NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pagi setelah drama makan malam dan kejadian jemput paksa di sirkuit liar itu seharusnya menjadi pagi yang tenang. Namun, bagi Alexa, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Ucapan Clarissa tentang setara dan tatapan sinis Bu Ratna membuatnya tersadar bahwa dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang alasan sebenarnya di balik perjodohan mendadak ini.

Alexa terbangun di tempat tidur besar Zyan dengan kemeja Zyan yang masih melekat di tubuhnya. Zyan sendiri sudah tidak ada di sampingnya; aroma kopinya menunjukkan dia sudah berada di ruang kerja sejak fajar menyingsing.

"Nggak mungkin cuma karena bokap gue sakit, terus Om Duda itu mau-mauan nikah sama bocah teknik kayak gue," gumam Alexa sambil beranjak menuju kamar mandi.

Rasa penasaran itu membawanya kembali ke rumah ayahnya di pinggiran Jakarta siang itu. Ayahnya, Pak Surya, sedang duduk di kursi roda di taman belakang, memandangi sebuah foto tua yang sudah menguning.

"Yah, Alexa pulang!" seru Alexa sambil memeluk ayahnya dari belakang.

Pak Surya tersenyum lemah. "Gimana Bali-nya? Zyan nggak macem-macem kan?"

"Bali seru, Yah. Tapi ada yang lebih penting. Yah, jujur sama Alexa... kenapa Ayah bersikeras jodohin Alexa sama Zyan? Maksud aku, keluarga Arsalan itu langit, kita ini... ya, kita ini gak terlalu sepadan sama mereka. Kenapa mereka mau?"

Raut wajah Pak Surya mendadak berubah. Ia menghela napas panjang, matanya menerawang ke masa dua puluh lima tahun yang lalu. "Zyan tidak cerita apa-apa padamu?"

"Nggak. Dia cuma bilang ini amanah Papa-nya."

Pak Surya terdiam lama sebelum akhirnya meminta Alexa mengambilkan sebuah kotak besi tua yang berkarat di bawah tempat tidurnya. Dengan tangan gemetar, Pak Surya membukanya. Di dalamnya ada beberapa lembar saham lama, kunci motor antik, dan sebuah surat perjanjian dengan kop surat Arsalan Group tahun 2001.

"Dulu, Ayah bukan cuma montir biasa, Lex. Ayah adalah kepala teknisi di divisi otomotif Arsalan Group yang dulu hampir mereka bangun. Ayah adalah sahabat karib almarhum papanya Zyan, Pak Arsalan," cerita Pak Surya dengan suara parau.

Alexa tertegun. "Ayah... kerja di sana?"

"Lebih dari itu. Ayah yang menyelamatkan Pak Arsalan saat terjadi kecelakaan hebat di sirkuit uji coba. Mobil prototipe yang dikendarai Pak Arsalan meledak karena sabotase internal. Ayah yang menerjang api buat narik dia keluar. Tapi gara-gara itu, kaki Ayah cacat, dan Ayah difitnah sebagai penyebab kecelakaan itu oleh orang-orang yang mau menggulingkan Pak Arsalan."

Mata Alexa membelalak. "Jadi, Ayah dipecat dengan tidak hormat padahal Ayah penyelamatnya?"

"Pak Arsalan tahu Ayah tidak bersalah. Tapi dia tidak berdaya melawan dewan komisaris saat itu. Sebelum meninggal, dia bersumpah akan mengembalikan kehormatan keluarga kita. Perjodohan ini... adalah cara dia memastikan bahwa keturunan Arsalan akan menjaga keturunan Surya selamanya. Zyan tahu fakta ini, Lex. Dia menikahimu karena rasa utang budi ayahnya."

Dunia Alexa seolah runtuh seketika. Rasa utang budi? Jadi, semua perhatian Zyan, bengkel pribadi yang dibangun, pembelaannya di depan Clarissa... itu semua hanya bentuk pembayaran hutang nyawa?

"Jadi gue ini cuma... cicilan hutang buat dia?" bisik Alexa, suaranya bergetar.

"Jangan salah paham, Lex. Zyan anak yang baik. Dia—"

Tapi Alexa tidak mendengar lagi. Ia langsung berlari keluar rumah, menyalakan motornya, dan melesat menuju kantor Zyan. Amarahnya kembali membara, lebih panas dari knalpot motornya.

Di Arsalan Group, Zyan sedang memimpin rapat besar tentang akuisisi lahan. Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka dengan kasar.

" ZYAN! KELUAR LO!" teriak Alexa di ambang pintu.

Seluruh jajaran direksi menoleh dengan kaget. Zyan memijat keningnya, lalu memberi isyarat agar rapat dihentikan sementara. "Tunggu di luar, sepuluh menit lagi kita lanjut," perintah Zyan pada bawahannya.

Setelah ruangan kosong, Zyan mendekati Alexa. "Alexa, ada apa lagi? Ini ruang rapat, bukan bengkel."

"Bener kan, Om? Lo nikahin gue cuma karena rasa bersalah bokap lo ke bokap gue? Lo anggep gue beban yang harus lo tanggung demi nama baik bokap lo?!" Alexa melemparkan salinan surat perjanjian tua yang ia foto dari rumah ayahnya ke meja Zyan.

Zyan melihat foto itu, lalu terdiam. Ia tidak membantah. "Awalnya... memang benar. Papa meninggalkan wasiat bahwa saya harus menemukan anak dari Surya dan memastikan dia hidup bahagia. Tapi Alexa, itu hanya awalnya."

"BOHONG!" teriak Alexa, air mata mulai mengalir. "Lo kasihan sama gue! Lo liat gue sebagai proyek amal! Bengkel yang lo kasih, kemeja yang lo pakein ke gue kemarin... itu semua cuma biar lo nggak ngerasa bersalah kan?!"

"Dengarkan saya dulu!" Zyan mencengkeram tangan Alexa, tapi Alexa menepisnya.

"Gue benci dikasihanin! Gue mahasiswi teknik yang bisa idup sendiri tanpa belas kasihan Arsalan Group! Gue pikir... gue pikir lo beneran mulai suka sama gue yang berisik ini. Ternyata gue cuma tugas dari almarhum bokap lo."

Alexa berbalik dan berlari menuju lift. Zyan mengejarnya, tapi langkah Alexa lebih cepat. Saat pintu lift tertutup, Zyan hanya bisa memukul dinding lift dengan frustrasi.

"Bukan begitu, Alexa... kamu tidak tahu betapa susahnya saya menahan diri agar tidak jatuh cinta pada kamu sejak hari pertama," gumam Zyan pelan pada pintu besi yang tertutup itu.

Alexa memacu motornya tanpa tujuan. Ia merasa dikhianati oleh realita. Di tengah kekacauannya, ia berhenti di sebuah bar kecil di kawasan Kemang. Ia butuh sesuatu yang pahit untuk menandingi rasa pahit di hatinya.

Namun, saat ia duduk di sudut bar, seseorang menghampirinya. Itu adalah Clarissa. Kali ini wanita itu tidak memakai gaun mahal, melainkan pakaian yang lebih santai tapi tetap terlihat licik.

"Sudah tahu kebenarannya, ya?" tanya Clarissa sambil meletakkan segelas minuman di depan Alexa.

"Mau apa lo? Mau ngetawain gue?" tanya Alexa tajam.

"Enggak, aku malah mau bantu kamu. Kamu tahu? Zyan itu pria yang sangat logis. Dia tidak akan membuang waktu untuk sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak menjadi kewajibannya. Kamu itu kewajiban, Alexa. Sedangkan aku... aku adalah pilihan orang tuanya dulu," Clarissa tersenyum penuh kemenangan.

"Pergi lo dari sini sebelum helm gue melayang ke muka lo."

"Sabar, Alexa. Aku cuma mau bilang, daripada kamu menderita jadi beban di hidup Zyan, kenapa kamu nggak pergi saja? Aku bisa bantu kamu dapet beasiswa teknik di Jerman. Jauh dari sini, jauh dari Zyan. Kamu bisa bebas, dan Zyan bisa lepas dari tanggung jawab yang membebankannya selama ini."

Alexa menatap Clarissa. Tawaran itu terdengar menggiurkan di tengah rasa sakitnya. Pergi ke Jerman, belajar di pusat industri otomotif dunia, dan melupakan pria kaku yang menikahinya karena rasa kasihan.

"Gue nggak butuh bantuan lo buat dapet beasiswa," ujar Alexa, tapi suaranya tidak seyakin biasanya.

"Pikirkan saja dulu. Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kamu sudah sadar bahwa kamu tidak akan pernah bisa setara di mata keluarga Arsalan." Clarissa pergi, meninggalkan aroma parfum lili yang sekarang terasa seperti racun bagi Alexa.

Malam itu, Alexa pulang ke rumah mereka dalam keadaan basah kuyup karena hujan. Zyan sudah menunggunya di depan pintu dengan handuk dan wajah yang sangat khawatir.

"Kamu dari mana? Saya cari ke semua sirkuit tapi tidak ada!" Zyan mencoba memeluknya, tapi Alexa menghindar.

"Gue mau tidur di bengkel belakang mulai malam ini. Jangan cari gue," ujar Alexa dingin.

"Alexa, tolong jangan kekanak-kanakan. Kita harus bicara!"

"Bicara apa lagi? Bicara soal cicilan hutang nyawa yang mana lagi yang mau lo bayar hari ini?" Alexa menatap Zyan dengan mata yang kosong. "Om, lo bebas sekarang. Lo nggak perlu jagain gue lagi. Gue bakal urus surat cerai kita secepatnya."

Zyan mematung. Kata cerai itu terasa lebih menyakitkan daripada kerugian miliaran rupiah di kantornya. "Saya tidak akan pernah menandatangani surat itu."

"Kenapa? Takut bokap lo bangkit dari kubur? Tenang aja, gue bakal jelasin ke bokap gue kalau ini kemauan gue sendiri. Gue nggak mau jadi bagian dari drama balas budi ini."

Alexa berjalan menuju halaman belakang, menuju bengkel pribadinya yang dulu terasa seperti surga, tapi sekarang terasa seperti sangkar emas yang menghinanya. Ia mengunci pintu bengkel dari dalam, meninggalkan Zyan yang berdiri sendirian di bawah guyuran hujan di tengah halaman.

Zyan tidak bergeming. Ia berdiri di sana, menatap pintu bengkel yang tertutup rapat. Ia membiarkan dirinya basah kuyup, seolah ingin merasakan dingin yang sama dengan yang dirasakan hati Alexa.

"Kamu salah, Alexa... Aku mencintaimu bukan karena janji pada Papa. Tapi karena kamu adalah satu-satunya orang yang berani menabrak hidupku yang membosankan ini dengan motor berisik mu itu," bisik Zyan di tengah deru hujan.

Sementara itu, di dalam bengkel, Alexa terduduk di lantai, memeluk lututnya di samping motor kesayangannya. Di bawah lampu neon yang redup, ia menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, si gadis teknik yang tangguh merasa benar-benar hancur.

Tanpa mereka sadari, Clarissa sedang menelepon seseorang di dalam mobilnya. "Rencana pertama berhasil. Dia minta cerai. Sekarang, jalankan rencana kedua. Pastikan proyek rumah sakit Zyan gagal total agar dia tidak punya pilihan selain meminta bantuan dana dari keluarga kita."

Badai besar benar-benar sedang menuju ke arah pernikahan mereka.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!