan barang-barang pribadinya sudah rapi dan berkurang banyak,” kata Rendra dengan wajah serius saat memeriksa kamar Raka. “Dia tidak pergi mendadak. Dia sudah bersiap sejak beberapa hari lalu, tapi tak memberitahu siapa pun.”

Zahra terduduk lemas. “Ke mana dia pergi? Dia sempat bilang takkan mau mencari orang lain selain aku... lalu kenapa dia pergi tanpa pamit sama sekali?”

Tak ada yang tahu jawabannya. Raka menghilang seolah ditelan bumi. Tak ada pesan perpisahan, tak ada alasan, tak ada tujuan yang disebutkan. Ia benar-benar menghilang tanpa jejak.

Malam itu suasana di rumah terasa begitu sunyi dan dingin. Dua orang yang dulu selalu ada di tengah tawa dan obrolan kini lenyap begitu saja. Zahra memandang layar ponselnya yang gelap, berharap ada pesan masuk dari Rana atau sekadar kabar keberadaan Raka. Namun layar itu tetap mati.

“Mungkin Raka tak sanggup melihat kita setiap hari,” bisik Zahra pelan, matanya berkaca-kaca. “Mungkin melihatku bersamamu membuat lukanya terbuka lagi. Dan Rana... mungkin dia tak sanggup melihat kenyataan bahwa hatimu bukan miliknya.”

Rendra duduk di sampingnya, merangkul bahu gadis itu lembut. “Kita tak bisa memaksa mereka tetap tinggal jika hatinya terluka di sini. Kadang orang pergi bukan karena membenci, tapi karena butuh tempat di mana mereka bisa bernapas lega kembali.”

“Tapi pergi tanpa kabar sedikit pun... rasanya seperti kita dibuang begitu saja,” jawab Zahra tercekat. “Aku takut terjadi apa-apa pada mereka berdua.”

Rendra mengangguk pelan, meski di dalam hatinya pun ia menyimpan kekhawatiran yang sama. Sebagai sahabat, ia merasa bersalah karena tak bisa menahan kepergian Raka. Sebagai orang yang dicintai Rana, ia merasa berdosa karena tak bisa membalas perasaan gadis itu.

Hari-hari berikutnya diwarnai dengan keheningan dan penantian yang cemas. Zahra sesekali masih mencoba mengirim pesan pada Rana, meski tahu kemungkinan dibalas sangat kecil. Ia berharap sahabatnya tahu bahwa pintu persahabatan tak pernah tertutup, meski Rana sendiri yang memilih menjauh. Sementara Rendra berusaha mencari informasi ke mana pun ia bisa, namun jejak Raka benar-benar putus.

Mereka berdua kini melangkah bersama, namun diiringi bayang-bayang dua orang yang hilang. Kebahagiaan yang seharusnya utuh kini terasa ada yang kurang, ada beban yang terselip di hati. Mereka tak tahu apakah Raka dan Rana akan kembali, atau apakah mereka telah menemukan jalan hidup baru di tempat yang jauh tempat di mana mereka tak lagi perlu mengingat kisah yang menyakitkan ini.

Yang mereka tahu hanya satu di mana pun mereka berada, doa selalu terkirim untuk keselamatan dan ketenangan hati mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!