DALAM TAHAP REVISI
"kenapa kamu ngikutin saya terus? Kamu gak punya malu hah!! " bentak Devan .
"Aku cuma lindungi bapak dari buaya-buaya betina" ujar Dinda sambil mengedipkan matanya genit pada Devan.
"Kamu itu cuma sekretaris saya, jadi tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi saya" ketus Devan dan pergi meninggalkan Dinda yang menatap sendu pada pria tersebut.
Dinda Rosalin gadis berumur 23 tahun , berusaha untuk mengejar cinta bosnya yang merupakan CEO di perusahaan Alvian's grub. Devan Ardiansyah pria dingin , cuek dan galak itu tidak memperdulikan Dinda yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Devan tidak bisa membuka hatinya, karna mencintai seorang wanita yang bernama Asyilla istri dari sepupunya membuat dia susah untuk menerima wanita lain dalam hatinya.
Hingga suatu hari Devan terpaksa menikah dengan Dinda , karna suatu peristiwa.Dan peristiwa itu membuat rasa cinta dihati Dinda berubah menjadi rasa benci yang mendalam pada Devan.
Peristiwa apa yang membuat Dinda membenci Devan?. Dan juga membuat mereka terikat dengan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elra:Cuek namun peduli
Kara menangis di dipelukan Revin, setelah dokter mengatakan bahwa rahim Kara harus di angkat. Kara mengidap penyakit kangker rahim,sudah lama dan Revin baru tau ketika Kara menceritakannya.
Dan ini alasan kedua orang tua Revin menolak, putranya menikah dengan Kara. Karna takut tidak bisa memberikan keturunan pada mereka, sedangkan Revin putra tunggal mereka Satu-satunya . Mereka tau Kara mengidap penyakit kangker rahim setelah Revin menceritakannya.
"Sudah jangan nangis , aku akan tetap nerima kamu apa adanya meski kamu tidak akan memberikan keturunan untuk aku " ujar Revin.
"Tapi orang tua kamu tetap gak akan terima aku Revin" lirih Kara.
"Sudah jangan nangis yah, kamu harus tetap dioperasi karna dokter bilang bahaya bila di biarkan ok. Kamu tenang aku akan tetap akan menikahi kamu walau tidak bisa memberikan keturunan untuk aku " ujar Revin menghapus air mata Kara dan memeluk gadis itu.
"Ayo, kita pulang " ajak Revin
******
Elsa duduk di halte dengan baju yang basah akibat kehujanan tadi. Dia belum pulang atau pergi ke butik karna hujan deras, tidak ada kendaraan atau mobil yang lewat. Wanita itu memeluk dirinya sendiri karna kedinginan dengan tubuh gemetar.
"Deddy, Elsa kedinginan hikss... " tangis Elsa pecah,dia memang gadis yang manja apapun yang terjadi padanya selalu memanggil deddynya.
Hari sudah mulai gelap ,hujan seakan tidak mau berhenti.
Jedarrrr
Suara petir yang mnyambar dengan suara keras membuat Elsa ketakutan setengah mati.
"Deddy , Elsa takut hiks... tolong jemput Elsa hiks.... " Elsa menutup telinganya dengan tubuh gemetar, karna dia sangat takut dengan suara petir.
"Kenapa kau masih ada disini! "
Suara bariton membuat Elsa mendongak menatap orang tersebut dan memeluknya erat .
"Revin ,aku takut hiks... "
Pria itu bisa merasakan tubuh gemetar Elsa dan air mata yang membasahi bajunya.
"Sekarang lepaskan pelukan kamu " ujar Revin.
"Gak mau, aku takut" kekeh Elsa memeluk Revin erat.
"Elsa! Lepas!! " bentak Revin, membuat Elsa melepaskan pelukannya pada Revin dengan wajah ketakutan.
Pria itu melepaskan jaket yang melekat ditubuhnya dan menutupi tubuh Elsa , karna baju gadis itu basah dan pasti dia juga kedinginan. Elsa kembali memeluk tubuh Revin erat.
"Sekarang masuk mobil " titah Revin , mereka berjalan menuju mobil.
"Masuk " ujar Revin membukakan pintu mobil untuk Elsa. Wanita itu masuk kedalam mobil tersebut.
"Revin, aku kedinginan tolong matikan AC mobilnya" ujar Elsa.
Revin mematikan AC mobil dan mulai menjalankannya.
"Kenapa kamu masih disitu? " tanya Revin
"Aku kehujanan, terus gak ada satupun kendaraan atau mobil yang lewat" ujar Elsa.
Untung dia pulang lewat jalan ini setelah mengantar Kara. Bila tidak dia tidak tau nasib gadis disebelahnya ini akan jadi apa.
******
Pagi-pagi sekali Dinda sudah berkutat di dapur, dia memasak nasi goreng untuk Devan.
"Non Dinda, biar bibi yang masak" ujar bi Ina.
"Gak usah bi , aku mau buat nasi goreng yang spesial buat mas Devan. Bibi ngerjain yang lain aja ok" ujar Dinda.
Wanita itu mulai memasak nasi goreng spesial untuk suaminya. Dia memotong bawang dan sosis hingga tak sengaja jari telunjuknya terluka akibat terkena pisau.
"Aww, sakit " jerit Dinda ketika jarinya terluka, wanita itu membersihkan lukanya di wastafel, dan memperban luka jari di telunjuknya.
Dinda kembali melanjutkan memasak nasi goreng, mengikuti intruksi di video.
"Bibi Ina, ada ikan asin gak? " tanya Dinda pada bi Ina yang sedang melap meja.
"Gak ada non Dinda" jawab bi Ina.
"Ya sudah gak papa" ujar Dinda, kembali memasak nasi gorengnya.
Dinda menatap bangga pada hasil masakan nasi gorengnya, sambil melap peluh di dahinya.
"Bibi sini " panggil Dinda pada bibi Ina.
"Iya, ada apa non? " tanya bi Ina.
"Bagus gak aku nata nasi gorengnya? " tanya Dinda.
"Bagus non, non Dinda pintar natanya"puji bi Ina.
Dinda tersenyum senang mendapat pujian dari bi Ina.
" Bibi cobain nasi goreng buatan aku "ujar Dinda.Mengambil nasi goreng yang lebihan tadi dan menyuapi bi Ina.
" Bibi, gimana rasanya ? Enak gak? "tanya Dinda.
" A-asin non, nasi gorengnya "ujar bi Ina yang ingin muntah dengan rasa nasi goreng yang asinnya ngalahin ikan asin.
" Yeyyy!!!"Dinda bersorak sambil bertepuk tangan senang.
"Memang sengaja! Kan gak ada ikan asin jadi garamnya aku banyakin supaya asin ,bi " ujar Dinda. Karna Devan bilang dia suka makan nasi goreng ikan asin.
Bi Ina hanya tersenyum paksa, dengan pemikiran majikannya.
Devan menuruni tangga dengan setelan seragam kantor.Dinda mendekat kearah Devan yang sudah turun dari tangga.
"Mas, aku buat nasi goreng buat kamu lho" ujar Dinda menarik tangan Devan ke meja makan.
"Taraaa!! Ini spesial buat kamu, ayo cobain mas" ujar Dinda. Devan duduk di bangku dan menatap penampilan nasi goreng yang terlihat meyakinkan.Dinda duduk di bangku sebelah Devan sambil menopang dagu menatap suaminya.
Devan menyuap ke mulutnya saat mengunyah dia membelalakkan matanya, rasa nasi gorengnya sangat asin, dan Devan lebih berasa memakan garam . Pria itu menatap Dinda yang terlihat tersenyum. Devan hanya tersenyum kaku.
"Gimana enak gak? " tanya Dinda tak sabar dengan jawaban Devan.
"R-rasanya asin sayang " ujar Devan jujur.
"Iya, memang asin, garamnya aku masukin tiga sendok . Karna gak ada ikan asin mas" ujar Dinda tersenyum.
Devan tercengang dengan kebodohan istrinya, sepertinya otak Dinda agak lemot, membuat dia salah mengambil kesimpulan.
Bersambung...
Devan sama Dinda aku ganti panggilannya gak mimi, pipi lagi. Tapi panggilan normal aja. Demi kenyamanan para pembaca😇