"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: RIAK DI BALIK KETENANGAN
Waktu bergulir membelah hari dengan langkah-langkah yang senyap, membawa setiap serpihan takdir bergerak menuju babak pengujian batin yang sesungguhnya.
Pagi itu, di bawah siraman matahari yang cerah di langit perkampungan Tapan, Pesisir Selatan, Aini memilih untuk membuang jauh-jauh sisa rasa kecewanya akibat panggilan telepon kaku dari Arga kemarin. Dengan keteguhan jiwa seorang wanita mandiri, wanita berusia 26 tahun itu mencoba untuk bersikap biasa saja. Dia bertekad bulat untuk fokus mengelola honor kontrak premiumnya yang bernilai fantastis sebesar Rp500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) demi membahagiakan kedua orang tuanya.
Di ruang tamu rumah mereka yang baru saja selesai direnovasi menjadi teramat nyaman, Aini duduk bersama Bapak dan Ibu Naya untuk berdiskusi serius. Aini berencana menggunakan sebagian uang setengah miliarnya untuk membuka sebuah usaha toko kelontong yang besar di bagian depan rumah, agar Bapak tercinta tidak perlu lagi bekerja memeras keringat terlalu keras di usianya yang kian senja.
Sang adik tercinta, Natan yang kini akan menginjak kelas 6 sekolah dasar, melompat kegirangan dengan mata berbinar-binar melihat kesuksesan kakak perempuannya yang kini telah menjelma menjadi sosok wanita berkelas yang mandiri. Di hadapan senyuman bangga Bapak dan pelukan hangat Ibu Naya, Aini mengulas tawa renyahnya yang teramat manis hingga lesung pipi kirinya menyembul dengan indah.
Namun, di balik riuhnya kebersamaan keluarga itu, ada satu sudut sunyi di hati Aini yang tetap terasa hampa, memendam sepotong kerinduan kelabu yang terkunci rapat di balik daftar pemblokiran ponselnya.
Sementara itu, garis takdir bergerak membelah jarak menuju kemegahan restoran bintang lima di puncak gedung mewah ibu kota. Di sana, Celine sedang melancarkan taktik liciknya dengan sengaja memesan tempat makan malam mewah untuk memanipulasi Arka Mahesa Pratama agar bisa melupakan sosok janda kampung yang selalu mengusik pikirannya.
Namun, rencana manis Celine seketika berantakan saat dia mulai memprovokasi abang sepupunya tersebut mengenai keberadaan Aini di kampung halaman.
Mendengar kalimat sindiran Celine yang merendahkan harga diri wanita yang dirindukannya, rahang tegas milik Arka Mahesa Pratama seketika mengeras sempurna. Pria berusia 35 tahun dengan tubuh tegap itu memperlihatkan raut wajah yang teramat geram menahan gejolak amarah cemburu yang membakar ulu hatinya. Wajah tampannya yang cerah mendadak kaku laksana es batu. Bukannya membalas dengan kata-kata, Arka justru memilih untuk diam seribu bahasa, lalu dengan gerakan tegap dia langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Celine sendirian di meja makan mewah tersebut.
Melihat Arka pergi, Celine tersenyum sinis dengan tatapan mata yang sarat akan kelicikan, lalu dengan cepat berdiri setengah berlari untuk mengejar langkah kaki lebar Arka menuju area parkir VIP luar gedung.
"Kakak! Kamu mau kemana?!" seru Celine sengaja setengah berteriak, suaranya yang nyaring memecah kesunyian koridor jalan.
"Apakah kau benar-benar tertarik dengan wanita kampung itu, Kak? Kalau memang iya, selera Anda sebagai seorang presdir raksasa ternyata teramat sangat rendah sekali!" ujar Celine memprovokasi, sengaja melontarkan kalimat pedas itu agar Arka semakin marah dan berpaling darinya.
Arka mendadak menghentikan langkah kaki lebarnya, membalikkan tubuh tegapnya secara kasar hingga sepasang mata elangnya yang tajam menatap langsung tepat ke dalam manik mata Celine dengan sorot amarah dingin yang teramat mendikte penuh wibawa.
"Bukan urusanmu, Celine! Jaga cara bicaramu denganku!" ketus Arka dengan suara beratnya yang meluncur begitu rendah namun sarat akan ancaman yang menekan batin.
Celine tersentak mundur satu langkah, namun keangkuhan egonya menolak untuk menyerah begitu saja. Dia mengulas senyuman tipisnya kembali, melangkah satu garis lebih dekat ke hadapan hidung mancung tegas milik Arka.
"Maaf, Kakak... tapi aku hanya ingin memberi tahu dan mengingatkanmu, kalau sebenarnya Egi dan Aini itu sekarang sudah menjadi sepasang kekasih di kampung halaman mereka, bahkan aku dengar mereka akan menikah secepatnya" bohong Celine memanaskan batin Arka.
"Kau adalah seorang investor terhormat, Kak. Kau tidak boleh merendahkan martabatmu hanya untuk merebut milik orang lain."
"Saya tahu!" potong Arka cepat, suaranya memotong ketus dengan dada yang bergemuruh hebat menahan rasa tidak rela yang luar biasa.
"Kakak... waktu seluruh proses syuting film kemarin selesai digelar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mesranya Aini bersama Egi, pria penulis yang—" ucapan Celin tersentak.
"Aku tidak mau mendengar kamu bicara terus, Celine!" bentak Arka secara dingin, memotong kalimat Celine dengan ketegasan mutlak yang membekukan atmosfer di sekitar mereka.
"Kalau kamu tidak mau aku tinggal sendirian di tempat ini, diam!" Perintahnya dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan ketidakpedulian.
Mendengar bentakan dingin dan kasar dari mulut pria yang selama ini menjadi sosok idaman dari semua wanita di kelas sosialnya, jantung Celine seketika terasa mencelos jatuh ke dasar bumi. Dada Celine terasa sesak dan teramat sakit luar biasa karena menyadari bahwa abang sepupu tampannya itu telah berani berlaku kasar dan membentaknya hanya demi membela kehormatan seorang wanita dari kampung. Celine seketika terbungkam seribu bahasa, menundukkan kepalanya dengan perasaan terluka yang mendalam.
Namun, di balik diamnya yang kaku saat melangkah mengikuti Arka menuju mobil mewah hitam yang sudah siaga di depan lobi, batin Celine kembali bergejolak menyusun dinding keangkuhannya sendiri dengan teramat sombong.
"Lagi pula... Kak Arka juga tidak akan pernah tahu di mana alamat pelosok janda kampung itu tinggal. Tidak apa-apa, perempuan miskin seperti dia hanyalah seonggok abu yang tidak berharga di mataku. Aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku untuk menjelek-jelekkannya lagi di depan Kakak. Karena pada akhirnya, jika aku bersaing secara terhormat, tetap akulah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Aku jauh lebih cantik, kaya, dan memiliki segalanya dibandingkan dengan wanita kampungan itu!” batin Celine menyemangati egonya sendiri dengan tatapan mata yang sinis penuh dendam.
Celine membuka pintu mobil mewah tersebut, melangkah masuk lalu mengambil posisi duduk di kursi belakang sebelah Arka dengan keangkuhan yang kembali tegak. Sementara itu, di kursi kemudi depan, Arga sang asisten pribadi sudah duduk bersiaga memegang setir mobil, perlahan melajukan kendaraan mewah tersebut membelah kegelapan malam pusat kota yang kian dingin, meninggalkan riak kesalahpahaman yang kian merampok seluruh kedamaian batin sang penguasa di bawah lensa kehidupan yang penuh rahasia.
Sebab, bagian paling berkelas dari sebuah kemandirian batin adalah ketika kamu memilih fokus membangun kebahagiaan orang tuamu lewat jerih payahmu sendiri, tanpa perlu memedulikan riuhnya taktik licik manusia yang mencoba merendahkan kelas keanggunan jiwamu; membuktikan bahwa emas yang murni akan tetap bersinar terang meskipun dilempar ke dalam tumpukan abu kesombongan.