Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya
Rei berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Namun ia dikejutkan dengan sosok Nadine yang sudah duduk di sebelah kursi pengemudi.
"Astaga! Ngapain di sini?! Gimana kamu bisa masuk?" Pekik Rei.
"Kamu pasti lupa ngunci pintu mobilnya, kan?" Tebak perempuan itu.
Ya benar, Rei lagi-lagi lupa mengunci pintu mobilnya. "Sekarang keluar, cepet"
"Kok gitu sih? Kenapa kita ga ngerayain perusahaan yang kembali jaya?"
"Apaan... Dari kemaren ga keliatan sekarang tiba-tiba minta di rayain, ga ada. Keluar!" Usir Rei kesal.
"Hehe, maaf ya. Jangan marah dong" Bujuk Nadine seraya mencolek pipi Rei.
"Din dengar, jangan bertingkah seolah kamu dan saya ada hubungan, nanti orang salah paham. Saya minta sekarang kamu keluar"
"Loh emang kenapa? Bagus dong kalau orang tau. Ayo kita makan"
"Kamu ga denger ya? Saya bilang keluar. Kalaupun saya mau merayakan tentang perusahaan, saya akan merayakan bersama istri saya!" Cecar Rei membuat Nadine kesal.
"Kamu kenapa sih jadi nempel sama dia? Kamu udah suka sama dia ya? Kamu jadi cuek deh, kesel"
"Dine, please... Keluar sebelum saya sendiri yang nyeret kamu keluar"
"Loh tapi kan" Rei keluar dari mobil, dan menyeret Nadine keluar dari mobil.
"Kamu apaan sih? Kasar banget!"
"Kamu yang apaan? Saya ini suami orang, udah deh. Saya ga mau ada urusan lagi sama kamu selain tentang kerjaan" Rei kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.
Saat masuk ke dalam rumah, Rei melihat Ran sedang menyuapi Keli di ruang keluarga. Rei berjalan mendekat dan duduk di sebelah Keli.
"Wkeliiih makan apa nih?" Tanya Rei ikut duduk di samping Keli.
"Ayam" Ucap Keli sambil mengeluarkan jari jempolknya menandakan itu enak.
"Waaah ayam kecap!" Ucap Rei dengan mata berbinar.
"Makan dulu, mas"
"Iya. Kamu sudah makan?"
"Belum, habis ini makan"
Rei berdiri dan berjalan menuju dapur. Ia mengambil sepiring nasi dengan porsi dua kali lipat tak lupa dengan lauk kesukaannya, ayam kecap. Setelah itu ia kembali ke ruang keluarga.
"Wah, mas kelaparan banget ya? Nasinya banyak banget" Ucap Ran setelah melihat gunung nasi yang Rei bawa.
"Engga, ini buat makan berdua. Ayo buka mulutnya"
"Berdua sama Ran? Habis ini Ran makan kok, nanti ambil sendiri"
"Udah terlanjur di ambilin, ayo buka mulutnya" Ran membuka mulutnya dan Rei menyuapkan sesendok nasi ke mulut Ran. Setelah itu Rei juga menyuapkan nasi ke mulutnya secara bergantian.
"Nah sudah habis. Sekarang mandi yuk?" Ajak Ran pada Keli.
"Ayoooo"
"Mas, Ran sama Keli mandi di kamar mandi bawah ya. Mas di kamar aja"
"Mau mandi bareng?" Tanya Rei yang masih sibuk menyiapkan nasi ke mulutnya.
"Iya om, Keli kalau mandi kadang baleng sama kakak"
".. Boleh ikutan ga?" Tanya Rei dengan nada menggoda.
"Hah?"
"Ga boleeeee! Kakak bolehnya mandi sama Keli! Ayo kak"
"Ais galaknya, bercanda Liii" Ucap Rei sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya sebagai tanda damai.
Jam sepuluh malam, Ran sudah selesai dengan pekerjaannya dan sudah menidurkan Keli. Ia dengan hati-hati membuka pintu kamar Rei, berharap Rei sudah tidur. Namun ternyata Rei masih terjaga dan duduk di kasur sambil memainkan ponsel.
"Baru selesai?" Tanya Rei yang menyadari keberadaan Ran.
"Um.. Iya"
"Kok lama? Sudah jam sepuluh loh" Tanya Rei.
"Mas nungguin?"
"Iya, ada yang mau saya omongin"
"Maaf buat mas menunggu. Tadi ada kerjaan di dapur"
"Sini, duduk" Rei menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Ran mendekat dan duduk di samping Rei. "Ada apa?"
"Saya, papah sama mamah ngucapin terimakasih sama kamu, berkat kamu kita bisa secepatnya bayar hutang dan gaji karyawan"
"Kan aku udah bilang mas, aku ini keluarga mas juga, punyaku ya punya mas juga"
".. Terimakasih ya. Kamu tau ga? Ini pertama kalinya loh saya ngehadapin keadaan kayak gini"
"Ga papa mas, ini salah satu cara mas untuk belajar"
"Hm, ya. Dan saya sekarang sadar, saya ini udah dewasa, bukan anak-anak atau remaja lagi. Saya minta maaf ya selama ini udah bikin kamu sedih"
"Masih aja di bahas.. Ga papa mas"
"Saya mau mulai semuanya dari awal, saya mau jadi orang yang bertanggung jawab, terutama sama kamu dan Keli. Kamu mau menerima saya, kan?" Tanya Rei serius.
".. Apa sih mas? Aku pasti nerima mas, kita kan suami istri, aku bakal selalu ada buat mas"
".. Terimakasih..."
"Iya.. Tidur yu? Udah hampir jam setengah sebelas tuh" Ran menunjuk jam dinding.
"Tadi sebelum pulang, mamah nanya tentang anak" Celetuk Rei membuat Ran diam menatapnya.
"Saya sudah seutuhnya milik kamu sekarang. Apa kamu masih belum percaya sama saya?" Tanya Rei dengan nada rendah.
".. Saya percaya kok" Sahut Ran juga dengan suara rendah.
"Saya akan menunggu kamu siap, saya ga akan paksa kamu" Ran menurunkan pandangannya, lalu mengangguk.
"Ayo tidur" Rei menarik selimut dan merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Ran.
Sedari tadi Ran mencoba untuk tertidur, namun matanya menolak. Ia masih terjaga, padahal jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia masih memikirkan kata-kata Rei tadi, ia bingung. Apakah sekarang ia harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri? Tapi ia takut.
"Ran?" Ran terkejut mendengar suara Rei yang memanggil namanya.
".. Iya?" Sahut perempuan itu.
"Kenapa belum tidur?"
"Kok dia bisa tau aku belum tidur.." Batin Ran cemas.
".. Belum bisa mas"
".. Saya juga"
"Sudah baca doa?" Tanya Ran.
"Sudah"
Tiba tiba hening, keheningan itu semakin terasa dengan adanya suara jangkrik. Tangan Rei melingkar di perut istrinya, lelaki itu membenamkan wajahnya di leher Ran.
"Tadi pagi kita lupa morning kiss" Bisik Rei tepat di telinga Ran, membuat perempuan itu bergidik.
Ran bangun dan duduk, membuat Rei ikut duduk bersamanya. "Kenapa? Kok bangun? Haus?" Tanya Rei. Perempuan itu tak menatapnya.
"Saya ga maksa kamu kok, saya ga maksud macam-macam" Jelas Rei seraya memegang lengan Ran, ingin perempuan itu menatap dirinya. Ran menoleh dan menatap Rei dalam diam.
".. Kenapa?" Tanya Rei merasa kikuk terus ditatap seperti itu oleh Ran.
"Aku ngerasa ga enak sama mamah dan papah yang sedari lama udah mendambakan seorang cucu mas" Ucap Ran, Rei diam mendengarkan.
Perempuan itu menarik napas panjang dan menghembuskannya, kemudian melanjutkan perkataannya. "Saya sudah siap mas" Ran tersenyum setelah mengatakan itu, membuat Rei diam dalam bingungnya.
"Kenapa diam?" Tanya Ran membuat Rei justru gelagapan.
"Saya malah jadi bingung" Ucap Rei lalu tersenyum kikuk.
Rei menatap Ran yang beranjak dari posisinya, perempuan itu mendekatinya dan duduk di pangkuan Rei, membuat lelaki itu tersentak dan membatu. Ran mengalungkan lengannya di leher Rei dan mencium lelaki itu terlebih dulu, membuat Rei membelalakkan matanya.
Ran melepaskan kancing piyama yang Rei kenakan satu persatu, hingga terbuka seluruhnya. Tangannya nakal menggerayangi tubuh Rei membuat lelaki itu mulai terangsang.
"R-Ran tunggu..." Rei memegang tangan nakal istrinya dan menatap Ran yang menghentikan aksinya.
"Gimana rasanya diserang duluan?" Goda Ran seraya mencolek hidung Rei.
"Ternyata kamu nakal ya.." Rei tersenyum dan mengecup bibir itu, ********** seraya membalas serangan istrinya.
Rei membawa Ran untuk merebahkan tubuhnya, ia menindih tubuh perempuan itu dan melanjutkan kegiatan mereka. Malam itu, untuk pertama kalinya mereka melakukan tugas mereka sebagai sepasang suami istri.
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘