Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Titah Larangan dan Mentari di Tengah Kegelapan
Aku berbalik dari kios buah itu dengan gerakan pelan dan terukur. Insting bertahanku menjerit, menyuruhku untuk berlari sekencang-kencangnya keluar dari Orario saat ini juga. Namun, logika menahanku. Berlari di tengah kepanikan massal hanya akan membuatku dicurigai oleh penjaga kota yang kini mulai berpatroli dengan senjata terhunus.
Setiap langkah yang kuambil menuju Jalan Daedalus terasa sangat berat.
Fiksiku bukan lagi sekadar cerita penghibur atau ramalan palsu yang menarik perhatian para Dewa. Fiksiku kini adalah senjata biologis dan pedoman sihir terlarang. Dekrit darurat Guild berarti siapa pun yang terbukti memiliki, menyalin, atau mendistribusikan "The Xianzhou Alliance" akan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah Babel, atau lebih buruk, dieksekusi atas tuduhan bidah terhadap hukum alam Dungeon.
Sesampainya di bar bawah tanah The Rusty Coin, suasana di sana tidak seberisik biasanya. Udara dipenuhi ketegangan yang pekat. Beberapa petualang berbisik dengan wajah pucat, sementara yang lain sibuk menyembunyikan gulungan perkamen ke balik jubah mereka.
Aku berjalan cepat menuju meja bartender bermata satu. Sebelum aku sempat membuka mulut, ia sudah mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkeram kerah jubahku dengan sebelah tangan.
"Kau benar-benar gila, Anonym," desisnya rendah, nyaris tak terdengar di atas dengungan suara pengunjung bar. Mata satu-satunya menatapku dengan campuran antara kekaguman yang sinting dan kemarahan. "Guild baru saja menggerebek tiga toko buku di Distrik Timur. Mereka mencari buku bersampul ungu gelap dengan lambang cakar itu."
"Aku tidak menyuruh para pandai besi itu meledakkan diri mereka sendiri," balasku sama pelannya, melepaskan cengkeramannya dari jubahku. "Itu fiksi. Kenapa mereka mempraktikkan cara kerja kutukan?!"
Sang bartender mendengus kasar. "Di kota ini, fiksi yang menjanjikan kekuatan tak terkalahkan adalah kebenaran yang tertunda. Tapi, ini bagian gilanya..." Ia menatap ke kiri dan ke kanan sebelum melanjutkan. "Dekrit Guild justru menciptakan kelangkaan. Harga langganan naskahmu di pasar gelap baru saja meroket sepuluh kali lipat. Para bangsawan dan petualang korup rela membayar dengan batu permata mentah demi kelanjutan ceritanya."
Aku terdiam. Hukum ekonomi pasar dasar—ketika pasokan ditekan oleh hukum, permintaan dari pihak yang nekat akan meledak, menciptakan pasar gelap yang jauh lebih bernilai. Namun, uang sebanyak apa pun tidak akan ada artinya jika kepalaku terpisah dari leher.
"Hentikan distribusinya untuk sementara," putusku final.
"Kau yakin? Kita membuang ratusan ribu Valis ke selokan," protesnya.
"Lakukan saja. Biarkan situasinya mereda." Aku berbalik, meninggalkan bar itu dengan pikiran berkecamuk.
Dalam perjalanan kembali ke rumah sewaanku di Distrik Utara, pikiranku terus berputar mencari jalan keluar. Jingliu hancur oleh kegilaan, Dan Feng dipenjara oleh dosanya, Yingxing menjadi monster abadi. Karyaku telah membawa bayang-bayang kehancuran Abundance ke dunia nyata.
Aku teringat pada filosofi yang kutulis untuk Jing Yuan di bab terakhir. Sang jenderal yang harus menanggung semua beban itu. Di masa lalu, ketika memikirkan makna dari sebuah perjuangan di tengah keputusasaan, aku selalu mengandaikannya seperti mentari menyinari gelap. Matahari tidak pernah mengeluh saat ia harus mengusir malam; ia hanya terbit, dan cahayanya menembus awan sepekat apa pun.
Jing Yuan tidak lari dari kehancuran Familia-nya. Ia menjadi mentari yang menyinari kegelapan itu.
"Aku tidak bisa lari," gumamku pada diri sendiri saat melihat atap rumahku di ujung jalan. "Jika tulisan ini menjadi racun yang mengacaukan kewarasan Orario, maka aku harus menulis penawarnya. Aku harus membuat bab baru yang memaparkan secara mengerikan bahwa kekuatan Abundance adalah kutukan absolut yang membusukkan jiwa, sesuatu yang menjijikkan dan tidak layak dikejar, bahkan oleh Dewa sekalipun."
Namun, tekadku yang baru saja terkumpul seketika runtuh saat aku berdiri di depan pintu rumahku.
Gembok perak yang kupasang telah terbelah dua dengan potongan yang sangat rapi. Pinggiran besi yang terpotong itu bahkan masih sedikit menyala merah, seolah dilelehkan oleh suhu yang teramat ekstrem dalam hitungan mikrodetik.
Aku menelan ludah. Aku mencabut belati penyayat kertas dari balik jubahku—senjata yang konyol, memang, tapi hanya itu yang kumiliki—lalu mendorong pintu kayu itu perlahan.
Rumahku gelap gulita. Tirai-tirai tertutup rapat. Namun, dari arah ruang bawah tanah tempatku biasa menulis, terdengar suara gemerisik kertas yang dibalik.
Aku menuruni tangga kayu dengan napas tertahan. Di sana, duduk di kursi kerjaku, dengan diterangi nyala api kecil dari lentera batu sihir, adalah sesosok perempuan tinggi. Ia mengenakan penutup mata sebelah, dengan rambut hitam panjang yang diikat asal. Pedang merah menyala bersandar di meja kerjaku, memancarkan hawa panas yang membuat udara di ruang bawah tanah ini terasa mencekik.
Di tangannya, ia memegang map kulit berisi draf kasar bab terbaruku tentang Yingxing si pandai besi jenius.
Itu adalah Tsubaki Collbrande. Kapten dari Familia Hephaestus, sekaligus pandai besi tingkat atas terhebat di seluruh Orario.
"Darah monster dicampur dengan ranting dari lantai dalam, disatukan dengan suhu tungku di atas batas wajar..." Tsubaki bergumam, membaca naskahku tanpa menoleh. "Tidak heran para pandai besi idiot dari Familia menengah itu meledak. Reaksi alaminya akan menghasilkan uap beracun mematikan."
Ia perlahan memutar kursinya, menatapku dengan mata tunggalnya yang berkilat berbahaya.
"Kau punya imajinasi yang mengerikan untuk meracik bencana, Anonym," kata Tsubaki, suaranya tenang tapi membawa tekanan seberat palu tempa. "Sekarang, beri tahu aku... dari mana kau mendapatkan ide gila tentang logam yang beregenerasi ini, sebelum aku memutuskan untuk menempa belati mainanmu itu bersama dengan tanganmu."