NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

...~Naira Galau~...

Pagi masih terlalu gelap, suara lantunan bakda subuh masih terdengar samar ketika dering telepon rumah memecah keheningan di rumah Naira.

Naira buru-buru keluar dengan langkah tergesa. Ia segera mengangkat telepon tersebut. Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara gemeresak pelan di seberang sana.

"Halo." Suara berat dari seberang membuat hati Naira seketika terasa ringan.

"Mas Arka?"

"Nai..." Panggilan Arka terdengar begitu serak di telinga Naira.

"Mas baru bisa telepon?"

"Maaf, Nai. Kemarin malam aku langsung dapat tugas Ksatrian."

"Tugas apa, Mas?"

Kekehan pelan terdengar samar di ujung sana. "Tugas piket jaga malam."

"Oh..."

Untuk beberapa saat tak ada yang menyahut, sebelum Naira kembali membuka suara. "Oh iya, Mas. Tanggalnya sudah ditentukan."

"Kapan?"

"Paling cepat tanggal enam, tiga bulan ke depan."

"Kalau begitu, lebih cepat kita urus berkasnya dari sekarang. Kamu catat ya," ujar Arka.

"Sebentar, Mas. Aku ambil kertas dulu."

Naira segera berlari kecil menuju kamarnya, mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen. Detak jantungnya terasa kencang dengan napas yang sedikit tersengal, terlebih karena mukena yang masih ia kenakan menggantung sempurna di tubuhnya.

Tak ingin membuat Arka menunggu lama, gadis itu bergegas kembali dan segera meraih gagang telepon. "Halo, Mas?"

"Iya, Nai. Sudah siap?"

Sesaat Naira mengangguk, sebelum akhirnya tersadar jika mereka tidak sedang berbicara lewat tatapan langsung. "Eh... maaf, Mas. Sudah. Gimana?"

"Baik, catat ya."

Naira segera menghimpit gagang telepon ke pundaknya. Satu tangan menahan kertas di atas meja, sementara tangan yang lain bersiap untuk menulis. Telinganya terpasang lebar, menyimak lekat-lekat setiap perkataan Arka yang terdengar serak nan berat.

Sesekali terdengar suara gemeresak sinyal di sepanjang kabel telepon. "Pertama, kamu minta blangko ke kelurahan, dari N1 sampai N4 buat nikah kantor militer... Jangan lupa surat keterangan bebas dari organisasi terlarang."

"N1 sampai N4 ya, Mas." Naira mencatatnya dengan sungguh-sungguh.

"Lalu urus SKCK juga ke Polsek."

"Sebentar, Mas." Gerakan tangan gadis itu cukup gesit menari di atas kertas. "Terus?"

"Foto ukuran tiga kali empat sama empat kali enam. Pakai kemeja sopan, sama latar belakangnya warna kuning."

"Baik, sebentar..."

"Terus, Mas?"

"Kalau semua sudah lengkap, nanti kamu bisa ke Batalyon buat cek kesehatan ke..." Suara Arka tertahan selama beberapa detik. Ada jeda yang terasa janggal sebelum ia melanjutkan, "...ke Poliklinik, sama dokter militer di sini."

"Baik."

"Semua sudah dicatat?" Suara gemeresak kembali terdengar beberapa kali, membuat kalimat Arka terdengar agak terputus-putus.

"Sudah, Mas."

Dari seberang telepon, Naira mulai mendengar suara alarm korps samar-samar, disusul derap langkah kaki yang ramai.

"Kalau begitu, sudah dulu ya, Nai. Aku harus serah terima tugas piket."

"Iya, Mas. Jangan lupa istirahat."

"Tentu."

Dan sambungan telepon langsung terputus. Suara *tut... tut... tut...* menggema di telinga Naira untuk sesaat.

Naira menjauhkan gagang telepon itu perlahan. Suara Arka yang serak berat dengan sesekali terdengar mendengus—seperti tengah menahan pilek akibat terpaan angin malam yang dingin—masih terngiang jelas di kepalanya.

Tatapan gadis itu perlahan turun ke arah kertas di atas meja. Sebuah catatan panjang berisi semua daftar berkas untuk rencana pernikahan mereka.

"Mas Arka, Nai?" Suara ibunya terdengar mendekat dari arah kamar orang tua.

"Iya, Bu."

"Pagi benar dia telepon."

"Iya, baru habis dinas tugas, Bu."

"Kasihan sekali calon mantuku," gumam wanita paruh baya itu tulus. Pandangannya kemudian turun, tertuju pada selembar kertas yang berada di dalam genggaman Naira. "Itu apa?"

Naira tersenyum tipis, lalu merapikan kertas tersebut dengan hati-hati. "Ini persiapan berkas nikah militer, Bu."

Ibu Naira menghela napasnya pendek. "Nai... Sebenarnya ada yang ingin Ibu tanyakan." Wanita paruh baya itu melangkah mendekat. "Bagaimana sama kerjaanmu?"

"..."

"Menikah secepatnya, apalagi sama Mas Arka, itu sudah keputusan yang bagus. Cuma, kerjaanmu sekarang itu kan cita-citamu."

Naira tampak menegang sesaat. Selama seminggu belakangan mengenal Arka, ia hampir larut dalam debar bahagianya hingga melupakan sesuatu yang sangat penting.

Cita-citanya.

"Kamu sudah PNS. Ngurus mutasi itu ribet, bahkan bisa berbulan-bulan sampai tahunan. Tapi kalau kamu mengundurkan diri, rasanya juga agak sayang," lanjut Ibunya cemas.

Naira menatar ibunya dengan gusar. "Nanti Naira pikirkan lagi ya, Bu."

Gadis itu melangkah lunglai menuju kamarnya. Pikirannya jelas tidak lagi berada di tempatnya.

Sepanjang hari, bahkan ketika ia sedang mengajar di sekolah, fokusnya masih terus terbayang pada perkataan ibunya. Pada Mas Arka. Kelas mengajarnya hari ini diisi dengan kegiatan siswa yang membaca di depan kelas, tetapi Naira tidak mendengarkan sepenuhnya. Sesekali tatapannya kosong melihat ke arah murid-muridnya, lalu beralih menatap nanar ke luar jendela kelas.

Waktu terasa berjalan sangat lamban ketika kita sedang memiliki beban pikiran.

Malam pun tiba. Suara jangkrik mulai memenuhi area luar rumah Naira. Jam dinding berdetak pelan menunjukkan angka sembilan. Beberapa lampu di dalam rumahnya telah dimatikan, kecuali di ruang tengah. Naira masih duduk diam, menatap gagang telepon putih gading yang membisu.

Kringgg!

Suara dering telepon tiba-tiba memecah keheningan lamunannya. Gadis itu buru-buru mendekat dan menempelkan benda dingin itu ke telinganya.

"Halo.."

"Nai."

"Mas Arka?"

"Iya, Nai. Maaf, ya, aku baru bisa telepon sekarang." Suara gemeresek kabel telepon terdengar pelan. Namun, Naira cukup sadar bahwa nada suara Arka malam ini jauh berbeda dari tadi pagi—terdengar lebih tenang dan segar.

"Enggak apa-apa, Mas."

"Bagaimana harimu? Surat-suratnya sudah mulai mau diurus?"

"Iya, Mas. Mm, Mas..." Gadis itu mengulum bibirnya pelan, menimbang kata.

"Aku mau tanya sesuatu, Mas."

"A--pa?" suara Arka terdengar agak terputus-putus karena gangguan sinyal kabel.

"Tadi pagi Ibu nanya... kalau jadi nikah sama Mas Arka, bagaimana dengan kerjaanku?"

Untuk sesaat, keheningan panjang kembali menemani keduanya di ujung telepon.

"Kalau aku pribadi, aku enggak ingin kamu kehilangan cita-citamu, Nai," jawab Arka akhirnya, memecah kesunyian. "Tapi jujur, untuk hubungan jarak jauh setelah menikah juga rasanya agak berat bagi kita. Menurutmu... kamu lebih nyaman bagaimana?"

"Naira bingung, Mas," cicit Naira pelan.

"Kenapa?" Suara Arka terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

"Ibu itu pengen banget kita cepat nikah, tapi Ibu juga yang bilang kasihan kalau aku lepas kerjaanku," adu Naira, nadanya sedikit merengek tanpa sadar.

Kekehan rendah yang terdengar begitu renyah lolos dari bibir pria di seberang sana. "Kalau itu alasannya, karena ini menyangkut Ibu mertua, jadi memang Mas yang harus segera menghubungi mereka. Besok malam biar Mas saja yang bilang ke Ibu, kalau habis nikah, istri Mas masih bisa tetap mengajar di sana dulu. Kita urus surat pindahnya pelan-pelan biar nanti enggak perlu jarak jauh lagi."

Naira mendengar kata "istri Mas" seketika merasa wajahnya memanas hebat. Ia menahan senyum sekuat tenaga, apalagi ketika Arka mulai lancar menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'Mas'.

"Kalau begitu... Naira ikut kata Mas saja," jawab Naira malu-malu, menyembunyikan binar bahagia di matanya.

"Baik, kalau begitu. Mas harus kembali kerja dulu, ya."

"Iya, Mas."

Sambungan telepon terputus, tetapi tidak dengan rona merah di wajah Naira yang masih terasa memanas di ruang tengah yang sepi itu.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!