Hujan badai yang melanda desa merupakan peristiwa alam yang banyak membawa duka bagi penduduk tapi berbeda dengan Lin Chen, bencana alam ini malah membawa berkah baginya.
Lin Chen menjadi satu-satunya orang yang berbahagia di tengah bencana itu, betapa tidak, bencana yang sangat merusak itu memberikan sesuatu yang tak pernah Ia pikirkan sebelumnya. Sejumlah besar sampah yang ikut terbawa dalam badai ke rumahnya adalah buangan dari alam Langit, alam dimana makhluk abadi tinggal, tempat kultivator kuat berada.
Dengan keberuntungan ini akhirnya Lin Chen menjadi kuat dan secara perlahan merubah nasibnya dari pemuda yang tidak punya apa-apa menjadi seorang yang kuat dan menjadi harapan banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Tekad
Lin Chen menyerang seperti orang gila, dia hanya mengandalkan kepadatan tulangnya dan ingatannya tentang film-film laga yang pernah ditontonnya.
Bugh...
Bugh...
Pria itu tertawa dan terus memukul Lin Chen setiap kali dia maju dan Lin Chen harus menggigit bibirnya karena tak ada cara lain yang bisa dilakukannya lagi sambil terus menunggu kesempatan.
Lalu kesempatan itu datang. Mungkin karena terlalu senang atau mungkin menganggap Lin Chen bodoh sehingga pria itu lengah. Saat Ia menendang lagi, Ia mengira Lin Chen balas menendang seperti yang dilakukannya sebelum itu.
Namun kali ini Lin Chen bergerak ke samping dan menjulurkan tangannya dengan lemah sehingga terlihat tak berdaya tapi saat tangan Lin Chen menyentuh kaki pria itu, tangan itu tiba-tiba mencengkram dengan erat lalu memeluknya, mengangkat dan membanting tubuh pria itu.
Pria itu terjatuh dengan satu kaki yang menggantung di tangan Lin Chen dan...
Krakk...
Lin Chen menginjak sebelah kaki pria itu sampai patah, disusul dengan injakan keras ke perutnya.
Lalu dengan sikunya, Lin Chen menghantam dada pria yang sudah tidak berdaya di lantai.
Selesai. Lin Chen benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia sudah berkorban terlalu banyak untuk mendapatkan celah itu.
"Ka-kau tak akan lolos dari kejaran sekte, kau ... "
Ucapannya terhenti, pria itu tewas dengan tulang dada yang melesak ke dalam, tulangnya remuk.
Sedangkan Lin Chen tidur terlentang, ini adalah pembunuhan pertamanya, lututnya gemetaran dan wajahnya sangat pucat.
Beberapa menit kemudian, Lin Chen pun bangun. Pandangan matanya berubah seiring dengan mentalnya yang tambah kuat, pengalaman hidup mati sebelumnya menyadarkannya bahwa dunia itu kejam, kalau tidak kuat dan berani mengambil keputusan maka pasti dialah yang terbaring di sana.
"Aku harus berkultivasi." ucapnya dalam hati. Pria yang dibunuhnya sangat kuat, dan pasti ada orang-orang yang lebih kuat lagi di belakangnya.
Lin Chen mengumpulkan semua bahan herbal di gudang. "Ini cukup untuk mandi obat tahap pertama." gumam Lin Chen. Ada satu cara untuk ke tahap selanjutnya selain pil pengumpul energi yang tercatat, yaitu mandi obat namun harus dilakukan minimal tiga kali untuk bisa menembus tahap pemurnian energi.
Sesampainya di klinik, Song Wanting belum kembali dan, Tong Dji entah pergi kemana. Lin Chen buru-buru membersihkan diri dan memakai beberapa salep untuk menghilangkan bekas luka. Setelah itu Ia menumpuk bahan herbal dan memilah nya, malam ini Ia akan mandi obat yang pertama.
"Tong Dji, kalau nanti nona Song datang, berikan salep ini padanya. Aku akan pulang ke desa."
"Apa ada masalah tuan?"
"Tenang saja aku baik-baik saja, mungkin dua hari lagi baru aku kembali."
Sudah hampir waktunya hari yang dinanti Lin Chen, meskipun sudah cukup lama tidak ada benda lain lagi yang jatuh dari langit, tapi dia tetap berharap.
Beberapa jam kemudian, Lin Chen sudah sampai di rumah, rencana awalnya untuk berendam air obat terpaksa dibatalkan. Rumah harus dibersihkan dulu dan yang paling penting adalah membuat bak mandi besar.
Besok malamnya barulah Lin Chen berendam, aktifitas itu Ia lakukan semalaman penuh tapi karena jumlah bahan herbal yang Ia bawa sangat banyak maka Lin Chen memutuskan untuk mandi tiga kali sekaligus dan karena ini jugalah yang membuat Lin Chen harus tinggal di desa selama satu minggu lamanya.
Berendam air obat tidak bisa dilakukan setiap malam, harus ada jeda minimal dua hari untuk membiarkan obat menyerap maksimal ke dalam jaringan kulit dan itupun bukan tanpa resiko, bisa saja dalam prosesnya itu Lin Chen tidak kuat dan menunggu lama untuk bisa berendam lagi. Namun, Lin Chen tidak peduli, dia harus mengambil resiko itu.
Masih terngiang di dalam telinganya ancaman pria yang Ia bunuh. Lin Chen harus tambah kuat jika tidak ingin dalam masalah.
Pagi harinya setalah berendam obat untuk yang kedua kalinya, Lin Chen merasa ada sedikit perubahan, tubuhnya terasa sedikit ringan dan pikirannya mulai jernih. "Satu kali lagi, semoga semua berjalan lancar." ucap Lin Chen lirih.
Jgeerr...
Petir menyambar keras, Lin Chen tersentak. Kali ini bahkan tidak ada hujan seperti sebelumnya. Dia berlari ke kebunnya dan mendapati sebuah peti kecil di sana.
"Akhirnya, setelah sekian lama." Kata Lin Chen, matanya berbinar menatap peti kecil di tangannya.
"Ini... " Yang pertama Lin Chen rasakan saat membuka peti adalah bau yang harum lembut, lalu ada beberapa lembar kertas serta botol kaca berisi pil, kemudian ada juga
Aku sangat senang hari ini, aku berkunjung ke banyak tempat dan melakukan banyak hal. Hanya saja perjalanan kali ini sedikit terganggu karena ayah.
Lin Chen mencium kertas itu, harum. "Sepertinya ini tulisan seorang gadis." gumam Lin Chen, lalu mengambil kertas lain dan segera membacanya.
Pria bodoh itu, memangnya dia pikir dia siapa? kalau mau menikah, kenapa tidak dengan ayahku saja. Kalau pria tak berguna itu datang lagi, lihat saja akan aku ketok kepalanya dengan kayu.
Lin Chen mengambil kertas lain.
Pil di botol ini adalah pil kultivasi untuk manusia fana, cih tetua paviliun jelek itu sungguh pelit. lihat saja, lain kali akan aku curi lagi hartanya yg lain hehe.
Aduh gawat ayah datang memeriksa lagi, masih ada satu peti lagi yang belum aku buang. Gawat gawat, kalau ketahuan aku mencuri dari perpustakaan lagi, aku bisa kena hukum.
Hanya tiga lembar kertas yang ada di sana, sisanya adalah botol pil yang menurut isi surat adalah pil kultivasi untuk manusia fana. Pil ini cocok untukku pikir Lin Chen.
Selain itu ada satu buah yang mirip dengan apel, atau memang apel cuma warnanya saja yang berbeda, apel di tangannya itu berwarna ungu dan sudah mulai membusuk.
Lin Chen melempar buah itu sembarangan saja, entah sadar atau tidak, buah itu jatuh di dalam tanah yang Lin Chen kumpulkan di dalam peti tempo hari.
Lin Chen lalu mengambil botol berisi pil, kemudian merapihkan surat itu kembali ke dalam peti sambil tersenyum, gadis ini sepertinya sangat nakal pikirnya.
Dua hari kemudian, Lin Chen kembali bersiap untuk mandi obat untuk yang ketiga kalinya. Namun setelah semalaman, Ia tak merasakan apa-apa. Seharusnya setelah ini pandangan dan pikiran Lin Chen akan lebih kuat tapi itu sama saja.
Karena geram dan tak tau harus berbuat apalagi, Lin Chen meraih pil di dalam botol tanpa berpikir banyak. Sebelumnya Ia takut akan ada efek samping yang tidak baik kalau menelannya begitu saja.
Pil itu langsung lumer dan hancur di mulut Lin Chen, lalu rasa hangat dengan cepat sampai di perutnya.