Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Untuk Memiliki
Hujan turun lebih deras dari biasanya sore itu menghantam jalanan di depan panti begitu dahsyat hingga aspal hampir tak terlihat.
Air berjatuhan keras ke atap seng, menciptakan simfoni berisik —anehnya—justru menenangkan. Alam sedang berbicara dalam bahasa hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau mendengarkan.
Andra berdiri di bawah atap teras, lengan kanannya sedikit basah percikan menembus sela-sela atap. Uap dingin mengepul dari nafasnya, namun ia tak merasa kedinginan.
Hari itu, anak-anak tidak bermain di luar. Mereka berkumpul di ruang belajar—beberapa menggambar dengan pensil warna yang ujungnya sudah tumpul, beberapa membaca buku cerita halaman lecek, dan sisanya hanya duduk bersila sambil bercerita satu sama lain dengan suara lirih sesekali pecah menjadi tawa.
Andra melirik ke dalam ruangan. Matanya menyapu setiap sudut, mencari—seperti yang selalu ia lakukan setiap kali datang.
Meisyah.
Dia duduk di lantai yang dilapisi tikar plastik biru, bersandar ke dinding bata belum diaci, dikelilingi tiga anak kecil pipi tembem dan mata berbinar. Di tangannya, secarik kertas warna hijau sedang dilipat dengan jari-jari gesit.
"Ini jadi apa, Kak?" tanya salah satu anak perempuan berambut panjang.
"Burung," jawabnya tanpa berhenti melipat.
Anak itu mengerutkan hidung. "Tidak mirip."
Mei tertawa kecil, gemericik air di sungai kecil. "Ini burung abstrak."
"Burung kok aneh mirip bebek."
Mei mengangkat kertas lipatannya ke arah cahaya lampu. Bayangannya menari di dinding. "Yang penting dia bisa terbang."
Andra tersenyum tanpa sadar. Bibirnya melengkung begitu alami, tanpa perlu dipaksa. Namun, ia tidak langsung masuk berdiri di ambang pintu, satu tangan di saku celana jins, mengamati pemandangan entah mengapa terasa begitu menenangkan.
Beberapa menit kemudian, Mei merasa tatapan menempel di punggungnya, ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Gadis itu mengangkat alis sedikit ," Mengapa mas di situ?"
Andra tersadar, seolah baru saja ditarik dari mimpi. "Baru saja datang, Mei."
"Masuk Mas, lama lama mas bisa jadi air hujan."
Seorang anak laki-laki kecil kira kira tujuh tahun langsung menarik lengannya tangan penuh lengket permen karet.
"Om, bantu!"
"Apa?"
"Ini susah." Ia menunjuk kertas oranye di tangannya terlipat kacau
Andra menurunkan tubuhnya, duduk di lantai bersama mereka. Ia mencoba meniru gerakan Meisyah—melipat kertas dengan telapak tangan terlalu besar untuk pekerjaan semacam ini. Hasilnya... jauh dari kata bagus. Lebih mirip wadah sampah mini daripada burung.
Anak-anak tertawa terbahak-bahak.
"Punyanya Om jelek!" seru mereka serempak.
Andra mengangguk dengan wajah serius. "Itu bagus lho..."
Mei memperhatikan dari samping, matanya menyipit geli. " Mas tidak berbakat dalam hal lipat melipat."
"Ia Mei, aku lebih suka melipat baju."
Gadis manis itu tertawa terkekeh dan Andra menyukai suara itu. Betapa ia selalu menunggu momen-momen kecil seperti ini hangat, sederhana, nyaris sempurna.
Dan tanpa mereka sadari—waktu berjalan lebih cepat dari biasanya, seolah tak mau membiarkan mereka menikmatinya terlalu lama.
---
Menjelang magrib, hujan belum juga berhenti. Bahkan, semakin menjadi. Beberapa relawan sudah pulang lebih dulu, mengendarai sepeda motor dengan jas hujan.
Anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing. Dari balik pintu-pintu kayu tipis, terdengar suara bisikan dan tawa tertahan sebelum akhirnya mereda menjadi dengkuran lembut.
Ruangan menjadi sunyi.
Lampu kuning redup menyala di sudut, membuat bayangan lebih panjang dan hidup.
Andra duduk di bangku kayu tua dekat jendela, membiarkan dahinya menempel di kaca yang dingin. Sementara Mei berdiri di samping, lengannya bersandar di kusen, menatap hujan menghantam tanah dengan gigih.
"Sepertinya kita tidak bisa keluar hari ini," kata nya hampir tenggelam dalam deru air.
"Tidak apa-apa."
" Mas tidak buru-buru? Ada janji? atau ada... yang menunggu?"
"Tidak." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu mengendap. "Di luar hujan. Dan di sini... juga ada hujan tapi sungguh berbeda."
Gadis berkulit putih itu tersenyum kecil, tidak mengerti apa maksud kalimatnya.
Mereka kembali diam, menunggu waktu
Suara hujan memenuhi celah-celah sunyi. Beberapa detik terasa lebih lama daripada seharusnya, melambat untuk memberi mereka ruang lebih.
"Dulu wku tidak suka huja," kata Mei tiba-tiba, begitu pelan
"Kenapa?"
"Karena hujan membuat semuanya berhenti." Dia melihat ke arah jalanan seperti sungai kecil. "Orang tidak bisa pergi ke mana-mana. Terjebak. Terkurung dalam ruang sempit pikiran berkecamuk."
"Dan sekarang?"
Ia berpikir sejenak menelusuri setiap tetes air merambat di kaca. "Sekarang aku suka."
"Kenapa?"
'Karena hujan memaksa kita untuk diam. Untuk berhenti berlari. Untuk... hanya menjadi."
Andra memperhatikan wajah tampak lebih dewasa dari pada umurnya mungkin kira kira sekitar 25 an. Dan untuk pertama kalinya—ia merasakan kenyamanan, bukan di tempat ini, bukan di bangku kayu keras, dinding bocor di sudut, atau suara hujan turun terus-menerus.
Tapi...dari caranya tertawa, diamnya dan dunia tampak lebih berwarna atas kehadirannya. Itu... berbahaya.
Beberapa menit kemudian, seperti ditakdirkan, listrik tiba-tiba padam.
Ruangan langsung gelap gulita, ditelan oleh malam pekat. Anak-anak dari dalam kamar bersuara kecil "Kak...lampu mati..."
Mei langsung berdiri, "Tenang, tidak apa-apa. Kakak ada di sini." Dia bergerak mengambil lilin dari lemari kecil di sudut ruangan. Korek api menyala, dan seketika cahaya kecil mulai menerobos kegelapan. Wajahnya bersinar keemasan, seperti lukisan dari zaman Renaissance.
Andra membantu menyalakan satu lilin lagi, meletakkannya di atas meja kayu di antara mereka.
Sekarang ruangan dipenuhi cahaya hangat redup—berbeda dari lampu listrik, lebih sunyi intim dan lebih... dekat.
Mei duduk di lantai, bersandar ke kaki meja, hanya beberapa jengkal dari Andra, kegelapan memaksa mereka untuk lebih sadar akan keberadaan satu sama lainnya.
"Terima kasih ya, Mas"
Api lilin berkelip-kelip.
"Untuk apa?"
"Untuk sering datang, tetap hadir, meski hujan. Meski lelah, meski tidak ada yang spesial di sini."
"Aku juga mendapatkan sesuatu yang berharga di sini."
"Apa?"
"Ketenangan yang tidak pernah aku dapatkan di tempat lain."
Meisyah tersenyum, sudut bibirnya melengkung matanya berbinar meski dalam kegelapan.
Api lilin bergoyang mencari jawaban yang tersembunyi
"Tapi...terkadang aku juga takut."
"Takut apa?"
Ia diam sesaat memainkan ujung rambut basah karena uap hujan. "Kalau suatu hari aku harus kembali."
"Apakah Itu yang kamu inginkan?"
"Aku tidak tahu." Dia tersenyum kecil, tidak sampai ke matanya. "Aku... suka versi hidupku sekarang di mana aku bisa menjadi... ini bukan siapa-siapa bukan pula apa-apa hanya Meisyah melipat kertas menjadi burung aneh dan mengajarkan mereka untuk bisa terbang."
Andra tidak menjawab karena ia tahu hidup seperti ini tidak akan selamanya. Panti asuhan bukan miliknya, dan gadis ini tidak pula miliknya. Bahkan momen sehangat apapun, hanyalah pinjaman dari waktu yang berjalan.
Tapi dia tidak ingin merusak momen itu dengan kebenaran yang pahit.
Hujan masih turun di luar, semakin deras, seolah tidak ingin berhenti.
Lilin masih menyala menciptakan lingkaran cahaya memisahkan mereka dari dunia.
Dan tanpa mereka sadari—jarak di antara mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Lebih dekat.
Lebih hangat.
Lebih berbahaya.
Mereka tidak hanya merasa nyaman dengan kehadiran tapi mulai merasa kehilangan,
bahkan sebelum benar-benar memiliki.