NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Wajah Itu

Bruk. 

Mata Miss Panda melotot sempurna saat melihat Tarjo duduk di kursi kemudi. Apalagi saat melihat wajah Tarjo menahan senyum sambil menatap ke arahnya. 

Tarjo benar-benar berhasil membuat Miss Panda memulai hari dengan kekesalan. Semakin bertambah kesal, karena Tarjo duduk di sebelahnya. 

“Kenapa kamu masuk ke mobil ini?” tanya Miss Panda sinis. 

“Lah, saya kan ajudan Ndan Satria. Masa Mbak Panda lupa.” 

“Biasanya kamu bawa motor atau mobil lain. Lagipula Mas Satria lebih suka nyetir sendiri ke kantor dibanding kamu setirin. Siapa yang menyuruhmu masuk?” 

“Aku.” 

Suara Satria yang tiba-tiba menyeruak masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Membuat Miss Panda tidak bisa berkutik. Hanya tatapan mata tajam ke Tarjo sudah menggambarkan rasa kesalnya. 

“Aku ingin duduk di…” 

Klek!

“Loh, kok pintunya gak bisa dibuka? Kamu kunci, Jo?” 

Tarjo memilih diam tanpa ada keinginan menanggapi Miss Panda. Bagi Tarjo kapan lagi bisa duduk berdampingan dengan perempuan yang sudah lama dirinya sukai. Meskipun terkenal angker karena sifat galak dan cerewetnya l. 

“Mas, tukeran tempat duduk. Aku ingin duduk di belakang saja.” 

“Duduk atau gak aku anterin kamu ke rumah muridmu,” perintah tegas Satria yang langsung membuat Miss Panda diam. Lalu mengalihkan pandangan matanya ke samping. 

“Iya.” 

Dalam hidup Miss Panda. Hanya ada dua orang yang bisa membuat dirinya tidak berkutik dan diam. Siapa lagi kalau bukan Satria dan Kakek Wirawan. 

Diamnya Miss Panda hingga keluar komplek rumah dinas. Membuat Tarjo yang saat ini menyetir merasa bingung tanpa arahan jelas. 

“Kita kearah mana, Mbak?” tanya Tarjo yang memang tidak tahu arah rumah Dira. 

“Lurus saja!” 

“Siap, Mbak,” jawab Tarjo sambil menahan senyum. Matanya secara diam-diam melirik kearah Miss Panda yang tengah cemberut. 

“Putar balik depan. Lalu belok kanan.” 

“Ke kanan, Jo. Kamu dengerin aku gak?” 

“Ini sudah ke kanan, Mbak.” 

“Nanti ke ke kiri. Awas kalau kamu kayak tadi.” 

“Oalah kesini to.” 

Ucapan spontan Tarjo membuat Miss langsung menatap laki-laki di sampingnya. Kening mengkerut dalam menandakan ada pertanyaan yang saat ini menyelimuti diri Miss Panda. 

“Kamu pernah kesini, Jo?” 

“Ya pernah, Mbak. Apalagi…” Ucapan Tarjo mengambang. Membuat Miss Panda penasaran. 

“Apalagi apa?”

“Gak apa, Mbak,” jawab Tarjo sambil senyum. Membuat Miss Panda semakin murka. 

Jelas Tarjo tidak berani melanjutkan ucapannya. Satria yang duduk di jok belakang memberikan tatapan tajam kepadanya. Karena semalam Satria memberikan tugas padanya memasang kamera cctv di wilayah tersebut. 

“Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?” 

“Gak kenapa-napa, Mbak.” 

Sepanjang perjalanan menuju rumah Dira. Hanya terdengar obrolan Miss Panda dan Tarjo. Sedangkan Satria memilih diam dengan pikiran berkecamuk. 

Semakin dekat jarak rumah yang akan dia akan datangi. Detak jantungnya semakin tidak karuan. Hingga akhirnya…” 

“Parkir depan saja, Jo. Karena mobil gak bisa masuk ke dalam.” 

“Baik, Mbak.” 

“Kita sudah sampai, Mas.” Ucapan Miss Panda mengalihkan perhatian Satria. 

Pandangan Satria langsung mengawasi sekitar tempat dirinya berada. Rumah padat penduduk dengan jalan sempit hal pertama yang dirinya lihat saat ini.

“Ayo, Mas.” 

Satria yang tidak ingin keberadaannya menjadi pusat perhatian warga sekitar. Memutuskan mengambil jaket hitam untuk menutupi seragam yang dikenakan. 

“Eh, mau kemana kamu?” tanya Miss Panda ke Tarjo saat laki-laki itu ikut keluar. 

“Ikut masuk ke dalam, Mbak. Menjaga komandan.” 

“Siapa yang nyuruh kamu ikut? Kamu disini saja, jaga mobil,” pinta Miss Panda sambil melotot. 

“Kamu tetap di mobil saja. Kalau keluar mobil jangan lupa pakai jaket. Jangan sampai menjadi pusat perhatian warga sekitar. 

“Baik, Ndan.” 

“Jadwal rapat paling awal jam berapa, Jo?” tanya Satria memastikan. Karena Satria sosok disiplin tinggi yang sangat meminimalisir melakukan kesalahan. 

“Jam 10.00 WIB, Ndan. Masih aman kalau ingin mengantar Mbak Panda menjenguk muridnya.” 

Setelah mengenakan jaket hitam. Satria dengan ditemani Miss Panda masuk ke gang sempit menuju kediaman Dira. Melewati lorong panjang padat penduduk. 

“Belajar panggil Tarjo dengan embel-embel mas. Walau bagaimanapun Tarjo lebih tua dibandingkan dirimu,” ucap Satria. 

“Gak janji, lagipula hanya lebih tua 2 tahun saja,” tutur Miss Panda sambil cemberut. 

Keberadaan Satria dan Miss Panda yang penampilannya terlihat kontras dengan warga sekitar. Membuat keduanya menjadi pusat perhatian. Tanpa terkecuali Siti yang baru selesai belanja sudah siap dengan mulut pedasnya. 

“Widih, sepertinya Mbah Sekar ada tamu penting nih,” sindir Siti sambil melirik Miss Panda dan juga Satria. 

Namun, tidak ada yang menanggapi ucapan Siti. Membuat Siti semakin mendekati Miss Panda dan Satria. 

“Mau ngapain pagi-pagi datang bertamu?” tanya Siti saat ucapannya sama sekali tidak ditanggapi. 

Miss Panda lebih memilih berlalu. Sedangkan Satria mengawasi sekitar. Memastikan kamera cctv terpasang sesuai dengan perintah darinya semalam. Dan hasilnya sang bawahan melakukan dengan cepat dan rapi. 

“Heh! Telingamu gak pernah dibersihin,” ucap Siti mencoba mengkonfrontasi. 

“Sepertinya lain kali kita bawa earphone kalau ke tempat ini, Mas. Telingaku sakit banget mendengar bisikan makhluk halus,” sindir Miss Panda dengan suara cukup keras. 

Sengaja Miss Panda lakukan itu agar bisa didengar oleh Siti. Hingga membuat perempuan paruh baya itu melotot ke arah Miss Panda. 

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Karena Satria yang sebelumnya diam memilih menatap tajam perempuan tidak sopan itu. Sehingga Siti langsung terdiam. 

“Ayo!” ajak Satria. 

“Siapa laki-laki itu? orangnya ganteng dan gagah sih. Tapi, tatapan matanya seram,” ucap Siti ketakutan langsung berlari masuk ke rumahnya. 

“Kenapa tidak dari tadi Mas melakukan hal itu. Telingaku sudah kepanasan mendengar ucapannya yang gak berguna,” gerutu Miss Panda sambil berjalan. Hingga akhirnya sampai juga di depan rumah Mbah Sekar. 

“Kita sudah sampai, Mas.” 

Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Satria. Kini tatapan matanya tertuju pada rumah ukuran kecil namun asri karena banyak tanaman di bagian depan.  

“Assalamualaikum, Mbah Sekar,” salam Miss Panda. 

Krieeet. 

Mbah Sekar yang memang berada di ruang tamu langsung membuka pintu. Memastikan tamu yang datang di pagi hari. 

“Waalaikumussalam,” jawab Mbah Sekar tampak kaget. Lalu berjalan mendekati pagar. 

“Eh, ada Miss Panda berkunjung. Silahkan masuk!” 

Miss Panda masuk setelah dipersilahkan oleh Mbah Sekar. Sedangkan Satria masih berdiri tanpa mengubah sedikitpun posisinya. Membuat Miss Panda langsung menengokkan kepalanya ke arah belakang. 

“Oh iya, Mbah. Sebelumnya saya datang bersama seseorang.” 

“Kalau boleh tahu dengan siapa?” tanya Mbah Sekar mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Karena tahu jika laki-laki yang datang bersama Miss Panda bukan orang sembarangan. 

Terlihat dari celana coklat dengan garis setrikaan rapi. Serta sepatu pantofel hitam mengkilap. Tubuh gagah dan tatapan mata tajam. 

“Kenalkan Mbah, ini Mas Satria. Kakak kandung saya,” tutur Miss Panda. 

Entah kenapa baru kali ini tangan Satria terasa sangat berat untuk terulur mengalami Mbah Sekar. Seperti ada ribuan kilo batu mengikat tangannya. 

“Sekar.” 

“Satria.” 

Saat saling berjabat tangan. Mbah Sekar langsung terdiam sejenak sambil memperhatikan Satria. Mata tuanya menangkap ada sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan saat melihat Satria. 

Tatapan menunjukkan luka sekaligus kekhawatiran yang tak terucap. Sama persis dengan tatapan Nimas yang selalu menghindar. 

“Bagaimana dengan keadaan Dira, Mbah?” Pertanyaan Miss Panda mengalihkan perhatian Mbah Sekar. 

“Alhamdulillah sudah sempat turun. Meskipun kembali demam. Tapi, tidak setinggi sebelumnya,” jawab Mbah Sekar cepat sambil melepaskan jabatan tangannya dari Satria. Lalu beralih ke Miss Panda. 

“Apakah Dira sudah minum obat?” 

“Sudah, minum obat warung.” ucap Mbah Sekar. 

“Tunggu sebentar ya Miss Panda. Saya izin masuk ke dalam.” 

“Tidak perlu repot-repot, Mbah,” ucap cepat Miss Panda saat tahu Mbah Sekar ingin mengambilkan minuman untuk dirinya dan juga Satria. 

“Tidak apa.” 

Rumah kontrakan kecil itu tidak ada foto. Tidak ada bukti yang mengarah kejadian 18 tahun lalu. Itulah dalam pandangan Satria saat ini. 

Tidak berselang lama setelah kepergian Mbah Sekar ke dapur. Perempuan usia lansia itu kini keluar sambil membawa nampan. 

“Silahkan diminum, Miss Panda dan juga…” 

“Panggil Satria saja, Bu,” ucap cepat Satria mencoba menormalkan detak jantungnya. 

“Baik, Nak Satria.” 

Panggilan Nak yang diberikan Mbah Sekar mungkin terdengar biasa saja. Tapi, tidak untuk Satria. Beban itu semakin berat jika memang Nimas sosok perempuan yang Satria cari 18 tahun lalu. 

“Maaf ya, Mbah. Kami datang pagi-pagi merepotkan.” 

“Sama sekali tidak. Justru saya yang yang tidak enak membuat Miss Panda beserta Nak Satria datang menengok Dira.” 

“Dira mulai demam sejak kapan, Mbah?” 

“Tengah malam. Mungkin kecapean.” 

Kata kecapekan yang diucapkan Mbah Sekar memiliki banyak arti. Capek fisik fokus dengan kegiatan sekaligus menjadi pengajar les, atau capek karena efek tersebarnya video 18 tahun lalu. 

Meskipun Dira sudah menampilkan senyum di wajah cantiknya sebagai cara mengatakan dirinya baik-baik saja. Namun, tetap saja jiwa, tubuh, maupun pikirannya tidak bohong. Dan demam tinggi adalah reaksi alami tubuh Dira. 

“Sekali lagi saya minta maaf atas tersebarnya video itu. Saya berjanji akan menangkap pelaku penyebaran.” 

“Terima kasih banyak atas kepedulian Miss Panda.” 

Suara obrolan antara Miss Panda dan Mbah Sekar terdengar hingga kamar Dira. Dira yang sebelumnya terbaring lemah di kasur. Berinisiatif bangun untuk menemui Miss Panda. 

“Kalau saya ajak Dira berobat ke rumah sakit bagaimana, Mbah?” saran Miss Panda. 

“Terima kasih banyak. Tapi,...” 

Ucapan Mbah Sekar mengambang dengan menampilkan beban di wajahnya. Tentu saja langsung menimbulkan pertanyaan Miss Panda. 

“Tapi apa, Mbah?” 

“Kalau boleh kasih saran berobatnya di sekitar tempat ini saja. Karena saya tidak bisa meninggalkan Nimas sendirian di rumah.”

Satria yang sebelumnya lebih memilih diam menjadi pendengar. Langsung bereaksi saat nama Nimas disebut. 

“Meskipun keadaannya sudah mulai stabil. Tapi, tetap saja tidak bisa ditebak kapan marah maupun sedih mendera.” 

“Bagaimana kalau kami saja yang mengantar Dira berobat? Mbah tetap menjaga Mbak Nimas,” saran Miss Panda. 

Panggilan Mbak yang diucapkan oleh Miss Panda. Bagaimana hantaman keras untuk Satria. Panggilan yang bagi orang lumrah dan biasa saja. Justru menimbulkan rasa kurang nyaman.

“Apakah tidak merepotkan?” tanya Mbah Sekar. 

“Sama sekali tidak, Mbah.” 

Suara langkah kaki yang semakin mendekat mencuri perhatian Satria. Langkah kaki lemah dari sosok perempuan berhijab menyeruak mencuri perhatian semua orang di ruang tamu. 

“Dira, kenapa keluar?” 

Miss Panda langsung menghampiri Dira yang lebih memilih memberikan salam. Hal sama dilakukan juga oleh Mbah Sekar. 

Sedangkan Satria berdiri kaku tanpa sedikitpun mengedipkan matanya saat melihat Dira. Bayang-bayang wajah perempuan di masa lalu kembali menyeruak. 

Meskipun dirinya dalam keadaan setengah sadar. Tapi, wajah cantik milik perempuan malang itu terus terngiang-ngiang di pikiran Satria. Dan saat ini mata Satria fokus ke putri dari perempuan yang diyakini sosok 18 tahun lalu. 

“Assalamualaikum, Bapak. Perkenalkan nama saya Dira, putri dari Nimas Ayu,” salam Dira sambil menundukkan kepalanya. Karena tidak mungkin Dira berjabat tangan dengan laki-laki bukan keluarga. 

‘Wajah itu, tatapan mata itu.’ 

Jantung Satria terasa ingin copot dari tempatnya. Tangannya bergetar hebat. Nafasnya terasa terhenti saat itu juga. 

Ketika matanya menatap Dira yang memang memiliki kecantikan nurun dari Nimas Ayu. Rasa yang lebih menakutkan bagi Satria dibandingkan berhadapan langsung dengan penjahat kelas kakap. 

1
Susy Koes
keren banget novel ini. gak sabar nunggu up berikutnya 😄
Cichio23: Terima kasih masih tetap setia mami😍
total 1 replies
Susy Koes
semangat othor 💪tiap kali gak sabar nunggu updatenya
Cichio23: Makasih Mami Susy, love sekebon deh😍🤭
total 1 replies
Cichio23
Terima kasih banyak buat kakak hebat untuk like, subscribe, komen, maupun baca diam-diam. Dukungan sekecil apapun dari kalian itu nafas untuk author tetap ngetik😊🤭😍
Cichio23: Jujur Kak, kalau update sehari 5 bab othornya yang gak kuat langsung tipes,, hehehe. Kalau ramai baru diusahakan double update. Semangat juga buat kakak🤭😍😊🙏
total 2 replies
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!