NovelToon NovelToon
Life After Marriage

Life After Marriage

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:738.4k
Nilai: 5
Nama Author: leni septiani

Menikah membutuhkan sebuah kesiapan, karena bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda kelamin, tapi juga menyatukan dua keluarga yang mana di dalamnya akan terjalin silaturahmi yang begitu erat.

Namun kehidupan setelah menikah tidaklah mudah, dimana setiap cobaan silih berganti menghampiri dan keharmonisan tidak selalu terjaga. Percekcokan itu selalu ada, begitu pun dengan pertengkaran akibat sebuah keslah pahaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

“Sepertinya memang aku yang tidak mampu mengerti kamu, Cla.” Birma yang beberapa saat terdiam untuk meredam emosinya agar tidak menyakiti sang istri kembali buka suara, lebih tepatnya ia memilih untuk mengalah. Pikiran dan emosinya sedang tidak stabil saat ini, dan bertengkar dengan Clara bukanlah yang dirinya inginkan.

Menunduk menatap istri cantiknya itu, Birma lalu membuang napasnya pelan, setelah itu mengusap kasar wajahnya dan membawa Clara ke dalam pelukannya. Tanpa ada kata, keduanya sama-sama diam dalam posisi berpelukan. Lebih tepatnya hanya Birma yang memeluk, melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan punggung wanita cantik yang sudah empat tahun menemani hidupnya.

Clara tentu saja bingung, tapi ia juga tidak mampu hanya untuk mengeluarkan suara, entah kenapa untuk kali ini dirinya merasakan hal yang berbeda, dari mulai surat pengunduran diri, kecemburuan tak mendasar suaminya, emosi suaminya yang tidak biasa, dan perkataan terakhir suaminya itu, yang entah kenapa mengusik hati dan pikirannya. Seharusnya ia senang mendengar nada mengalah suaminya, tapi untuk kali ini, Clara merasa hampa, ia merasa bersalah dan Clara tidak menyukai suaminya yang seperti ini.

“Bir...”

“Sekarang aku antar kamu pulang, ya, atau mau ke supermarket? Biar sekalian aku cabut surat pengunduran diri kamu.” Birma memotong ucapan istrinya, melepaskan pelukannya yang sama sekali tidak Clara balas, lalu mengambil jas kerjanya yang tersampir di kepala kursi. Tanpa menatap wajah istrinya seperti biasa, Birma meraih tangan Clara dan membawa wanita hamil itu keluar dari ruangannya.

“Cella, jika ada yang mencari saya, katakan saya keluar sebentar.” Pesan Birma pada sekertarisnya, lalu melangkah bersama Clara yang masih juga tidak membuka suaranya.

Cella sendiri di bingungkan dengan apa yang di saksikannya. Bos serta istrinya yang berubah pendiam itu memberikan kesan horor untuk Cella, hawa di sekitarnya tiba-tiba dingin dan itu membuat Cella bergidik ngeri.

“Mau makan siang dulu gak?” tanya Birma yang fokus pada jalanan di depannya. Clara melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukan pukul 11:15 siang. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa perutnya memang sudah berontak meminta asupan.

“Boleh. Nasi padang biasa,” kata Clara yang di balas anggukan oleh suaminya, dan keadaan di dalam mobil kembali sunyi.

Sejak mereka keluar dari ruang kerja Birma, memang tidak ada obrolan, hingga mereka kini berada di tengah kemacetan, laki-laki yang menjadi suaminya itu pun masih tidak juga mengajaknya mengobrol atau setidaknya berdebat seperti biasanya. Bahkan hanya sekedar lirikan saja tidak ada laki-laki itu berikan, membuat Clara kesal juga heran, namun Clara tidak mampu untuk mempertanyakan mengenai apa yang terjadi pada suaminya itu.

Mulutnya yang biasa tidak terkendali, mendadak kelu hingga mereka tiba di tempat makan Padang yang sudah menjadi langganan keduanya. Dan selama makan pun Clara merasa seolah berada seorang diri, Birma tidak sama sekali membuka suara, bahkan hanya untuk sekedar menatapnya, memarahinya seperti biasa, atau mengomel tiada henti.

Birma-nya kini mendadak anah dan Clara bertanya-tanya mengenai kemungkinan apa yang membuat suaminya menjadi pendiam seperti ini. Clara sebenarnya tidak menyukai suasana sepi seperti ini, apa lagi di saat suaminya diam seolah tidak memedulikannya.

Tak lama menyelesaikan makannya, Clara tak lupa membelikan untuk Leo serta karyawannya di supermarket, setelah itu Birma kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Clara ke tempat kerja, sekaligus Birma pun akan berbicara dengan Leo mengenai pembatalan surat mengunduran diri Clara. Ya, Birma memilih untuk menuruti keinginan istrinya itu, setidaknya ini yang bisa Birma lakukan untuk menghindari pertengkaran. Ia tidak ingin menambah perdebatan dengan istrinya dan semakin membebani pikirannya yang tengah kacau, Birma tidak ingin melampiaskan masalahnya pada sang istri dan berakhir menyakiti wanita yang tengah mengandung anaknya.

Begitu tiba di parkiran supermarket milik Leo, Birma keluar lebih dulu dan tidak lupa membukakan pintu untuk istrinya itu, setelahnya masuk masih tanpa obrolan yang mereka lakukan.

“Birma...”

“Aku temuin Papi dulu sebentar.” Birma memotong ucapan Clara, dan hendak pergi meninggalkan perempuan itu di ruang kerjanya, tapi Clara lebih cepat menarik ujung jas yang Birma kenakan, membuat langkahnya terhenti.

“Kamu marah?” cicit Clara pelan, penatap punggung kokoh suaminya itu.

Terlebih dulu Birma menarik dan membuang napasnya, sebelum kemudian berbalik dan menatap istrinya yang terlihat sendu. “Aku gak marah.” Birma berucap lembut.

“Kamu marah, Bir, aku tahu! Ka...”

“Aku gak marah sayang,” Birma lagi-lagi memotong ucapan istrinya. Mengusak rambut perempuan cantik itu, lalu memberikan senyum lembutnya. “Aku gak marah.” Sekali lagi Birma mengatakan itu untuk meyakinkan sang istri yang kini sudah berkaca-kaca.

“Terus kenapa kamu diemin aku dari tadi?” isakan kecil mulai terdengar, membuat Birma sedikit merasa bersalah. Tanpa mengatakan apa-apa, Birma menarik istrinya itu ke dalam pelukan, melayangkan beberapa kecupan di puncak kepala Clara, setelah itu mengurai pelukannya dan menyeka pipi tembam itu dari air mata yang mengalir.

“Aku minta maaf, ya, sayang.” Hanya kata itu yang bisa Birma ucapkan, dengan senyum yang di paksakannya, lalu kembali melayangkan satu kecupan di kening Clara yang kini menatap suaminya dengan kening mengerut, semakin aneh pada sikap Birma yang tidak sama sekali Clara kenali.

“Birma, kamu lagi ada masalah?” tebak Clara dengan mata memicing curiga.

“Sok tahu!” satu sentilan Birma berikan pada kening istri cantiknya itu. “Aku harus kembali ke kantor, kamu hati-hati kerjanya, jangan terlalu kecapeaan. Dan ingat jangan nakal!” Birma memperingati. “Nanti kamu pulang bareng Papi, ya, aku harus lembur hari ini. Gak apa-apa 'kan?”

“Iya gak apa-apa, tapi jangan terlalu malam.” Kata Clara sedikit merengek, tidak rela sebenarnya mengizinkan pria itu pulang telat karena sudah di pastikan bahwa dirinya akan kesepian di rumah.

Birma tersenyum, lalu mengangguk. “Kalau begitu aku temui Papi dulu sekarang. Ingat jangan terlalu kecapean, kasihan jagoan kita!” sekali lagi Birma berpesan sekaligus memperingati istri cantiknya, lalu memberikan secupan singkat pada perut istrinya dan berlalu meninggalkan Clara yang masih kebingungan dengan sikap suami tampannya itu.

Rasanya Clara ingin kembali mencegar pria itu pergi, tapi ia tidak tahu harus memberi alasan apa untuk suaminya tetap tinggal, di tambah dengan ucapan suaminya yang mengatakan akan lembur, membuat Clara yakin bahwa mungkin suaminya itu tengah memiliki banyak pekerjaan.

Clara sudah seharusnya memahami itu dan bisa di pastikan juga bahwa sikap aneh suaminya hari ini ada hubungannya dengan pekerjaan. Mungkin Birma terlalu lelah. Namun entah kenapa Clara merasa bahwa suaminya masih marah mengenai becandaannya tempo hari, tapi ya sudahlah, sepertinya ia hanya terlalu banyak berpikir. Biar masalah yang tadi ia bicarakan lagi nanti.

***

TBC...

1
Suhaida Ghani
hebat ceritanya
si kece
justru yg begini yg menakutkan, diam2 menghanyutkan.
si kece
hadehh.. makanya apa2 jgn pendem sendiri, utarain ke suami. laki2 kan memang sering tdk peka, bkn jg mereka dukun yg bs tau isi hati manusia..
Fransiska Siba
Clara juga egois dalam keadaan marah. tp tidak mau kasih tahu kekesalannya bagaimana Birma mau tahu kesalahannya. kalau kamu kasih tahu pasti Birma menjauhi Dinda dan kamu tidak berlanjut cemburu begitu.
tp krn kamu tidak kasih tahu jadi silahkan saja berlanjut kemarahanmu itu sampai mati.
aku aja kesal sama Clara, meskipun Birma salah
Susi Susilawati
di tunggu karya terbaru nya lho mba Leni
Aminuddin Marpaung
Umai Kak....maaf saya baru nemu ini lg....trims Kak....
Nurwana
itulah kekuranganmu Birma krna kurang tgas. tp ingat Birma, jgn smpai gara gara sifatmu yg tdk tgas itw org yg kamu sayang dpt terlpas dri genggamannu.
Euis Jubaedah
kangen bangetttttttttt
Erma Marliany
akuu msh blm bisa move on dr rapa & cleona 😍😍😍 ngarep nya sih ada sesion 2 gth 😘😘😘
࿇ℕ_ℚєєLค✿࿐ 🅟🅖 ☄
udah end Thor ini nggak ada ektra part lagi keknya debay nya belum dikasih nama deh🙊
࿇ℕ_ℚєєLค✿࿐ 🅟🅖 ☄
nah betul itu kata ayah pandu atu emang harus dikasih tau dari pada tau dari orang lain nanti malah berabe
Weni Wulandari
ceritanya cela ama bram gk ada ya thor? kalo ada pasti seru bngt thor
Ayu Arthamobilindo
up thor
Ayu Arthamobilindo
dasar birma
Ayu Arthamobilindo
SE x x kerjain ibu hamil boleh y
Ayu Arthamobilindo
Calla hebat👍👍👍👍
Ayu Arthamobilindo
impas y bir
Ayu Arthamobilindo
kapok Lo Birma
Ayu Arthamobilindo
sompelak nya lyra itu
Ayu Arthamobilindo
sdh sdr birma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!