Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Sembilan Bulan.
Ibu Neri langsung geram ketika Nizam meminta nomor ponsel Rindu.
“Nizam! Rindu istrimu, tapi kamu tidak tau nomor ponsel istri sendiri. Suami macam apa kamu?” tanya Ibu Neri dengan kesal.
“Mah, dulu Zahra yang sering menghubungi Rindu. Bukan Nizam,” jawab Nizam.
“Sudahlah, percuma Mamah cerewet sama kamu. Kamu selalu merasa benar. Sekarang Mamah kirim nomor ponsel Rindu. Kamu harus langsung telepon dia!” kata Ibu Neri.
“Iya, Mah,” jawab Nizam.
“Assalamualaikum,” ucao Ibu Neri.
“Waalaikumsalam,” jawab Nizam.
Ibu Neri mengakhiri panggilannya. Ia mengirim nomor ponsel Rindu ke Nizam.
Mamah:
[Rindu 0823xxxxxxxx]
Nizam menghela nafas ketika membaca pesan yang dikirim oleh mamahnya. Ia menyimpan nomor ponsel Rindu di ponselnya. Kemudian ia menelepon Rindu. Nizam menunggu lama namun teleponnya tidak dijawab oleh Rindu. Nizam menghubungi Rindu sekali lagi, akhirnya teleponnya dijawab oleh Rindu.
“Assalamualaikum,” ucap Rindu dengan suara serak dan bindeng. Ciri khas orang yang sedang menangis.
“Waalalaikumsalam. Kamu kemana, sih? lama sekali jawab teleponnya?” kata Nizam dengan kesal.
Rindu kaget ketika mendengar suara Nizam.
“Pak Nizam?” tanya Rindu.
“Iya, ini saya Nizam,” jawab Nizam.
“Maafkan saya, Pak. Tadi saya sedang.” Rindu belum selesai bicara langsung ditimpal oleh Nizam.
“Kamu sedang nangis, kan?” tanya Nizam.
Rindu hanya diam tidak menjawab.
“Kedengaran dari suara kamu yang bindeng dan serak,” kata Nizam.
“Bagaimana dengan nasib anak-anak saya kalau ibu mereka bisanya hanya nangis terus menerus?” tanya Nizam.
Rindu tetap diam tidak berkata apa-apa.
“Memangnya kalau kamu menangis terus menerus akan memecahkan nmasalah?” tanya Nizam.
Rindu tetap diam tidak menjawab apa-apa.
“Daripada kamu menangis lebih baik kamu ambil air wudhu lalu sholat. Doakan mereka supaya dalam keadaan baik-baik saja,” kata Nizam.
“Iya, Pak,” jawab Rindu.
“Tadi dokter bilang apa?” tanya Nizam.
“Dokter tetap menyuruh saya untuk mengajak bayi-bayi berbicara, sambil terus memantau gerak mereka. Kalau gerak mereka berkurang, saya disuruh kembali ke dokter,” jawab Rindu.
“Kapan kamu harus periksa kembali?” tanya Nizam.
“Seminggu lagi, Pak,” jawab Rindu.
“Oke, saya harap kamu dengarkan apa yang dikatakan oleh dokter,” kata Nizam.
“Baik, Pak,” jawab Rindu.
“Sudah jangan nangis lagi. Menangis tidak bisa bisa menyelesaikan masalah. Nanti bayi-bayi kamu jadi tidak tenang,” kata Nizam.
“Iya, Pak,” jawab Rindu.
“Sudah, ya! Saya harus rapat lagi,” kata Nizam.
“Pak Nizam,” panggil Rindu.
“Apalagi, nih?” tanya Nizam.
“Bolehkan saya meyimpan nomor ponsel Bapak?” tanya Rindu.
“Boleh. Tapi jangan setiap saat kamu menghubungi saya! Kamu boleh menghubungi saya kalau ada sesuatu hal penting untuk kamu sampaikan,” kata Nizam.
“Iya, Pak,” jawab Rindu dengan senang.
“Sudah, ya! Assalamualaikum,” ucap Nizam.
“Waalaikumsalam,” jawab Rindu.
Sekarang Rindu sudah merasa tenang karena suaminya sudah mengetahui apa yang terjadi. Rindu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, ia melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
***
Waktu terus berlalu, bayi-bayi diperut Rindu bergerak dengan normal sehingga tidak ada perlu dikhawatirkan. Rindu kembali check-up ke dokter kandungan. Seperti biasa Rindu ditemani oleh Ibu Neri dan Ibu Indah. Ketika dokter menyuruhnya naik ke tempat tidur Rindu merasa berdebar-debar, ia takut mengetahui keadaan bayi kembarnya.
Rindu naik ke atas tempat tidur dan suster mulai mempersiapkan Rindu untuk USG. Setelah siap barulah dokter USG perut Rindu. Dokter memainkan alat USG di perut Rindu. Tiba-tiba dokter menggelengkan kepalanya.
“Ck ck ck,” kata dokter.
“Kenapa, Dok?” tanya Rindu dengan was-was.
“Kita langsung operasi caesar, ya!” kata dokter, “kedua bayi terlilit tiga lilitan tali pusar.”
“Astagfirullahaladzim,” ucap Rindu, Ibu Neri dan Ibu Indah.
“Bagaimana keadaan mereka, Dok?” tanya Ibu Neri dengan cemas.
“Sebentar saya cek denyut jantungnya,” jawab dokter.
Dokter memasangkan alat untuk mendengarkan denyut jantung bayi. Terdengar denyut jantung bayi.
“Suara denyut jantungnya masih bagus. Tapi untuk menghindari resiko yang berbahaya, lebih bayi secepatnya bayi dilahirkan. Lagi pula usia mereka sudah pas sembilan bulan, sudah bisa untuk lahir,” kata dokter.
“Dok, kira-kira kapan operasi caesarnya? Sebab suami Rindu sedang berada di luar negeri, jadi harus diberitahu,” tanya Ibu Indah.
“Bagaimana kalau besok subuh? Saya lebih suka melakukan operasi ketika subuh,” jawab dokter.
“Bagaimana Rin? Kamu siap untuk operasi caesar besok?” tanya Ibu Neri kepada Rindu.
“Rindu siap, Mah. Asalkan anak-anak bisa selamat,” jawab Rindu.
“Baiklah, nanti malam Ibu Rindu sudah harus masuk ke rumah sakit untuk persiapan operasi,” kata dokter.
“Bai, Dok,” jawab Rindu.
Bu Zahra, maafkan saya kalau saya tidak bisa menjaga anak-anak Bu Zahra dengan baik. Sekarang mereka terpaksa harus lahir sebelum waktunya karena mereka dalam kondisi bahaya, kata Rindu di dalam hati.
Sesampainya mereka di rumah Ibu Neri langsung menelepon Ibu Emin.
“Assalamualaikum, Ibu Emin,” ucap Ibu Neri.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Emin.
“Begini Bu Emin.” Ibu Neri menceritakan semuanya kepada Ibu Emin. Ibu Emin menghela nafas setelah mendengar cerita Ibu Neri.
“Lakukan saja apa yang terbaik untuk Rindu dan bayi-bayinya,” kata Ibu Emin.
“Iya, Bu,” jawab Ibu Neri.
“Saya dan suami saya akan datang ke rumah sakit untuk menunggu Rindu dioperasi,” kata Ibu Emin.
“Kalau kira-kira Ibu Emin dan Pak Adjat sedang report, lebih baik siang saja ke rumah sakitnya,” kata Ibu Neri. Ibu Neri tau kalau adik Rindu dan anak-anak Pak Adjat masih sekolah, pasti setiap subuh Ibu Emin report mengurus anak-anak yang akan berangkat kuliah dan sekolah.
“Tidak apa-apa, Bu Neri. Anak-anak sudah besar. Mereka bisa mengurus diri sendiri,” jawab Ibu Emin.
“Baiklah kalau begitu. Sudah dulu ya, Bu. Saya mau menghubungi Nizam, dia sedang berada di Hongkong. Saya belum memberitahu dia kalau Rindu akan segera operasi caesar,” kata Ibu Neri.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Neri.
“Waalakumsalam,” jawab Ibu Emin.
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Ibu Emin, Ibu Neri menelepon Nizam, namun Nizam sulit untuk dihubungi. Ponsel Nizam sedang sibuk.
Dia lagi bicara sama siapa? Susah sekali untuk dihubungi, kata Ibu Neri di dalam hati.
Ibu Neri menungu sebentar kemidian menelepon Nizam kembali. Kali ini ia berhasil menghubungi Nizam.
“Assalamualaikum,” ucap Nizam.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Neri.
“Ada apa Mamah menelepon Nizam?” tanya Nizam.
“Mamah mau memberitahu, besok subuh Rindu akan operasi caesar,” jawab Ibu Neri.
“Iya, Nizam sudah tau,” jawab Nizam.
“Kamu tau darimana?” tanya Ibu Neri kaget.
“Dari Rindu. Tadi Rindu menelepon Nizam,” jawab Nizam.
“Rindu meneleponmu? Syukurlah kalau Rindu sudah berani meneleponmu,” kata Ibu Neri.
“Lalu kapan kamu akan pulang ke Bandung?” tanya Ibu Neri.
“Nizam juga belum tau kapan Nizam bisa pulang,” jawab Nizam.
“Jadi kamu tidak bisa menunggui istrimu dioperasi caesar?” tanya Ibu Neri.
“Iya, Mah. Nizam sudah bilang ke Rindu dan dia bisa mengerti kalau Nizam tidak bisa menemaninya dioperasi,” jawab Nizam.
“Lalu siapa yang akan mengadzani bayi-bayimu?” tanya Ibu Neri.
“Kan ada Papah dan Nazriel. Mereka bisa mengadzani bayi-bayi Nizam,” jawab Nizam.
“Ya, sudahlah. Yang penting Rindu mau mengerti kalau kamu tidak bisa hadir ketika dia dioperasi,” kata Ibu Neri.
“Sudah dulu, ya! Sudah adzan, Mamah mau sholat dzuhur dulu. Assalamualaikum,” ucap Ibu Neri.
“Waalaikumsalam,” jawab Nizam.