"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah harapan
Mobil berhenti di teras rumah utama. Mesin perlahan dimatikan. Suasana malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Xena turun dari mobil. Pintunya tertutup pelan. Ia berdiri beberapa detik di sana. Menatap ke langit yang gelap, hanya ditemani lampu taman yang redup.
Tangannya masuk ke saku celana. Ia menari nafas panjang. Seolah mencoba membuang sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya.Kata-kata Sandra kembali terngiang.
Cerai. Dan Xena harus membuktikan jika Sandra penting baginya.
"Apa ini? Kenapa seperti ini?" batinnya.
Xena perlahan masuk. Membuang segala kegelisahan. Saat pintu dibuka, Budi sudah berdiri di sana. Sementara Mira duduk di ruang tamu sambil membaca sebuah majalah.
"Kau sudah pulang? Dimana Rasti?" tanya Budi sambil matanya mencari-cari.
Xena mengernyit, "Rasti?"
Budi menatapnya heran, "Dia tidak bersamamu?"
Xena terdiam sesaat, "Tidak."
Jawaban itu singkat, tapi cukup untuk membuat suasana berubah. Mira yang sejak tadi duduk santai, perlahan menurunkan majalahnya. Tatapannya kini tertuju pada Xena.
"Kau tidak pulang bersamanya?" tanya Mira pelan, tapi jelas.
Xena menggeleng tipis, "Dia pulang lebih dulu."
Budi menghela nafas pelan, "Aiman tidak bisa dihubungi. Sudah sejak tadi kami menunggunya. Papa pikir, Rasti bersama mu. Tapi nyatanya tidak."
Xena menatap jam di tangannya, sudah semakin larut. Untuk pertama kalinya sesuatu dari dalam diri Xena terusik.
"Kau yakin dia tadi pulang?" tanya Mira lagi. Kali ini lebih jelas, seolah menemukan sesuatu yang tidak beres.
Xena kembali mengingat CCTV di lorong. Rasti sempat berhenti, menekan dadanya. Tiba-tiba saja Xena berbalik dan berjalan cepat menuju ke luar.
"Xena, mau kemana?" panggil Budi.
Saat Xena membuka pintu, Rasti sudah berdiri di ambang pintu itu. Langkah Xena langsung berhenti. Waktu sepertu berhenti beberapa detik. Rasti berdiri dengan posisi sedikit membungkuk. Tangannya masih menggenggam tas bekal itu. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Wajahnya pucat tapi tetap berusaha tenang.
Matanya bertemu mata Xena.
"Rasti," suara Xena lebih rendah dari biasanya.
Rasti mengangguk pelan, "Iya."
Dari belakang Budi langsung menghampiri, "Nak, kamu dari mana saja. Kami sejak tadi menunggu mu."
Rasti sedikit tersentak, lalu menoleh pelan, " Maaf Pa, Rasti hanya keluar sebentar."
"Kau membuat cemas saja," potong Mira cepat.
Rasti menatap ke arah Mira yang masih duduk, " Maaf, Ma."
Budi mendekat dan membawanya masuk, "Sudahlah. Yang terpenting kau sudah pulang. Sekarang pergi ke kamarmu. Kami akan menunggu untuk makan malam."
"Kau juga, Xena." potong Mira lagi.
Xena tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Rasti yang perlahan berjalan masuk. Ada sesuatu yang berbeda. Cara Rasti melangkah. Lebih pelan. Lebih hati-hati dari biasanya.
"Iya," jawabnya singkat akhirnya.
Xena mengikuti langkah Rasti yang lambat. Sampai di depan pintu Rasti menoleh. Xena membeku saat tubuh mereka hampir bertabrakan.
"Xena..."
"Iya,"
Rasti menarik nafasnya pelan, "Sebaiknya, kita jujur pada merek."
Xena mengernyit, "Jujur? Soal apa?"
"Bahwa kita tidak menginginkan pernikahan ini."
DEG
Xena menatap Rasti lekat. Kalimat itu masih menggantung di udara.
"Jujur..?"
"Iya, kita tidak seharusnya seperti ini. Kau sudah ada Sandra. Dan itu tidak baik untuk hubungan kita."
DEG
Ada sesuatu dalam nada itu. Bukan emosi. Bukan amarah. Justru terlalu tenang sampai terasa menyakitkan.
Xena mengerutkan kening, "Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu."
"Lalu kapan? Sampai semua menjadi rumit?" potong Rasti cepat.
Xena langsung mendorong masuk Rasti ke kamar.
"Jangan keras-keras. Papa bisa mendengar kita," ucap Xena pelan, nadanya menekan sedikit.
"Aku tau. Dan Sandra juga sudah tau." ucap Xena lagi.
Rasti mendongak menatap Xena, "Lalu?"
"Kami bertengkar. Dan dia... memintaku untuk menceraikan mu." ucap Xena.
Rasti terdiam. Bukan terkejut tapi karena seolah sudah menduganya sejak awal.
"Oh..," gumamnya pelan.
Hanya satu kata. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Xena merasa aneh.
"Lalu?" tanya Rasti lagi.
"Aku belum menjawabnya."
"Kenapa? Bukankah ini waktu yang tepat?" ucap Rasti lagi.
"Ini tidak sesederhana itu, Rasti. Papa sudah berjanji pada keluargamu dan mana mungkin dia mengingkarinya."
"Lalu bagaimana dengan kita? Kita tidak menginginkan pernikahan ini. Sampai kapan kita terus begini?" potong Rasti cepat.
Xena terdiam. Entah kenapa kata-kata itu seperti menusuk jantungnya. Rasti duduk di tepi ranjang. Menatap lantai yang dingin.
"Bagaimana jika perasaanku berubah? Apa aku bisa mencegahnya?" ucap Rasti pelan, matanya berkaca-kaca.
Xena mengernyit, "Berubah?"
"Iya," suara Rasti meninggi.
"Bagaimana jika perasaan itu berubah. Apakah kau bisa mencegahnya?" sambungnya lagi. Kali ini Rasti menatap Xena tajam.
Pertanyaan itu menghantam tepat. Dena terdiam. Untuk pertama kalinya ia tidak langsung punya jawaban. Tatapannya bertahan pada Rasti.Pada mata yang kini tidak lagi setenang tadi. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang selama ini disembunyikan dan sekarang mulai retak.
"Jawab aku, Xena. Kalau perasaan itu berubah... apa kau bisa menghentikannya?"
Xena menelan ludah. Rahangnya mengeras, "Itu tidak akan terjadi."
Rasti tersenyum kecut, "Kau bahkan tidak yakin dengan jawabanmu sendiri."
Xena mengerutkan kening, "Jangan memutarbalikkan..."
"Aku tidak memutarbalikkan apapun!" potong Rasti cepat.
Suara Rasti kembali meninggi. Dan itu membuat Xena diam. Rasti berdiri. Tubuhnya masih sedikit goyah tapi ia memaksakan diri.
"Aku hanya ingin tau, kalau itu terjadi apa aku harus bertahan di sini?"
Langkah Xena mendekat, "Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?"
"Karena aku manusia. Aku bisa merasa. Aku bisa...terluka."
"Dan aku tidak ingin menunggu sampai itu terjadi."
Xena menatapnya lekat. Sesuatu dalam dirinya mulai tidak nyaman.
"Atau...aku harus menunggu sampai kau mengusirku?"
Kalimat itu pelan, tapi menghancurkan. Xena langsung menarik nafas dalam.
"Aku tidak pernah mengusirku."
"Tapi kau juga tidak pernah memintaku untuk tinggal," balas Rasti cepat.
Kali Xena kehabisan kata-kata. Rasti mengalihkan pandangan. Air matanya akhirnya jatuh. Ia segera menghapusnya.
"Aku tidak sekuat itu, Xena. Aku tidak bisa berpura-pura terus kalau...hatiku mulai ikut masuk ke dalam semua ini."
DEG
Xena langsung memejamkan kedua mata. Kata-kata itu justru sudah ia pahami.
"Aku takut... aku mulai menyukai tempat yang bukan milikku." kata Rasti lagi.
Xena melangkah satu langkah lagi. Kini jarak mereka sangat dekat.
"Terlambat."
Satu kata keluar dari mulut Xena namun cukup membuat Rasti mengangkat wajahnya cepat. Tatapan Xena berubah. Tidak lagi dingin.
"Kau sudah masuk ke dalamnya."
Jantung Rasti berdegup kencang, "Aku tidak..."
"Kau tidak bisa menyangkalnya." sambung Xena cepat
Rasti mundur satu langkah.
"Dan aku juga tidak bisa mengendalikannya." lagi kata Xena akhirnya.
Rasti membeku, " Apa maksudmu?"
Xena tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri menatap Rasti.
"Karena aku juga merasakan hal yang sama."
Hening.
Dan itu...lebih jujur dari apapun. Air mata Rasti jatuh lagi. Tapi kali ini bukan karena sakit sepenuhnya. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit. Yaitu sebuah harapan yang seharusnya tidak ada.