Sebelum baca cerita ini, ada baiknya baca sekuel Penyesalan Ayah Dari Anak-anak Ku terlebih dulu.
-_-
Prince Oscar Arnold tidak pernah menyangka kalau wanita dulu sering membully dirinya di kampus ternyata adalah wanita yang selama ini diincar oleh musuhnya di dunia bawah tanah. Namun, siapa yang akan menyangka jika wanita itu ternyata diam-diam menyimpan rasa padanya.
Dua tahun kemudian sejak lost contact. Mereka dipertemukan kembali dengan situasi yang berbeda. Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba Oscar mengajak Kimberly menikah tanpa sebab. Akankah Oscar benar-benar mencintai Kimberly dan membalas cinta Kimberly yang sudah tumbuh sejak beberapa tahun yang lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keesokan harinya
Saat terbangun dari tidurnya. Kimberly melihat Oscar masih tertidur pulas disampingnya. Kimberly tersenyum tipis menatap wajah polos itu. Oscar terlihat lebih mengemaskan saat diam tanpa ekspresi seperti itu.
Kimberly menyentuh hidung mancung Oscar dengan jemarinya. "Aku tahu aku tampan. Kau tidak perlu menatapku seperti itu." ucap Oscar sebelum membuka kedua matanya. Pandangan mereka saling bertemu hingga timbul desiran aneh di dalam hati mereka.
"Eh! Ternyata kamu sudah bangun." jawab Kimberly cengengesan.
Oscar malah menatap kedua mata Kimberly dengan sangat dalam. Hingga tak beberapa lama. Kimberly merasakan Oscar mengelus kepalanya dengan lembut.
"Apa kamu sekarang merasa lebih baik?" tanya Oscar dengan wajah datar.
Entah mengapa Oscar merasa kesulitan menunjukkan senyum manis di wajahnya untuk orang lain. Padahal Kimberly sudah jelas-jelas sah menjadi bagian dari hidupnya. Namun gengsi pria itu terkadang lebih besar dari yang orang kira.
"Terima kasih." ujar Kimberly tersenyum manis menatap Oscar.
"Untuk apa?" tanya Oscar dengan raut wajah bingung.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu." jawab Kimberly lagi-lagi tersenyum manis menatap Oscar.
"Jangan coba-coba menyusun rencana untuk mengambil hatiku agar aku setuju bercerai dengan mu!" tegas Oscar dengan cepat bangkit dari tempat tidur.
Kimberly bergegas beranjak dari tempat tidur dan berlari memeluk Oscar yang berniat keluar dari kamar.
"Maafkan aku..." lirih Kimberly memeluk pinggang Oscar dengan sangat erat.
Oscar dengan cepat membalikkan tubuhnya dan menarik dagu Kimberly dengan lembut.
"Kim, aku sangat membenci perselingkuhan dan juga perceraian. Jadi jangan pernah melakukan dua hal itu."ujar Oscar dengan tatapan serius hingga membuat Kim langsung mengangguk.
"Aku tidak akan melakukannya ataupun mengucapkannya lagi." lirih Kimberly dengan mata berair membalas ucapan Oscar dengan cepat.
"Bersiap-siaplah. Aku akan membawamu ke suatu tempat." ujar Oscar membuat Kimberly langsung mengangguk. Lagi-lagi Kimberly tidak bisa mengontrol perasaannya saat melihat tatapan serius Oscar. Ia merasa setiap kalimat yang terucap dari bibir pria itu harus dituruti dan tidak boleh dibantah.
Setelah sejam beberes dan membersihkan diri. Mereka akhirnya berangkat ke salah satu kawasan elit yang ada di Amerika. Hingga tak beberapa lama mereka tiba di salah satu mansion mewah yang ada disana.
Kimberly semakin bertanya-tanya saat melihat mansion itu. Namun, tak beberapa lama Kimberly melihat seorang wanita yang sudah lanjut usia mengenakan mantel tebal duduk di kursi roda sembari menatap lurus kearah keping salju yang turun menutupi bumi.
Oscar langsung turun dan membuka pintu samping pengemudi meminta Kimberly ikut turun dari mobil. "Mengapa kita datang kesini?" tanya Kimberly dengan wajah bingung.
"Aku akan mengenalkan kamu dengan seseorang." ujar Oscar mengacak-acak rambut Kimberly yang terkena keping salju.
"Ayo masuk. Udara semakin dingin." ujar Oscar membuat Kimberly langsung mengangguk dan mengikuti langkah Oscar melangkah menuju wanita itu.
"Nonna!" panggil Oscar membuat wanita itu langsung membalikkan pandangannya kearah sumber suara.
Dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca. Clarence langsung merentangkan kedua tangannya agar Oscar masuk ke dalam pelukannya.
Oscar yang mengerti maksud neneknya langsung melangkah mendekati Clarence dan memeluk tubuh neneknya dengan hangat.
"Nonna sangat merindukanmu sayang." lirih Clarence mulai terisak di dalam pelukan Oscar.
"Come on, Nonna. Oscar datang kesini bukan karena Oscar ingin melihat Nonna menangis." bujuk Oscar membuat Clarence langsung menghentikan tangisan-nya dan melepaskan pelukan mereka.
Pandangan Clarence tanpa sengaja bertemu pandang dengan tatapan Kimberly hingga membuat Kimberly mau tidak mau tersenyum tipis membalas tatapan bingung Clarence.
"Siapa wanita ini, sayang?" tanya Clarence dengan wajah bingung.
Oscar tersenyum lembut menatap wajah bingung Clarence. "Coba tebak siapa dia?" jawab Oscar tersenyum tipis menatap wajah penasaran neneknya.
Clarence berpikir sejenak memperhatikan wajah Kimberly dengan teliti. Hingga sebuah pertanyaan terucap dari bibirnya.
"Apa wanita ini kekasihmu pria tengil?" tanya Clarence to the point. Dari beberapa bulan yang lalu Oscar diminta membuka diri dengan lawan jenisnya seperti Sean. Namun, selama berbulan-bulan menunggu. Oscar tak kunjung memiliki pasangan. Tapi sekarang pria itu malah memperkenalkan Kimberly kepada Clarence yang notabenenya wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
"Salah." jawab Oscar tersenyum menyeringai.
"Lalu siapa dia?" tanya Clarence menatap cucunya.
"Nonna bisa bertanya langsung kepadanya." ujar Oscar dengan wajah tenang.
Clarence lalu mengalihkan pandanganya kearah Kimberly. "Siapa namamu?" tanya Clarence dengan wajah datar.
Meskipun wajah Clarence sudah mulai keriput. Namun tatapan mata wanita itu sangat teduh. Walaupun raut wajah Clarence terkesan tegas dan sinis saat berbicara dengan orang yang baru ditemuinya.
"Kim-Kimberly..." jawab Kimberly dengan kepala tertunduk.
"Apa hubungan mu dengan cucuku?" tanya Clarence dengan wajah menakutkan.
Kimberly menatap Oscar seperti minta tolong agar Oscar membantunya menjawab pertanyaan Clarence. Namun Oscar malah melangkah menuju mobil dan mengeluarkan roti keju kesukaan neneknya. Ia membiarkan Clarence mengobrol dengan Kimberly beberapa menit sebelum kembali kesana.
"Aku--, Aku--"
"Apa kau gagu?"tanya Clarence dengan tegas.
Hiks
Hiks
Hiks
Clarence tiba-tiba mellow mendengar perkataan tegas Clarence. Ia takut Clarence akan memintanya menjauhi Oscar seperti film-film sinetron yang sering muncul di televisi.
"Mengapa kau malah menangis! Aku tidak memukul mu ataupun memarahi mu!" ujar Clarence dengan wajah bingung melihat sikap Kimberly yang terkesan mudah rapuh.
"Aku-- aku istrinya..." lirih Kimberly dengan suara tersendat karena tidak bisa menghentikan tangisan-nya.
Kedua mata Clarence melotot mendengar perkataan Kimberly.
Tatapan melotot Clarence malah disalahartikan oleh Kimberly. Ia mengira kalau Clarence akan memarahinya dan menolaknya sebagai cucu menantunya.
"Dasar bocah itu! Bisa-bisanya dia menikah tanpa sepengetahuan keluarganya!"umpat Clarence membuat Kimberly semakin ketakutan.
Kimberly berjongkok menutup kedua telinganya dan berteriak dengan lantang.
"Jangan minta aku menjauhinya ataupun bercerai dengannya! Karena aku tidak akan melakukannya!"
Clarence tertegun melihat sikap Kimberly hingga kedatangan Oscar membuat Clarence semakin mengamuk.
"Apa benar dia istrimu bocah tengil! Apa kedua orang tuamu mengetahuinya?" tanya Clarence dengan berapi-api
Oscar menggeleng dengan cepat.
"Dasar anak durhaka! Masalah sebesar ini saja malah dirahasiakan! Apa kamu menikahnya karena sudah tembak benih terlebih dahulu?" celetuk Clarence tanpa filter.
Oscar menggaruk kepalanya tidak gatal mendengar pertanyaan neneknya.
"Nonna. Kami sudah kenal sejak beberapa tahun yang lalu. Kami juga berkuliah di kampus yang sama. Jangan pasang raut wajah garang seperti itu di depan Kimberley." ujar Oscar membuat Clarence melongo mendengar perkataan cucunya.
Tiba-tiba Clarence tersenyum tipis dan menatap Kimberly dengan lembut. Namun Kimberly masih berjongkok sembari menangis sesenggukan.
Oscar yang tidak tega langsung menarik tangan Kimberly dengan lembut agar berdiri.
"Nonna hanya bercanda. Jangan dibawa serius." ujar Oscar menghapus air mata Kimberly dan mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Apa kau takut padaku?" tanya Clarence tersenyum tipis.
Kimberly menggeleng dengan cepat. Namun posisi Kimberly masih menunduk agar tidak bersitatap dengan Clarence.
Clarence menghela napas panjang melihat sikap Kimberly.
"Apa yang terjadi padanya? Apa dia sedang ngidam sehingga dia sangat sensitif dengan pertanyaan yang Nonna ajukan?" tanya Clarence dengan wajah penasaran.
Deg
Kimberly merasa cukup tersentil mendengar pertanyaan Clarence. Bagaimana bisa hamil jika mereka belum pernah melakukannya. Padahal Oscar sudah berjanji padanya. Saat kembali dari Italia beberapa hari yang lalu. Mereka akan melakukan malam pertama. Namun foto-foto skandal itu masih menari-nari di dalam pikiran Kimberly. Hingga malam pertama mereka harus berakhir gagal.
"Cuaca di luar semakin terasa dingin. Lebih baik kita mengobrol di dalam saja." jawab Oscar sembari mengajak Kimberly masuk terlebih dahulu ke dalam mansion. Oscar kemudian mendorong kursi roda Clarence mengikuti langkah Kimberly.
hadir thor