Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledekan yang Bikin Meleleh
Juan terlalu berhati-hati menjaga perasaan Raya. Padahal, siapa tahu jika mereka mulai menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih dekat, rasa sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Raya kurang apa, Ju? Dia baik, penyayang, dan cantik. Mama hanya ingin melihat kamu benar-benar membuka hati untuknya.
Batin Bu Sinta.
Pelupuk matanya kembali dipenuhi air mata.
"Maafkan Juan ya, Ray. Semoga kamu bisa bersabar menghadapi sikap Juan yang masih terkesan sangat dingin. Sebenarnya Juan itu anak yang sangat baik. Dia selalu takut menyakiti hati orang lain. Mungkin... itu juga yang sedang dia rasakan sekarang."
Air mata Bu Sinta kembali jatuh. Tangan yang mulai dipenuhi keriput itu mengusap lembut punggung tangan Raya.
"Tapi Mama yakin, suatu hari nanti Juan akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Mama memilih kamu menjadi menantu bukan tanpa alasan. Menurut Mama, kamulah wanita yang paling tepat mendampingi Juan."
Raya mengangguk pelan.
Hatinya yang semula dipenuhi kebahagiaan karena kecupan hangat Juan pagi tadi, kini ikut diliputi kesedihan melihat air mata ibu mertuanya.
"Mama tidak usah mengkhawatirkan Raya. Insyaallah Raya akan bersabar. Lagi pula usia pernikahan kami masih sangat muda. Kami masih sama-sama belajar mengenal satu sama lain. Jadi wajar kalau Bang Ju masih membutuhkan waktu."
---
"Loh, kan ada suami kamu. Nikmati saja waktu berdua sama Juan. Pepet terus suaminya," goda Bu Sinta sambil tertawa kecil.
Raya ikut terkekeh.
"Atau ajak Juan liburan. Siapa tahu kalian punya lebih banyak waktu berdua dan bisa saling mengenal lebih dekat."
Raya tampak berpikir.
"Ah, Mama bisa saja. Ide Mama boleh juga. Tapi minggu-minggu ini Bang Ju lagi sibuk. Selain kerja dari Senin sampai Jumat, ternyata Abang juga sedang ikut turnamen futsal. Bisa-bisa Raya malah makin ditinggal."
---
Malah jadi lebih kaku.
Apa Bang Ju masih canggung karena tadi pagi mencium keningku?
Ah... mungkin hanya perasaanku saja.
---
Raya melangkah melewati kamar mertuanya yang pintunya masih terbuka.
Tanpa sengaja, pandangannya menangkap pemandangan yang membuat sudut bibirnya terangkat.
Pak Bram tampak berdiri di belakang Bu Sinta sambil memijat bahu istrinya dengan penuh perhatian. Sesekali keduanya tertawa kecil, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Raya tersenyum tipis.
Romantis sekali...
Semoga suatu hari nanti, Bang Ju juga bisa menatap Raya dengan kelembutan seperti Pak Bram memandang Mama.
Bukannya langsung membuka mulut, Raya justru terpaku menatap sendok yang masih terulur di hadapannya.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Apa... Bang Ju benar-benar mau menyuapi aku?
Juan menghela napas pelan.
"Kalau tidak dimakan, nanti dingin."
Suara datarnya seketika menyadarkan Raya.
"Oh... iya."
Raya membuka mulut pelan.
Juan menyuapkan mi itu dengan gerakan yang masih terlihat kaku. Begitu Raya selesai mengunyah, pria itu langsung menarik kembali sendoknya seolah baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
Raya menahan senyum.
"Enak?"
Juan hanya mengangguk sambil kembali menyantap mi di mangkuknya.
"Enak."
"Bukan mie-nya."
Juan menghentikan gerakan tangannya.
"Maksudnya?"
"Disuapin Raya."
Juan menoleh perlahan.
Tatapan jahil Raya langsung bertemu dengan sorot mata hazel miliknya.
Beberapa detik...
Juan berdeham pelan.
"Kamu banyak bicara."
Raya malah terkekeh kecil.
"Berarti tadi benar, ya?"
"Benar apa?"
"Bang Ju sebenarnya perhatian sama Raya."
Juan kembali mengambil sesendok mi.
"Jangan besar kepala."
"Tapi tadi Abang yang nyuapin."
"Itu karena kamu bilang tidak nafsu makan."
"Berarti perhatian."
"Itu hanya supaya kamu tidak sakit."
"Nah, perhatian lagi."
Juan memijat pelipisnya.
Entah sejak kapan, berdebat dengan Raya selalu berakhir dengan kekalahannya sendiri.
Sudut bibir Raya semakin terangkat.
Sungguh, melihat Juan mulai kehilangan kata-kata adalah hiburan baru baginya.
Tepat saat itu terdengar suara mesin mobil dari halaman depan.
Brumm...
"Itu pasti Mama sama Papa."
Raya spontan berdiri.
"Ayo, Bang. Kita antar Mama sama Papa dulu."
Juan ikut bangkit dari duduknya.
Tanpa sadar, pandangannya mengikuti langkah kecil Raya yang berlari keluar kamar.
Untuk pertama kalinya...
Rumah yang biasanya terasa sunyi kini mulai terasa hidup sejak kehadiran gadis itu.