NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 11 : Perubahan Kecil

Pagi itu, suasana di kediaman Mahendra terasa berbeda. Riuh rendah suara sendok yang beradu dengan porselen di ruang makan tidak lagi dibayangi oleh ketegangan yang kaku. Perubahan itu terjadi secara perlahan, hampir tidak kasat mata, namun dapat dirasakan oleh siapa saja yang tinggal di sana. Sejak malam di mana Nadira merawat Opa Wijaya dengan tangannya sendiri, atmosfer di dalam rumah besar itu perlahan-lahan mencair.

Kesehatan Opa Wijaya membaik dengan sangat signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Dokter pribadi keluarga bahkan sempat terheran-heran melihat perkembangan tensi dan nafsu makan sang sesepuh yang kembali stabil. Namun, bagi para pelayan di rumah itu, rahasia kesembuhan Opa Wijaya bukanlah obat medis yang mahal, melainkan secangkir teh krisan hangat dan untaian cerita sederhana yang selalu disajikan oleh Nadira setiap sore setelah ia pulang mengajar.

Para pelayan yang sebelumnya bersikap sangat formal dan menjaga jarak—sebagaimana aturan ketat yang biasa diterapkan oleh Ibu Sarah—kini mulai menunjukkan rasa hormat yang lahir dari ketulusan hati. Mereka tidak lagi sekadar membungkuk karena kewajiban tugas. Ketika Nadira berjalan melewati koridor, sapaan yang mereka berikan terdengar jauh lebih hangat.

"Selamat pagi, Nyonya Muda. Hari ini saya membuatkan nasi goreng dengan sedikit minyak, seperti yang Nyonya sukai," ucap Mbok Nah dengan senyum lebar saat Nadira melangkah ke ruang makan.

"Terima kasih banyak, Mbok Nah. Repot-repot sekali," balas Nadira, membalas senyuman itu dengan binar mata yang tulus.

Kebiasaan kecil Nadira yang selalu mengucapkan terima kasih kepada siapa pun, bahkan untuk hal-hal sepele seperti diambilkan segelas air putih, telah menyentuh hati para pekerja domestik di sana. Bagi mereka, Nadira adalah embusan angin segar di tengah keluarga yang biasanya mengukur segala sesuatu dengan kasta dan materi.

Di ujung meja makan, Opa Wijaya sudah duduk rapi dengan koran paginya. Begitu melihat Nadira, wajah keriput pria sepuh itu langsung cerah.

"Ah, menantu kesayangan Opa sudah siap," sapa Opa Wijaya, mengabaikan kehadiran Arka yang sebenarnya sudah duduk lebih dulu di seberangnya sejak sepuluh menit yang lalu. "Bagaimana tidurmu semalam, Nadira? Kamar besar itu tidak terlalu dingin, kan? Kalau Arka memasang pendingin ruangan terlalu rendah, bilang pada Opa. Biar Opa jewer telinganya."

Nadira tertawa kecil, melirik canggung ke arah Arka yang sedang melipat tablet kerjanya. "Tidak, Opa. Semuanya sangat nyaman. Terima kasih."

Arka hanya berdeham kecil, meraih cangkir kopinya tanpa bersuara. Namun, diamnya Arka bukan lagi karena ketidakpedulian. Sepasang matanya diam-diam mengamati interaksi itu. Belakangan ini, sang kakek memang tidak pernah absen memuji Nadira di depannya.

*“Arka, kamu mungkin pintar dalam memimpin perusahaan, tapi keputusan terbaik yang pernah kamu ambil dalam hidupmu adalah membawa Nadira ke dalam keluarga ini,”* kata Opa Wijaya dalam sebuah obrolan empat mata di ruang kerja tempo hari. *“Perempuan seperti dia tidak bisa kamu beli dengan saham atau uang tunai. Jaga dia baik-baik.”*

Kata-kata sang kakek terus berdenging di kepala Arka. Pria itu meletakkan cangkir kopinya, pandangannya tertuju pada jemari Nadira yang sedang mengoleskan selai ke atas roti panggang. Tidak ada cincin berlian besar di jarinya, hanya cincin pernikahan polos yang menjadi bagian dari formalitas mereka.

Arka mulai menyadari sebuah kenyataan yang terus mengusik logikanya: Nadira benar-benar berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui di lingkaran sosialnya. Mantan kekasihnya terdahulu, atau bahkan wanita seperti Selena, selalu menuntut perhatian, pakaian bermerek, tas mewah, atau akses ke fasilitas eksklusif Mahendra Group sebagai bukti status. Namun Nadira? Sejak hari pertama pernikahan mereka, wanita itu tidak pernah meminta sepeser pun uang saku tambahan di luar anggaran rumah tangga yang sudah ditetapkan. Ia menolak dibelikan mobil baru, dan memilih tetap diantar jemput oleh mobil operasional sederhana, atau bahkan sesekali pulang menggunakan transportasi umum jika jadwal mengajarnya bertabrakan dengan urusan kantor Arka.

Wanita itu tetap menjadi dirinya sendiri—seorang guru taman kanak-kanak yang hidup bersahaja. Di dalam kamar mereka, di atas meja rias yang luas, barang-barang milik Nadira hanya memenuhi satu sudut kecil; beberapa botol losion sederhana, sisir kayu, dan ikat rambut kain. Sangat kontras dengan kemewahan ruangan tersebut.

Tanpa disadari oleh Arka, fokus perhatiannya kini mulai bergeser. Di kantor, ia dikenal sebagai CEO yang memiliki kemampuan observasi luar biasa terhadap pergerakan pasar. Namun di rumah, kemampuan observasi itu justru ia gunakan untuk merekam kebiasaan-kebiasaan kecil istrinya.

Ia mendapati dirinya kerap terpaku memperhatikan cara Nadira tersenyum lebar saat menceritakan polah tingkah murid-murid TK-nya. Ia memperhatikan bagaimana jemari lentik wanita itu dengan sabar mengaduk teh herbal untuk kakeknya setiap sore, memastikan suhunya pas sebelum disajikan. Bahkan, Arka mulai menghafal suara langkah kaki Nadira yang halus ketika berjalan mendekati kamarnya di malam hari.

Namun, setiap kali riak perasaan aneh itu muncul dan menghangatkan dadanya, Arka akan segera menarik diri. Logikanya yang kaku langsung bekerja bagai alarm darurat.

*“Ingat, Arka. Ini hanya pernikahan kontrak satu tahun,”* batinnya mengingatkan dengan dingin sewaktu ia berada di dalam mobil menuju kantor. *“Jangan biarkan dirimu goyah. Begitu satu tahun selesai, dia akan pergi, dan kamu akan kembali ke kehidupanmu yang semula. Melibatkan perasaan hanya akan mempersulit segalanya.”*

Arka terus menyangkal. Ia membentengi dirinya dengan tumpukan berkas kerja, pulang lebih larut, dan sengaja mengembalikan nada suaranya menjadi sedingin es setiap kali berbicara dengan Nadira. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa bersalah karena mengabaikan tangisan Nadira waktu lalulah yang membuatnya menjadi terlalu sensitif, bukan karena ia mulai peduli.

---

Di sisi lain, Nadira pun bukan tidak menyadari perubahan-perubahan kecil tersebut. Ia bisa merasakan bagaimana tatapan mata Arka yang kini lebih sering tertuju padanya, meskipun pria itu selalu memalingkan wajah dengan cepat setiap kali tertangkap basah. Ia juga menyadari bagaimana Arka secara tidak langsung memastikan bahwa tidak ada lagi anggota keluarga lain—termasuk Ibu Sarah—yang mengganggunya sejak malam makan malam yang menegangkan itu.

Namun, Nadira adalah seorang wanita yang tahu diri. Ia berjalan di atas lantai marmer rumah ini dengan kesadaran penuh bahwa dirinya hanyalah seorang "istri paruh waktu". Statusnya di dalam dokumen kontrak bermaterai itu tertulis dengan sangat jelas. Kehangatan yang ia berikan kepada Opa Wijaya, keramahannya kepada para pelayan, semuanya ia lakukan murni karena didikan orang tuanya untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun, bukan sebagai strategi untuk mengikat Arka Mahendra.

Sore itu, sepulang dari sekolah, Nadira duduk di kursi rotan di area balkon kamar utama. Angin sore berembus pelan, memainkan beberapa helai rambutnya yang lolos dari ikatan. Di pangkuannya, ada sebuah buku jurnal kecil tempat ia mencatat rencana pembelajaran untuk anak-anak didiknya esok hari.

Nadira menghentikan goresan pulpennya, menatap lurus ke arah taman belakang yang luas. Pikirannya melayang pada sosok suaminya. Arka adalah pria yang rumit. Di satu waktu, pria itu bisa menjadi sangat menakutkan dengan otoritasnya yang dingin, namun di waktu lain, seperti saat membelanya di depan Ibu Sarah, Arka memancarkan kekuatan pelindung yang membuat Nadira merasa aman.

Rasa aman yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi sesuatu yang berbahaya bagi hatinya sendiri.

"Jangan bodoh, Nadira," bisik Nadira pada dirinya sendiri, suaranya parau tertiup angin. Ia meremas pinggiran buku jurnalnya. "Satu tahun itu singkat. Waktu akan berjalan cepat, dan setelah itu, kamu harus kembali ke rumah kecilmu. Jangan pernah berharap pada hati seorang Arka Mahendra. Pria itu berada di langit, sementara kamu ada di bumi. Jangan biarkan dirimu jatuh cinta pada sebuah kepura-puraan."

Nadira memilih untuk mempertebal jarak yang ia ciptakan. Jika di meja makan ia bersikap ramah demi menyenangkan Opa Wijaya, maka di dalam kamar utama, ia akan memastikan dirinya menjadi "tidak terlihat". Ia akan tidur lebih awal di atas sofa panjangnya, memunggungi ranjang besar tempat Arka berbaring, dan memastikan tidak ada percakapan pribadi yang bisa memicu kedekatan lebih jauh di antara mereka.

---

Malam harinya, hujan rintik-rintik mulai membasahi kota, menciptakan ketukan-ketukan ritmis di kaca jendela balkon. Arka masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerja pribadinya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Suasana kamar sudah remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur di sudut ruangan. Arka melangkah pelan, matanya langsung tertuju pada sofa panjang di dekat balkon. Di sana, Nadira sudah berbaring. Wanita itu tidur miring membelakangi ruangan, dengan selimut tebal yang membungkus tubuh ringkihnya hingga sebatas bahu.

Arka berjalan mendekati sisi ranjangnya, namun langkahnya melambat. Ia berdiri diam di tengah ruangan, menatap punggung Nadira yang bergerak teratur seiring dengan napasnya yang tenang. Keheningan malam ini terasa berbeda. Ada jarak beberapa meter yang memisahkan ranjang mewah mereka dengan sofa itu, sebuah jarak fisik yang sengaja mereka pertahankan. Namun, di dalam keheningan yang sama, ada sesuatu yang tidak kasat mata yang terus menarik pikiran mereka untuk saling mendekat.

Arka duduk di tepi ranjangnya, menunduk sambil mengusap wajahnya yang lelah. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban atas segala masalah bisnis itu, kini merasa benar-benar buntu menghadapi pergolakan di dalam dadanya sendiri.

Benih-benih perasaan itu telah tumbuh. Mereka merayap diam-diam di antara klausul-klausul kontrak yang kaku, tumbuh dari hal-hal sederhana seperti aroma teh krisan sore hari, senyuman tulus di meja makan, dan kesadaran bahwa di dalam rumah yang dingin ini, ada satu jiwa yang hangat yang kini terikat bersamanya.

Arka merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di sudut lain, dalam tidurnya yang tidak sepenuhnya lelap, Nadira bergerak sedikit, merapatkan selimutnya karena hawa dingin yang menembus kaca. Mereka berdua berada di ruangan yang sama, di bawah atap yang sama, terikat oleh janji yang sama—namun keduanya memilih untuk tetap saling menyangkal, bertarung dengan ego dan ketakutan masing-masing di tengah malam yang kian larut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!