The Strongest Mr. Max Kendrick!
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.
Bersumpah akan membalaskan dendam kepada mereka yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Rasa sakit, kesedihan, kehancuran akan Max berikan 100x lipat untuk mereka. Dengan kemampuan dan kelebihan yang dia miliki, Max siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi nya menjadi debu!
Dengan membentuk Geng bernama The Strongest Warriors, Max akan membuat dunia bertekuk lutut dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FixCrazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kebimbangan Fox
"Tentu saja..., kedatangan ku ke tempat ini karena sebuah tujuan. Dan tujuan itu ada pada dirimu." Ucap Max dengan santai.
Max berjalan mendekat ke arah Felicia yang berada di belakang Fox. Dengan merendahkan tubuhnya, Max menatap Felicia yang terlihat sangat cantik.
"Setelah melihatnya, aku memiliki sebuah tujuan baru. Kau dapat mengukur IQ atau kepintaran setiap orang dengan segala macam tes. Sungguhlah mencengangkan, di dunia ini, banyak sekali orang ber-IQ tinggi yang tidak berbuat apa-apa untuk menolong sesama. Gadis kecil secantik Felicia harus merasakan kehidupan yang berat. Begitu juga yang aku rasakan dulu. Kehilangan segalanya, dan berbuat di luar batas kita untuk mengekspresikan sesuatu yang kita inginkan." Ucap Max dengan menyentuh pipi Felicia.
Max bangkit berdiri, lalu menatap ke arah Fox dengan senyum di wajahnya. "Seberat apapun hidup yang kau jalani, kau tetap harus membiasakan diri menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bantulah semampumu orang-orang disekitarmu yang butuh pertolongan. Jangan tutup pintu bantuan pada orang lain meski kondisimu dalam keadaan sulit. Yakinlah, ketika kamu mau membantu orang lain, Tuhan juga tidak tinggal diam membantu menyelesaikan masalahmu. Itu adalah hal yang aku temui dalam dirimu." Ucap Max dengan menyentuh pundak Fox yang hanya terdiam menatap ke arahnya.
"Jelaskan padaku, maksud dirimu menemuiku?" Tanya Fox dengan menurunkan tangan Max yang berada di pundaknya.
"Kau tahu? Orang yang hebat adalah penolong bagi yang lemah. Ia bagai mata bagi yang buta, kekuatan bagi yang lemah, dan sebuah tameng bagi yang tak berdaya. Ia berdiri tegak dengan menolong yang terjatuh. Ia naik dengan mengangkat orang lain. Aku menginginkan dirimu untuk bersama-sama naik ke puncak sana bersamaku. Bukan hanya itu saja, aku juga akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk gadis kecil yang cantik ini." Ucap Max yang kemudian mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
"Sebaiknya kau ikut denganku terlebih dulu, aku akan menjelaskan lebih jauh kepadamu nanti." Ucap Max yang kemudian menatap ke arah Felicia.
"Cantik, apa kamu mau ikut dengan paman?"
Felicia menatap ke arah Fox dengan tatapan mata indahnya. Fox tersenyum, lalu mengajak Felicia untuk mengikuti Max.
"Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?" Batin Fox yang mengikuti Max.
Smith yang melihat mereka segera membukakan pintu mobil, kali ini mereka menggunakan mobil Rolls-Royce, sedangkan mobil Lamborghini Smith akan di bawa oleh orang-orang TSM Group.
Setelah semua orang naik, Smith segera mengemudikan mobil menuju salah satu restoran mewah.
Felicia yang duduk di bagian belakang bersama Fox, menatap ke arah luar dengan senyum.
Max sendiri menatap ke arah Felicia melalui spion. "Gadis kecil yang menyedihkan. Aku akan memberikanmu kebahagiaan." Batin Max dengan tersenyum.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, Mobil Rolls-Royce akhirnya memasuki parkiran restoran.
Smith dan Max segera turun dari dalam mobil, begitu juga dengan Fox dan Felicia.
"Paman, apa kita akan makan di tempat ini?" Tanya Felicia dengan mata berbinar.
Max tersenyum. "Tentu saja, apa Felicia menyukainya?"
Felicia semangat menganggukkan kepala. "Felicia sangat menyukainya. Dulu Felicia juga pernah makan di tempat-tempat mewah seperti ini bersama Daddy." Ucap Felicia yang mengingat Ayah kandungnya.
Fox sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan Felicia.
"Jika memang Felicia menyukainya, Felicia dapat makan di mana saja yang Felicia inginkan. Dan Felicia juga bisa pergi kemana saja yang Felicia inginkan." Ucap Max dengan berjongkok di hadapan Felicia.
Felicia tersenyum, dengan polosnya dia memberikan jari kelingkingnya ke arah Max.
Max tertawa kecil melihat tingkah laku Felicia. Max segera memberikan jari kelingkingnya, lalu Felicia mengaitkan jari kelingking mereka.
"Paman sudah berjanji, jadi paman tidak boleh berbohong dengan Felicia. Oke..?"
"Oke, tapi Felicia juga harus janji dengan paman?"
Felicia mengerutkan keningnya. "Janji apa paman?"
"Felicia harus jadi anak yang penurut, dan juga harus rajin belajar dengan baik. Jangan melakukan hal seperti sebelumnya lagi. Apa Felicia mau berjanji?"
"Tentu saja paman. Felicia janji akan jadi anak yang penurut, dan juga rajin belajar." Felicia dengan bersemangat.
"Anak pintar." Ucap Max yang kemudian bangkit berdiri.
Max kemudian menggenggam tangan Felicia untuk masuk ke dalam restoran. Sedangkan Fox hanya terus diam menyimak obrolan mereka berdua.
"Jangan pernah berfikir buruk tentang tuan Max. Kau tenang saja, dia bukan pria jahat yang sering kau temui di luar sana." Ucap Smith yang kemudian berjalan mengikuti Max dan Felicia yang terlebih dulu pergi.
"Aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi, aku berharap ini semua bukanlah sebuah jebakan lagi." Ucap Fox yang kemudian menyusul mereka.
Di dalam restoran mewah itu, terlihat Felicia yang terus tersenyum bahagia. Bahkan dia telah memesan banyak makanan.
Fox yang baru saja datang menatap ke arah Max. Max menganggukkan kepala.
"Felicia, paman ada perlu dengan Ayahmu. Felicia tunggu sebentar di sini, paman Smith akan menjaga Felicia." Ucap Max dengan mengusap rambut Felicia.
Felicia menganggukan kepala, lalu menatap ke arah Fox.
"Ayah pergi dulu, Felicia jangan nakal."
"Baik Ayah."
Max dan Fox kemudian pergi meninggalkan Felicia dan Smith. Mereka berdua kemudian berjalan ke arah toilet.
Setelah tiba di toilet, Max menatap ke arah Fox.
"Jelaskan padaku mengenai kematian rekanmu itu?" Tanya Max membuka pembicaraan.
Fox mengerutkan keningnya. "Mengapa kau menanyakan hal ini?"
"Aku curiga dia telah di jebak oleh seseorang."
Fox menganggukkan kepala. "Apa yang kau pikirkan benar, mereka telah membunuhnya. Aku yang tidak memiliki kekuasaan tidak mampu berbuat apa-apa." Ucap Fox dengan menatap ke arah lain.
"Kau dapat membalaskan kematian rekanmu itu. Tapi, kau harus bergabung bersamaku."
"Aku menolak!" Ucap Fox dengan tegas.
"Jangan pernah mengorbankan masa depan dan kebahagiaan Felicia atas sikap egois mu itu. Biarkan dia untuk melakukan apa yang ia mau. Kau seharusnya mendukung, menuntun, dan memberikan semua pengetahuan yang ia butuhkan. Jika kau masih menolak untuk bergabung bersamaku, izinkan aku merawat dan menjaga Felicia. Untuk saat ini mungkin mereka belum melakukan apapun terhadap kalian, namun tidak untuk di masa depan. Kau hanya pria lemah dan tidak berguna saat ini, lalu kau ingin membiarkan Felicia terus bersamamu hingga suatu saat nanti bisa saja nyawanya terancam?"
"Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dengan masalahku!" Fox sekali lagi dengan sifat keras kepalanya.
"Kau benar-benar keras kepala."
Fox tersenyum." Dan kau sama dengan mereka. Beberapa orang nyata. Beberapa orang baik. Beberapa orang palsu dan beberapa orang benar-benar lihai menjadi palsu." Ucap Fox dengan mendengus kesal.
"Berhentilah melacak kesalahan yang telah orang lain buat kepadamu, sudah saatnya kau mengubah cara berfikirmu. Aku memang bukanlah orang yang baik, tapi yang harus kau ketahui, seburuk-buruknya aku, aku takkan tega merugikan & menyakiti hati orang lain tanpa alasan yang jelas. Aku hanya akan menjadi ujung pedang untuk mereka yang telah melewati batasannya."
Fox terdiam, dia benar-benar bimbang. Trauma yang dia alami benar-benar menyiksanya, membuat dia tidak mudah mempercayai orang lain.