Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mencintaimu, Lily
“Yakin?”
Menjawab iya seharusnya bukan hal yang sulit, tetapi faktanya Lyra merasa tak sanggup mengucapkan satu kata singkat itu.
Apa yang sebenarnya membuat dia sangat kesal sekarang?
Apakah benar karena ia menumpang di rumah Ares ataukah sebenarnya karena tak memiliki hak di rumah itu sebagai istri?
“Tapi Leo yang katanya orang besar itu ternyata dokter pribadi Ares, Na. Menurutmu itu masuk akal nggak sih?”
“Justru semuanya masuk akal sekarang,” ujar Sena yang membuat Lyra mengerutkan dahi. “Orang dari VC Group datang ke acara ulang tahun Ryan waktu itu secara khusus, mereka juga yang mengajukan kerja sama ke perusahaan Jatmika lebih dulu. Apa jangan-jangan semua itu terjadi karena Ares kenal dekat dengan Leo si wakil VC Group?”
“Kenal dekat?” Lyra teringat kembali bagaimana Leo merawat Ares semalam, bahkan menyelimuti pria itu. Jika hubungan mereka hanya sekadar dokter dan pasien, maka perhatian tersebut terlalu berlebihan. “Sepertinya mereka memang cukup dekat.”
Lagi, Lyra merasa kecewa karena fakta itu membuatnya sadar ia tak benar-benar mengenal Ares, meski setiap malam tidur seranjang dengannya, Lyra justru merasa pria itu berada di ujung jalan yang penuh kabut, tak bisa dijangkau sedikit pun.
***
“Kamu pulang, Lily.”
Ares menyambut kepulangan Lyra dengan senyum hangat, bahkan pria itu langsung mengambil tas Lyra lalu menuntunnya ke sofa. Dengan penuh kasih sayang, ia melepaskan sepatu hak tinggi sang istri lalu memijat pergelangan kakinya dengan lembut, membuat Lyra hanya bisa mengernyit bingung. “Hari ini kamu pasti sangat lelah, mau rendam kaki dengan air hangat?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Ares, Lyra justru menyentuh kening pria itu, memeriksa suhu tubuhnya. “Nggak demam,” gumamnya.
“Aku sehat kok, semalam Cuma kelelahan aja.”
“Kalau kelelahan ya istirahat, kenapa malah mau rendam kakiku dengan air hangat kayak pelayan?”
Ares hanya terkekeh ringan, ia bergegas pergi dan tak lama kemudian kembali dengan membawa sebaskom air hangat, membuat Lyra semakin bingung dengan perhatian suaminya yang sangat berlebihan.
Namun, tak bisa dipungkiri, ia sangat menikmati pelayanan sang suami saat ini. Lagi pula, sesuai perjanjian, di rumah, mereka adalah sepasang suami istri yang sesungguhnya.
Lyra memandangi wajah Ares yang serius saat memijat kakinya, ia tidak tahu alasan pria itu benar-benar bersikap layaknya suami yang sayang istri, tetapi ekspresi wajah dan mata pria itu menunjukkan ketulusan yang membuat hatinya bergetar.
“Semalam … kamu beneran nggak apa-apa?” Lyra bertanya dengan ragu, takut Ares merasa terganggu dengan pertanyaan itu.
“Hanya sedikit stres karena pekerjaan.” Ares menjawab dengan tenang dan Lyra hanya menggangguk meski ia tahu pria itu berbohong.
Stres karena pekerjaan memang berdampak buruk tapi apa yang dilihatnya dari pria itu lebih dari sekadar stres. Namun, Lyra menahan diri untuk bertanya lebih jauh.
“Merasa lebih baik?”
“Hm, terima kasih. Sebagai gantinya, biar aku masakin makan malam,” ujar Lyra dengan senyum lebar, tetapi saat teringat kulkasnya kosong, ia langsung meringis. “Tapi kita belum belanja, emm … aku pesan aja.”
“Kulkas sudah isi.” Ares mengusap kepala Lyra dengan gemas. “Tadi Vano sudah belanja, semuanya lengkap. Tapi kalau ada barang lain yang mau kamu beli, tinggal telepon Vano.”
Mendengar nama Vano, Lyra jadi teringat dengan Leo dan itu kembali membuatnya kesal.
“Bahkan Vano lebih mirip seperti Nyonya rumah ini dari pada aku.” Ia menggerutu dalam hati.
“Kenapa?” Ares yang melihat Lyra cemberut segera bertanya dengan cemas. “Apa ada yang mengganggumu, Lily?”
“Nggak, Cuma nggak enak aja numpang hidup sama orang.”
“Uh?”
***
Keesokan harinya, Lyra terbangun karena dering ponsel yang tiada henti, padahal ia berniat tidur hingga siang karena hari ini adalah hari liburnya.
“Halo.” Tanpa tahu siapa yang menelepon, Lyra menjawab dengan suara serak.
“Lyra, ini Tante.”
Mata Lyra langsung terbuka lebar mendengar suara ibu mertuanya dari Seberang telepon. Semenjak ia memutuskan hubungannya dengan Ryan, ia tak pernah lagi berkomunikasi dengan kedua orang tua pria itu apalagi mereka juga tak pernah menghubunginya.
“Ada apa, Tante?” Lyra bersandar di kepala ranjang sembari mengucek matanya dan itu membuatnya menyadari ada sesuatu di jarinya.
Sebuah cincin berlian yang sangat cantik terpasang di jari manisnya. Lyra tertegun, bertanya-tanya sejak kapan cincin itu bisa ada di sana?
Bersamaan dengan itu, Ares keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang dililitkan di pinggang, pemandangan yang berhasil membuat mata Lyra semakin segar.
“Apa minggu ini kamu ada waktu makan malam, Ra? Tante ingin traktir kamu.”
“Lyra, kamu masih di sana?”
Lyra hampir lupa bahwa saat ini ia masih terhubung dengan ibu mertuanya karena terlalu fokus memandangi tubuh atletis sang suami yang begitu memanjakan mata.
“Oh, iya, Tante.” Lyra segera memalingkan wajah tapi Ares justru merangkak naik ke Kasur, dengan jahil ia mendekatkan wajahnya pada Lyra lalu mengibaskan rambutnya yang masih bawah hingga wajah Lyra terciprat air.
Lyra mendorong dada pria itu sambil memelototinya.
“Nanti aku lihat jadwalku dulu, Tante.” Lyra menelan ludah saat Ares justru menuntun tangan mungilnya itu meraba dada bidang pria itu. “A-akhir-akhir aku sedang … sedang sangat sibuk.” Napas Lyra mulai berat, wajahnya terasa panas dan memerah sementara tangannya kini sudah berada di perut kotak-kotak Ares.
“Iya, Tante dengar kamu bekerja sama dengan Ares, sudah pasti sangat sibuk. Nggak apa-apa, Sayang. Nanti kalau butuh bantuan, bilang aja sama Tante.”
“Ah-aku ….” Lyra tak sanggup berkata-kata saat Ares dengan begitu entengnya menuntun tangannya semakin ke bawah … lebih ke bawah lagi dan terus turun.
Napas Lyra memburu dan tersengal, sedangkan Ares berseringai puas melihat istrinya tersiksa.
“Kamu nggak apa-apa, Lyra?”
“Aku … aku mau kebelet pipis, Tante.”
Lyra langsung mengakhiri panggilan lalu memukul kepala Ares dengan ponselnya hingga pria itu memekik kesakitan. “Lily, tega sekali kamu KDRT sama suami.”
“Dasar mesum!” sembur Lyra sembari menendang Ares hingga terjungkal dari ranjang, lagi-lagi membuat Ares memekik. “Mau aku potong tanganmu, huh?”
Alih-alih merasa bersalah, Ares justru kembali berseringai lalu berkata, “Wajahmu merah, kamu … pasti pengen, kan?”
Lyra langsung membuang muka, ia merasa seperti maling yang tertangkap basah saat sedang mencuri.
“Kita sama-sama dewasa, Lily. Sama-sama pernah merasakan surga dunia, kalau pengen lagi ya wajar.”
Lyra enggan meladeni Ares, ia turun dari ranjang dan ingin mandi, tetapi pria itu langsung memeluknya dari belakang. “Lepas, aku mau mandi.”
Bukannya dilepas, Ares semakin mengeratkan pelukannya semberi mencium tengkuk Lyra hingga istrinya itu menggelinjang, tak hanya itu, Ares mencium daun telinga Lyra bahkan menggigitnya dengan gemas, membuat tubuh Lyra meremang, kakinya terasa lemas seperti tak bertulang.
Ia ingin menyangkal gairah yang menyerangnya saat ini tapi tubuhnya benar-benar tak bisa dikendalikan.
Katanya, wanita tidak akan bisa berhubungan tanpa perasaan. Lantas, bagaimana ia bisa dengan suka rela menyerahkan diri pada pria itu lagi dan lagi?
“Ayo, Sayang.” Ares berbisik dengan suara berat di telinga sang istri. “Aku menginginkanmu. Katakan kamu menginginkanku juga.”
Lyra menggeleng dengan lemah dan yang didapat dari jawaban itu adalah gigitan Ares di telinganya, membuatnya mendesah tanpa bisa dicegah.
Ares tersenyum penuh kemenangan, menyadari di sanalah titik sensitif sang istri.
“Aku … aku mau mandi dulu.” Dengan susah payah Lyra bisa mengucapkan kalimat itu, di sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri Ares tapi sia-sia.
Pria itu justru menggendongnya ke kamar mandi sambil berkata, “Ayo bercinta di kamar mandi, Sayang. Kita coba posisi lain di sana.”
Lyra terbelalak, tak menyangka Ares sefrontal itu tentang urusan bercinta, bahkan ia sampai malu sendiri.
“Mulutmu itu_” Lyra kehilangan kata-kata.
“Mulutku akan memuaskanmu, tenang saja.”
Wajah Lyra semakin merah, bahkan tangan dan kakinya sampai gemetar membayangkan apa yang akan Ares lakukan dengan mulut tak tahu malunya itu.
Melihat istrinya yang salah tingkah, Ares terkekeh gemas. Ia menurunkan sang istri di pinggir bathtub lalu berlutut di hadapannya, menatap sang istri dengan intens.
Lyra terdiam dengan jantung yang berdetak kencang, cara Ares memandangnya membuat ia merasakan getaran tak biasa di hatinya, getaran yang bahkan tak ia rasakan saat bersama Ryan.
Cara Ares memandangnya seolah ... dia adalah segalanya, seakan pria itu tak bisa hidup tanpanya.
"Lily ...." Ares mengusap permukaan bibir Lyra dengan jarinya. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."