Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cium
Keesokan harinya.
Rick mendatangi satu persatu teman-teman Miki kemudian menyekapnya di sebuah gudang kosong jauh dari pusat kota. Miki yang datang terakhir bingung dan takut karena dia diculik seseorang yang tidak dikenal.
"Siapa kalian?" tanya Miki memandang wajah-wajah pria itu yang tertutup topeng.
Rick membuka topengnya kemudian membuat Miki terkejut.
"Kamu?" tanya Miki.
"Siapa lagi?" tanya Miki mengejek.
"Apa-apaan ini? Kenapa kami diculik di sini? Bau, kotor, menjijikkan!"
Saat bersamaan Leon datang dan melepaskan masker serta kaca mata hitamnya. Miki menggigit bibirnya sendiri dan mundur perlahan."Apa yang kalian inginkan? Bukankah ini perbuatan tindak pidana?" tanya Miki.
"Oh ya? Lalu apa yang kalian lakukan kemarin di mall itu apa?" tanya Leon kembali.
"Di mall? Memangnya kita ngapain?"
tanya Miki pura-pura tidak tahu.
Leon menyuruh Rick melepaskan ulat-ulat bulu ke lantai. Perempuan-perempuan ganjen itu berteriak ketakutan dan geli melihat ulat-ulat itu.
"Leon, apa yang kamu lakukan?" teriak Miki.
"Kita sudah bersama lebih dari 6 tahun dan aku tahu sifatmu seperti apa. Kamu selalu menindas perempuan-perempuan yang kamu anggap berada di bawahmu lalu tak segan untuk menyakiti mereka," jelas Leon.
Miki merasa kesal. "Bukankah kita sama? Kita bahkan pasangan dalam setiap kejahatan, kamu lupa, ya? Hah? Sekarang kamu sok suci dan sok baik setelah bertemu lagi dengan Alya."
"Aku tidak akan bertele-tele, apa yang kalian lakukan pada Alya di kamar mandi mall kemarin siang?" tanya Leon.
Mereka masih tidak mau mengaku walau ulat-ulat itu terus merambat di lantai dan dinding. Sepertinya ini belum cukup bagi mereka untuk mau mengaku.
"Rick, keluarkan yang lain!" pinta Leon.
"Siap, Bos!"
"Apa yang akan kamu keluarkan? Jangan gila, Leon!" teriak Miki.
"Ular satu karung, tenang saja! Jenis ular ini tidak berbisa," ucap Leon sambil tersenyum.
Para wanita itu berteriak bahkan salah satunya hendak mengaku tapi Miki memelototinya.
"Ini bos ular satu karungnya," ucap Rick membawa karung itu.
"Rick! Jangan! Please!" pinta Miki.
"Miki, kita ngaku aja yuk! Sumpah gue nggak sanggup lagi," pinta temannya."Iya, Miki. Ngaku aja!"
Miki semakin panik tapi dia kekeuh pada pendiriannya dan terus rapat-rapat menutup mulut. Leon meminta Rick melepaskan ular-ular itu, mereka berteriak ketakutan bahkan sampai meminta ampun. Tentu saja hal ini membuat Miki menjadi terpojok.
"Bagaimana? Jika tidak mau mengaku maka aku akan keluarkan ular yang berbisa," ucap Leon.
"Kak Leon, kami mau mengaku! Miki yang punya ide untuk menghajar Alya Renatha, kami awalnya tidak mau tapi dia memaksa," jelas salah satu temannya.
"Benar, kami hanya mengikuti perintahnya. Miki menjambak Alya dan kami bersama-sama memukuli bagian perutnya. Miki juga mengancam Alya untuk pergi jika tidak anak-anaknya akan celaka," jelas mereka.
Miki mendelik, ia merasa kesal pada teman-temannya itu. Sementara Leon merasa geram pada mereka terutama Miki yang berani menyakiti dan mengancam Alya.
"Kak Leon, kami sudah mengaku. Lepaskan, kami!"
Leon mengkode Rick untuk melepaskan mereka kecuali Miki. Setelah mereka keluar, kini Leon dan Miki hanya berdua saja. Air mata wanita itu sudah jatuh, ia merasa Leon sudah berubah karena Alya yang miskin.
"Bagaimana bisa aku mau menikahimu? Kamu sama sekali tidak berubah dan sama seperti dulu, kamu juga sudah dewasa tapi pikiranmu masih anak-anak," ucap Leon memandangnya dengan tajam.
"Kamu yang sudah berubah, Leon, Mana Leon yang aku kenal sayang padaku dan selalu cinta padaku? Kita juga sering melakukan hubungan intim seperti permintaanmu, tapi sekarang kamu sudah berubah!" ucap Miki.
"Karena aku ingin berubah demi ketiga anak kembarku dan demi Alya. Usia kita terus bertambah tiap tahunnya dan kita seharusnya bisa berpikir jauh lebih dewasa juga," jelas Leon.
"Jadi kamu memilih wanita itu dari padaku aku? Bahkan sekalipun aku hamil anakmu?" tanya Miki, air matanya terus jatuh.
Leon hanya diam dan Miki sudah tahu jawabannya.
"Oke baiklah, sekarang pun kamu juga akan jatuh miskin karena diberhentikan oleh keluargamu sendiri. Apa untungnya aku menikah dengan pria miskin sepertimu? Sekarang targetku adalah sepupumu yaitu Sagara, dia jauh lebih menarik darimu," ucap Miki.
Miki berlari menuju pintu, kakinya mulai gatal karena ulat-ulat bulu tersebut.
Sementara Leon sengaja melepaskannya karena ia tidak tega menyiksa lebih lanjut.
Setelah itu Leon keluar dari sana, Rick menghampirinya.
"Kenapa Miki dibiarkan pergi, Bos?"
"Sudahlah! Jika aku melakukan lebih serius lagi maka aku sama saja seperti Leon di masa lalu yang menyakiti Alya," jelas Leon.
"Miki gak akan kapok, Bos."
"Aku yang akan mematahkan tangannya sendiri jika sampai berani menyakiti Alya dan anak-anakku. Sekarang antarkan aku ke kos Alya, aku ingin melihat keadaannya."
Rick mengecek ponselnya, Rafael menyuruh mereka untuk datang ke perusahaan.
"Bos, Pak Rafael suruh kita ke kantor, katanya ini penting."
"Aku malas sekali, tidak usah digubris."
"Siapa tahu beliau berubah pikiran dan tetap menjadikanmu direktur utama," ucap Rick.
Mau tak mau Leon datang ke kantor, sesampainya di sana sang papa sudah menunggu. Rafael duduk di sofa menyambut hangat putranya itu tapi respon Leon datar.
"Jangan basa-basi! Kenapa Papa menyuruhku datang kemari?" tanya Leon.
"Papa memastikan kamu baik-baik saja."Agra datang ke ruangan itu sudah memakai jas rapinya.
"Oh sudah datang?" tanya Rafael sambil menjabat tangannya.
Rafael lalu memandang ke arah Leon. "Nak, Agra ini akan masuk ke perusahaan ini dan bekerja sama denganmu. Papa tidak akan mengusirmu dari sini asalkan kalian mau bekerja sama."
"Silahkan urus sendiri! Aku tidak mau bekerja sama dengannya," ucap Leon.
"Jangan begitu, Leon! Kita bisa sama-sama bekerja sama membangun perusahaan ini yang sempat anjlok," jelas Agra.
"Kalian membuang waktuku!"
Leon pergi dari sana, dia sudah dipecat dan ia tidak mau bekerja di sana lagi. Rafael menghela nafas panjang, kemarin dia memang terlalu kasar pada Leon.
"Aku yang akan membujuknya, Om Rafael," ucap Agra.
"Aku serahkan padamu, Agra."
Di sisi lain, Alya baru saja mengantar si kembar ke FairyCare setelah 2 hari tidak berangkat. Dia juga harus bekerja lagi karena tidak enak jika tidak berangkat terlalu lama.
Sesampainya di sana, dia melakukan aktivitas seperti biasanya. Jardon yang biasanya mengganggunya kali ini tidak berani mendekati lagi.
Hari ini pun para senior Alya tidak menindasnya lagi membuat pekerjaan Alya tidak terbengkalai lagi karena harus mengerjakan Alya terlebih dahulu.
"Alya?"
Alya menoleh dan ternyata adalah teman-teman Miki.
"Kenapa kalian di sini?"
"Kami hanya mau minta maaf, kami hanya disuruh Miki saja," jelas salah satunya.
"Perbuatan kalian sulit dimaafkan," jawab Alya.
"Kami mohon maafkan kami! Jika tidak maka Leon akan melakukan hal yang lebih buruk dari pada tadi pagi," jelas mereka.
"Leon? melakukan apa pada kalian?" tanya Alya heran.
Mereka tentu saja tidak mau menjawab.
"Pokoknya maafkan kami! Kami mau mengganti rugi dengan memberi uang untuk biaya berobatmu."
Salah satu dari mereka menyerahkan amplop dan mereka bersama-sama membungkuk untuk meminta maaf.
"Maafkan kami, Alya!"
Selepas itu mereka buru-buru pergi sedangkan Alya masih melamun memandangi mereka.
Di sisi lain.
Si kembar sedang belajar bersama gurunya, mereka masih teringat teriakan sang mama saat depresinya kambuh.
"Nanti kita beli kado untuk Mama yuk!" ajak Farad.
"Kado apa? Kita kan nggak ada uang," ucap Fared.
"Kita minta Papa saja," jawab Farid."Hemmm... boleh juga, kita minta Om Leon bantu kita buat sesuatu untuk kejutan Mama."
Mereka terus berbisik satu sama lain untuk membuat sesuatu yang spesial.
Sore hari.
Leon datang menjemput mereka agak awal, si kembar meminta sang papa untuk membelikan beberapa lampu hias. Leon menuruti mereka dan sesampainya di kos, mereka menghias bersama-sama.
Satu jam kemudian.
Alya buru-buru ke kosnya setelah tahu dari Bu Yanti jika Leon menjemput mereka lebih cepat. Suasana kos terasa gelap dan hening, membuat Alya berpikiran buruk.
Saat bersamaan lampu-lampu hias menyala dan banyak balon di lantai. Ada robot rakitan yang mendekati Alya dan membawa papan bertuliskan 'Kami sayang Mama, Mama jangan sedih lagi, ya!'
Alya terharu melihat semua kejutan ini, saat bersamaan Leon keluar dari dapur dan membawakan bunga-bunga yang indah, dibelakangnya juga terdapat ketiga kembar yang membawa beberapa kado untuk sang Mama.
"Selamat ulang tahun, Mama!" teriak ketiga kembar.
Alya tersenyum tapi air matanya keluar, ia lantas memeluk mereka bertiga sementara Leon merasa terharu.
"Kalian ingat ulang tahun Mama?" tanya Alya.
"Tentu saja dong!" jawab mereka bersama-sama.
"Ini semua berkat Papa juga loh," ucap Farid.
Alya melepaskan pelukannya dan berdiri, ia menghadap ke Leon. Pria itu menyerahkan bunga yang ada di tangannya, tapi Alya malah memberikan pelukan membuat Leon terkejut.
"Makasih," ucap Alya.
Leon tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Aku yang harusnya terima kasih padamu.""Cium! Cium! Cium!" teriak anak-anak kembarnya yang jahil.
Alya melepaskan pelukan dan pipinya memerah. Namun, Leon tiba-tiba mencium pipinya dan anak-anak mereka pun bersorak.
"Cieeeeee......"
Alya malu dan lekas masuk ke kamarnya, ia tentu saja jadi salah tingkah bahkan jantungnya ikut berdebar kencang.
"Jangan baper, Alya!"
Di sisi lain, Leon dan anak-anaknya melakukan tos, mereka berhasil membuat kejutan spesial untuk Alya.
"Makasih, Papa!"
"Sama-sama, Sayang. Setelah ini kita makan malam bersama-sama."
Setelah itu Alya keluar dari kamar dan perasaannya sudah menjadi biasa saja.
Leon lantas mengeluarkan kue ulang tahun dan tidak lupa lilin di atasnya.
"Mama tiup sekarang dong!" pinta mereka. Alya meniup lilin dengan senyuman lebar di wajahnya. Tepuk tangan meriah menggema di ruangan, membuat suasana semakin hangat dan penuh kebahagiaan. Alya lalu mengambil pisau dan mulai memotong kue ulang tahun yang cantik itu.
Dengan hati-hati, ia memotong tiga potongan pertama untuk anak kembarnya, Farad, Fared dan Farid, yang sudah tak sabar ingin mencicipi kue tersebut. Ketiga anak itu menerima potongan kue dengan ekspresi ceria, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada ibunya.
Setelah itu, Alya mengambil potongan terakhir dari kue ulang tahunnya, kali ini ia memberikan pada Leon. Wajah Leon tampak terkejut ketika Alya menyodorkan potongan kue itu kepadanya.
"Untuk kamu, Leon." ujar Alya dengan nada lembut dan tulus. "Terima kasih sudah datang di hari spesial ini."
Leon menerima potongan kue tersebut dengan perasaan haru.
"Sama-sama, Alya."Makanan yang telah dipesan oleh Leon pun tiba di kamar kos Alya. Dengan cekatan, ia mengeluarkan berbagai macam lauk pauk dari kantong plastik, seperti ayam goreng yang masih panas dan berbagai makanan lain yang ia pesan.
Anak-anak kembar mereka, Farad, Fared dan Farid, tampak sangat senang melihat makanan yang ada di depan mereka.
"Yuk, kita makan bersama-sama," ajak Leon dengan semangat. Mereka pun mulai menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka, seraya saling bercerita dan tertawa bersama.
Alya yang awalnya merasa lelah, kini merasa sangat bahagia melihat keluarganya yang begitu harmonis dan penuh kebahagiaan.
Farad, Fared dan Farid begitu menikmati ayam goreng yang ada di piring mereka, hingga mereka sampai menghabiskan beberapa potong. Alya dan Leon pun saling bertukar senyum, melihat anak-anak mereka yang begitu menikmati hidangan yang telah disiapkan."Sekali makasih atas kejutannya," ucap Alya.
"Ini semua idenya si kembar, mereka sangat jenius sekali."
"Tapi karena kamu juga jadinya kejutan ini benar-benar membuatku terkejut," ucap Alya.
"Aku senang jika kamu senang," jawab Leon.
Alya menatap Leon dengan heran.
Dia baru saja mendapatkan permintaan maaf yang tak pernah dia sangka akan terjadi dari teman-teman Miki yang telah mengintimidasi dirinya kemarin.
Alya tak habis pikir, apa yang telah dilakukan Leon hingga mereka yang keras kepala itu menunjukkan sikap penyesalan dan ketakutan.
"Leon, apa yang kamu lakukan pada teman-teman Miki? Mengapa mereka tiba-tiba datang meminta maaf padaku di tempat kerja tadi?" tanya Alya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk melindungimu dan ketiga anak kembarku. Aku tidak ingin melihat kamu terus menerus menderita karena ulah mereka."
"Tapi apa yang sebenarnya kamu lakukan? Mereka tampak sangat ketakutan. Aku khawatir kamu terlibat dalam masalah yang lebih besar karena ini," ujar Alya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya memberi mereka peringatan keras agar tidak lagi mengganggu kehidupanmu. Aku tidak melakukan hal yang melanggar hukum."
Tanpa pikir panjang, Leon lantas mencium bibir Alya.
Cup!
Alya sontak terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Bibirmu merah merona, jadi aku tidak tahan untuk menciummu," ucap Leon.
Alya bergeser dan menjauh dari pria itu, untung saja anak-anaknya sedang sibuk bermain dan tidak melihat kejadian tadi.
"Hari ini aku baik padamu bukan berarti aku sudah memaafkanmu, aku melakukan ini hanya untuk si kembar," ucap Alya.
"Tak apa, aku senang kita sudah dekat seperti ini. Lain kali jika ada yang menyakitimu langsung saja katakan padaku!" ucap Leon.
Alya diam, dia menelan ludahnya kasar, ciuman itu terasa menempel di bibir.
"Mama kok pipinya merah sih?" tanya Fared.
"Ah, gapapa."
Leon tersenyum.
"Ih... Mama aneh deh, barunya senyum-senyum sendiri," ucap Farad.
"Ah! Tidak! Mama.... Mama..."
"Gak perlu munafik, Alya. Kamu suka kan aku cium?" tanya Leon.
"Wah....kalian ciuman, ya? Ulangi dong! Kami kan gak lihat," ucap Fared yang sangat polos.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan