Setiap rumah tangga pasti memiliki yang namanya masalah begitu pun dengan rumah tangga Dian dan Andara.
Karena sebuah kejadian Dian harus menerima kenyataan, bahwa kemungkinannya kecil untuk dia bisa memiliki anak atau bisa hamil lagi! Bagai disambar petir di siang bolong, saat Dian mendengar kenyataan itu.
Tetapi wanita itu tidak kehilangan semangat hidupnya, dia percaya usaha dan doa pasti tidak akan mengkhianati hasil.
Tapi sayang, ujian rumah tangganya tidak sampai di situ, karena saat mertuanya meminta dia untuk mengizinkan suaminya menikah lagi, dia pun dengan terpaksa mengiyakan hal itu.
Sakit, kecewa dan hancur! Tentu saja Dian rasakan, tetapi Dian berusaha tegar menghadapi setiap keadaan sampai pada akhirnya ia lelah dan merelakan semuanya.
Kenapa? Karena dunianya menuntut dia untuk berdamai dengan keadaan, sementara keadaan membunuhnya secara perlahan. Dengan menangis di tengah malam dan tersenyum serta tertawa di pagi hari. Walaupun dia tahu semuanya tidak akan seindah dulu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai pada batasnya.
Apa yang di harapkan Dian ternyata, berjalan tidak sesuai dengan harapannya! Kali ini Andara kembali tidak menghadiri acara Akikahan itu dan hanya mengirim Kevin sepupunya, untuk mewakili dia dan keluarganya, karena di hari yang sama Elana pun tengah berjuang melahirkan putri ketiga mereka.
" Di, maaf ya! AN, tante dan om nggak bisa Hadir! Mereka hanya menitipkan ini dan mengucapkan maaf sebesar-besarnya untuk keluarga kamu." Ucap Kevin sembari menyerahkan paper bag kepada Dian. Dan wanita itu pun, menerimanya sambil memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
Dan sekali lagi Dian kembali melukai hatinya dengan sengaja karena mengharapkan kedatangan Andara. Dian lupa jika orang yang benar-benar tulus akan ada dan akan datang dengan sendirinya tanpa perlu di minta.
Dengan menahan nyeri di dadanya! Dia tersenyum sembari beranikan dirinya untuk bertanya alasan apa yang membuat Andara dan keluarganya tidak bisa datang. " Kenapa? Dia sibuk ya." Tanya Dian dengan bibir bergetar serta mata yang mulai berkaca-kaca dan bergerak gelisah seolah ada sesuatu di dalam matanya yang terasa begitu perih.
" Itu, El masuk rumah sakit! Sepertinya dia akan melahirkan dan Andara harus menemani dia. " Jelas Kevin sedikit gugup.
" Oh, oke." Dian sudah kehabisan kata-katanya, kakinya lemas tapi sebisa mungkin Dian tetap berusaha untuk tegar.
" Kamu nggak papa kan Di." Tanya Kevin saat melihat Dian seperti orang linglung.
" Iya, aku baik-baik saja! Tenang aja aku kuat kok." Sahut Dian. " Kamu nikmati dulu hidangannya aku mau menemui tamu yang lain." Pamitnya! Tapi belum sempat Dian melangkah pergi, Luna sudah lebih dulu menghampirinya sambil mengendong baby Ahyan yang terus saja menangis.
" Mbak, Ahyan nangis terus nih! Kita udah coba bujuk, tetap saja aja dia nangis! Mungkin dia haus, Susui dulu gih." Ucap Luna sembari menyerahkan tubuh mungil itu ke tangan ibunya.
" Iya Lun! Terima kasih ya."
" Sama-sama mbak! Sebaiknya mbak nyusuin dia di kamar aja! Biar enakan duduknya dan nyaman juga." Saran Luna.
" Iya, sekali terima kasih ya Luna, aku ke kamar dulu." Pamit Dian kepada Luna dan berlalu dari sana, Dian bahkan sampai lupa jika Kevin masih berada di situ dan mendengar pembicaraan mereka. Lelaki itu bahkan begitu Terkejut mendengar Pembicaraan Luna dan Dian.
" Kamu siapa? " Tanya Luna. Saat melihat wajah kebingungan Kevin.
" A-aku Kevin! Sepupu dari suami Dian." Jawab Kevin sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Luna, tetapi di abaikan oleh wanita itu.
" Oh pantas aja, kamu kelihatan bingung gitu! Kalau kamu Ingin bertanya sebaiknya tunggu mbak Dian selesai menyusui anaknya! Tapi kalau kamu udah nggak tahan, keliling - keliling aja dulu, siapa tahu kamu menemukan jawabannya. Maaf ya aku tinggal." Tanpa menunggu jawaban Kevin, Luna langsung meninggalkan Kevin sendiri.
Begitu Luna pergi Kevin pun berkeliling hingga langkahnya terhenti tepat di hadapan dua bingkai foto bayi yang di letakkan tidak jauh dari tempatnya dia berdiri bersama Dian sebelumnya.
Dan semakin terkejut lah Kevin dengan kenyataan yang dia lihat saat ini, padahal jelas di undang tertulis hanya satu Nama, yaitu Haiden Syauqi Xavier. Anak dari Dion dan Melly. Tetapi kini yang ada Di hadapannya dua anak laki-laki, dengan Nama keluarga yang berbeda dan nama yang membuat Kevin bertanya-tanya. Ya Ahyan Giovanni Bagaskara. Belum lagi wajah bayi dalam foto itu.
Kevin mengusap wajahnya dengan gusar melirik kesana-kemari, mencari orang yang bisa dia mintai penjelasan atas ini semua.
Bahkan Kevin yang semakin bingung dengan situasi yang ada sudah mencoba untuk menghubungi Andara, tetapi sayang Andara tidak menjawab panggilan dari Kevin. Berulang kali Kevin mencoba terus menghubunginya, tapi hasilnya tetap sama, Andara masih tidak menjawab hingga tepukan di pundaknya, membuat ia menyudahi untuk menghubungi Andara dan menatap kepada orang yang menepuk pundaknya.
" Kenapa?" Tanya Dian sambil menimang-nimang baby Ahyan dalam gendongannya.
" Di di-dia?" Tanya Kevin dengan terbata-bata.
" Dia putra ku." Jawab Dian seadanya tanpa ingin menjelaskan tentang baby Ahyan panjang kali lebar. " Kebetulan kamu masih disini, tolong berikan ini kepada saudara kamu. Katakan padanya aku sudah sampai pada batas kesabaran ku." Sambung Dian lagi sambil menyerahkan Amplop berwarna coklat dengan logo pengadilan di depannya.
"Di apa yang kamu lakukan! Please jangan bawa-bawa aku dalam masalah kalian." Ucap Kevin sambil membuka lebar telapak tangannya dan mengangkat kedua tangannya itu di depan dadanya.
" Ini tidak ada masalahnya dengan kamu! Kamu cukup menyerahkan ini kepada dia itu saja, simpel kan. " Ujar Dian lagi. Wanita itu tetap kekeh memberikan Amplop itu kepada Kevin, sehingga Kevin mau tak mau harus menerimanya.
" Di, kenapa kamu ingin meninggalkan dia! Bukannya kamu sayang banget ya sama dia. Sampai kamu rela di duakan sama dia! Tapi kenapa setelah punya anak. Kamu ingin pergi, apa kamu tidak kasihan dengan anak kamu." Tanya Kevin.
" Tenang aja Vin, anak aku akan baik-baik saja, toh selama dia dalam kandungan sampai detik ini pun dia tumbuh dengan baik tanpa sepengetahuan keluarga kalian. Dan berpisah itu untuk aku dan Andara! Bukan dia dengan Andara. " Jelas Dian, kemudian menunduk untuk mengecup puncak kepala putranya." Jika kamu bertanya kepada aku mengakhiri ini semua, di saat aku begitu sayangnya. Jawabannya simpel, aku hanya ingin mengajarkan kepada saudara kamu. Bahwa yang selalu ada, selalu memaafkan dan selalu diam saat di sakiti juga bisa pergi loh." Lanjutnya, membuat Kevin tidak dapat berkata-kata. Setelah itu Dian memilih meninggalkan Kevin lagi.
Padahal masih banyak yang masih ingin di tanyakan oleh Kevin tetapi Dian sudah di panggil oleh mamanya, untuk menemui tamu yang mencarinya.
Hingga acara Akikahan itu berakhir Dian tidak melihat Kevin lagi, mungkin lelaki itu sudah pulang lebih dulu. Entahlah Dian tidak terlalu memusingkan keberadaan Kevin toh dia bukan anak kecil.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Tanpa sepengetahuan keluarganya, begitu dia keluar dari rumah sakit, Dian langsung meminta orang kepercayaannya untuk menghubungi salah seorang pengacara, untuk mengurus perceraiannya dengan Andara. Dan satu jam sebelum acara Akikahan itu mulai, orang kepercayaannya Dian mengantar amplop dari pengadilan itu, sehingga ia bisa memberikan kepada Kevin untuk di berikan kepada Andara.
Selama ini Dian sudah berulang kali memberikan toleransi kepada Andara, tetapi lelaki itu terus saja mengabaikannya dan semakin tidak menghargai Dian.
Rasanya sudah cukup untuk Dian terus merendahkan harga dirinya demi seorang Andara, dan kini saatnya dia bangkit untuk menata hidupnya. Apalagi sekarang dia punya baby Ahyan yang membutuhkan kasih sayang dan cintanya.
Dian juga tidak mungkin mengambil langkah ini jika hati Andara masih ada namanya di sana, karena sejatinya seorang wanita tidak akan pernah meninggalkan orang yang dia cintai jika tidak ada wanita lain di hatinya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💔💔...
...Lagi mode khilaf....
sekarang nikmati saja penyesalanmu...itu gk sebanding dg penderitaan Diana selama ini