Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Swiss
Arkan tidak membuang waktu. Ia menggendong Zia ala bridal style , membawanya menuju kamar utama yang dindingnya terbuat dari kaca antipeluru, menampilkan badai salju di luar yang kontras dengan kehangatan di dalam.
Ia letakkan Zia di atas tempat tidur beludru hitam. Tangannya bergerak cepat ke arah nakas, menarik sebuah perangkat kecil berbentuk earpiece transparan dan memasangkannya ke telinga Zia, lalu ke pendengarannya sendiri.
"Ini akan menyentuh denyut nadiku dengan milikmu," bisik Arkan, suaranya kini serendah bariton yang menggetarkan. "Rio sedang bersiap di ujung sana untuk melakukan sistem feedback . Tapi kuncinya ada padamu, Zia. Fokus hanya padaku. Jangan biarkan rasa takut pada ibuku masuk. Hanya aku."
Zia menelan ludah, merasakan jemari Arkan yang kejam namun hangat membekukan rahangnya. "Bagaimana kalau aku tidak cukup kuat untuk menaikkan frekuensinya?"
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mematikan. "Aku tidak akan membiarkanmu gagal. Aku akan membuat jantungmu berdebar begitu hebat sampai sistem mereka terbakar karena beban berlebih."
Arkan mulai mencium Zia dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. Setiap sentuhannya adalah perpaduan antara perlindungan dan gairah yang meluap-luap. Ia menciumi ceruk leher Zia, membisikkan kata-kata posesif yang membuat pipi Zia terasa terbakar.
"Kau milikku, Zia. Bukan milik laboratorium mana pun, bukan milik ibuku. Setiap sel di tubuhmu adalah properti pribadiku yang tidak bisa diganggu gugat."
Zia terengah-engah. Di telinga, ia mendengar suara bip yang semakin cepat dari perangkat sensor.
"Tuan Arkan, frekuensi detak jantung Nona Zia meningkat pesat. 110 BPM... 120... Teruslah lakukan itu! Sistem pusat mereka mulai terpancing masuk untuk menyedot data!" Suara Rio terdengar samar melalui earpiece .
Arkan tidak peduli pada data. Tatapannya hanya sekilas pada Zia. Ia melepaskan baju hitamnya, menampilkan bahu tegap dan bekas luka lama yang kini tertimpa cahaya temaram. Ia membawa tangan Zia untuk menyentuh dada, tepat di mana jantungnya berdegup dengan kecepatan yang sama gilanya.
“Rasakan ini,” bisik Arkan. "Jantungku berdetak hanya karena kau ada di depanku. Bukan karena mikrobotik, tapi karena aku gila padamu."
Zia menarik Arkan lebih dekat. Rasa cintanya yang meluap pada pria keras kepala ini menciptakan transmisi emosi yang luar biasa. Ia merasa dunianya hanya berisi Arkan.
"Sekarang! Detak jantung mencapai 150 BPM! Mereka mulai mengunduh!" teriak Rio di seberang sana. “tuan Arkan, aku memasukkan virus penghancur lewat jalur emosional ini. Tahan posisimu!”
Arkan mencium Zia lebih dalam, seolah ingin memberikan seluruh jiwa. Di saat yang sama, layar monitor tersembunyi di sudut ruangan berkedip merah. Data-data terenkripsi milik perusahaan ibunya yang mencoba masuk ke otak Zia justru tersedot balik oleh sistem keamanan kastel Arkan yang jauh lebih canggih.
Zia mengerang pelan, merasakan sensasi panas menjalar di nadinya, namun dekapan Arkan yang begitu posesif membuatnya merasa aman. Arkan terus membisikkan janji-janji manis, tentang rumah di tepi pantai yang akan mereka beli, tentang kehidupan tanpa masa mendatang dan tentang bagaimana ia akan memanjakan Zia setiap hari.
“Tatap mataku, Zia,” perintah Arkan lembut. "Hanya aku. Lihat duniamu di mataku."
Tepat pada saat itu, terdengar suara ledakan kecil dari perangkat di nakas. Listrik di kastel sempat berkedip, lalu kembali stabil.
Hening. Hanya suara napas mereka yang saling berburu.
“Berhasil…” Suara Rio terdengar lemas namun lega. "Sistem di tubuh Nona Zia sudah 'terbakar' keluar secara digital. Mereka tidak bisa lagi menyatukan atau mengunduh apa pun. Kau baru saja menghancurkan server utama ibumu menggunakan kekuatan... yah, kekuatan bucin-mu, Tuan."
Arkan melepas earpiece -nya dan melemparkannya ke lantai. Ia tidak peduli pada kemenangan teknis itu. Ia hanya menatap Zia yang kini tampak jauh lebih ringan, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya.
"Sudah selesai?" tanya Zia lirih, air mata haru menggenang di sudut matanya.
Arkan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. "Sudah selesai. Kau bebas, Sayang. Kau hanya milikmu sendiri... sedikit, dan hanya akan menjadi milikku."
Zia tertawa kecil, menarik Arkan kembali ke dalam pelukannya. "Sedikit? Aku rasa kau sudah membeli seluruh saham seumur hidup, Arkan."
Arkan merebahkan dirinya di samping Zia, menyelamatkan mereka berdua, dan mengecup kening gadis itu dengan penuh pengabdian. “Kalau begitu, sebagai pemegang saham prioritas, aku memerintahkan kau untuk tidak pernah bangun dari pelukanku malam ini.”
Di luar, salju Swiss terus turun, namun di dalam kastel "The Nest", sang Singa akhirnya benar-benar menjinakkan badai demi gadis yang menjadi dunianya.
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔