Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Roy hendak mengatakan sesuatu ketika Austin kembali melanjutkan.
"Kalau aku berada di posisimu, aku akan memberinya waktu untuk memikirkan semuanya sendiri."
"Cinta bukan soal kekuasaan, status, atau siapa yang lebih kuat."
"Cinta adalah pilihan yang dibuat dengan sukarela."
Ia berhenti sejenak.
Kemudian teringat ucapan ayahnya bahwa dirinya belum pernah benar-benar mencintai seseorang.
Entah mengapa, sebuah wajah tiba-tiba muncul di benaknya.
Austin menunduk tipis.
Nada suaranya menjadi lebih lembut.
"Aku memang sudah menyukai seseorang."
Roy membeku.
Austin melanjutkan, "Dan jika aku menggunakan cara seperti ini untuk mempertahankannya.."
Ia tersenyum kecil.
"Kurasa aku tidak akan sanggup melakukannya."
Meski tangannya terluka, Austin tetap menyelesaikan beberapa pekerjaan dari rumah sepanjang sore.
Saat sedang membalas email, sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya.
Pengirimnya tersimpan dengan nama:
[Kucing]
Senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
[Kucing: Tuan Austin, apakah Anda sudah selesai?]
Austin segera membalas.
[Sudah.]
Tak lama kemudian pesan berikutnya masuk.
[Kucing: Jam enam malam. Sampai jumpa di restoran ya. Aku sudah memesan tempat duduk~]
Hanya dengan membaca kalimat itu, Austin bisa membayangkan wajah Yurika yang penuh semangat.
Tatapan matanya menjadi lebih hangat.
[Baik. Aku tidak akan terlambat.]
Tepat pukul enam sore, Austin tiba di restoran sesuai janji. Yurika sudah menunggunya di meja yang telah dipesan.
Begitu melihatnya datang, wajah gadis itu langsung berseri-seri.
Seperti biasa, Austin tampil rapi dan elegan.
Kemejanya licin tanpa kerutan sedikit pun. Potongan pakaiannya sederhana, tetapi jelas berasal dari bahan berkualitas tinggi.
Setiap kali melihatnya, Yurika selalu merasa seperti sedang menikmati angin musim semi yang sejuk dan nyaman.
Namun ketika Austin duduk di hadapannya, Yurika langsung memperhatikan sesuatu.
Tangan kanan pria itu dibalut perban, matanya membelalak.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?"
Austin melirik perban itu sekilas.
"Hanya luka kecil."
"Luka kecil?"
Yurika tampak tidak percaya bahwa Austin sedang tersenyum ringan.
"Tidak perlu khawatir."
Melihat ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh, Yurika pun tidak bertanya lagi.
Sebagai gantinya, ia mendorong menu ke arahnya.
"Hari ini aku yang mentraktir. Pesan apa pun yang kau mau."
Austin menerima menu itu. Setelah memilih beberapa hidangan, ia mengembalikannya kepada Yurika.
"Yang ini cukup enak."
Yurika menambahkan beberapa menu lagi sebelum menyerahkannya kepada pelayan.
Kemudian ia berkata, "Kakakku juga menyampaikan terima kasih atas bantuanmu kemarin."
"Kalau bukan karena kau, situasinya pasti jauh lebih merepotkan."
Austin menggeleng.
"Sebenarnya aku hanya kebetulan berada di sana."
Ia tersenyum tipis.
"Teman yang mengajakku minum kemarin juga hanya menghubungiku secara mendadak."
"Kalau kehadiranku bisa membantumu, maka malam itu tidak sia-sia."
Yurika tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh iya!"
Ia membungkuk mengambil sebuah kotak panjang yang tadi disimpan di samping kursinya.
"Aku juga membawa hadiah untukmu."
Austin tampak sedikit terkejut.
"Hadiah?"
Yurika mengangguk.
"Aku dengar dari Senior Gerson kalau kau suka minum teh."
"Jadi aku membuat sesuatu untukmu."
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah nampan teh kerawang buatan tangan.
Desainnya sederhana dan elegan, dihiasi motif dedaunan hijau yang halus. Namun yang paling menarik perhatian adalah sebuah patung kucing kecil di salah satu sudutnya.
Kucing itu terlihat lucu dengan ekspresi polos yang menggemaskan.
Austin menatapnya cukup lama.
Lengkungan tipis muncul di sudut bibirnya.
"Aku sangat menyukainya."
Mendengar itu, Yurika langsung merasa lega.
"Syukurlah."
Austin mengangkat pandangan ke arahnya.
"Kenapa tiba-tiba memberiku hadiah?"
Yurika menjawab jujur, "Kau sudah membayar anggur waktu itu."
"Belum lagi selama ini kau sering membantuku."
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih."
Austin menatap kucing kecil di atas nampan teh itu.
Lalu ia tersenyum.
"Sepertinya hadiah ini lebih manis daripada lukisan pohon yang pernah diberikan Gerson padaku."
Tatapannya kembali tertuju pada Yurika.
"Apakah aku mendapat perlakuan khusus?"
Jantung Yurika mendadak berdebar.
Tatapan mata pria itu terlalu dalam.
Ia buru-buru mengambil gelas dan meneguk air untuk menenangkan diri.
"Mungkin..."
Austin terkekeh pelan.
Malam itu, makan malam mereka berlangsung sangat menyenangkan.
Mereka berbincang tentang pekerjaan, kehidupan sehari-hari, dan berbagai hal ringan lainnya.
Sesekali Austin menjelaskan beberapa pengetahuan yang belum dipahami Yurika, sementara Yurika mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tanpa mereka sadari, waktu berlalu jauh lebih cepat daripada biasanya.
ditunggu lanjutannya yaaa💞
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁