Camaraderie berarti rasa saling percaya dan persahabatan diantara orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama.
Seperti halnya dengan dua anak manusia yang bertemu dan berteman sejak mereka kecil, namun karena tuntutan pekerjaan orang tua, mereka harus terpisah.
Mereka percaya bahwa dikemudian hari mereka akan bertemu dan bersama kembali, entah sebagai teman bermain seperti dulu atau sebagai teman hidup di masa depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muntea Highland
"Gak ada trauma ketinggian kan?" tanya Air.
"Gak ada, kak. Santai ih"
Mereka sedang dipasangi perlengkapan keamanan. Ayunan ini berada di atas kebun para petani, entah bagaimana para pengelolanya memasang ayunannya.
Ale dan Air duduk di atas ayunan, lalu ayunannya didorong dari belakang. Mereka bisa melihat hijaunya bukit dan juga suburnya tanaman yang kebetulan sedang dalam masa pertumbuhan.
"Kalau musim panen, pasti gak hijau kayak sekarang yah?" tanya Ale.
"Iya, kan tanamannya dipanen. Kebun jadi kosong." jawab Air dengan sangat sabar.
Sekitar 15 menit mereka melihat keindahan alam dari atas ayunan gantung dan itu sudah lebih dari cukup.
"Makan dulu yah. Di sana ada saung." tunjuk Air pada jejeran saung bambu yang beratapkan jerami padi yang disusun sangat rapi.
"Wah" Ale berseru senang. Ia bak anak kecil yang sedang mengekori kakaknya. Apalagi tangannya yang tidak terlepas dari kaki baju Air.
"Mau makan apa?" tanya Air. Mereka berdiri di depan tempat pemesanan.
"Sayur bening, ikan bakar, sambel matah, nasi hangat, ihh kok enak semua. Jadi bingung milihnya" ujar Ale sembari mengabsen satu persatu menu yang tertera.
"Pilih saja, Sha. Dengan syarat harus dihabiskan." ucap Air.
"Kalau gak habis?"
"Yah dihabiskan. Berdua."
"Mau nasi, tapi mau singkong rebus juga." Ale menjadi dilema.
"Sayur bening, tapi yang terbuat dari daun kelor dan juga kemangi, ikan bakar gurame dan sambal matah, satu porsi nasi hangat dan juga satu porsi singkong rebus." ucap Air kepada pegawai saung.
"Baik, mas. Minumnya?"
"Mau apa, Sha?"
"Teh hangat."
"Teh hangatnya dua, mbak." ujar Air. Ia lalu menarik tangan Ale ke saung yang berada di ujung.
Dari tempatnya sekarang, mereka bisa melihat air terjun yang mengalir deras dari gunung.
"Aku kira kita sudah berada di ketinggian, ternyata masih ada gunung lagi di sana." ucap Ale.
"Suka?" tanya Air.
"Sangat suka." Ale mengangguk. Ia duduk bersila, dagunya ditahan oleh telapak tangan kanannya.
"Jangan belajar terlalu keras, Sha. Kamu harus memberikan ruang untuk diri kamu beristirahat."
"Papa ngomong yah ke kakak?"
"Iya, tadi sempat ngobrol sambil nunggu kamu siap-siap." Air tersenyum. Ia memberikan ponselnya kepada Ale.
"Mau lihat foto-foto yang tadi?" tanya Air.
"Mau." Ale menerima ponsel Air.
"Tapi nanti. Masih pengen gak ngapa-ngapain." lanjut Ale.
"Dasar bocil" Air terkekeh kecil lalu mengusap kepala Ale.
Air membiarkan keadaan menjadi hening dengan cara tidak menemani Ale berbicara. Ia membiarkan perempuan itu larut dalam diamnya hingga makanan datang. Bahkan saat Air selesai menyusun makanan di depan mereka pun, Ale masih melamun. Tadi posisinya sempat berganti, ia melipat kedua lengannya dipembatas saung dan meletakkan dagunya pada lipatan tangannya.
Air memanfaatkan momen itu untuk memotret Ale, sebelum mengajak perempuan itu bicara.
"Sha, makan dulu. Ayo!" ajak Air, ia mengelus pelan rambut Ale agar perempuan itu sadar dari lamunannya.
"Ehh" kaget Ale.
Air meringis, rupanya perempuan di depannya memang benar-benar larut dalam lamunan, bahkan merasa kaget saat kepalanya di sentuh.
"Makan dulu" Air mengulang ucapannya.
Ale menatap makanan di depannya. Sangat menggugah selera.
"Ups, jangan di sentuh dulu. Ale mau fotoin." Ale menahan tangan Air yang hendak menggeser piring.
"Iya iya" Air menarik kembali tangannya. Ia merasa Ale memiliki dua kepribadian yang berbeda. Lihat saja sekarang, ekspresi nya memperlihatkan tingkah seorang gadis yang begitu ceria, seolah yang melamun tadi adalah orang yang berbeda.
"Sudah, selamat makan!" seru Ale.
"Kak, aku mau makan singkong sebagian, sebagian lagi mau nasi." ujar Ale.
"Iyaa, makan yang banyak." Air menunggu hingga Ale selesai dengan eksperimen nya.
"Singkongnya enak, apalagi dicocol dengan sambel matah." ujar Ale.
Mereka berdua makan dengan tenang, sesekali Air menimpali pujian Ale terhadap makanan di depannya.
"Kak Air pernah kesini?" tanya Ara. Ia sudah duduk di atas mobil, sementara Air duduk di kursi panjang yang tadi mereka duduki sebelum makan.
"Pernah."
"Sama si-"
"Anggaaa!" teriakan itu membuat mereka kompak menoleh.
"Halo, Ra!" sapa Air kepada seorang gadis yang tadi berteriak, namun kini sudah berada dan duduk disebelah Air.
"Gak expect bakal lihat kamu di sini. Aku kira kamu gak akan kesini lagi." ujar perempuan yang dipanggil Ra tadi oleh Air.
"Tempatnya bagus sih ." ujar Air.
"Kesini nya sama siapa? Sendiri yah?"
"Sama seseorang."
"Owalah. Mana mana? Aku mau lihat."
"Sepertinya dia tertidur, sorry karena gak bisa ngenalin kalian secara langsung." Air menunjuk Ale dengan dagunya.
Rara mengangguk mengerti.
"Vineland gimana?" tanya Air.
"Sangat menakjubkan."
Tidak lama setelahnya, Rara pamit pergi karena suatu alasan.
"Saya tahu kamu gak tidur, Sha." ucap Air.
Ale membuka matanya dan menatap tepat pada mata Air.
"Mau pulang."
Air menghela napasnya.
"Gak mau lihat senja dulu? Saya tadi minta izin bawa kamu sampai malam."
"Mau, tapi gak di sini." jawab Ale.
"Ya sudah, kita cari tempat lain." ujar Air. Ia lalu memasukkan kembali cemilan yang tadi sempat dikeluarkan dan memasukkannya ke dalam mobil.
Air kembali mengendarai mobilnya ke dataran yang lebih tinggi. Namanya masih Muntea, tapi ditambahkan kata Highland dibelakangnya, jadilah Muntea Highland.
"Bisa berkuda?" tanya Ale excited saat melihat kuda-kuda yang ditunggangi oleh para pengunjung.
"Bisa, Sha. Kamu mau?"
"Mau." Ale mengangguk semangat.
Mereka tidak hanya berkuda, melainkan mengelilingi kebun teh dengan mengendarai muggy . Hingga tidak sadar jika hari sudah sangat sore.
"Senang?" tanya Air. Ia sudah duduk di kursi kemudi dengan kaca mobil yang dibuka.
"Senang sekali. Terima kasih kak"
Ekspresi Ale tidak berbohong, ia benar-benar merasa senang sekarang, dan Air bisa merasakannya.
"Hoodienya di pakai " Air memberikan hoodienya kepada Ale yang memang hanya memakai baju kaos lengan pendek. Udara terasa semakin dingin, bersamaan dengan terlukis nya cahaya jingga di ufuk barat yang bisa Ale lihat dengan sangat jelas.
"Disini bisa lihat sunrise juga?"
"Bisa. Nanti saya ajak"
"Kakak yang tadi pernah kesini juga?"
"Nggak, Sha. Waktu SMP cuma sampai di tempat tadi."
"Owalaah " gumam Ale. Ia sibuk dengan ponselnya yang mengabadikan momen di depan sana.
Saat hari sudah benar-benar gelap, barulah Air menginjak pedal gasnya dan pulang menuju kota.
"Kamu suka kacang yang di campur gula merah gak?" tanya Air.
"Suka. Mama pernah bawa."
"Mampir dulu kalau begitu, beli oleh-oleh khas sini." ujar Air. Ia berhenti di depan warung yang menjual cemilan manis yang terbuat dari kacang tanah yang diaduk dengan lelehan gula merah.
Semangat.. 😍😍
ditunggu karya berikutnya kak ❤🌹🌸💐🍁
Justru sekarang harus semangat, bangkit masih ada Air dan Alden yg butuh perhatian dan cinta untuk kehidupan masa depan keluarga.. 😍😍
selalu menyempatkan waktu untuk bisa hadir. sesibuk apapun, tak ada yang lebih berharga selain kebersamaan.. dalam suka dan duka saling support dan doa... 😍😍😍
Jangan lama- lama Ale ngambeknya. gak baik nanti kebablasan. 😇😇😄