Sanaya Oktavia Pradifta terlahir di keluarga Pradifta. Mempunyai papa, mama, dan seorang adik tiri perempuan. Hari-harinya dipenuhi luka dan tangisan oleh keluarganya. Hingga suatu hari saat dirinya tertabrak mobil dan meninggal ia malah terbangun dengan situasi, kondisi, dan dunia yang berbeda.
Yah dirinya TERJEBAK DI DUNIA NOVEL yang pernah ia baca di kamar lama mamanya. Dan bagaimana caranya ia menghindari ending tragis di novel ini?
Tapi dibalik itu semua Sanaya akan mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Semua rahasia didunia novel ini akan terungkap serta kedatangan dirinya yang dinantikan oleh bangsa fairy.
Penasaran? Yuk buruan baca ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elhery_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Rumor Tentang Roselie
Hari ini kerajaan Ainsley digemparkan oleh sebuah rumor yang mengejutkan. Entah darimana asal rumortersebut, tapi yang pasti rumor tersebut menyebar dengan cepat sampai ke dalam istana.
Rumor itu mengatakan tentang ramalan putri Roselie yang akan menjadi alasan kehancuran kerajaan Ainsley. Tidak ada yang tau siapa yang membawa rumor tersebut. Rumor itu tiba-tiba mencul secara mendadak.
Di dalam istana, raja Edward mengundang seluruh pejabat dan penasehat kerajaan untuk hadir dalam sidang. Hari ini mereka semua akan melaksanakan rapat perihal berita burung yang sudah menjadi perbincangan semua orang. Edgar juga ikut andil dalam rapat penting kali ini. Sebagai seorang pangeran mahkota ia sudah diberikan izin untuk mengikuti setiap rapat istana yang ada.
Suasana dalam ruangan terlihat mencekam dari biasanya. Masing-masing dari mereka semua mengelap pelipisnya yang sudah berkeringat daritadi. Masalah yang dihadapi kali ini jelas membuat raja Edward turun tangan langsung untuk mengatasi masalah ini. Dalam hati mereka berdoa semoga rapat kali ini berakhir dengan cepat.
Wajah raja Edward lebih dingin dari biasanya. Ia menyorot tajam kepada semua orang yang hadir di ruangan.
"Apa kalian sudah mencari tau darimana asal rumor tersebut?" Pertanyaan itu sukses membuat para pejabat istana menundukkan kepalanya.
Tidak ada satupun yang tau darimana asal rumor tersebut. Pembawa rumor tersebut seolah ditelan bumi, hilang tanpa diketahui.
Seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu pejabat istana membuka suaranya setelah beberapa kali menyakinkan dirinya. "Maaf yang mulia raja, kami semua tidak dapat menemukan darimana rumor tersebut berasal."
Jawaban itu menjadi perwakilan seluruh pejabat yang ada di sana. Keringat dingin kembali mengalir dari pelipis mereka.
"Cih, menangkap seseorang yang membawa rumor ini saja kalian tidak mampu. Memalukan!" Tukas raja Edward menghina para pejabatnya. Ekspresinya begitu marah mendengar jawaban yang tidak ia harapkan itu.
Para pejabat hanya bisa menundukkan kepala menerima semua kemarahan dari raja Edward. Tidaka ada yang berani membuka suara.
"Apa kalian semua tidak punya solusi agar rumor ini tidak semakin menyebar? Aku tidak mungkin memaksa semua orang di kerajaan Ainsley untuk menutup mulut mereka. Itu adalah hal yang sia-sia. Dan untuk masalah rumor itu, aku yakin ada seseorang dibalik ini semua."
"Yang mulia benar, seseorang pasti sedang merencanakan sesuatu. Tidak mungkin tiba-tiba sebuah rumor yang entah darimana asalnya ini menyebar dengan cepat hanya dalam satu hari. Jika orang itu hanya satu pasti memerlukan waktu yang cukup lama. Mungkinkah orang yang membawa rumor ini lebih dari satu orang?" Ucap pejabat lain memberikan tanggapannya.
"Tidak mungkin hanya satu orang saja. Pasti mereka berkelompok. Jika tidak, rumor ini tidak akan melebar luas hanya dalam waktu singkat." Tukas pejabat lainnya membenarkan.
Raja Edward mengangkat tangannya ke atas. Semua orang yang berbicara langsung menutup mulut mereka.
"Aku tidak perlu tanggapan kalian. Yang aku inginkan adalah solusi dari permasalahan ini." Pungkas raja Edward marah.
Ia tidak bisa untuk tidak tenang. Ia takut Roselie mengetahui tentang hal ini. Jika Roselie mengetahui tentang rumor ini, dia pasti akan merasa sedih. Dan ia tidak suka melihat putrinya bersedih.
"Yang mulia, putri Roselie tidak boleh tau mengenai rumor ini. Dia pasti akan merasa sedih setelah mendengar rumor yang tidak-tidak tentang dirinya." Sahur Edgar yang daritadi hanya memperhatikan. Pikirannya terus melayang pada Roselie. Ia takut adik kecilnya akan sedih karena ini.
"Kau benar, putri Roselie tidak boleh sampai mendengar rumor ini."
"Dengarkan perintah ku baik-baik. Semua orang dalam istana ini tidak boleh membicarakan tentang rumor tersebut. Putri Roselie tidak boleh sampai mendengar rumor ini. Jika Roselie sampai mengetahui hal ini. Kalian semua akan menanggung akibatnya!" Titah raja Edward pada semua orang.
Para pejabat dan penasehat yang ada di ruangan mengangguk menuruti perintah sang raja. "Baik yang muli raja."
Salah satu penasehat yang ada disamping raja Edward membuka suara. "Yang mulia raja, saya punya solusi untuk masalah ini," Ujarnya yang membuat raja Edward menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan semua orang.
"Bicaralah."
Penasehat itu mengangguk. "Yang mulia, bagaimana jika yang mulia meminta seorang peramal untuk datang ke kerajaan Ainsley dan meramal tentang masa depan kerajaan Ainsley. Kumpulkan semua orang di kerajaan untuk menyaksikan ramalan itu. Dengan begitu, semua orang akan percaya jika tuan putri tidak akan membawa kehancuran untuk kerajaan Ainsley. Dan rumor tidak jelas ini akan langsung hilang."
Semua pejabat di sana tersenyum mendengar ucapan sang penasehat. Itu jelas adalah solusi yang tepat untuk permasalahan ini.
Raja Edward berpikir sebentar sebelum akhirnya setuju dengan solusi dari penasehatnya. "Baiklah aku menyetujui solusi darimu."
"Tapi yang mulia....... " Kalimat Edgar terhenti saat raja Edward mengangkat tangannya. Ia kembali menelan kata-kata yang ingin diucapkannya.
Raja Edward berdiri dari tahtanya, semua orang dalam ruangan pun juga ikut berdiri.
"Berdasarkan rapat hari ini, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan mengumumkan empat perintah untuk kalian. Perintah yang pertama, aku ingin semua orang dalam istana ini tidak membicarakan perihal rumor ini ini. Putri Roselie tidak boleh mengetahui tentang hal ini. Perintah yang kedua, aku ingin kalian menangkap orang-orang yang telah menyebarkan rumor ini dan orang itu sudah harus ditemukan besok. Perintah ketiga, aku ingin penasehat kerajaan mencarikan peramal terbaik untuk meramalkan masa depan kerajaan Ainsley. Dan perintah keempat, perintahkan semua orang untuk hadir dalam acara besok, semua orang harus hadir dalam acara besok tanpa terkecuali." Ini adalah keputusan terakhir dalam rapat kali ini. Raja Edward sudah mempertimbangkan keputusan ini dengan baik.
"Laksanakan yang mulia."
Semua orang yang hadir dalam rapat ini beranjak pergi dari ruangan. Mereka dengan cepat keluar untuk melaksanakan perintah dari raja Edward.
Saat penasehat kerajaan ingin beranjak untuk pergi, raja Edward mencegahnya.
"Berhenti penasehat." Panggil raja Edward mencegah penasehat kerajaan untuk pergi.
Edgar masih ada dalam ruangan. Ingin tau hal apa yang akak dibicarakan oleh raja Edward.
Penasehat itu menunduk hormat. "Ya, yang mulia raja. Apa ada hal yang ingin yang mulia bicarakan?"
"Untuk masalah peramal itu, aku ingin sebelum peramal itu hadir dalam acara besok peramal itu harus menemuiku dulu." Ungkap raja Edward setelah itu pergi tanpa memberikan penjelasan.
"Baik yang mulia." Patuh penasehat itu. Walau dalam hati penasehat itu merasa bingung dengan perintah raja Edward.
Edgar tersenyum tipis, ternyata raja Edward memikirkan hal yang sama dengannya.
.........................
"Kakak, Roselie bosan hanya duduk-duduk di sini saja." Roselie berdiri dari duduknya. Merasa bosan karena terus dipaksa duduk di bangku taman. Sudah beberapa menit yang lalu ia terus menemani kakaknya membaca buku di taman.
Aland menutup buku yang telah ia baca. Menatap adiknya yang memang terlihat bosan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita main saja. Kau ingin bermain apa?"
"Tidak, hari ini Roselie tidak ingin main. Em.... bagaimana kalau kita keluar istana sambil melihat pemandangan?"
"Tidak." Aland tidak bisa membiarkan Roselie keluar dari istana ini. Ia tidak ingin adiknya itu tau tentang berita hangat yang sedang menjadi buah bibir semua orang. Apalagi rumor itu tentang dirinya.
Roselie cemberut, ia sungguh bosan dan tidak tau ingin melakukan apa.
"Kalau begitu Roselie mau pergi ke perpustakaan saja." Ujarnya seraya beranjak pergi.
"Kakak temani." Sahut Aland berjalan disamping Roselie.
Dalam perjalanan Aland terus mengajak Roselie bercerita. Entah itu hal yang penting atau tidak penting sama sekali. Roselie merasa hari ini kakaknya terlihat berbeda dari biasanya. Tidak biasanya kakaknya ini menyuruhnya menemani buku di taman dan mengajaknya mengobrol tentang hal yang tidak penting.
Di depan, ada dua orang pelayan yang sedang membicarakan sesuatu. Kebiasaan perempuan yaitu bergosip ria. Dua orang pelayan yang melihat Roselie dan Aland berjalan di koridor langsung menghentikan pembicaraannya. Mereka memberi salam hormat lalu berlari terbirit-birit.
Alis Roselie menyatu, merasa bingung.
Ada apa dengan pelayan itu? Aneh.
Roselie menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran dalam otaknya.
"Ada apa?" Aland bertanya bingung melihat Roselie yang menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak ada. Ayo kak." Balas Roselie tersenyum. Aland mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan.
Roselie membuka pintu perpustakaan dan masuk ke dalam. Aland ikut masuk, tiba-tiba seorang pelayan datang.
"Pangeran, yang mulia raja memanggil pangeran ke ruangannya." Lapor pelayan itu.
Apa ini tentang masalah rumor itu?
Aland menoleh pada Roselie. "Roselie, kakak akan pergi sebentar. Jangan keluar dari sini sebelum kakak datang," Pesan Aland.
"Iya kak."
Mendengar jawaban itu Aland langsung pergi meninggalkan Roselie di perpustakaan. Roselie pun mulai mencari buku untuk dibaca. Setelah berkeliling beberapa menit ia menemukan sebuah buku yang ingin dibacanya. Ia mengambil buku tersebut dan membawanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat tanpa sengaja ia mendengar seseorang sedang berbicara.
"Hei, apa kau sudah mendengar tentang rumor baru itu?" Tanya seorang wanita pengurus perpustakaan pada temannya.
"Ya, aku sudah mendengar rumor itu. Tapi aku tidak percaya tentang rumor yang beredar itu. Apa kau pikir rumor itu benar bahwa putri Roselie lah yang akan menjadi alasannya" Jawab wanita disebelahnya.
Namanya barusan disebut dan itu membuat Roselie penasaran. Rumor apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu sampai membawa namanya.
"Tapi kalau dipikirkan kembali, sepertinya rumor itu juga ada benarnya." Wanita disebelahnya melotot tidak percaya dengan yang dikatakan temannya.
"Apa maksudmu? Kau pikir putri Roselie itu pembawa kehancuran bagi kerajaan Ainsley!" Sahut temannya kesal.
"Coba kau ingat-ingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika yang mulia ratu Amber mengandung tuan putri Roselie, saat itu kerajaan Ainsley berperang melawan kerajaan Herodes. Saat masih mengandung saja tuan putri Roselie membawa sial untuk kerajaan Ainsley melalui perperangan itu. Dan saat yang mulia ratu Amber melahirkan putri Roselie, yang mulia ratu malah meninggal. Yang lebih anehnya lagi kematian ratu Amber begitu aneh. Setelah mengingat kembali kejadian itu, apa kau masih berpikir bahwa putri Roselie itu tidak menjadi alasan kehancuran kerajaan Ainsley?" Tanya wanita itu memperkuat asumsinya.
Di balik rak buku, Roselie tertegun setelah mendengar pembicaraan kedua wanita itu. Ternyata ini alasannya kenapa para pelayan di istana ini lari saat melihatnya. Dan Aland, kakaknya itu ternyata juga tau akan hal ini. Tapi kakaknya merahasiakan ini darinya. Roselie berpikir, kakaknya tidak ingin memberitahu rumor itu kepadanya karena takut ia merasa sedih.
"Yah, sepertinya kau benar. Astaga, Jangan-jangan putri Roselie itu terkena kutukan. Karena itu yang mulia raja mengasingkan putri Roselie."
TES
Air mata Roselie jatuh saat mendengar ucapan wanita itu. Kutukan? Kata itu sangat menyakitkan untuk didengar. Walaupun ia tau jika dalam novel putri Roselie tidak pernah dikutuk tapi rasanya sakit saat mendengar seseorang mengatakan dirinya dikutuk dan dianggap pembawa sial bagi kerajaan ini.
"Kalian berdua! Berhenti membicarakan tentang rumor itu. Kalian tidak ingat perintah raja Edward untuk tidak membicarakan tentang rumor itu lagi." Seorang wanita datang kearah mereka. Menghentikan pembicaraan hangat itu.
Kedua wanita itu ketakutan mengingat hukuman raja Edward jika ada yang membicarakan tentang rumor itu. Mereka berdua bergegas pindah ke rak lain untuk membersihkan buku-buku.
Sementara itu dibalik rak buku yang lain. Roselie menghapus air matanya yang keluar. Baginya ini bukanlah hal yang besar. Dulu, dikehidupan lamanya ia sudah terbiasa dijelek-jelekkan oleh semua orang. Bahkan semua orang menghinanya secara terang-terangan. Ia sudah biasa dihina dan dipermalukan. Jadi jika ada orang lain yang membicarakan sesuatu dibelakangnya maka biarlah.
Itu tidak mempan baginya. Ia sudah terbiasa dan ia sudah kebal. Jadi biarkan mereka membicarakan dirinya sesuka hati mereka. Ia tidak peduli. Asal orang-orang disekitarnya percaya padanya. Ia sudah lebih dari cukup.
.........................
"Ada apa yang mulia memanggilku ke sini?" Tanya Aland yang sudah berdiri dihadapan raja Edward.
"Menunggu seseorang." Sahutnya singkat.
Orang itu pasti penting sampai dia dipanggil ke sini. Ia baru ingat tentang rapat hari ini. Ia penasaran, apa hasil rapat itu.
"Bagaimana dengan rapat hari ini? Apa kalian sudah menemukan solusinya?" Aland bertanya pada dua orang dihadapannya.
Edgar menoleh. "Kita akan memanggil seorang peramal untuk datang kemari. Peramal itu akan meramalkan tentang masa dekan kerajaan Ainsley besok didepan semua orang. Dengan begitu semua orang akan mendengar dengan jelas jika rumor tentang Roselie itu salah. Tapi sebelum itu kita harus menemui peramal itu dulu sebelum acara besok." Ucap Edgar menjelaskan pada Aland.
Aland berpikir sebentar sebelum akhirnya ia mengerti alasan mereka memanggil peramal itu sebelum acara besok.
"Jadi kita akan memastikan bahwa tidak akan ada ramalan buruk tentang Roselie yang berhubungan dengan kerajaan Ainsley. Jika rumor itu ternyata benar, maka Roselie akan mendapatkan masalah nantinya."
Dengan wajah datar raja Edward mengangguk membenarkan ucapan Aland. Ternyata Aland sepemikiran dengannya dan Edgar. Tidak diragukan lagi jika mereka adalah ayah dan anak melihat pemikiran mereka yang sama.
"Yang mulia raja, peramal itu sudah datang." Lapor seorang prajurit.
"Suruh dia masuk." Titah raja Edward.
Prajurit itu keluar dan masuk kembali bersama seorang peramal tua yang berpakaian putih lusuh. Rambutnya berwarna putih dengan membawa sebuah tongkat hitam. Wajah peramal tersebut sudah terlihat berkerut dengan jenggot putihnya. Sepertinya umur peramal ini sudah berusia ratusan tahun.
"Salam yang mulia raja. Salam pangeran mahkota dan salam pangeran Aland." Peramal tua itu membungkuk hormat kepada raja Edward dan kedua pangeran.
"Silahkan duduk." Ucap raja Edward mempersilahkan peramal tua itu duduk.
"Langsung saja ke intinya. Aku ingin kau meramalkan masa depan kerajaan Ainsley." Seperti biasa raja Edward langsung bicara ke intinya saja. Masalah ini harus cepat selesai agar ia bisa bernapas dengan tenang. Jika masalah ini tidak menyangkut tentang putrinya ia tidak akan mau repot-repot melakukan hal ini.
Peramal tua itu memandang satu persatu orang-orang yang ada dihadapannya. Ia tersenyum tipis beberapa saat.
Peramal tua itu berkata. "Tidak ada yang bisa melihat masa depan yang mulia. Itu sudah ditentukan oleh takdir. Dan kita sebagai seorang manusia hanya bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya," Peramal tua itu tersenyum ke arah raja Edward.
Raja Edward mendelik. Ia juga tidak percaya dengan yang namanya ramalan. Baginya masa depan hanyalah hasil dari apa yang kita lakukan sekarang. Jadi yang perlu dilakukan hanyalah menunggu masa depan itu saja.
"Yang mulia, aku tidak bisa melihat masa depan sebuah kerajaan ataupun seseorang. Yang bisa aku lakukan hanyalah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan istimewanya adalah apa yang aku tebak dan perkirakan dimasa depan nantinya akan terjadi. Seringkali mereka menyebut ini dengan melihat masa depan. Yang mulia bisa percaya itu ataupun tidak." Peramal tua itu kembali mengatakan kalimat-kalimat tidak penting untuk didengar. Hal itu membuat tiga sosok di ruangan ini merasa kesal.
Edgar berkata dengan dingin. "Aku tidak peduli apa yang kau katakan tapi yang pasti aku ingin kau meramalkan atau sesuai ucapanmu tadi menebak masa depan."
Peramal tua itu menoleh ke arahnya lalu tertawa. Entah apa yang ia tertawakan tapi Aland sudah merasa kesal sejak tadi. Ia harus menemui adiknya secepatnya tapi peramal ini terus mengoceh tentang hal-hal yang tidak jelas.
Sambil tertawa, peramal tua itu berkata. "Baiklah jika itu yang kalian mau."
Peramal tua itu beranjak dari kursinya lalu membuka jendela ruangan tersebut tanpa meminta izin. Tapi hal itu dibiarkan saja oleh raja Edward.
Pemandangan malam dari luar jendela terlihat indah di malam hari. Bintang-bintang bersinar dengan terang malam ini. Tapi bulan di atas langit ditutupi oleh awan hitam yang pekat. Peramal itu memejamkan matanya dan menggumamkan sesuatu.
Tak lama kemudian peramal tua itu berbalik ke arah tiga sosok itu.
"Yang mulia, kerajaan Ainsley akan terus bersinar nantinya dimasa depan. Semua keberkahan dan kesejahteraan akan terus bersama kerajaan ini. Tidak ada hal buruk yang akan membuat kerajaan ini hancur." Ucapan peramal tua itu membuat raja Edward, Edgar, dan Aland bernapas lega. Akhirnya apa yang mereka takutkan tidak akan terjadi.
Apapun kehancuran kerajaan Ainsley nanti tidak ada sangkut pautnya dengan Roselie. Padahal tadi raja Edward sudah bersiap akan menutup mulut peramal ini jika memang benar Roselie yang akan menjadi alasan kehancuran kerajaan Ainsley.
Tapi kalimat selanjutnya dari peramal tua itu membuat ketiga sosok itu terkejut.
"Tapi ada suatu jiwa yang bersemayam dalam istana ini. Jiwa itu telah ada beratus-ratus tahun lamanya di dalam istana ini. Itu adalah jiwa yang penuh dengan rasa penyesalan. Jiwa itu sedang mengincar seseorang dalam istana ini untuk mencapai tujuannya." Ujar peramal tua itu.
"Itu tidak mungkin, jangan mengatakan hal yang membuat nyawamu dalam bahaya." Bentak Edgar marah. Bukan karena takut akan bertemu dengan jiwa yang dikatakan peramal tua itu tapi ketakutan saat memikirkan adiknya yang bisa saja dalam bahaya karena kehadiran jiwa misterius itu.
Peramal itu diam, ia terlihat memikirkan sesuatu. Raja Edward bahkan ikut terdiam. Berbeda dengan Edgar yang emosi Aland justru menanyakan suatu hal.
"Bagaimana dengan adikku, Roselie. Apa dimasa depan nanti ia akan baik-baik saja." Entah apa yang dipikirkan Aland tapi ia ingin mengetahui jawabannya.
Peramal tua itu lagi-lagi terdiam. Kembali menatap ke luar jendela. Dalam matanya ia melihat sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Ramalan yang sebenarnya adalah kutukan akan terjadi. Putri Roselie harus menerima semua rasa sakit akibat kutukan itu. Jiwanya akan terpecah menjadi dua dalam satu tubuh. Ia akan menanggung akibat dari kesalahan orang lain dimasa lalu. Jiwa yang bersemayam dalam istana ini mengincar putri Roselie untuk mencapai tujuannya. Jiwa itu akan menampakkan dirinya pada Roselie saat waktunya tiba."
Raja Edward, Edgar, dan Aland berdiri dari tempat duduknya mendengar hal itu. Ucapan peramal tua itu nyaris membuat mereka tidak bisa bernapas.
"Dan kalian juga akan kehilangan putri Roselie."
DEG
Kalimat terakhir dari peramal tua itu berhasil membuat hati ketiga orang yang terkenal akan keberaniannya menjadi ketakutan. Kalimat itu menjadi ketakutan terbesar di malam yang dipenuhi bintang ini.