"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
"Bagus sekali, jam segini masih di kamar." Lulu yang mendengar suara sang ibu memejamkan matanya dengan kening berkerut. Jika itu anak gadis lain, mungkin akan sangat senang bertemu sang ibu. Namun ia tidak.
Mendengar suara wanita itu saja sudah cukup membuat Lulu tertekan. "Lulu!"
Gadis itu bangun dari tidurannya. Mendongak untuk melihat sang ibu yang sudah berjalan ke arah jendela.
Srett.
Gorden panjang itu terbuka hingga cahaya menerobos masuk begitu saja. Linda lalu berbalik, menatap kesal sang putri yang melihatnya dengan tatapan malas.
"Kau anak gadis. Jam segini masih ngeram di kamar. Lihat anaknya pak Li, seumuran sama kamu sudah menikah sama bos besar."
Omelan Linda membuat Lulu menghela napas kasar. "Ma... aku masih kuliah."
"Untuk apa kuliah? Kau enggak bisa mewarisi bisnis keluarga kita. Dengerin mama! Lebih baik kau mencari pria kaya, hidupmu pasti terjamin."
"Ma...."
"Sudahlah! Hari ini mama datang sebenarnya mau kenalin kamu sama salah satu anak teman mama. Bisnis keluarga mereka bergerak di bidang investasi. Kebetulan proyek kakak keduamu sedang memerlukan dana tambahan. Kalau kalian cocok, dia pasti enggak segan bantu keluarga kita."
Lulu kembali menarik napas berat. Lagi dan lagi, setiap bertemu, ia pasti disuruh mencari bos besar. Dalam pikiran sang ibu, ia hanyalah investasi yang bisa menguatkan bisnis keluarga Xie.
"Ma, aku ada urusan di kampus. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban sang ibu, Lulu berlalu keluar.
Sementara Linda menggeram kesal. "Heh! Kalian yang sulung dan yang bungsu, selalu membuat resah. Satunya menikahi istri enggak berguna. Satunya hanya bisa menghabiskan uang. Enggak seperti kakak keduamu yang selalu mendengarkanku."
Lulu mencoba menulikan telinga yang tentunya tidak bisa. Kata-kata Linda selalu berhasil menusuk ke dalam hatinya. Inilah alasan ia lebih memilih tinggal bersama Juan. Karena meski menyebalkan, Ailin tidak membuatnya merasa frustasi seperti ini.
Gadis itu lalu berjalan cepat meninggalkan rumah. Baru setelah gerbang utama tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang. Rasanya setiap kali bertemu sang ibu, kepalanya selalu dipenuhi rasa sesak yang sama.
Dalam pandangan Linda, kakak sulungnya adalah pewaris keluarga. Kakak keduanya adalah kebanggaan keluarga. Sementara dirinya...
Lulu tersenyum pahit. Entah sejak kapan ia berhenti berharap mendapat perlakuan yang sama seperti kedua kakaknya. Bagi Linda, dirinya seolah selalu menjadi pilihan terakhir. Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua sudut matanya, namun ia tak mengeluarkan suara tangis. Justru suara tawa getir yang terdengar.
...
Di kamarnya. Mendengar pertanyaan sang istri, Juan rasanya tidak sanggup menjawab. Ia menunduk, diam beberapa saat sebelum kembali menatap Ailin yang matanya terlihat sedikit memerah.
"Dulu... kamu memang sering buat aku marah."
Ailin membeku, ternyata memang benar bahwa ia dulu memiliki sikap yang buruk. Sebenarnya ia mulai sadar sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Namun ia masih menyangkalnya bahkan saat Linda mencemoohnya.
Sekarang setelah mendengar sendiri dari mulut sang suami, Ailin hanya bisa terdiam. Tidak tahu juga harus mengatakan apa lagi setelah ini.
Sementara Juan tetap menatapnya lurus. Pria itu bisa melihat, wajah Ailin yang sebelumnya penasaran kini telah berganti dengan sorot kesedihan.
"Tapi... aku juga bukan suami yang baik."
Kedua mata Ailin kembali memandang Juan, lalu ia menggeleng pelan. "Enggak. Kakak sangat baik. Bahkan lebih baik dari yang aku duga."
"Aku suka marah dulu."
"Pasti karena aku yang pembangkang."
Juan tertawa pelan. "Kamu memang pembangkang."
"Kalau aku bilang jangan keluar, kamu sengaja keluar."
"Kalau aku bilang makan, kamu sengaja enggak makan."
"Kalau aku bicara baik-baik, kamu enggak dengar."
"Kalau aku marah, kamu malah lebih marah."
Ailin menunduk, merasa malu sekaligus bersalah.
"Tapi sekarang berbeda," lanjut Juan.
Ailin kembali mengangkat kepalanya. Kedua matanya menatap Juan penuh keraguan. "Berbeda?"
Pria itu mengangguk. "Sekarang kamu mau mendengarkan."
"Tapi dulu ...." Juan semakin menarik pinggang wanita itu, membuat Ailin tersentak saat tubuhnya benar-benar menempel pada dada Juan.
"Kak."
"Ailin... kalau aku bilang kamu di masa lalu memang buruk. Apa kamu mau menyerah memperbaikinya?"
Ailin menggeleng cepat. "Enggak."
Juan tersenyum, tanpa sadar mengecup pelan kepala sang istri. "Kalau begitu jawaban dari pertanyaan kamu sebelumnya sudah enggak penting."
"Bagi aku, bagi Lian, Kean. Yang terpenting adalah dirimu yang sekarang."
.
.
.