KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Diperjalanan menuju villa, cakra meminta adiknya untuk mencarikan tiket pesawat penerbangan malam itu juga, sementara dirinya tetap berkonsentrasi mengemudi sambil menenangkan Rangga yang duduk di sebelahnya bersama dengan Retno.
"Nanti uncle akan hubungi teman uncle untuk menanyakan kondisi Uti ya" Cakra mengelus kepala Rangga dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memagang stir kemudi.
Tiba di villa cakra menepati janjinya, ia mencoba menghubungi dokter yang menangani ibu mertua retno untuk mengetahui detail kondisi ibu mertua retno saat ini.
Setelah mendapatkan informasi yang akurat, dengan berat hati cakra memyampaikan jika ibu mertuanya sedang berada di ruang ICU dalam kondisi kritis.
"Uti.. hiks.."Rangga menangis histeris sambil memeluk erat uminya.
"Uti pasti sembuh, Rangga bantu doakan ya." Cakra kembali menenangkan Rangga, dengan mengelus punggung bocah itu dengan lembut kemudian ia mengambil Rangga dari pelukan Retno dan memangkunya "Saat ini Uti butuh doa dari Rangga, jadi Rangga bantu doakan Uti ya" Cakra menghapus linangan air mata rangga yang membasahi wajahnya.
Secara perlahan Rangga berangsur tenang, kemudian Cakra mengembalikan rangga pada Retno "Kamu temani Rangga saja dulu, biar aku bantu kamu merapihkan barang-barangnya." ucap cakra kepada retno.
"Tapi mas..."
"Sudah tidak apa-apa, kamu duduk saja di sini bersama Rangga" Cakra melangkahkan kakinya menuju kamar Rangga dan Retno
Dengan dibantu baby sitter Rama dan juga Lentera semuanya bahu membahu membereskan barang-barang dan bersiap untuk berangkat menuju bandara.
Bukan perkara yang mudah membawa dua orang anak dalam perjalanan yang cukup jauh, jadi bisa di pastikan jika barang bawaan mereka sangat banyak.
"Oke semuanya beres." ucap cakra setelah menaruh semua koper kedalam mobil.
"Yuk sama uncle!" Rangga menggendong rangga dan memangkunya duduk di depan bersamanya di sebelah supir.
"Uti akan baik-baik saja, teman uncle yang sedang menangani uti adalah dokter yang sangat hebat" Cakra mengelus kepala rangga dengan lembut, ia juga mengecup kepala rangga.
"Jangan sedih lagi ya!" Cakra menghapus sisa air mata di sudut mata rangga, rangga menganggukan kepalanya.
Cakra mengambil tabnya kemudian mengajak rangga bermain game super mario, tak butuh waktu lama, tawa ceria rangga kembali lagi ketika ia memenangkan permainan.
Dari bangku belakang, retno tersenyum melihat tawa ceria putra sulungnya. Ia sangat berterima kasih kepada cakra yang selalu ada dan membantunya di saat-saat terberat dalam hidupnya.
Tiba di bandara mereka langsung bergegas untuk check in karena waktu penerbangan sudah sangat mepet.
Butuh waktu 1jam 10 menit untuk bisa tiba di Yogyakarta International Airport. Malam semakin larut cakra meminta adiknya untuk mengantar rangga dan rama pulang ke rumah bersama dengan baby sitternya, sementara dirinya mengantar retno ke rumah sakit untuk melihat ibu ratih, mertua retno.
Awalnya rangga menolak untuk pulang, ia ingin ikut bersama uminya menjenguk utinya, namun baik cakra maupun retno sama-sama memberi pengertian kepada rangga agar rangga mengerti.
"Uncle ke rumah sakit untuk memeriksa uti, sedangkan umi ke rumah sakit untuk mengurus administrasi. Jam besuk di rumah sakit sudah selesai, jadi tidak ada lagi yang datang untuk membesuk" Ucap cakra sambil mengelus kepala rangga.
"Benar apa yang di katakan uncle, lagi pula jika mas ke rumah sakit adek di sendirian, nanti adek pasti cari mas rangga. Mas rangga ke rumah sakitnya nanti pagi saja sama adek, nanti umi jemput." Sambung retno.
"Baik umi." Rangga mencium tangan retno dan cakra secara bergantian kemudian ia masuk ke dalam taxi bersama dengan lentera.
"Titip anak-anak ya, ra." Ucap retno.
"Ia mba, aku pulang dulu ya." Lentera pun masuk ke dalam taxi, kemudian menyuruh supir taxi tersebut mengantar ke alamat yang ia berikan.
Setelah taxi tersebut tak terlihat lagi, barulah cakra dan retno bergegas pergi ke rumah sakit, dalam perjalanannya menuju rumah sakit retno tak dapat lagi menyembunyikan wajah cemasnya.
"Minumlah, agar kamu lebih tenang." Cakra memberikan sebotol air mineral kepada retno.
Perlahan cakra mendengar isak tangis keluar dari mulut retno, jika tadi di hadapan rangga retno berusaha untuk tegar namun kini air matanya tak dapat lagi ia tahan. Cobaan demi cobaan terus datang bertubi-tubi kepadanya, membuatnya terkadang merasa hidupnya begitu tidak adil.
"Menangislah, samapai kamu merasa puas." Cakra memberikan tisu untuk retno mengelap air matanya, ingin rasanya ia memeluk wanita yang berada di hadapannya untuk menenagkan hatinya, namun ia sadar akan kapasitasnya yang hanya seorang teman.
"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, aku akan selalu di sampingmu"
"Terima kasih mas cakra"
Setelah tangisan retno mulai reda, cakra mengajak retno masuk ke dalam rumah sakit, keduanya langsung bergegas menuju ruang ICU.
Daru kejauhan Retno melihat ibundanya bersama dengan ajeng sedang menunggu di depan ruang ICU, ajeng merupakan saudara sepupu retno sekaligus staff marketingnya di kantornya.
"Bagaimana kondisi ibu?" tanya retno.
"Masih belum ada perubahan."Jawab ajeng sambil menundukan kepalanya.
"Mas cakra, aku boleh masuk jenguk ibu?" Retno beralih ke cakra.
"Aku konfirmasi dulu untuk meminta izin dokter yang berjaga di dalam, karena jam besuknya sudah habis, takut mengganggu pasien" Ucap cakra, retno menganggukan kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa jantung ibu bisa kumat?" tanya Retno.
"Maafkan aku Retno, semua ini salahku." ucap Ajeng dengan raut wajah ketakutan.
"Maksud kamu?"
"Aku dapat kabar dari HRD jika minggu ini akan ada banyak pengurangan karyawan, lalu aku menanyakannya pada tia. Awalnya tia tak mau menceritakan, namun aku terus memaksanya, akhirnya tia menjelaskan jika ada masalah dengan kondisi keuangan kantor yang di sebabkan oleh pengambilan dana perusahaan yang di lakukan oleh suamimu, dan kamu juga menjual beberapa asset perusahan untuk membantu persoalan kasus suamimu."Ajeng menjeda kalimatnya sesaat.
"Aku tidak percaya dengan semua yang di katakan oleh tia, makanya aku bertanya kepada ibumu, saat kami sedang mengobrol hiks..." Ajeng tidak dapat menahan airmatanya, ia benar-benar merasa bersalah.
"Kami mendengar gelas jatuh, ternyata bu ratih mendengar semua percakapan kami dan tak lama bu ratih pingsan. Maafkan aku retno." Ajeng memeluk retno dan meminta maaf kepadanya.
"Retno masuklah, ibu memanggilmu!" ucap cakra dari balik pintu ICU, cakra sudah mengenakan pakaian dokternya lengkap.
Retno pun langsung masuk kedalam ruang ICU, namun sebelum menemui ibu mertuanya, cakra meminta retno untuk mengenakan pakaian khusus dan mengingatkan retno untuk tetap tenang agar tidak mengganggu pasien lainnya.
"Ia mas." Retno mengikuti cakra dari belakang menghampiri ibu mertuanya yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Re-tno..." ucap bu ratih dengan terbata-bata.
"Ia bu." Retno menggenggam erat tangan ibu mertuanya.
"Ma-mafkan ibu, ma-maaf"
"Enggak bu, Ibu enggak salah. Ibu tidak perlu memikirkan apa-apa, ibu harus sembuh" buliran-buliran bening perlahan jatuh di wajah Retno.
"Maafkan Ibu, Nak. Lailahailallah." ucap Bu Ratih di hela nafas terakhirnya.
"Bu... ibu... ibu bangun bu..." Seketika retno pun panik melihat garis lurus di layar monitor.
"Retno tolong kamu keluar sebentar, aku dan dokter spesialis akan memeriksa ibu ratih" Cakra meminta retno untuk menunggu di luar.
Dengan wajah penuh rasa khawatir Retno pun menuruti ucapan Cakra, perlahan ia keluar dari ruang ICU memasrahkan kondisi ibu mertuanya pada Allah dan juga pada Cakra serta tim medisnya.
Tepat pukul 00.20 dini hari Ibunda Julio berpulang ke rahmatullah.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini