Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBARAN KEDUA : HARI BARU
My Dear Diary...
Apa kabarmu hari ini? Kuharap masih sama seperti hari-hari lalumu yang putih, polos dan suci belum ternoda.
Karena hari ini, aku akan menodaimu.
Wkwkwk... Apaan sih Mar! Ga jelas banget deh, jadi orang! Pasti itu yang akan keluar dari bibirmu jikalau kau adalah seorang manusia.
Yah, tak apa ya, Dear!... Aku hanya ingin bercanda sedikit saja denganmu. Berbagi keluh dan kesah serta berbagi cerita, hanya padamu saja, Dear!
(karena sejujurnya, hanya lewat guratan pena BOXI Mitsubishi 0.3mm saja diatas mulusnya tubuhmu,.. aku bisa 'bersuara' dan berkata-kata)
My Dear Diary...
Ini minggu pertamaku di 'hari baru'ku.
Ya...
Setelah bang Gres membawaku kembali ke Jakarta dengan motor gedenya melintasi sepanjang jalan Cibinong Raya menyusuri lagi jalanan Ibukota lewat pinggirannya yang hanya bisa kami lewati (bukan jalan tol yang bebas hambatan, karena itu hanya khusus kendaraan roda empat saja).
Ya elah, thoooooor!!!Semua orang juga tau, jalan tol HANYA KHUSUS KENDARAAN RODA EMPAT!!!!!!! SENGAJA LU YAK, BIAR BISA CEPET TEMBUS TULISAN LU JADI 1.000 KATA!!!!!!
(Swallow, bossQue... Ini hanya tuntutan peran... Wkwkwk.... Hidup jangan dibuat susah, bro!)
LANJUT KUY!!!!!!
Aku kembali pulang, ke kampung halamanku, tempat kelahiranku. Kota Jakarta yang indah dengan berjuta kenangan tak terlupa.
Bang Gres membawaku kembali kerumah Amih.
Membuat orang-orang yang melihat kami, memandangku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.
Entah hinakah aku, atau kasihankah aku dimata mereka. Aku tak tahu.
Bahkan kudengar sedikit kalimat-kalimat ghibahan para ibu yang menggunjing tentang pernikahanku yang gagal porak poranda dan kini aku berjalan dengan santainya bersama seorang lelaki lain.
Ingin ku skip semua pandangan-pandangan negatif itu, tapi aku terlalu rapuh melakukan itu.
Amih, Mama juga aku dan bang Gres. Kami duduk berempat dilantai tanpa tilam.
Dan bang Gres dengan 'senjata' sebagai ancaman, menyuruh kedua orang yang membuatku terlahir kedunia ini hanya terhenyak dengan tatapan kosong.
Amih dan mama menurut saja apa yang bang Gres perintah. Termasuk meminta semua surat-surat dan dokumen aku, mulai dari Akte Kelahiran, hingga surat STTB SD dan lain-lain.
My Dear Diary...
Akhirnya aku tahu, kalau aku telah didaftarkan masuk sekolah menengah kejuruan percontohan yang waktu itu abang Gres bilang.
Semua telah diatur abang hingga isi formulirpun semuanya atas nama bang Gres sebagai wali Orangtuaku.
Aku juga di 'kost' kan dalam sebuah kamar berukuran 4x4 meter tak jauh dari lingkungan sekolah.
"Inget, Rie! Lu ga boleh bawa teman ke kostan! Ga boleh juga macem-macem. Sekolah yang bener! Karena gua bakalan pantau lu 1x24 jam setiap harinya!"
Aku mengangguk cepat mendengar perkataan Bang Gres yang lebih mirip ancaman.
"Abang! Kenapa harus nge-kost? Mar bisa naik bus dari rumah Amih 2x turun di terminal Senen!"
Entah setan apa yang merasuki bibirku hingga mampu berkata lantang seperti itu.
Karena sejujurnya aku takut tinggal sendirian. Aku belum pernah jauh dari orangtua bahkan meski papa dan mamaku bercerai sekalipun. Aku tinggal bersama Amih dirumahnya.
"Eh? Berani lu ngomong ya sekarang? Ini buat kebaikan lu, tau!? Supaya lu tuh bisa mandiri juga disini. Dan inget! Lu bisa sekolah lagi itu atas permintaan gua sama koh Alyang! Tau ga luh!!!"
Aku hanya menunduk. Tak sadar bulir airmataku terjatuh kelantai membuat bang Gres menendang meja kecil dalam kost-anku, membuatku melonjak kaget.
"Jangan nangis!! Gua benci cewek cengeng!!!"
Aku segera menyusut airmataku dalam diam dan mata hanya tertumpu pada lantai keramik berwarna putih itu.
"Dan inget!!! Jangan sebut nama MAR didepan gua! Nama lu, RIRI, R-I-R-I. Didepan gua, nama lu Riri, dari Utari...nama belakang lu!... Karena nama Mar itu nama cewek sialan yang pernah nipu perasaan gua waktu gua masih ABG!!!"
Hah?!?!?
Apa hubungannya kalau dia ditipu perasaannya dengan perempuan bernama sama dengan nama depanku ketika dia masih ingusan?
Tapi bibirku kembali kelu. Dan hanya bergaduh suara hatiku.
My Dear Diary...
Ini adalah awal lembaran baruku. Dengan kisah hidupku yang baru. Dan benar-benar memulai langkah yang baru.
Ada rasa senang juga terselip disana. Senang rasanya ada sedikit beban yang terangkat dari hatiku. Bagai bongkahan batu yang telah berkurang dari celah hati yang retak ini. Padahal sesungguhnya aku sama sekali apa yang menjadi bebanku dan mengapa itu seperti beban bagiku.
Setiap pagi, aku dan 4 penghuni kostan kamar yang semuanya perempuan itu berebut kamar mandi untuk kami memulai aktifitas pagi.
Awalnya kami mengalami sedikit gesekan antar sesama warga kost dirumah itu. Hal yang biasa itu. Syukurlah, setelah beberapa hari berlalu.... kami bisa melewati semua itu karena kami tidak ingin merasakan ketidaknyamanan satu sama lain. Alhamdulillah.
Selain kami semua para wanita, kami juga terdiri dari berbagai macam usia. Yang bisa membuat kami saling mulai berkomunikasi dengan dewasa.
Kami akhirnya mencoba membuat jadwal untuk bisa antri menggunakan kamar mandi secara bersama-sama.
My Dear Diary...
Ini adalah hari kedua aku tinggal di kost-an dekat lingkungan sekolah. Masuk sekolah masih 5 hari lagi. Membuatku bisa sedikit berleha-leha dikamarku yang putih bersih dengan selembar kasur busa kecil lengkap bantal dan guling satu-satu.
Tok tok tok !!!!!!!
"Ririe... ini Lyona!"
"Masuk aja kak... Pintunya ga Rie kunci!"
Seorang perempuan berwajah cantik, putih mulus dengan rambut lurus sebahu berusia 21 tahun menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku.
Ya. Dia adalah kak Lyona Selomitha. Penghuni kost disamping kiri aku yang seorang karyawati di sebuah bank swasta tak jauh dari tempat kost kami.
"Hai Rie! Punya pembalut ga?"
Pertanyaannya membuatku termangu. Lalu kubalas senyum dan menggelengkan kepala. Aku tak punya itu.
"Hari pertama datang nih!!! Ga enak banget perutku. Eh, anter ke IndoPasar yuk? Cari camilan, Rie!"
Aku mengangguk senang. Ya. Aku juga ingin membeli beberapa keperluan yang belum kupunya. Selain pembalut juga.
Karena bisa saja, 'bulan' itu datang tiba-tiba...dan kita tak punya persediaan itu sama sekali. Karena kini, semua keperluan harus aku yang handle sendiri.
Waktu di Amih, mama selalu yang siapkan semuanya itu.
Hhhhhh... Aku jadi kangen mama dan juga Amih.
"Rie... Aku tunggu diluar ya, aku ambil dompetku dulu dikamar!"
"Iya ka. Rie juga ganti baju dulu deh!"
Alhamdulillaah... Seiring bertambahnya usiaku, aku mulai bisa memulai komunikasi dengan beberapa kawan baru meski masih terlihat kaku.
My Dear Diary...
Cukup dulu yaa... curhatanku kali ini.
Aku ingin keluar bersama kak Lyona. Salah satu kawan baruku di kost-an ini.
Have anice day, my dear Diary. Aku ingin selalu bahagia mulai saat ini.
Karena bahagia itu sejatinya, datang dari dalam diri sendiri. Betul apa betul???
(Serah lu dah, Mar... wkwkwk Eh Ririe maksudnya)
Bye my Dear Diary... Love you so mucht...
-Martini Salsabila Utari-