NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sementara di dunia manusia kini Dinda tengah menggoda Gama.

"Mas pacar hantu yang gagah! apakah kamu kelelahan," Tanya Dinda sementara Ira yang melihat tingkah Dinda dibuat geram.

Ira benar-benar sudah berada di puncak kekesalannya. Ia menarik kerah belakang baju Dinda sampai gadis itu terjungkal sedikit ke belakang.

​"Dinda! Kamu lihat tidak itu keringat—maksudku aura biru—dia sudah hampir habis? Dia baru saja bertarung mati-matian menjaga nyawa kita, dan kamu malah menjadikannya objek godaan?!" omel Ira dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai ke kamar Ibu Diana.

​Gama, yang masih dalam wujud ksatria zirahnya, hanya berdiri kaku. Pedang batunya masih tertancap di tanah. Ia tidak menoleh, namun bahunya tampak sedikit naik-turun, entah karena kelelahan setelah bertarung atau karena sedang menahan diri untuk tidak menghilang seketika mendengar ocehan Dinda.

​Dinda, yang dasarnya bermuka badak, hanya nyengir lebar sambil membetulkan posisi duduknya di teras. "Ya kan aku perhatian, Ra! Mas Gama ini kalau lagi capek gitu aura gantengnya malah nambah dua ratus persen. Lihat deh, tatapannya yang tajam itu... duh, bikin hati dedek bergetar!"

​Gama perlahan menoleh. Tatapan matanya yang tajam dan dingin bertemu dengan mata Dinda yang berbinar-binar. Untuk pertama kalinya, sang ksatria bayangan itu bersuara dengan nada yang sangat rendah namun terdengar jelas.

​"Diamlah, manusia berisik. Tenagaku lebih banyak terkuras mendengarkan suaramu daripada menebas bayangan-bayangan tadi," ucap Gama dingin.

​Bukannya takut, Dinda malah makin histeris kegirangan. "JEL! IRA! DIA JAWAB! MAS PACAR JAWAB OMONGANKU! Berisik katanya? Duh, itu tandanya dia sudah mulai memperhatikan suaraku, Ra!"

​Ira hanya bisa menepuk dahinya sendiri. "Terserah kamu, Din. Terserah."

​Tiba-tiba, udara di teras itu kembali dipenuhi aroma cendana yang sangat pekat. Pusaran angin hitam muncul di tengah-tengah mereka, dan sedetik kemudian, Arjuna muncul bersama Jelita yang masih berada dalam dekapannya.

Arjuna melepaskan Jelita dengan perlahan. Ia melirik Gama yang langsung bersujud hormat di hadapannya.

​"Semua sudah bersih, Baginda," lapor Gama singkat.

​Arjuna mengangguk. "Kau sudah bekerja dengan baik, Gama. Kembalilah ke istana dan pulihkan kekuatanmu."

​"Tunggu! Mas Gama mau pergi?" sela Dinda panik. Ia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cokelat batangan yang tadi sempat ia beli di kantin. "Ini... buat Mas Gama. Kata orang kalau capek makan cokelat biar manis!"

​Gama menatap cokelat itu dengan bingung, lalu menatap Arjuna untuk meminta instruksi. Arjuna hanya tersenyum tipis—senyum yang jarang sekali terlihat. "Ambillah. Itu persembahan dari calon 'bebanmu' di dunia ini."

​Gama akhirnya mengambil cokelat itu dengan jari-jarinya yang dingin, lalu menghilang menjadi kepulan asap hitam bersamaan dengan tawa Dinda yang membahana.

​Jelita menoleh ke Arjuna. "Calon beban?"

​"Gama butuh hiburan, Jelita. Dan sepertinya temanmu itu adalah hiburan yang paling melelahkan sekaligus menarik baginya," bisik Arjuna sambil memeluk pinggang Jelita, kembali ke mode protektifnya saat menyadari situasi rumah sudah benar-benar aman.

Setelah ketegangan yang luar biasa di Astina Maya, suasana rumah Jelita kembali tenang, meski udara di dalamnya tetap terasa lebih dingin dari biasanya karena kehadiran para penghuni alam sebelah.

​Dinda dan Ira sudah terlelap di kamar tamu—Ira tidur karena kelelahan mental, sementara Dinda tidur sambil memeluk gantungan kunci pedang pemberian Gama dengan senyum lebar di wajahnya.

​Namun, di kamar Jelita, suasana sama sekali tidak bisa dibilang tenang.

Begitu pintu kamar terkunci, Arjuna tidak lagi menahan diri. Dengan satu jentikan jari, lampu kamar meredup hingga menyisakan cahaya remang-remang yang hangat. Ia langsung memeluk Jelita dari belakang, membenamkan wajahnya di leher Jelita yang jenjang, menghirup aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya haus akan keberadaannya.

​"Arjuna... aku lelah, aku ingin tidur," bisik Jelita pelan, meski jantungnya mulai berpacu liar karena merasakan sentuhan tangan Arjuna yang mulai merayap di pinggangnya.

​"Tidurlah... tapi biarkan aku tetap seperti ini," jawab Arjuna dengan suara serak yang sangat dalam. "Kau tidak tahu betapa gilanya aku saat melihat jenderal pemberontak itu menatapmu tadi. Rasanya aku ingin menghancurkan seluruh alam gaib hanya agar tidak ada satu pun mata yang bisa melihat kecantikanmu selain aku."

Arjuna membalikkan tubuh Jelita agar menghadapnya. Ia mendudukkan Jelita di tepi ranjang sementara ia berlutut di depan gadis itu, menatapnya dengan pandangan yang gelap dengan netranya yang sebiru lautan namun penuh pemujaan.

"Kau adalah milikku, Jelita. Sepenuhnya milikku," gumam Arjuna. Tangannya yang dingin mulai membuka kancing teratas piyama Jelita dengan sangat perlahan, membuat Jelita menahan napas.

​"Arjuna... apa yang kau lakukan?" tanya Jelita dengan wajah yang sudah memerah sempurna.

​Arjuna terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat nakal. "Aku hanya ingin memastikan tanda penobatanku tadi malam meresap sempurna ke kulitmu. Aku tidak suka jika ada inci dari tubuhmu yang tidak memiliki aroma cendanaku."

Cup!

​Ia mengecup pundak Jelita dengan lembut namun penuh penekanan, meninggalkan sensasi geli sekaligus panas yang menjalar ke seluruh tubuh Jelita. Arjuna mulai menunjukkan sisi "mesum" khasnya yang hanya diperlihatkan saat mereka benar-benar berdua. Bagi Arjuna, Jelita bukan sekadar Ratu, tapi satu-satunya pelampiasan atas kerinduannya yang telah terpendam selama berabad-abad.

Arjuna semakin dalam membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita. Bibirnya yang dingin memberikan sensasi kontras yang luar biasa pada kulit Jelita yang hangat dan halus.

​"Ahhh... Arjuna..." lenguh Jelita lolos begitu saja saat bibir pria itu memberikan hisapan kecil di pangkal lehernya, meninggalkan tanda kepemilikan yang samar namun nyata. Tangannya meremas rambut hitam Arjuna, mencoba mencari pegangan di tengah terjangan gairah yang ia rasakan.

​Arjuna tidak berhenti. Ia menelusuri garis bahu Jelita dengan kecupan-kecupan basah yang menuntut.

​Slurpp... mmph...

​Suara kecupan itu menggema di dalam kamar yang sunyi. Setiap sentuhan bibir Arjuna di kulit Jelita meninggalkan rasa panas yang menjalar, membuat tubuh Jelita bergetar hebat.

​"Kau sangat manis, Jelita... lebih memabukkan dari sesaji manapun yang pernah kuterima," bisik Arjuna dengan suara berat yang bergetar tepat di permukaan kulit bahunya.

Arjuna kemudian mengangkat wajahnya, menatap Jelita dengan mata birunya yang kini berkilat penuh nafsu dan dominasi. Ia menarik tengkuk Jelita, mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan posesif.

​Mmmpphh... nghh...

​Lidah mereka saling bertautan, menciptakan irama yang liar. Suara decapan basah dari ciuman yang menuntut itu memenuhi pendengaran Jelita, membuatnya semakin kehilangan kesadaran. Arjuna menghisap bibir bawah Jelita dengan kuat, seolah ingin memastikan bahwa rasa manis itu hanya miliknya seorang.

​Cupp... mmmhhh...

​Jelita mencoba mengimbangi permainan Arjuna, meski napasnya mulai tersengal. Ia bisa merasakan energi dingin Arjuna mengalir masuk ke dalam dirinya lewat tautan bibir mereka, memberikan kekuatan sekaligus rasa candu yang aneh.

​"Hah... hah... Arjuna..." Jelita terengah saat Arjuna melepaskan ciumannya sejenak hanya untuk berpindah ke telinganya, menggigit kecil cuping telinganya yang sensitif.

​"Katakan padaku, Jelita... siapa pemilik jiwamu?" bisik Arjuna, tangannya kini sudah merayap turun, memeluk pinggul Jelita agar semakin menempel erat pada tubuh kokohnya.

​"Kamu... hanya kamu, Arjuna," jawab Jelita dengan suara yang hampir habis, menyerah sepenuhnya pada pesona sang Pangeran kegelapan yang malam ini bersikap begitu liar.

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!