Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama syuting
“Aku punya ekspektasi lebih untuk gadis itu…”
Pikir Eirian Vale sambil menatap kosong ke arah jendela restoran.
Lampu kota berkilauan di luar sana, tapi pikirannya tidak lagi di sana.
Jika dijadikan pasangan CP…
Menguntungkan.
Netizen suka sesuatu yang “hidup”.
Dan gadis itu—
punya sesuatu yang bisa membuat orang tidak bisa berpaling.
…aku harus bicara dengan agensiku. Ini tidak akan terlalu mengusik.
Ia berdiri.
Tanpa banyak kata, pria itu mengambil mantel tipisnya.
Mobil jemputan sudah menunggu di depan.
Dan seperti biasa—
ia pergi tanpa menoleh.
Di sisi lain—
Mireya baru saja keluar dari restoran.
Langkahnya sedikit goyah.
Kepalanya terasa ringan.
Hangat.
Aneh.
“Ah… ponselku…”
Tangannya meraba tas kecilnya.
Namun—
sebelum sempat ia menemukannya—
sebuah telapak tangan besar dan hangat tiba-tiba menahan wajahnya.
Mireya terdiam.
Matanya sedikit membesar.
“Eh…?”
Pandangan yang sedikit buram itu akhirnya fokus.
“Zevran…?”
Pria itu berdiri di depannya.
Tenang.
Seperti biasa.
Seolah sudah ada di sana sejak lama.
“Aku tidak sibuk.”
Jawabnya singkat.
Tanpa penjelasan.
Mireya bahkan belum sempat memproses—
tubuhnya sudah ditarik pelan.
Langkahnya mengikuti.
Atau mungkin—
ia memang sudah tidak punya tenaga untuk menolak.
Mobil pribadi berhenti tepat di depan mereka.
Pintu terbuka.
Dan tanpa banyak bicara—
Zevran membawanya masuk.
Suasana di dalam mobil sunyi.
Hanya suara mesin halus yang terdengar.
Mireya bersandar.
Awalnya hanya ingin memejamkan mata sebentar.
Namun—
kehangatan itu…
ketenangan itu…
terlalu nyaman.
Tanpa sadar—
napasnya menjadi teratur.
Dan ia tertidur.
Sepanjang perjalanan—
tidak ada suara.
Hanya sesekali—
tatapan Zevran Ardevar yang jatuh padanya.
Diam.
Tenang.
Sulit dibaca.
Mobil berhenti.
Pintu terbuka.
Dan malam itu— tanpa ia sadari— ia sudah dipindahkan.
...----------------...
Pagi hari.
Cahaya matahari masuk perlahan dari balik tirai.
Hangat.
Tenang.
Mireya membuka mata.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit.
Lalu— tersentak.
“—hah?!”
Ia langsung duduk.
Kamar.
Kasur.
Selimut.
“…aku pulang?”
Tangannya menekan dahinya.
Mengingat.
Sedikit demi sedikit.
Restoran.
Mobil.
Hangat.
Lalu— kosong.
“Astaga…”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku… ketiduran?”
Lebih buruk lagi— dia bahkan tidak ingat kapan ia dipindahkan ke kasur.
“…memalukan…”
gumamnya pelan.
Namun— anehnya— di balik rasa malu itu— dadanya berdebar.
Pelan.
Hangat.
…tapi nyaman.
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Menyembunyikan wajahnya.
Dan hanya dia— yang tahu— bahwa perasaan itu…
tidak sepenuhnya buruk.
...****************...
“Tunggu… masih ada waktu.”
Suara Rhea terdengar tenang di ujung panggilan.
“Syuting baru mulai minggu depan. Senin. Untuk sekarang masih pulang-pergi.”
Mireya yang berdiri di dekat jendela perlahan mengangguk, meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Jadi seminggu ini… gunakan untuk persiapan. Pelajari Aurelia dengan benar.”
Suara Rhea sedikit melembut.
“Peranmu mungkin tidak banyak di awal. Tapi justru itu… kamu harus masuk ke dalamnya lebih dalam.”
Panggilan berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Mireya menarik napas panjang.
Tangannya menggenggam naskah.
Aurelia…
Senyumnya tipis.
Bukan bahagia.
Bukan juga sedih.
Aku harus benar-benar jadi dia.
...----------------...
Di sisi lain ruangan—
Zevran Ardevar duduk dengan tenang.
Satu kaki disilangkan.
Tatapannya jatuh pada Mireya sejak tadi.
“…pulang-pergi?”
Mireya menoleh.
“Hm? Iya. Lokasinya masih di dalam kota.”
Hening sejenak.
Zevran tidak langsung menjawab.
Namun alisnya sedikit berkerut.
“Tidak aman.”
Mireya berkedip.
“…hah?”
“Jadwal mu akan padat. Waktu pulang tidak tentu.”
Nada suaranya datar seperti biasa.
“Terlalu banyak variabel.”
Mireya menatapnya beberapa detik.
Lalu— sedikit tertawa.
“Kedengarannya seperti laporan risiko perusahaan…”
Zevran tidak tersenyum.
“Karena memang itu mirip.”
Ia berdiri.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
“Mulai sekarang, jangan dijemput sembarang.”
Mireya mengangkat alis.
“Sembarang? Itu manajerku loh…”
“Bukan masalah siapa.”
Zevran memotong pelan.
“Masalahnya—kamu.”
Langkahnya berhenti tepat di depan Mireya.
Tatapannya turun sedikit.
“Semakin banyak yang akan memperhatikanmu.”
Nada itu tetap tenang.
Tapi— lebih dalam.
“…semakin banyak yang bisa mendekat.”
Mireya terdiam.
Entah kenapa— kalimat itu terasa berbeda.
Zevran berbalik.
Mengambil sesuatu dari meja.
“Mulai besok.”
Ia meletakkan kunci tipis di atas meja.
Desainnya minimalis.
Namun jelas bukan benda biasa.
“Pakai ini.”
Mireya mendekat.
“Ini…?”
“Mobil.”
“…hah?”
Zevran melanjutkan seolah itu hal biasa.
"Ah jangan yang ini..."
“Model standar untuk publik figur.”
“Mode siluman aktif. Sistem keamanan independen. Tidak mudah dilacak.”
Mireya menatapnya.
Beberapa detik.
“…kamu serius?”
“Belum punya.”
Jawaban itu datang tanpa jeda.
“Aku baru akan membelinya.”
Mireya: “…???”
Zevran sudah mengambil perangkat komunikasinya.
Mungkin menelfon Robert.
“Aku tidak suka yang ada di pasaran.”
“Kalau tidak sesuai, kita modifikasi.”
Nada suaranya tetap datar.
Seolah sedang membahas investasi kecil.
Mireya merasa ini berbahaya zevran akan mengeluarkan uang sia sia lagi hanya untuk nya.
“…kamu bahkan belum lihat aku nyetir.”
“Bukan itu poinnya.”
Mireya menahan napas.
“Terus siapa yang nyetir?”
“Pak Laurent.”
Jawaban langsung.
"Aku kasih tugas khusus untuk nya"
Tanpa ragu.
“…tunggu, itu sopir keluargamu kan?”
“Hm.”
Mireya menatapnya lama.
Lalu tertawa kecil, tidak percaya.
“Kalau aku manggil dia, minta jemput aku… rasanya aneh banget.”
Zevran menoleh sedikit.
“Kamu istri bos nya.”
Satu kalimat.
Hening.
“…jadi wajar.”
Jantung Mireya berdetak aneh.
Cepat.
Ia buru-buru memalingkan wajah.
“…tetap aja aneh.”
gumamnya pelan.
Zevran tidak menjawab.
Namun— tatapannya sedikit melunak.
...----------------...
Di luar jendela—
matahari mulai turun.
Sementara itu—
di dalam ruangan—
persiapan sudah dimulai.
Bukan hanya untuk syuting.
Tapi— untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Mungkin perasaan.
...****************...
Hari itu akhirnya tiba.
Sejak pagi— tangan Mireya tidak berhenti gemetar.
Ia berdiri di depan cermin.
Menatap dirinya sendiri.
Bukan karena takut.
Atau mungkin— sedikit.
Ini kesempatan.
Jari-jarinya mengepal pelan.
"Aku tidak boleh gagal."
...----------------...
Di luar— sebuah mobil terbang berhenti dengan mulus di depan gedung.
Permukaannya bersih.
Desainnya elegan.
Terlalu… mencolok untuk ukuran “antar jemput biasa”.
Pintu terbuka perlahan.
Mireya melangkah masuk.
Dan langsung disambut oleh dua orang.
Rhea duduk santai di dalam, menyilangkan kaki.
Seolah ini rutinitas biasa.
Di sampingnya— seorang gadis muda menegakkan punggungnya dengan cepat saat melihat Mireya.
Rambut cokelatnya sedikit keriting, tampak lembut.
Wajahnya cerah.
“Ah, akhirnya datang.”
Rhea melirik sekilas.
Lalu— tanpa basa-basi.
“Ini Pixy. Asistenmu mulai hari ini.”
Mireya berkedip.
“…hah?”
Gadis itu langsung membungkuk cepat.
“Salam kenal, Kak Mireya! Aku Pixy! Aku baru pertama kali jadi asisten artis, tapi aku bakal kerja keras!”
Suaranya ceria.
Sedikit gugup.
Mireya sempat terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
“Oh… iya. Nggak apa-apa.”
Rhea mendengus pelan.
“Aku sudah bilang dari kemarin.”
“Jadwal mu bakal makin padat. Aku tidak selalu bisa di sampingmu.”
Tatapannya sedikit lebih serius.
“Aku tidak mau kamu terlantar.”
Mireya menunduk sedikit.
“…terima kasih.”
Ia tidak terbiasa dengan perhatian seperti ini.
Dari kursi depan—
suara lembut terdengar.
“Kalau begitu… saya mulai jalan ya, neng.”
Pak Laurent melirik lewat kaca spion dengan senyum tipis.
Pixy langsung terlihat lebih tegang.
“I-iya, Pak!”
Mireya hampir tertawa kecil melihat reaksi itu.
Mobil mulai bergerak.
Halus.
Nyaris tanpa suara.
Gedung-gedung kota perlahan menjauh.
Mireya bersandar.
Menatap ke luar jendela.
Pikirannya kosong.
Namun di saat yang sama—
terlalu penuh.
“Gugup?”
Suara Rhea memecah keheningan.
Mireya tidak langsung menjawab.
“…sedikit.”
Rhea tersenyum tipis.
“Itu bagus.”
“Artinya kamu sadar ini penting.”
Pixy mengangguk-angguk cepat di sampingnya.
“Iya! Aku juga deg-degan dari tadi!”
Mireya meliriknya.
“…kamu kenapa ikut deg-degan?”
“Karena ini hari pertama Kak Mireya!”
Jawaban itu terlalu tulus.
Mireya tidak bisa menahan senyum kecilnya.
Mobil terus melaju.
Dan tanpa mereka sadari—
lapisan luar kendaraan itu perlahan berubah.
Seolah menyatu dengan udara.
Mode siluman aktif.
Di dalam—
semuanya tetap tenang.
Namun di luar—
tidak ada yang bisa melihat mereka.
Beberapa saat kemudian—
bangunan besar mulai terlihat di kejauhan.
Set lokasi syuting.
Orang-orang berlalu-lalang.
Peralatan.
Kabel.
Suara teriakan kru
Dunia yang berbeda.
Mobil perlahan menurunkan ketinggian.
Dan berhenti di area khusus.
Mireya menatapnya.
Dadanya kembali berdebar.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Sudah sampai."
Rhea membuka pintu lebih dulu.
“Selamat datang di medan perang.”
Pixy menelan ludah.
“…kedengarannya serem…”
Mireya menarik napas dalam.
Lalu— tersenyum tipis.
Aurelia.
Ia membuka pintu.
Dan melangkah keluar.
Langkah pertama—
di dunia yang akan mengubah segalanya.
...****************...
Udara pagi masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang dari area lokasi syuting.
Beberapa kru sudah sibuk sejak subuh.
Kabel ditarik.
Lampu dipasang.
Suara instruksi terdengar di sana-sini.
“Cepat, set A siapin dulu!”
“Properti mana? Itu belum dipindah!”
Semua bergerak.
Semua terburu-buru.
Sampai—
sebuah mobil terbang perlahan turun di area khusus.
Gerakannya halus.
Terlalu halus.
Beberapa kru yang lewat tanpa sadar melirik.
“…itu mobil siapa?”
“Platnya nggak keliatan…”
“Eh, itu masuk jalur VIP deh…”
Mobil itu berhenti.
Lapisan luar yang tadi samar—
perlahan kembali terlihat jelas.
Desainnya elegan.
Bukan tipe umum.
Pintu terbuka.
Pertama—
turun dengan tenang.
Langkahnya mantap.
Aura profesional langsung terasa.
Beberapa staf yang mengenalnya langsung menegakkan punggung.
“Manajer Rhea…”
“Dia datang sendiri?”
Belum selesai bisik-bisik itu—
sosok kedua turun.
Mireya.
Sederhana.
Tanpa kostum.
Tanpa makeup berat.
Namun—
anehnya—
beberapa orang langsung terdiam sesaat.
“…itu dia?”
“Yang selir ke-11?”
“Yang lagi rame itu?”
Tatapan mulai berkumpul.
Tidak semua ramah.
Tidak semua buruk.
Tapi—
penuh rasa ingin tahu.
Di belakang—
Pixy turun dengan sedikit panik, hampir tersandung.
“Ah—pelan, pelan…”
Pak Laurent hanya tersenyum tipis dari kursi depan sebelum menutup pintu otomatis.
Mireya berdiri sejenak.
Menatap area itu.
Ramai.
Berisik.
Berbeda dari yang ia bayangkan.
Namun—
ia tidak mundur.
“Datang lebih pagi ya.”
Suara seseorang terdengar dari samping.
Salah satu staf produksi tersenyum sopan.
“Iya… jadwal aku belum mulai, tapi aku mau lihat dulu.”
Jawab Mireya jujur.
Staf itu terlihat sedikit terkejut.
“…rajin juga.”
Di kejauhan—
beberapa aktor sudah mulai berdatangan.
Salah satunya— Eirian
Ia baru saja turun dari mobilnya sendiri.
Namun—
langkahnya berhenti sesaat.
Matanya menangkap satu sosok.
Mireya.
Tanpa kostum.
Tanpa panggung.
Tapi—
tetap menarik perhatian.
Dia datang lebih awal…
Alisnya sedikit terangkat.
Bukan tipe yang menunggu dipanggil.
Ia tidak mendekat.
Hanya mengamati.
Di sisi lain—
sepasang mata lain menatap dengan perasaan berbeda.
Luna.
Ia berdiri tidak jauh dari sana.
Tangannya terlipat di dada.
Tatapannya tajam.
“…mobil bagus.”
Nada suaranya pelan.
Tapi penuh makna.
“Baru naik dikit udah beda ya…”
Orang di sampingnya terkekeh kecil.
Namun—
tatapan Luna tidak bergeser.
Langsung ke arah Mireya.
Sementara itu—
Mireya sama sekali tidak menyadarinya.
Ia hanya menatap set.
Mengamati.
Mengingat.
Ini dunia yang sama…
tapi sekarang aku harus hidup di dalamnya.
Rhea meliriknya sekilas.
“Jangan cuma lihat.”
Mireya menoleh.
“Serap semuanya.”
“Semakin cepat kamu terbiasa… semakin bagus.”
Mireya mengangguk pelan.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Namun—
kali ini bukan karena takut.
Melainkan—
antusias.
Hari pertama.
Dan permainan—
baru saja dimulai.