Kisah tentang seorang agent BIN dan putri konglomerat yang suka membuat onar.
Ayah Zuin tiba-tiba ditangkap karena kasus korupsi. Namun dibalik penangkapan itu sang ayah ternyata bekerja sama dengan BIN meneliti sebuah obat yang diyakini sebagai virus berbahaya yang mengancam nyawa banyak orang.
Dastin Lemuel, pria tampan dengan sejuta pesona itu di percayakan oleh ayah Zuin untuk mengawasi gadis itu. Zuin sudah membenci Dastin karena dendam di night club malam itu. Tapi, bagaimana kalau mereka tiba-tiba tinggal serumah? Apalagi Dastin yang tidak pernah dekat dengan perempuan, malah mulai terbiasa dengan kehadiran Zuin, sih gadis pembangkang yang selalu melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Otak Zuin terus berpikir keras. Setelah bertemu dengan ayahnya tadi, ia melihat sesuatu yang berbeda. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Ketika ayahnya bekerja dikantor, pria itu akan terlihat seperti seorang pengusaha dengan segala pikiran bisnisnya yang cemerlang. Tapi tadi, ia melihat pria itu jauh sekali dari kesan seorang pengusaha. Malah lebih ke seorang dokter atau profesor di film-film yang sibuk meneliti obat-obatan. Kira-kira apa yang sedang di lakukan ayahnya?
Zuin hanya tahu sampai dibatas sang ayah berbicara dengan serius kalau pria itu sedang mengerjakan sesuatu yang penting buat negara. Jadi Zuin sebagai putrinya harus patuh dan jangan berbuat kacau. Dengarkan saja arahan Dastin.
Tapi sekali lagi, Zuin
tidak bodoh sama sekali. Ia bisa menyimpulkan kalau ayahnya sedang meneliti obat-obatan atau melakukan suatu eksperimen. Entah untuk apa, dirinya tidak tahu. Tapi kalau sampai bekerja bersama pihak BIN, berarti itu adalah pekerjaan negara. Kira-kira untuk apa obat itu? Apa itu virus? Atau ayahnya sedang membuat vaksin mengingat maraknya penyakit-penyakit aneh yang terjadi saat ini. Zuin tertawa. Memangnya ayahnya punya kemampuan seperti itu? Tidak mungkin.
"Aku tahu otakmu sedang memikirkan banyak hal tentang apa yang sedang dikerjakan oleh ayahmu, tapi aku sarankan sebaiknya kau lupakan saja. Itu tidak penting untuk bocah kecil sepertimu."
suara itu membuat Zuin mendelik tajam ke samping kanan. Menatap Dastin yang fokus menyetir mobil.
"Bukan urusanmu." ketusnya. Dastin tersenyum remeh. Wajahnya terus menghadap depan.
"Oh ya, kita akan ke mana besok?" raut wajah kesal Zuin berubah. Ia teringat ayahnya yang bilang tadi kalau dia akan ikut dengan Dastin ke sebuah pedesaan. Zuin yang sempat mau protes tidak jadi protes ketika mendengar Dastin dan timnya akan pergi melakukan penyelidikan terhadap sebuah kasus pembunuhan. Zuin yang merasa tertarik langsung setuju. Ia tertarik kalau berhubungan dengan kasus-kasus misteri.
"Jangan terlalu bersemangat bocah, nanti kau pingsan sendiri saat melihat mayat didepanmu." ujar Dastin meruntuhkan antusias Zuin saat itu juga.
"Cih, nggak asik." katanya lalu membuang muka ke arah lain sambil bersedekap dada. Dastin terkekeh. Ia memiringkan mukanya dan melirik Zuin sekilas kemudian fokus menyetir lagi. Tak ada pembicaraan lagi setelah itu. Lalu Zuin menguap lebar sebelum akhirnya ia menutup matanya dan ketiduran. Dastin tersenyum lalu tanpa sadar tangannya terangkat mengusap-usap kepala gadis yang ketiduran tersebut dan kembali fokus kedepan.
***
Malam itu, setelah mencari-cari beberapa referensi bagaimana caranya membuat seorang pria puas diatas ranjang, Ketty tidak tahan lagi untuk mencobanya pada Kyle. Apalagi dia telah menonton beberapa video porno barusan.
Akhirnya karena tidak tahan lagi, Ketty memberanikan dirinya menemui laki-laki itu malam ini. Kyle terlalu menggoda imannya. Ia tidak sanggup kalau menunggu beberapa hari. Bisa-bisa pria itu sudah melupakannya dan tidak menginginkannya lagi. Ketty tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia harus menggunakan kesempatan baik ini untuk menjadi lebih dekat secara intim dengan Kyle. Mungkin sekarang laki-laki itu tidak mencintainya, tapi ia bertekad, setelah memberi dirinya sepenuhnya pada Kyle, ia akan berjuang mati-matian agar pria itu jatuh cinta padanya.
Ketty bangkit dari kasurnya dan bersiap-siap. Ia memakai gaun terbaik yang dimilikinya. Ia ingin terlihat cantik didepan Kyle, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kecantikan yang berbeda dengan Zuin. Zuin memang cantik, tapi Ketty merasa dirinya juga tidak kalah cantik, apalagi jika sudah memoles dirinya seperti ini. Mungkin saja Kyle akan berpaling dari temannya itu. Maaf Zuin, tapi kali ini Ketty benar-benar ingin bersaing dengan sahabatnya itu demi seorang pria seperti Kyle.
Kira-kira tiga puluh menit perjalanan, Ketty akhirnya sampai di alamat apartemen yang tertera dikunci berbentuk kartu tersebut. Pemberian Kyle siang tadi. Gadis itu masuk ke gedung besar nan mewah itu dan langsung menuju lift. Resepsionis didepannya sebentar bertanya dia mau menemui siapa, ketika ia menyebut nama lengkap Kyle beserta kunci ditangannya, resepsionis itu tidak banyak bicara lagi.
"Sepertinya itu wanita sewaan barunya tuan Kyle." Ketty sempat mendengar dua resepsionis itu bersuara sebelum menghilang masuk ke dalam lift. Gadis itu mendengus pelan. Wanita sewaan? Enak saja, dia sendiri yang diundang oleh Kyle. Tidak dibayar sama sekali. Memangnya dia pelacur. Gadis itu mengumpat kesal lalu menekan tombol nomor delapan di lift.
Ketty berhenti sebentar setelah mencapai kamar nomor 204. Itu kamar Kyle. Rasa gugup gadis itu makin menjadi. Ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya yang lebih menggila dengan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia mengulanginya beberapa kali. Setelah dirasa sudah agak tenang, dia lalu mengetuk pintu agar Kyle tahu dia sudah datang. Kemudian tanpa perlu menunggu pintu itu dibuka oleh pemiliknya, ia memutuskan membukanya sendiri dengan kartu ditangannya.
Ketty masuk perlahan-lahan, berusaha tidak membuat suara-suara yang mengganggu. Pandangannya menatap sekeliling, tempat ini sangat nyaman ditinggali menurutnya. Lebih nyaman dari apartemennya. Ya iyalah jelas. Yang lebih mahal pasti lebih nyaman. Ketty tak berhenti-berhenti berdecak kagum melihat keseluruhan isi apartemen Kyle.
Tapi, dimana lelaki itu? Ia belum melihatnya sama sekali. Ketty terus bertanya-tanya dalam hati sampai akhirnya ia melihat laki-laki yang dicarinya tersebut keluar dari ruangan lain yang ia yakini kamar pria itu. Ketty meneguk ludahnya saat melihat Kyle keluar hanya dengan handuk yang terlilit dipinggangnya. Rambutnya masih basah karena baru selesai mandi dan otot-otot perut itu... Oh ya ampun... Ketty tidak menyangka akan melihat badan indah itu secara langsung.
Didepan sana, Kyle menyeringai. Ia masih tidak menyangka temannya Zuin itu akan benar-benar datang. Besar juga nyalinya. Apa segampang itu gadis itu akan memberikan keperawanannya padanya? Atau sebenarnya ia memang sudah tidak perawan lagi? Bisa dibuktikan nanti.
"Aku pikir kau tidak ada nyali untuk datang." ucap Kyle melangkah dengan cuek melewati Ketty dan duduk di sofa.
"A...k..kau bilang akan mempertimbangkan aku kalau bisa memuaskanmu." gumam Ketty tergagap. Kyle tersenyum miring.
"Jadi, kau yakin bisa memuaskan aku?" tanyanya. Ketty mengangguk malu-malu.
Kyle memicingkan mata menatap Ketty. Ia jadi penasaran bagaimana gadis itu akan bermain-main dengan dirinya. Lalu tanpa aba-aba dilepaskannya handuk yang menutupi bagian bawanya, membuat pria itu telanjang bulat didepan Ketty dan gadis itu refleks menutup matanya saat melihat benda besar milik Kyle yang sudah mengeras dan berdiri tegak didepannya.
"Aku mau lihat bagaimana caramu memuaskan aku." gumam Kyle dengan sikap menantang.
tolong beri zuin pelajaran biar kapok dia terlalu mudah hidupnya.
Kyle dan ketty gimana ni
Gantunggg bener ah
Jadi penasarannn