Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh
Hari berganti hari, menggelinding dalam ritme yang monoton namun melelahkan.
Tanpa terasa, waktu sudah merayap pergi sejauh satu bulan penuh sejak malam mencekam ketika Axel dijemput paksa oleh Arsen di depan kedai kecil milik Alana.
Malam yang awalnya terasa seperti mimpi buruk itu perlahan mulai terkikis oleh rutinitas harian yang padat, meskipun bekas ketegangannya terkadang masih tertinggal di sudut ingatan Alana, berdenyut samar setiap kali ia memandangi sudut meja tempat anak itu dulu sering duduk diam.
Selama satu bulan itu, roda kehidupan Alana kembali berputar pada jalurnya yang biasa.
Pagi hari diisi dengan desakan materi kuliah yang membosankan dan melelahkan, siang hari dihabiskan untuk memeras otak di perpustakaan demi merampungkan tumpukan tugas, lalu sore hingga larut malam ia harus kembali berdiri di depan wajan panas, bergelut dengan asap minyak dan aroma cabai demi mengelola kedai ayam gepreknya.
Ketika malam benar-benar larut dan seluruh perkakas kedai telah dibersihkan, ia akan melangkah ke kontrakan petaknya dengan tubuh yang teramat remuk, persendian kaku, dan kepala yang berdenging penuh oleh tenggat waktu tugas kampus yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Namun, di tengah lingkaran rutinitas yang melelahkan itu, ada satu perubahan kecil yang cukup disadari oleh teman-teman sekelasnya.
Alana kini jauh lebih disiplin, terutama saat jadwal kelas Arsen tiba. Papan tulis, presentasi, dan setiap patah kata yang keluar dari mulut dosen perfeksionis itu kini ia perhatikan dengan tingkat fokus yang luar biasa.
Bukan karena gadis itu mendadak mengagumi sang dosen perfeksionis. Sama sekali bukan.
Justru, motivasi utamanya adalah rasa takut dan harga diri.
Alana sama sekali tidak ingin mengalami penghinaan publik di depan ratusan mahasiswa untuk kesekian kalinya.
Sekali dipermalukan oleh kalimat sindiran tajam Arsen sudah cukup membuat mentalnya tiarap berhari-hari.
Dua kali mungkin masih bisa ia toleransi dengan mengelus dada sambil menahan sesak.
Namun, jika sampai terjadi untuk ketiga kalinya? Alana merasa harga dirinya sebagai manusia bisa benar-benar pensiun dini dari muka bumi.
Oleh karena itu, setiap kali hari berganti ke jadwal kuliah Arsen, Alana akan memaksa dirinya bangun jauh lebih pagi dari biasanya.
Ia akan menyeduh kopi hitam tanpa gula dalam porsi yang lebih banyak, menenggaknya sampai habis demi memastikan bahwa kelopak matanya tidak akan berani berkedip atau merapat selama jam kuliah pria dingin itu berlangsung.
Ia mengatur posisi duduknya tegak, memastikan catatannya lengkap, dan tidak memberikan celah sedikit pun bagi Arsen untuk menemukan kesalahan pada dirinya.
Usaha kerasnya sejauh ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Sudah hampir satu bulan penuh Arsen tidak lagi mengarahkan proyektil sindiran verbalnya secara langsung kepada Alana.
Pria itu mengajar dengan efisiensi yang menakutkan seperti biasa, meskipun dalam beberapa kesempatan, sepasang mata elang milik sang dosen masih sesekali melirik ke arah kursinya—memberikan tatapan intens nan tajam yang sanggup membuat bulu kuduk Alana meremang dalam sekian detik sebelum akhirnya beralih ke mahasiswa lain.
Di samping ketegangan akademis itu, ada satu hal lain yang berayun aneh di dalam benak Alana. Sebuah pertanyaan tak kasat mata yang sering kali muncul ketika ia sedang mengulek cabai atau mengelap meja warungnya yang kosong.
Axel tidak pernah datang lagi. Tidak sekali pun.
Pada minggu-minggu awal setelah kejadian malam penjemputan itu, Alana sempat mengira bahwa bocah pendiam berwajah kaku itu akan kembali muncul di kedainya secara sembunyi-sembunyi.
Entah untuk memesan sepiring ayam geprek dengan level cabai yang tidak masuk akal bagi anak seusianya, atau sekadar duduk diam seperti patung di sudut meja plastik sambil memperhatikan jalanan dengan pandangan matanya yang sayu.
Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Kehadiran Axel seolah menguap begitu saja dari sekitar kedainya.
Seolah-olah interaksi hangat dan semangkuk makanan malam itu tidak pernah terjadi dalam sejarah hidup mereka, dihapus sepenuhnya oleh titah absolut dari Arsen.
Andai situasi dunianya normal, Alana mungkin akan dengan senang hati menjadi tempat bernaung atau sekadar menjadi teman mengobrol bagi anak sekecil itu.
Namun, realita hidup Alana sendiri terlalu rapuh untuk menampung badai orang lain. Ia harus memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup esok hari sebelum bisa mengkhawatirkan nasib anak seorang konglomerat.
Dan yang paling aneh dari semua keanehan ini adalah... Alana mendapati dirinya sedikit merindukan kehadiran bocah menyebalkan tersebut.
Ironis memang, mengingat di awal kedatangannya, Axel selalu berhasil memicu kekesalan Alana dengan sikapnya yang sedingin es.
Namun, jika harus jujur pada diri sendiri, Alana merasa Axel yang ketus jauh lebih menyenangkan dan manusiawi untuk dihadapi jika dibandingkan dengan ayahnya yang berwujud seperti mesin pembunuh berdarah dingin berbalut setelan jas mahal.
...----------------...
Pagi itu, suasana hati Alana benar-benar buruk. Sangat buruk, bahkan sebelum semburat cahaya matahari terbit dengan sempurna di ufuk timur. Kamar kontrakannya yang sempit masih diselimuti oleh sisa hawa dingin malam yang menusuk tulang, namun kedamaian tidurnya sudah diporak-porandakan oleh sebuah gangguan yang teramat ia benci, sebuah ketukan konstan yang membawa firasat buruk merayap naik ke dadanya.
Penyebab dari rusaknya hari itu hanya satu nama: Omnya.
Laki-laki paruh baya itu kembali menampakkan batang hidungnya di depan pintu kontrakan Alana.
Datang tanpa kabar, tanpa membawa rasa malu, dan seolah-olah tidak pernah memiliki riwayat dosa atau rasa bersalah apa pun di masa lalu kepada keponakan kandungnya sendiri yang ia telantarkan begitu saja demi memuaskan keserakahannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan yang teramat keras, kasar, dan tidak sabaran di atas permukaan pintu kayu tripleks kontrakannya seketika memaksa Alana tersentak bangun dari tidurnya yang belum genap empat jam akibat begadang membereskan kedai.
Jantungnya berdegup kencang karena kaget, meninggalkan rasa ngilu yang aneh di ulu hatinya.
Dengan rambut yang berantakan, langkah gontai yang lemas, dan sepasang mata yang masih setengah terbuka menahan kantuk, Alana berjalan mendekat dan membuka selot pengunci pintu besi kontrakannya.
Begitu daun pintu itu terbuka sedikit, sosok wajah yang paling tidak ingin ia lihat sepanjang sisa hidupnya langsung menyembul di balik remang fajar yang berkabut.
"Om?" suara Alana keluar pelan, tertahan di tenggorokan bersama dengan rasa sesak yang mendadak menyerang dadanya, mengusir seluruh sisa rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya.
Hendra berdiri tegak di ambang pintu, mengenakan jaket usang dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
Laki-laki itu memasang ekspresi wajah yang teramat menyebalkan—sebuah raut wajah superior seolah-olah dirinya adalah sosok pahlawan besar atau orang yang paling berjasa di dalam dunia Alana, menatap rendah kontrakan sempit tempat keponakannya tinggal.
"Masih tidur kamu jam segini? Anak gadis kok pemalas sekali, matahari sudah mau terbit juga," cetus Hendra, membuka percakapan dengan kritikan kasar tanpa memikirkan seberapa keras keponakannya itu harus memeras keringat semalaman demi mencari sesuap nasi.
Alana menarik napas dalam-dalam, menahan pegal di bahunya, mencoba sekuat tenaga menahan gejolak emosi yang mulai membakar dadanya. "Om ada apa ke sini pagi-pagi? kedai belum buka, aku baru saja tidur beberapa jam."
"Om butuh uang sekarang," sahut Hendra langsung.
Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi, tanpa ada jeda untuk sekadar menanyakan kabar kesehatan Alana, dan tanpa rasa sungkan sedikit pun yang tersisa di dalam urat wajahnya yang mulai berkerut.
Alana memejamkan matanya erat-erat sesaat, merasakan kepalanya berdenyut pening. Rasa lelah yang mendera fisiknya mendadak berlipat ganda mendengar tuntutan yang teramat egois itu. "Kemarin kan baru aku kasih, Om. Belum ada seminggu uang yang kemarin Om ambil dari sini."
"Itu sudah habis untuk keperluan lain yang lebih mendesak. Jangan pelit kamu sama saudara sendiri, rezeki itu kalau ditahan-tahan nanti malah seret," jawab Hendra dengan nada enteng, menggunakan dalih moralitas palsu untuk membenarkan tindakannya.
Jawaban yang sama.
Alasan yang sama.
Dan taktik intimidasi psikologis yang selalu sama setiap detiknya, menguras habis batas kesabaran Alana yang sudah berada di ambang batas.
"Om, aku benar-benar nggak punya banyak uang sekarang. Uang yang ada di dalam rumah ini jumlahnya terbatas dan sudah ada alokasinya masing-masing," ucap Alana, suaranya mulai meninggi, menahan getaran frustrasi yang luar biasa di dalam dadanya.
Hendra mendengus kencang, matanya menyipit tidak percaya, memandangi sekeliling ruangan dengan tatapan penuh selidik. "Kamu bohong. Anak muda zaman sekarang sukanya menyembunyikan hasil usaha dari orang tua. Lah terus, hasil jualan ayam geprekmu yang ramai tiap malam itu ke mana? Nggak mungkin tidak ada sisa uangnya. Jangan coba-coba mengelabui Om."
"Aku harus bayar uang sewa kontrakan ini minggu ini, Om!" Alana menegaskan, jemarinya mencengkeram pinggiran daun pintu hingga memutih, mencoba menyadarkan omnya akan posisi sulit yang ia hadapi. "Kalau aku nggak bayar tepat waktu, pemiliknya bisa marah dan aku bisa diusir dari sini."
"Halah, bayar sewa kontrakan kan bisa nanti saja. Bisa ditunda minggu depan atau bulan depan. Pemiliknya juga pasti maklum kalau kamu telat beberapa hari, mereka kan orang kaya," potong Hendra, meremehkan urusan kelangsungan hidup Alana dengan begitu mudahnya seolah uang sewa itu bisa jatuh dari langit.
Alana menggigit lipatan bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir samar mulai terasa di indra pengecapnya, menahan air mata kemarahan agar tidak jatuh di depan pria egois ini.
Kontrakan petak ini bukan miliknya, pemiliknya memiliki peraturan yang teramat ketat.
Jika ia sampai terlambat membayar satu hari saja dari tanggal yang ditentukan, ia bisa kehilangan satu-satunya tempat bernaung yang ia miliki saat ini.
"Om, tolong mengerti situasi aku sekali saja. Aku benar-benar cuma punya uang pas-pasan buat bayar sewa kontrakan dan modal mutar bahan jualan besok sore. Kalau uang ini diambil, aku tidak bisa jualan," Alana memohon, suaranya melembut, mencoba mengetuk sisa nurani yang mungkin masih tersembunyi di dada pria di hadapannya.
Namun, ego dan keserakahan Hendra sudah terlalu tebal untuk bisa ditembus oleh kalimat permohonan seorang anak yatim piatu.
Tatapan mata licik milik laki-laki itu tidak lagi tertuju pada wajah Alana, melainkan langsung jatuh ke atas meja kayu kecil di dalam ruangan, tepat di mana sebuah tas kain kecil berwarna kusam tergeletak tak berdaya.
Tas kecil yang selalu digunakan Alana untuk menyimpan seluruh lembaran uang hasil keringat dan sisa modalnya.
Dan sebelum Alana sempat membaca pergerakan atau bereaksi menghalanginya, Hendra sudah melangkah maju secara kasar, menerobos masuk ke dalam ruang kontrakan yang sempit, mengeyahkan tubuh Alana, dan menyambar tas kecil tersebut dari atas meja dengan gerakan yang teramat cepat.
"Om! Jangan! Kembalikan tas itu!" teriak Alana, panik memuncak menyerang seluruh kesadarannya. Ia berusaha melompat maju, merebut kembali tas kain itu dari cengkeraman omnya.
"Diam kamu! Anak kecil tidak usah melawan!" gertak Hendra dengan suara menggelegar, menyentak kasar tangan Alana hingga gadis itu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang, menabrak pinggiran kasur busanya.
"Itu uangku, Om! Uang hasil kerjaku sendiri semalaman sampai tanganku melepuh terkena minyak!" dada Alana naik turun, napasnya memburu, air mata kemarahan mulai mendesak keluar dari sudut matanya karena rasa tidak berdaya yang teramat sangat menghadapi kekuatan fisik pria dewasa itu.
Hendra menatap Alana dengan kilat mata yang tajam, penuh ancaman yang mengintimidasi mentalnya. "Uangmu? Kamu lupa siapa yang membesarkan kamu setelah orang tuamu mati? Hah?! Kalau bukan karena keluarga kami, kamu sudah jadi gelandangan di jalanan!"
Kalimat itu.
Lagi-lagi kalimat terkutuk itu keluar dari mulutnya, memotong seluruh argumen Alana dan menghantam ulu hatinya dengan rasa sakit yang teramat familier. Sebuah kalimat yang selalu digunakan sebagai senjata pamungkas setiap kali keluarga omnya ingin merampas sesuatu yang berharga dari tangan Alana.
Aku yang membesarkan mu. Aku yang merawat mu. Kamu itu anak yatim piatu yang harus tahu cara balas budi, jangan jadi anak yang tidak tahu diuntung.
Seolah-olah, seluruh helai napas, keringat, dan sisa hidup Alana di dunia ini adalah sebuah hutang besar berdarah yang tidak akan pernah bisa lunas dibayar sampai kapan pun juga, memaksa Alana untuk masuk ke babak baru penderitaannya.