Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Rina vs Jason, Perang Mulut Dimulai!
Luka lama keluarga Hartono juga mulai terbuka.
Kalimat itu membuat ruang keluarga The Residence terasa lebih penuh daripada biasanya. Di meja, dokumen Hartono tersusun rapi. Di dekat sofa, Rina berdiri dengan tangan terlipat di dada, jelas siap berangkat ke Surya Mansion meski baru lima menit lalu Kevin sudah berkata tidak.
"Aku ikut," ulang Rina.
Kevin menjawab, "Tidak."
"Aku tidak minta izin."
"Dan aku tidak memberi."
Felicia menatap mereka bergantian.
*Dua batu ketemu. Yang satu es batu, yang satu batu bata. Kalau dibenturkan, rumah ini bisa retak.*
Kevin melirik Felicia.
Rina menangkap lirikan itu. "Kenapa lihat Cia? Dia mau aku ikut."
"Aku belum bilang begitu," kata Felicia.
"Tapi wajahmu bilang."
Felicia terdiam.
Kevin menatapnya dengan ekspresi yang hampir bisa disebut puas.
"Rasakan," katanya pelan.
Felicia menunjuk mereka berdua. "Mulai hari ini, tidak ada yang boleh memfitnah wajah saya."
Sebelum perang kecil itu berkembang, bel pintu berbunyi. Pak Budi muncul dengan wajah pasrah.
"Pak Jason datang, Bu."
Kevin memejamkan mata.
Rina langsung menoleh. "Jason siapa?"
Felicia menjawab terlalu cepat, "Sahabat Kevin."
*Atau calon tokoh utama teori cinta rahasia. Tapi jangan bilang.*
Kevin berkata, "Felicia."
"Saya belum bilang apa-apa."
Jason masuk dengan tas laptop di satu tangan dan kopi di tangan lain. "Kev, gue dapat info tentang Mbah Suryo. Orang itu bukan cuma tukang feng shui biasa. Dia sering dipakai keluarga kaya buat bikin narasi mistis kalau ada orang yang mau disingkirkan."
Lalu ia melihat Rina.
Rina melihat Jason.
Hening dua detik.
Jason tersenyum. "Halo. Penghuni baru?"
Rina menatapnya dari ujung rambut sampai sepatu. "Kamu siapa? Tukang makan gratis ya?"
Felicia hampir tersedak.
Jason menunjuk dirinya sendiri, tersinggung. "Maaf, wajah gue seperti tukang makan gratis?"
"Kamu masuk rumah orang bawa kopi satu, bicara keras, dan langsung duduk. Iya."
Jason menoleh ke Felicia. "Bu Felicia, ini siapa dan kenapa dia menyerang harga diri gue?"
"Rina Hartono. Sepupu saya."
"Oh." Jason menoleh lagi pada Rina, senyumnya kembali. "Pantas. Energinya mirip Bu Felicia kalau lagi mau menjebak orang."
Rina mengangkat alis. "Kamu sering memperhatikan Cia?"
Kevin menatap Jason.
Jason langsung mengangkat tangan. "Dalam konteks aman! Kev, jangan lihat gue begitu."
Rina menyipit. "Kenapa dia takut sama kamu? Kamu bosnya?"
Jason menunjuk Kevin. "Dia? Bos? Please. Dia tiran emosional."
Kevin berkata, "Keluar."
"Lihat? Tiran."
Felicia menutup mulut agar tidak tertawa keras.
*Ya ampun. Rina dan Jason satu ruangan rasanya seperti nonton dua komedian tanpa honor.*
***"Host, potensi chemistry terdeteksi."***
*Jangan mulai, Si Kepo.*
Rina duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan. "Kalau kamu memang sahabat Kevin, kenapa baru muncul sekarang?"
Jason duduk di kursi seberang. "Karena Kevin menyembunyikan istrinya dari dunia, dan dari gue."
"Mungkin karena kamu berisik."
"Gue komunikatif."
"Berisik."
"Jujur."
"Tidak ada bedanya kalau volumenya seperti toa."
Jason memegang dada. "Kev, sepupu istrimu menyakitiku."
Kevin berkata datar, "Kamu akan hidup."
Felicia menyerah dan tertawa.
Suara tawa itu membuat ruangan sedikit ringan. Bahkan Kevin, yang wajahnya tetap dingin, tampak tidak setegang tadi.
Jason membuka laptop. "Oke, sebelum aku dibantai verbal lagi, fokus. Mbah Suryo punya pola. Dia datang, melihat aura, lalu memberi kalimat ambigu. Setelah itu, orang yang diincar disebut membawa sial, mengganggu feng shui, atau memicu konflik keluarga. Biasanya dipakai untuk menekan menantu, calon pewaris, atau staf yang mau disingkirkan."
Rina mendengus. "Jadi dukun korporat?"
"Kurang lebih konsultan drama spiritual."
"Konyol."
"Efektif kalau penontonnya percaya."
Felicia menatap layar. Ada beberapa artikel lama, foto Mbah Suryo bersama keluarga konglomerat lain, dan catatan dari Phoenix Intel.
"Madam Liem ingin dia bilang saya sumber masalah," kata Felicia.
Kevin menjawab, "Kemungkinan."
Rina langsung berdiri. "Maka aku makin harus ikut. Kalau dia mulai bicara aneh, aku lempar dia pakai tas."
"Tidak," kata Kevin dan Felicia bersamaan.
Jason tertawa. "Aku suka dia."
Rina menunjuknya. "Aku tidak butuh persetujuan tukang makan gratis."
"Nama gue Jason."
"Untuk sekarang, gratis."
"Itu bahkan bukan nama."
"Buatku iya."
Felicia menunduk di balik dokumen, bahunya bergetar menahan tawa.
Kevin menatapnya. Di tengah ancaman Mbah Suryo, Wijaya, Madam Liem, dan Brandon, tawa Felicia terdengar seperti sesuatu yang perlu dijaga.
Ponsel Kevin bergetar.
Ia membaca pesan, lalu wajahnya kembali dingin.
"Hendrik meminta kita datang sekarang."
Ruangan langsung diam.
Jason menutup laptop. "Mbah Suryo sudah mulai?"
"Belum. Tapi Madam Liem bilang pemeriksaan harus dilakukan sebelum makan malam."
Rina mengambil tas. "Aku ikut."
Kevin hendak menolak, tetapi Felicia mendahului.
"Rina ikut sampai gerbang. Kalau situasi aman, dia menunggu di mobil. Kalau mereka menyerangku dengan omong kosong, dia tetap tidak boleh lempar tas."
Rina membuka mulut.
Felicia menatapnya.
Rina mendengus. "Baik. Tidak lempar tas. Kecuali darurat."
Jason berdiri. "Aku juga ikut."
Kevin berkata, "Tidak."
Jason tersenyum. "Aku tidak tanya izin."
Rina menunjuk Jason. "Jangan pakai kalimatku."
"Kalimatmu bagus."
"Bayar royalti."
"Nanti pakai bakmi."
Felicia melihat mereka berdua, lalu menghela napas.
*Ronde Mbah Suryo belum mulai, tapi kepalaku sudah ramai.*
Kevin mengambil jasnya.
"Kita berangkat."
Di pintu, Rina dan Jason masih saling melotot seperti dua anak sekolah berebut kursi.
Felicia berjalan di samping Kevin. "Mas Kevin."
"Hmm."
"Kalau nanti Mbah Suryo bilang saya membawa sial, kamu percaya?"
Kevin tidak berhenti berjalan.
"Tidak."
"Cepat sekali jawabnya."
"Karena jelas."
Felicia menatap profilnya. Jantungnya bergerak pelan, tidak heboh, tapi dalam.
Di belakang mereka, Jason dan Rina masih berdebat soal siapa yang duduk di mobil mana.
Namun saat pintu The Residence terbuka dan udara sore masuk, Felicia tahu tawa kecil tadi sudah selesai.
Di Surya Mansion, Madam Liem sedang menunggu dengan senyum seorang pemenang.