NovelToon NovelToon
DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Iwi Love

Sembari mengatur deru nafasnya Elvan kemudian mendekati Alfiya, hingga gadis itu berjalan mundur ke belakang. "Alfiya, kita suami istri, bukan."

Didekati seperti itu jujur saja membuat Alfiya merasa gugup. "H-hanya pura-pura...." Jawab Alfiya cepat. "Kita suami istri hanya pura-pura dan tidak akan lama. Jadi aku mohon agar mas gak melewati batas seperti semalam...."

Setelah mengucapkan kalimat tersebut Alfiya segera berbalik hendak pergi dari sana, dan tiba-tiba ia terkejut saat tangannya di cekal cepat oleh Elvan. Tubuhnya kini sudah tertarik hingga berada di dekapan laki-laki itu.

Alfiya mengerjap kaget. "Mas Elvan mau apa? Kan tadi aku udah bilang jangan melewati batas."

"Jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu." ujar Elvan tiba-tiba.

Mendengar ucapan tersebut Alfiya segera mendorong Elvan darinya. "Mas melarang aku berhubungan sama Joe?" Mata Alfiya membulat. "Mas gak berhak buat ngelarang aku!"

"Tapi, secara hukum dan agama mas adalahsuami kamu yang sah."

"Mas!" Seru Alfiya protes.


"Mas cuma minta kamu hargai selama kita menikah!" tegas Elvan.

"Aku bisa menghargai mas dengan cara lain, tapi tidak dengan memutuskan hubungan aku dengan, Joe!"


....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iwi Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Hanya Ingin Memastikan

****

Alfiya terus menggerut sebal didalam kamar. Ia cemberut mematut dirinya dicermin duduk di kursi meja rias. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa bisa menjadi sebal begini.

Elvan, Elvan, Elvan!

Dia tidak menyangka akan jadi begini gara-gara Elvan. Gara-gara laki yang adalah, mantan kakak ipar? Seseorang yang ia anggap kakak?

Alfiya pun lantas tersadar. Laki-laki itu adalah suaminya. Suami sandiwara, suami yang telah ia anggap melecehkan dirinya secara verbal karena ia marah oleh perkataan Elvan yang akan benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai suami, yakni oleh perkataan mengancam akan memberinya nafkah batin jika ia tidak memutuskan Joe.

Elvan menyuruhnya untuk memutuskan laki-laki yang berusaha ia hindari saat ini.

Lalu karena itu, akhirnya ia memilih untuk menjauhi Elvan dan meminta laki-laki itu untuk tidak berbicara lagi padanya. Huff, lalu ia pun kesal karena pada akhirnya Elvan benar-benar mendiamkannya sekarang.

Alfiya mengusap wajahnya kasar. Biasanya pada jam ini dia akan menemani Anggian bermain terlebih dahulu sebelum menidurkannya.

Kecuali tadi malam dan malam ini. Ia tidak menidurkan Anggian karena pertengkarannya dengan Elvan.

Alfiya lantas menggigit bibirnya kuat-kuat. Entah kenapa dirinya tergerak untuk mengintip. Perlahan gadis itu pun melangkah untuk membuka pintu dan keluar dari kamar.

Alfiya benar-benar penasaran apa yang sedang dilakukan oleh keponakan yang sekaligus tanpa ia sadari kini telah menjadi anak tirinya itu sekarang.

Namun belum separuh jalan Alfiya menuju kamar Elvan, Alfiya mendadak tercekat saat tiba-tiba suara sosok kecil dihadapannya itu memanggil hingga menggerakkan hatinya untuk segera memeluk.

"Bunda...." Anggian yang sudah sesenggukan menangis digendong oleh Rian pun langsung memanggil perempuan yang sudah ia anggap bunda itu.

"Gian, kok nangis?"

Rian pun lantas menghampiri Alfiya. "Gian mau sama mbak Fiya. Dia ngamuk tadi di kamar."

Alfiya pun langsung menyambar Anggian dari Rian. "Oh, sayang. Sini sama bunda sayang. Kenapa nangis?" Benar saja Anggian pun langsung terdiam saat itu juga.

Melihat pemandangan tersebut Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Huh, coba dari tadi Elvan membawa Anggian kepada Alfiya pasti anak itu tidak akan menangis sampai sesenggukan begini.

Rian benar-benar tidak mengerti, apakah semua orang dewasa yang menikah semuanya seperti ini. Selalu saling gengsian untuk bertegur sapa ketika ada masalah, bahkan jika itu demi anak. Rian bergidik ngeri, laki-laki itu mendadak jadi takut untuk menikah.

Rian jadi berpikir kalau begini terus hubungan Alfiya dan Elvan tidak akan berkembang. Rasanya ia tidak rela jika Alfiya dan Elvan akan benar-benar memutuskan untuk berpisah nantinya. Akhirnya terbersit sebuah rencana didalam kepala remaja laki-laki itu.

"Mbak Fiya...." panggil Rian.

"Iya...." sahut Alfiya yang tengah mengelus-elus punggung Anggian yang mulai tertidur dipelukannya sambil sesekali masih sesenggukan.

"Mbak, gue bisa minta tolong lihat keadaan mas Elvan dikamarnya sebentar." ujar Rian lagi.

Mendengar permintaan Rian Alfiya mengerjap sejenak. "Mengecek mas Elvan, memangnya mas Elvan kenapa?"

Rian langsung merubah raut wajahnya. "Kasihan mbak, gue takut mas Elvan kesepian. Apalagi sekarang Gian ada sama mbak. Gue takut kalau mas Elvan sendirian di kamar nanti dia mikir yang macem-macem. Mbak tahu sendiri kan semenjak kepergian mbak Gita, mas Elvan nggak seceria dulu. Matanya sering sembab dan suka melamun." Rian menatap Alfiya memelas.

"Kenapa gak kamu aja dulu yang menemani mas Elvan." ujar Alfiya terkekeh pias. Ingatkan saja saat ini ia tengah perang dingin dengan laki-laki itu.

Rian pun lantas pura-pura melirik jam tangannya. "Gue mau pulang sekarang mbak, gue mau ngerjain tugas sekolah. Mohon mbak, tolong kasihan mas Elvan. Plis! Mas Elvan satu-satunya orang yang gue punya." Rian semakin memperlihatkan wajah seolah sedang menangis.

"Duh, Rian kok kamu nangis gini." Alfiya menghela nafas khawatir. Ia lantas mendekat dan mengelus punggung Rian. "Mbak kan juga keluarga kamu, jangan lebay deh."

"Bukannya lebay mbak. Aku mohon ya mbak, tolong mbak pastiin keadaan mas Elvan baik-baik aja."

Duh, bagaimana ini? Apa lebih baik dia menghampiri Elvan sekarang. Tapi bagaimana mungkin. Mereka kan sedang menjaga jarak. Lebih tepatnya ia meminta mereka untuk menjaga jarak satu sama lain.

"Mbak?!" Rian seolah meminta kepastian. "Gimana mau kan?" Rian lalu mendongak seolah pasrah. "Kalau mbak nggak mau ya udah, aku akan temani mas Elvan dan nggak akan ngerjain tugas sekolah aku. Walau pun tugasnya banyak dan berpengaruh sama nilai ujian sekolah. Tapi demi mas Elvan gak apa-apa deh nilai sekolah aku anjlok." lanjut pria yang tengah memepelihatkan raut wajah penuh kesedihan tersebut.

Alfiya termangu sembari tangannya beralih mengelus punggung Anggian yang sesekali masih terdengar sesenggukkan. Ia mengerjap tak percaya melihat tingkah Rian saat ini. Memang benar, saat Rian hanya memiliki Elvan sebagai keluarga kandung. Tapi mereka juga keluarganya. Bapak dan ibu sangat menyayangi mereka berdua. Kedua orang tua Alfiya sudah menganggap Elvan dan juga Rian sebagai anak sendiri.

"Ya udah, biar mbak yang mengecek mas Elvan di kamarnya. Kamu pulang aja dan kerjain tugas sekolah kamu. Jangan sampai nilai kamu anjlok." ujar Alfiya akhirnya merasa tidak enak.

Rian pun lantas merubah raut wajahnya. "Terimakasih ya mbak, aku pulang sekarang." Lalu Rian mendekat dan mencium kening Anggian sekilas. "Titip mereka ya mbak." ujarnya lagi.

Alfiya mengangguk menanggapi itu.

Setelah itu remaja jangkung itu pun kemudian memutar tubuhnya untuk berlalu dari hadapan Alfiya. Sebuah seringai licik tak di mengerti pun ia ukir di wajahnya yang berkumis tipis, seperti ada sebuah rencana terselubung dari raut wajah itu.

Beberapa saat kemudian setelah mengunci pintu depan rumah, sembari masih membawa Anggian dalam gendongannya, Alfiya pun melangkah berjalan menuju kamar Elvan. Sebenarnya juga sangat penasaran dengan apa yang di katakan oleh Rian. Ia takut kalau saat ini Elvan tengah merasa kesepian. Apalagi saat ini Anggian sedang bersama dirinya.

Dia berniat hanya akan mengintip dan memastikan saja, tidak akan berniat lebih jauh. Begitulah yang Alfiya pikirkan saat itu.

Saat sudah di dekat kamar Elvan benar saja, pintu kamar laki-laki itu masih sedikit terbuka dengan cahaya lampu yang menyala.

Pelan namun pasti Alfiya pun semakin mendekati kamar tersebut dengan perasaan was-was, takut kalau tiba-tiba Elvan mengetahui keberadaannya. Ingat, dia dan Elvan masih tidak bertegur sapa.

Dengan hati-hati dan langkah demi langkah dia semakin dekat, namun tiba-tiba....

Blam! Listrik mendadak padam dan suasana pun gelap gulita.

"Aaaaaa...." Alfiya berteriak seketika. Namun segera ia tutup mulutnya karena saat itu dia tengah menggendong Anggian yang tengah tertidur.

Gadis itu ketakutan, Alfiya sangat takut dengan suasana gelap. Kenapa listrik bisa tiba-tiba padam? Tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya selama ia pindah ke sini.

Bagaimana ini? Gadis itu berkeringat dingin ia sangat takut dengan kegelapan, dan saat dia berjalan mundur tiba-tiba kakinya menyenggol sebuah guci antik yang terletak berada di belakangnya.

Prang!!

Ya Tuhan, Alfiya tidak menyangka guci yang ia senggol tiba-tiba pecah. Karena saking terkejutnya, pecahan kaca dari guci tersebut tanpa sengaja terinjak oleh kaki gadis itu.

"Aw, sakit...."

Alfiya memejamkan mata dalam-dalam, ia sadar kakinya tertusuk pecahan kaca.

*

*

*

*

Like, Vote, Komen Ges!

1
Ocha Raqhuella
Luar biasa
Fi Fin
kasihan joe
Qaisaa Nazarudin
Karna di sini Elvan lah yg menjadi korban nya..Kasihan Elvan..
Qaisaa Nazarudin
Terima pernikahan kamu karena itu permintaan ibu kamu, Karena di mata nya kamu lah penyebab anaknya meninggal,,
Qaisaa Nazarudin
ALFIYA YANG EGOIS, KARENA DIA KAKAKNYA MENINGGAL,Malah dia enak2 dgn pacarnya,Aku doa kan semoga Joe ada cewek lain,Biar tau rasa Alfiya..
Qaisaa Nazarudin
Baru menangis dan menyesal semua nya sekarang?? Udah gak ada huna nya lagi, Kalo aku jadi inu nya aku juga marah sama Fiya, Orang lagi sibuk2 nya di rumah, Dia malah pacaran, Andai saja Fiya denger ucapan ibunya cari ponakannya semua ini gak akan trtjadi..
Qaisaa Nazarudin
Elvan juga udah tau di rumah ada majlisnya kenapa malah kerja,?Gak mungkinnkan gak bisa cuti, Semuanya sok sibuk, Walaupun vuman cerita novel tapi aku kesel aja dgn semua nya..
Qaisaa Nazarudin
Nih Cewek dan Cowok nya sama2 gak bener,,😡😡
Qaisaa Nazarudin
Pantesan ibu nya gak suka sama Joe, Orang lagi sibuk2 nya,Eh dia malah ngajakin anak org jalan, ck..
Lita Elviany
Luar biasa
Andalia Yuswar
Bagus biar lepas dari Joe
Nety Dina Andriyani
ayo kakak smangat nulisnya
Nety Dina Andriyani
ayo kakak lanjutttt
Bzaa
pulang fi... apapun dan bagaimana pun . ridho ibu dan bapak itu yg utama
Bzaa
dah kyk ibu tiri aja nih
Bzaa
semangat otor, ceritanya bagus 😘
Bzaa
terlepas dr kesalahan alfiya.. aturan si ibu bs lebih bijak... nanti kehilangan kedua anaknya baru nyeselll..
Bzaa
bukan salah alfia juga harusnya sebagai ibu jg harusnya jagain anaknya, biar gak lepas dr pengawasan...
dan neneknya jg harusnya lebih bisa menahan diri dan menjaga lisannya.
Bzaa
maut sdh ada yg mengatur, kita gak tau kpn datangny... jdi jgn menyalahkan diri...
Bzaa
gak berani baca smpe bawah..

sehat dan sukses ya tor 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!