NovelToon NovelToon
Tumbal Mata Kedua

Tumbal Mata Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri / Horor / Action / Spiritual / Tumbal
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Cerita ini berlatar 10 tahun setelah kejadian di Desa Soca (Diharapkan untuk membaca season sebelumnya agar lebih paham atas apa yang sedang terjadi. Tetapi jika ingin membaca versi ini terlebih dahulu dipersilahkan dan temukan sendiri seluruh kejanggalan yang ada disetiap cerita).

Sebuah kereta malam mengalami kerusakan hingga membuatnya harus terhenti di tengah hutan pada dini hari. Pemberangkatan pun menjadi sedikit tertunda dan membuat seluruh penumpang kesal dan menyalahkan sang masinis karena tidak mengecek seluruh mesin kereta terlebih dahulu. Hanya itu? Tidak. Sayangnya, mereka berhenti di sebuah hutan yang masih satu daerah dengan Desa Soca yang membuat seluruh "Cahaya Mata" lebih banyak tersedia hingga membuat seluruh zombie menjadi lebih brutal dari sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembunuh Jangkung

Tubuhku seketika bergidik melihat benda bulat menggelinding yang ternyata sebuah kepala manusia. Diikuti oleh darah segar yang menjejak di sepanjang jalurnya. Ditambah dengan raut wajahnya tampak menyedihkan. Mulutnya menganga seakan belum sempat otaknya mencerna apa yang sedang terjadi, tetapi ajal dengan cepat langsung menjemputnya. Walau begitu, bola mata yang seharusnya terletak disana, nampak kosong dan hanya menyisakan kelopak mata yang tertutup.

Beberapa penghuni rumah sakit mulai terdengar histeris melihat pemandangan mengerikan itu. Aku berusaha untuk mengatur nafasku agar perasaan trauma yang sesekali mampir tidak datang untuk kali ini. Penghuni rumah sakit yang sempat untuk melihat siapakah wujud pembunuhnya mulai bergegas menjauh dari sana. Sedangkan yang lain kurasakan masih belum ada niatan untuk beranjak dan terpaku pada tempatnya berdiri.

Bayangan seseorang yang ada di balik lorong perlahan bergerak dan memanjang seiring pergerakan lampu yang menyinarinya. Hingga kemudian sosok pembunuh itu mulai terlihat olehku. Mataku seketika terbelalak melihatnya.

"Mata ini, masih belum cocok untuk kugunakan," ucapnya sembari terus menjejalkan mata yang berlumuran darah itu ke kelopaknya. Mulutku menganga melihat makhluk itu.

Astrid seketika berteriak histeris dan langsung berlari meninggalkanku, diikuti penghuni yang lain. Aku menghela nafas panjang dan bermaksud ingin menghentikannya agar tak bertindak lebih jauh lagi. Aku menggenggam erat tanganku untuk mengusir perasaan gemetar yang masih mengguncang tubuhku.

Lalu, pembunuh itu menatapku dengan tatapan memburu. Dengan senyum menyeringai yang tersungging di bibirnya, semakin menambah seram ekspresinya saat ini. Nampak dari kejauhan, mata kanannya terdapat 2 buah bola mata yang saling berdesakan mengisi ruang kelopaknya. Dengan darah yang masih mengalir di pipinya, seakan menampilkan tangisan darah di wajahnya.

"Mata biru itu, sepertinya cocok untukku," dia hanya bergumam, tetapi entah mengapa aku mampu untuk mendengar perkataannya.

Dia menyeka darah yang masih menetes di pipinya, dan kembali mengangkat sebuah besi berukuran panjang yang sebelumnya hanya menggantung di cengkeramannya. Aku sedikit mendengus melihatnya yang seakan bersiap untuk mengejarku. Menjadikanku target selanjutnya.

"Apakah aku bisa?" batinku.

Sosok berambut panjang dengan balutan kain putih yang membungkus tubuhnya itu kira-kira setinggi 2 meter. Cukup tinggi denganku yang hanya setinggi 172 cm. Aku mengatur strategiku. Orang dengan tinggi badan yang diatas rata-rata sembari membawa besi laras panjang sangat berbahaya untuk dihadapi jika tidak terampil. Tetapi itu juga akan memberikannya sebuah kelemahan. Yaitu titik serangan menjadi semakin lebar dan keseimbangannya menjadi lebih mudah untuk ditumbangkan.

Aku kembali bergumam sendirian untuk memantabkan hatiku, "Sepertinya aku bisa."

Orang itu terlihat memutar kepalanya yang kaku. Kemudian kembali memandangiku dengan seringai tajam yang memburu. Lalu, dia pun berlari dengan kecepatan yang melebihi perkiraanku.

"Cepat sekali!" aku dengan refleks memasang kuda-kuda untuk menerima serangan langsung yang akan dilancarkannya.

"Pergerakan kakinya nampak tergesa. Mungkin itu bisa menjadi celah untuk menumbangkannya," gumamku.

Pada waktu sepersekian detik, aku menunduk dan melintangkan kakiku pada jalur yang sekiranya akan dia lewati. Sesuai dugaan, dia nampak terkejut dan tubuhnya langsung terjerembab ke depan hingga menimbulkan suara yang cukup menyakitkan. Aku segera bangkit untuk kembali menghadapinya.

Saat dia masih tengkurap sembari melenguh menahan sakit, pandanganku mengembara ke sekeliling dan sebisa mungkin mencari sesuatu atau apapun untuk ku jadikan senjata. Aku melihat sebuah tabung oksigen yang berdiri di pojok sisi koridor yang berada tepat di sebelahnya.

Dia perlahan mulai bangkit. Walau nampak sempoyongan, amarahnya terasa sangat jelas menyebar ke seluruh atmosfer. Mulutnya menggeram berat dan terdengar mengerikan. Dia pun berdiri dan mencengkram kuat besi panjang yang ia genggam. Perasaan terancam seakan menggerakkan kakiku untuk segera menendang tabung oksigen yang bersandar pada dinding di sampingnya.

Tabung oksigen seketika rubuh dan terguling. Menghasilkan suara nyaring yang menggema hingga ke sekeliling. Pandangan setiap penghuni rumah sakit langsung tertuju kepada kami berdua. Walau dengan tanpa ada niatan untuk membantuku sedikit pun.

"Kurang ajar!" serunya dengan liputan amarah yang mengerikan.

Aku langsung menendang tabung oksigen yang terbaring itu hingga menggelinding cepat kearahnya berdiri. Sebelum dia sempat berbalik, tabung oksigen itu secara langsung menjegal kedua kakinya hingga membuatnya kembali terjengkang dan menempatkan punggungnya sebagai bantalan peredam untuk tubuhnya.

Aku menyeka keringat yang masih mengalir di pipiku. Aku melihat, Astrid tampak tergopoh-gopoh mengendong Nadine dalam dekapannya. Dia melihatku dengan khawatir, tapi aku memberikan kode untuknya agar segera pergi dari area ini. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan pelariannya.

"Sepertinya aku harus segera memanggil polisi. Tetapi membiarkannya disini hanya akan membuatnya lebih leluasa untuk berbuat seenaknya," gumamku. Hatiku dipenuhi dilema.

Pada akhirnya, kebisingan yang kami timbulkan mulai memicu adanya reaksi dari pihak keamanan rumah sakit. Beberapa orang satpam mulai berdatangan. Walau sebagian besar nampak ragu dan ketakutan untuk membantuku. Mulutku berdecak melihat tingkah mereka yang pengecut.

Ketika aku masih sibuk memandangi tingkah para satpam itu, tak kusadari pembunuh itu mulai perlahan bangkit dengan nafas yang tersengal. Aku pun kembali memasang kuda-kudaku dan mencoba untuk menganalisa serangan apakah yang akan dilancarkannya, dan tindakan apa yang harus aku lakukan untuk mengantisipasinya.

Dia kemudian menggenggam besi itu pada pangkalnya. Memberikannya jangkauan serangan yang lebih luas dari sebelumnya. Aku bersiap, walau aku tak tahu bagaimana caraku untuk menghentikannya. Tanpa ragu, dia langsung bersiap untuk menerjangku dengan ayunan besinya yang gila.

Tiba-tiba sebuah sekelebat bayangan putih menyerangnya dari belakang. Sosoknya jauh lebih pendek darinya, tetapi hanya beberapa inchi saja dariku. Dia nampak memukul pinggang bagian kirinya, dilanjutkan memukul segala titik vital di tubuh pembunuh itu. Dan diakhiri dengan memberikan sebuah serangan telak pada dagunya.

Pembunuh jangkung itu seketika meraung dengan menyedihkan di seluruh lorong rumah sakit. Dia pun tumbang. Menampilkan siluet seseorang yang berhasil menumbangkannya dari belakang tubuhnya. Dia bertubuh kecil. Kira-kira hanya setinggi 160 cm saja. Walaupun begitu, dia sangat terampil dalam mencari celah dan mengeksekusinya dengan cepat.

"Kerja bagus sudah mengulur waktu hingga aku datang," ucapnya tenang.

Aku berdecak melihat tingkahnya yang sombong. Tapi tak bisa ku pungkiri, nyawaku tertolong. Kemudian pemuda itu berjalan melangkahi pembunuh yang sudah tak bernyawa begitu saja dan berjalan ke arahku. Dengan perasaan tenang dan tanpa bergidik sedikit pun.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?" ucapnya singkat. Seakan tanpa perasaan bersalah telah menghabisi nyawa seseorang.

"Yah kamu bisa menganalisa sendiri. Seseorang yang sangat berbahaya dengan tinggi dua kali lipat darimu sembari membawa besi laras panjang dan baru saja memenggal kepala seseorang hingga putus," jawabku.

"Ck mungkin malam ini aku tidak bisa tidur santai seperti biasanya," sambungnya. Aku hanya mendengus mendengar ucapannya yang seperti tanpa rasa takut pasca melihat mayat pembunuh itu.

"Oiya. Ini! Sepertinya kau akan membutuhkannya," ucapnya sembari memberikanku sebuah tongkat hitam yang biasanya dibawa oleh para satpam.

"Sebuah tonfa?" ucapku sembari memandangi tongkat yang yang berukuran sehasta itu.

"Bukan. Itu hanya tongkat biasa," jawabnya dengan tatapan sayu yang seakan menjadi ciri khas seseorang yang sering bekerja pada shift malam.

Ketika aku masih memperhatikan tongkat itu, pembunuh yang sebelumnya terkapar rupanya masih belum mati. Tubuhnya menggeliat dan perlahan bangkit.

"Sepertinya pembicaraan ini harus menunggu sejenak," ucapnya sembari mengangkat tonfa yang ia pegang.

"Yah kau benar. Kita akhiri orang itu dengan cepat," jawabku mengimbangi kuda-kudanya dan berdiri di sampingnya.

1
Rey
taik kambing bulat2
Chimpanzini Menolak Nepotisme: apcb/Doge/
total 1 replies
biji satoru
start
Anyelir
horor banget, bagi aku ya sejauh ini horor banget
Chimpanzini Menolak Nepotisme: thanks udh mampir kk
total 1 replies
Zero
Mending rebahan aja, tolong jangan mendesah. Takut ada yang napsu.
Chimpanzini Menolak Nepotisme: apa coba
total 1 replies
Cindy
👍👍👍👍👍👍👍
☠ᵏᵋᶜᶟℕ𝔸𝔹𝕀𝕃𝕃𝔸🥑⃟ⰼ⃞☪
mampir
ナテブー
kok bisa bisanya sih dapet ide cerita horror, iri banget 😊😊
Chimpanzini Menolak Nepotisme: thanks banget kk udh mampirr
total 1 replies
butiran debu
/Smug//Smug/
butiran debu: /Sweat//Sweat//Sweat/
ketegangan itu memang seru kok
total 2 replies
butiran debu
kalo bayangin, geramannya teringat di game zombie plan/Sweat/
butiran debu
ga nyangka udah baca sampai sini/Scare/
butiran debu: iya serem tapi penasaran. seru juga
total 2 replies
ナテブー
lanjut terus plis
ナテブー: nanti mampir lagi hehe
total 2 replies
ナテブー
lanjuttt
evrensya
aku hampir ga pernah baca genre horror sih. moga2 aja berani baca ini
Chimpanzini Menolak Nepotisme: ga terlalu horor kok kk. ini cenderung action
total 1 replies
Supri ASeng
kan ada aku, Hana
Chimpanzini Menolak Nepotisme: apa ini cik?
total 1 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ 𝙀𝙨𝙩𝙝𝙚
menurutku ku kurang tegang dan deskripsi kepanikannya kurang detail atau greget gimana gitu. aku masih belum bisa ikut alur kepanikan itu.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ 𝙀𝙨𝙩𝙝𝙚: pokoknya bagian ini kurang ngenah menurutku. feel nya kurang nyampe
total 2 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ 𝙀𝙨𝙩𝙝𝙚
BLA BLA BLA jalur relnya (atau bisa jalur rel kereta)
𝐇⃟⃝ᵧꕥ 𝙀𝙨𝙩𝙝𝙚
BLA BLA pada kaca jendela kereta.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ 𝙀𝙨𝙩𝙝𝙚
di langit
novi
loh loh loh?
novi
waw, dia penggali kubur kah?
Chimpanzini Menolak Nepotisme: kerja serabutan sih lebih tepatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!