Ling Jin. Seorang pemuda yang diasuh oleh dua leluhur dewa semenjak masih bayi di dalam sebuah jurang dan diangkat menjadi cucu mereka.
Semua orang mengira dia tidak memiliki dantian sehingga membuatnya merasa tidak berguna. Namun dia memiliki tekad yang kuat serta semangat yang besar demi menggapai apa yang dia inginkan. Cerita kehidupannya berubah setelah segel dantiannya terbuka.
Dia berjalan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi dia adalah rajanya kegelapan dan di sisi lain dia juga menjadi cahaya.
Ling Jin mengarungi lautan darah demi mencapai puncak kekuatan kultivator. Bahkan jika langit menentangpun dia akan melawannya.
"Aku tidak tunduk pada takdir, takdirlah yang harus tunduk padaku."
"Aku tidak bergantung pada keberuntungan, karena akulah keberuntungan itu."
-Ling Jin.
Bagaimanakah kisahnya?
Ikuti perjalanannya dalam novel God Emperor (Ling Jin).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ling Jin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain Peran
Sebelumnya.
Di sebuah dunia buatan, seorang pemuda berambut hitam yang panjangnya mencapai punggung, bermata emas dan mempunyai tanda bunga lotus emas di keningnya sedang melayang dengan tenang dan bersiap mengeluarkan jurusnya.
Hantaman Dewa Ibliiiisss!!!
Sebuah bola energi yang mengandung elemen kegelapan dengan diselimuti kobaran api hitam dan percikan darah yang berderak-derak, muncul di atas kepala pemuda itu. Bola energi tersebut perlahan membesar dan berdengung dengan kencang.
WHUUUUUUNGGG!!
Kedua mata emas pemuda itu menatap sebuah gunung berukuran besar dan kokoh yang berada tak jauh dari tempatnya melayang. Tanda bunga lotus emas bersinar sangat terang. Kedua tangan pemuda itu menengadah ke atas. Setelah merasa cukup, pemuda tersebut berteriak dan melesatkan bola energi ke arah gunung,
Hyaaaaaa!!!
Bola energi berhenti berdengung untuk sesaat, kemudian melesat dengan cepat menuju ke arah gunung.
WHOOOOOSSSSS!!
BOOOOOOMMMM!!!
Dentuman ledakan yang sangat mengerikan terjadi saat bola energi menghantam gunung tersebut. Seluruh bagian dunia buatan bergoncang. Gunung itu hancur dan lenyap tak tersisa. Namun anehnya, setelah beberapa saat gunung itu muncul kembali dalam keadaan utuh seperti saat sebelum meledak dan hancur.
Hooosshh hoooshhh hoooossshhh.
Pemuda itu terengah-engah. Nafasnya memburu. Dadanya terlihat naik turun. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya yang dalam keadaan telanjang dada. Setelah mengatur nafasnya, dia menghilangkan tanda suci bunga lotus emas di keningnya lalu perlahan pemuda itu turun dan menapakkan kakinya.
Wajahnya sangatlah tampan rupawan, dengan mata berwarna emas, bibir yang merah merekah dan kulit yang putih dan sangat halus, siapapun yang melihatnya pasti akan memelototkan mata karena terpesona dengan ketampanannya yang tidak manusiawi.
Huufff.
“Jurus Hantaman Dewa Iblis memang sangat mengerikan.”
Ling Jin. Selama lima tahun ini berlatih dengan sangat keras untuk menguasai jurus-jurus yang terdapat di dalam kitab Dewa Iblis. Rambutnya berubah menjadi hitam akibat mempelajari jurus-jurus dalam kitab Dewa Iblis. Atas saran Qing Long, Ling Jin berlatih di dalam dunia buatan yang diciptakan Shen Ling sebelum pergi dan dimasukkan ke dalam kalung Ling Jin.
Perbandingan waktu antara dunia buatan dengan dunia nyata adalah dua banding satu. Dalam artian waktu dua hari di dunia buatan sama dengan satu hari di dunia nyata. Tekanan gravitasi di dunia buatan juga tiga kali lipat lebih berat daripada dunia nyata. Jadi Ling Jin telah berlatih selama sepuluh tahun di dunia buatan.
Ling Jin merebahkan dan merentangkan tubuhnya karena lelah.
“Hah. Tak kusangka mempelajari kitab Dewa Iblis tidaklah mudah. Walaupun aku memiliki Shenghuo Quan, namun nyatanya aku masih harus berjuang keras untuk menguasai kitab Dewa Iblis,” gumam Ling Jin. Dia telah menguasai jurus yang ke enam dari keseluruhan tujuh tingkatan jurus, yaitu Hantaman Dewa Iblis.
Selama sepuluh tahun berlatih di dalam dunia buatan, Ling Jin telah mencapai tingkatan pendekar pertapa tahap awal. Meskipun begitu, dengan kekuatan fisiknya yang sangat kuat, dantian alam dan jurus-jurus kitab Dewa Iblis, dia mampu bertarung imbang melawan pendekar yang tingkatannya dua tahap di atasnya.
Setelah meredakan rasa lelahnya, Ling Jin menghilang dari dunia buatan dan muncul di hadapan Qing Long.
“Sudah kau kuasai jurus itu?” Qing Long bertanya sambil mengibas-ngibaskan kipasnya.
“Sudah. Hantaman Dewa Iblis memang sangat dahsyat. Tapi juga membutuhkan qi yang cukup besar, sebenarnya aku ingin langsung mempelajari dan menguasai tahap terakhir dari kitab Dewa Iblis, namun kekuatanku belum cukup untuk mempelajarinya” jawab Ling Jin.
“Sudahlah. Masih ada waktu untuk mempelajarinya. Pelan-pelan saja dulu. Lagipula dengan kekuatanmu yang sekarang, kau termasuk kultivator yang paling kuat di seluruh dunia tengah ini,” ucap Qing Long.
Ling Jin menganggukkan kepalanya.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Qing Long lagi.
“Entahlah. Aku ingin keluar dari jurang untuk melihat keadaan ayah dan Lin’er. Namun aku ingin keberadaanku tidak diketahui oleh orang-orang yang mengenalku,” jawab Ling Jin.
Qing Long berpikir sambil memainkan kipasnya. Sesaat kemudian,
“Aku ada ide,” ucapnya.
“Apa idemu?” tanya Ling Jin dengan penasaran.
“Kau bersihkan dulu tubuhmu, setelah itu akan aku beritahu ide itu.” Qing Long berkata sambil mengibaskan tangannya mengusir Ling Jin.
“Tch. Memberitahu sekarang apa susahnya. Menyebalkan,” gerutu Ling Jin kemudian menghilang dan muncul di sungai tempat biasa dia membersihkan diri.
Qing Long hanya terkekeh melihat Ling Jin kesal. Kemudian dia melakukan gerakan tangan yang terlihat rumit. Lalu tiba-tiba muncul sebuah topeng berwarna hitam legam melayang di hadapannya.
“Sempurna.”
Setelah beberapa waktu, Ling Jin muncul kembali di dalam jurang dengan memakai jubah baru berwarna hitam yang menambah ketampanannya.
Qing Long menyerahkan topeng itu kepada Ling Jin.
“Kau pakailah topeng ini,” ucap Qing Long.
Ling Jin terheran mendengarnya.
“Kenapa aku harus pakai topeng?” tanyanya dengan penasaran.
“Haisss. Meski mata dan rambutmu telah berubah, dengan wajahmu ini semua orang yang melihatnya pasti akan pingsan karena takut (kagum). Lagipula jika ayah dan adikmu itu melihatmu, mereka pasti akan merasa pernah melihatmu sebelumnya dan itu akan mengacaukan rencanamu untuk menyembunyikan identitasmu,” jelas Qing Long.
“Untuk itu kita akan bermain peran,” imbuhnya.
“Bermain peran?” Ling Jin mengerutkan keningnya.
“Iya bermain peran. Aku menjadi tuan muda yang tampan, tenang dan penuh wibawa. Sedangkan kau akan berperan sebagai pengawal pribadiku. Dengan topeng hitam itu, akan menambah kesan misterius yang ada pada dirimu,” jelas Qing Long.
“Kenapa tidak kau saja yang jadi pengawal pribadiku? Aku berperan sebagai tuan muda bertopeng yang misterius,” timpal Ling Jin.
“Hah. Kalau tidak mau terserah. Aku akan mengumumkan bahwa kau adalah Ling Jin.” Qing Long berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berpura-pura sedih.
“Dasar licik. Baiklah, kau menang,” kata Ling Jin dengan wajah kesal kemudian memakai topeng hitamnya.
“Baguuus!” timpal Qing Long bersemangat.
“Baik. Mulai sekarang aku akan memanggilmu topeng hitam,” imbuh Qing Long.
“Yaaaa. Terserah kau saja,” sahut Ling Jin dengan malas.
“Baiklah, sebelum itu kau harus menekan kekuatanmu sampai tingkat pendekar bumi tahap awal, sedangkan aku akan menekan kekuatanku hingga tingkatan pendekar master tahap puncak,” kata Qing Long.
“Kenapa harus menekan kekuatan kita? Bukankah sia-sia aku berlatih keras selama ini?” Ling Jin merasa heran mendengar perkataan Qing Long.
“Ssstttt. Pengawal pribadi tidak membantah perintah dari tuan mudanya. Lagipula, bukankah akan sangat menyenangkan membuat lawan merasa terbang di langit lalu menguburnya dalam-dalam,” ucap Qing Long dengan senyum licik.
“Tak kusangka kau lebih licik dari patriak Mu Bai. Baiklah aku ikuti permainanmu,” kata Ling Jin.
“Eiits. Itu namanya bukan licik, tapi cerdik. Cerdik dan licik itu berbeda tipis,” timpal Qing Long sambil mengibas-ngibaskan kipasnya.
“Yaaaaa. Suka-suka kau saja,” jawab Ling Jin.
Kemudian mereka berdua menekan kekuatan dan aura mereka, Ling Jin menekan kekuatannya sampai tingkat pendekar bumi tahap awal, sedangkan Qing Long sampai pendekar master tahap puncak.
“Bagus. Kita berangkat sekarang,” kata Qing Long.
Ling Jin menganggukkan kepalanya.
Lalu sekejap kemudian mereka menghilang dari dalam jurang dan muncul di dekat sebuah kota yang cukup besar. Qing Long dan Ling Jin segera berjalan menuju kota itu.
Terlihat di depan gerbang pintu masuk, banyak orang yang mengantri untuk masuk ke dalam kota itu. Qing Long dan Ling Jin melihat papan yang besar di atas gerbang itu yang bertuliskan,
Kota Dongnan.
Qing Long dan Ling Jin turut ikut mengantri untuk masuk ke dalam kota. Setelah beberapa waktu mereka mengantri, tibalah giliran mereka untuk masuk ke dalam kota.
“Tuan, biaya untuk masuk ke kota Dongnan satu koin emas untuk satu orang,” kata salah seorang prajurit yang bertugas.
Qing Long mengeluarkan satu koin kristal dari dalam cincin ruangnya.
“Ini, biaya masuk untukku dan pengawalku,” kata Qing Long sambil mengibas-ngibaskan kipasnya.
“Tuan, ini???” Prajurit itu terkejut saat menerima koin kristal itu. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini dia memegang koin kristal.
“Ambillah kembaliannya yang tidak seberapa itu.” Qing Long memainkan perannya dengan sangat sempurna.
Terdengar suara gerutuan dari belakangnya yang tak lain adalah suara Ling Jin.
“Tch. Memakai uang orang seenak jidat.”
Ya, cincin ruang yang dipakai Qing Long adalah milik Shen Ling yang di dalamnya terdapat puluhan gunungan koin kristal yang ditinggalkan Shen Ling untuk Ling Jin. Qing Long bisa menggunakan cincin itu karena dia telah diberi sedikit kekuatan jiwa Shen Ling.
Saat ini Ling Jin adalah orang yang paling kaya di benua tengah. Tidak, lebih tepatnya di seluruh dunia tengah. Kalung Ling Jin juga telah dimasukkan ke dalam cincin ruang itu untuk menyembunyikan identitasnya.
Qing Long menaikkan jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan kiri tanda menyuruh Ling Jin untuk diam.
“Terima kasih tuan, terima kasih. Silahkan masuk tuan, semoga perjalanan tuan menyenangkan,” ucap prajurit itu sambil membungkukkan badannya berkali-kali.
Qing Long menganggukkan kepalanya lalu berjalan memasuki kota diikuti Ling Jin di belakangnya.
Sesampainya di dalam kota Dongnan, tampak suasana di kota itu ramai dengan berbagai kegiatan penduduk. Banyak orang yang bertransaksi jual-beli, ada yang sedang mengobrol, ada juga yang sedang makan di tempat-tempat makan di pinggir jalan.
Qing Long dan Ling Jin berjalan menyusuri kota Dongnan. Setelah berjalan selama beberapa waktu, mereka melihat kerumunan orang tak jauh di depan mereka.
“Jin. Emm bukan, maksudku topeng hitam, ayo kita ke sana. Sepertinya sedang terjadi sesuatu,” kata Qing Long kemudian beranjak menghampiri kerumunan itu diikuti oleh Ling Jin (ah tidak, maksud author topeng hitam).
Sesampainya mereka di sana, terlihat seorang pemuda berambut merah yang seluruh tubuhnya diselimuti petir dan seorang gadis dengan ekspresi wajah yang sangat dingin, berdiri berhadapan dengan empat orang. Seorang pemuda angkuh, seorang gadis dan di belakangnya dua orang pria paruh baya yang bertampang bengis.
Saat melihat pemuda berambut merah dan gadis dengan ekspresi wajah dingin itu, tubuh topeng hitam bergetar. Tatapannya nanar saat melihat mereka berdua.
Pemuda berambut merah itu menghampiri pemuda angkuh di depannya dan berlari dengan cepat lalu melayangkan tinjunya yang berbalut petir yang berderak-derak ke wajahnya.
Namun sebelum mengenai sasaran, seorang pria paruh baya yang berdiri di belakang pemuda angkuh tersebut memajukan telapak tangannya. Hempasan energi berelemen angin mengenai dada pemuda berambut merah dan menghempaskannya hingga menabrak dan menghancurkan sebuah gerobak.
“Kak Chun!” Gadis dengan ekspresi dingin terlihat sangat cemas.
“Lin’er, Chun,” gumam topeng hitam lirih.
Tak berapa lama kemudian, pemuda berambut merah berdiri dan bersiap kembali untuk bertarung dengan salah seorang pria paruh baya yang menyerangnya yang diketahui adalah pengawal pemuda angkuh dan gadis di sampingnya. Pria paruh baya itu bersiap untuk menerjang pemuda berambut merah.
Qing Long tersenyum.
“Kau kendalikan dirimu dulu, biar aku yang memulai permainannya.” Qing Long berkata kepada topeng hitam kemudian berjalan menuju ke tengah-tengah kerumunan.
“Ckckckk. Sudah wajahnya aneh, menindas yang lebih lemah. Sangat tidak tahu malu.”
kok ini blm sich kapan jd kuatnya