NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Begitu pintu utama terbuka lebar dan langkah kaki mereka memasuki ruangan, mata Samantha dan Suci seketika melebar penuh kekaguman. Interior di dalamnya ternyata jauh lebih indah dan rapi daripada yang mereka bayangkan. Lantai keramik mengkilap bersih, dinding dicat putih bersih yang membuat ruangan terasa terang dan lapang, langit-langitnya cukup tinggi sehingga udara terasa sejuk, serta pembagian ruangan yang sangat pas dan teratur. Semua instalasi listrik dan saluran air pun sudah terpasang dengan rapi dan siap pakai.

"Wah... sungguh luar biasa," gumam Suci tak mampu menutupi kekagumannya sambil menoleh ke kiri dan kanan. "Tempat ini jauh lebih sempurna dari bayangan kami."

Tanpa berlama-lama atau menimbang-nimbang lagi, Samantha langsung menoleh ke arah Pak Rio dan Bu Rina dengan senyum lebar serta kepastian yang bulat.

"Pak Rio, Bu Rina... saya sangat menyukai tempat ini. Saya setuju untuk menyewa ruko ini," ucap Samantha tegas. "Untuk perjanjiannya, saya ingin menyewa untuk jangka waktu satu tahun sebagai masa percobaan terlebih dahulu. Mengenai besaran uang sewanya, saya tidak mempermasalahkan apa pun yang Bapak tentukan, karena saya yakin tempat ini sangat layak dan bernilai."

Mendengar kepastian itu, wajah Pak Rio dan Bu Rina langsung berseri-seri penuh kegembiraan. Mereka sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan calon penyewa yang begitu yakin dan menyenangkan sejak pertemuan pertama.

"Baiklah, saya setuju dengan syarat itu," jawab Pak Rio dengan senyum puas. "Satu tahun masa sewa sebagai masa percobaan, dan kita bisa bicarakan perpanjangannya nanti jika kalian merasa cocok. Mengenai harganya, karena ini untuk usaha baik dan kamu adalah adik dari sahabat lama saya, saya akan berikan harga yang sangat pantas dan bersahabat."

Bu Rina pun menimpali dengan gembira. "Terima kasih banyak ya, Samantha, Suci. Kami pun sangat senang sekali ruko ini segera terisi dan digunakan untuk usaha yang bermanfaat. Kami berharap tempat ini membawa berkah dan kesuksesan besar bagi usaha kalian."

"Terima kasih banyak, Pak, Bu. Kami sangat menghargai kepercayaan dan kemurahan hati kalian," ucap Samantha tulus.

Segala keraguan yang sempat ada kini lenyap sepenuhnya. Kesepakatan itu terjalin dengan mudah dan penuh keikhlasan, membuat hati mereka semua merasa lega dan bahagia.

 Setelah membaca dengan teliti isi perjanjian sewa, mereka pun menandatanganinya bergantian. Samantha segera melakukan pembayaran sesuai kesepakatan tanpa ragu sedikit pun. Usai urusan administrasi selesai, Pak Rio merogoh saku jasnya, lalu menyerahkan sepasang kunci ruko itu kepada Samantha dengan senyum tulus.

"Ini kuncinya, Nak. Sekarang tempat ini sudah resmi menjadi tanggung jawab kalian untuk dikelola," ucap Pak Rio lembut. "Semoga usaha salon yang kalian bangun di sini senantiasa lancar jaya, penuh berkah, dan membawa kebahagiaan serta kesuksesan besar bagi kalian berdua. Semoga banyak orang terbantu dan merasa cantik serta percaya diri berkat layanan kalian."

Bu Rina pun menambahkan doa yang sama sambil menepuk pelan lengan mereka. "Aamiin. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan apa pun, jangan ragu untuk menghubungi kami ya."

"Terima kasih banyak atas doa dan kepercayaan Bapak dan Ibu berikan kepada kami," jawab Samantha dan Suci serentak dengan penuh rasa syukur. Mereka pun berpamitan dengan sopan, menyaksikan kepergian Pak Rio dan Bu Rina hingga kendaraan mereka menghilang dari pandangan.

Begitu tinggal berdua saja di depan ruko itu, pandangan mereka beralih ke kunci yang digenggam Samantha, lalu ke bangunan yang kini menjadi milik mereka sewa. Senyum lebar tak bisa ditahan lagi mengukir di wajah keduanya.

"Wah, Sam... kita benar-benar mendapatkannya!" seru Suci penuh kegembiraan. "Tempat ini persis seperti yang selama ini kita impikan. Rasanya mimpi indah ini akhirnya menjadi nyata."

"Benar sekali, Suci," jawab Samantha dengan mata berbinar bahagia. "Kita tidak bisa lebih beruntung dari ini. Sekarang langkah selanjutnya adalah melengkapi ruangan ini dengan segala peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Mulai dari peralatan kecantikan, kursi, cermin, hingga dekorasi yang membuat pelanggan merasa nyaman."

Suci mengangguk mantap. "Ayo kita susun daftar belanjaannya sekarang juga. Aku tidak sabar melihat tempat ini berubah menjadi salon impian kita!"

Dengan hati yang penuh kepuasan dan semangat yang membara, mereka pun bersiap untuk tahap selanjutnya mewujudkan usaha mereka.

Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, melaju menuju pusat perbelanjaan perlengkapan usaha. Suasana hati mereka terasa sangat ringan dan penuh semangat. Di tengah perjalanan, Suci yang duduk di samping kursi kemudi tiba-tiba menyampaikan pemikirannya.

"Sam, selain melengkapi peralatan, kita juga harus mulai memikirkan orang-orang yang akan membantu kita nanti," ujar Suci dengan serius namun antusias. "Kita tidak mungkin mengerjakan semuanya sendirian, kan?"

Samantha mengangguk setuju sambil tetap fokus menyetir. "Kau benar sekali, Suci. Itu poin yang sangat penting. Apa saranmu?"

Suci menata duduknya lebih tegak, menjelaskan rencananya dengan rinci. "Menurutku, kita butuh setidaknya dua orang karyawan yang memang sudah memiliki keahlian khusus di bidang kecantikan. Misalnya menguasai teknik perawatan wajah, penataan rambut, hingga rias wajah. Jadi mereka bisa langsung bekerja dengan baik tanpa perlu pelatihan yang terlalu lama. Lalu, aku juga berencana mencari satu orang khusus yang bertugas menjaga kebersihan. Pastikan orang itu rajin, teliti, dan memang bersih dalam perilakunya, karena kebersihan adalah hal nomor satu yang harus dijaga di tempat usaha kita."

Samantha tersenyum puas mendengar penjelasan sahabatnya. "Rencanamu sangat matang dan masuk akal, Suci. Aku setuju sepenuhnya. Kebersihan dan keterampilan karyawan memang kunci utama agar pelanggan merasa nyaman dan percaya pada kita. Silakan kau urus pencariannya, aku percaya pada penilaianmu."

"Terima kasih sudah percaya padaku, Sam. Aku akan berusaha mencari orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab," jawab Suci lega.

Percakapan mereka terus berlanjut membahas rincian kebutuhan lainnya, membuat perjalanan menuju toko perlengkapan itu terasa lebih singkat karena penuh dengan perencanaan yang menyenangkan.

Sesampainya di tempat tujuan, sambil menunggu barang-barang perlengkapan salon dipersiapkan, Suci duduk sejenak dan mulai menyusun kata-kata untuk pengumuman lowongan kerja di media sosial. Ia menuliskan syarat-syaratnya dengan teliti dan jelas.

"Ini dia, Sam," ucap Suci sambil memperlihatkan layar ponselnya. "Untuk tenaga kecantikan, aku cantumkan syaratnya: harus wanita, memiliki pengalaman atau keahlian di bidang perawatan wajah dan rambut, ramah, jujur, rapi, dan siap bekerja sama dalam tim. Aku juga minta mereka menyertakan portofolio atau bukti keahlian supaya kita lebih mudah menilainya."

Samantha mengintip sekilas dan mengangguk setuju. "Syaratnya sangat jelas dan tepat. Dengan begitu, kita bisa menyaring orang-orang yang benar-benar serius dan memiliki kemampuan yang kita butuhkan."

Suci tersenyum, lalu menambahkan dengan nada lembut, "Khusus untuk petugas kebersihan, aku tidak akan memasang pengumuman umum seperti ini. Aku berencana mencarinya sendiri secara pribadi. Aku ingin mencari seseorang yang mungkin kurang beruntung namun memiliki kemauan bekerja keras mungkin tetangga atau kenalan yang aku kenal jujur dan rajin. Dengan begitu, aku lebih yakin akan sifat dan kebersihannya, sekaligus bisa membantu orang yang benar-benar membutuhkan pekerjaan."

Samantha menatap sahabatnya dengan kagum. "Hati kamu benar-benar mulia, Suci. Itu ide yang sangat baik. Aku sepenuhnya mendukung keputusanmu."

Setelah yakin isinya sudah benar, Suci pun menekan tombol kirim, membagikan informasi lowongan itu ke akun media sosial mereka. Hatinya merasa tenang karena persiapan demi persiapan terus berjalan lancar sesuai rencana.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!