NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Tangisan Bu Rini

Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali dibuka untuk umum pada Kamis pagi yang terik. Udara di dalam ruangan terasa sejuk oleh hembusan angin pendingin udara, namun atmosfer di dalamnya makin panas menjelang pembacaan Putusan Sela oleh Majelis Hakim.

Di barisan depan bangku pengunjung VIP, Annisa Septiani duduk tenang bersama Fandi Prasetyo dan Pak Danu. Annisa mengenakan blazer sutra berwarna krem pastel dengan garis potongan minimalis nan anggun, dipadukan dengan celana bahan berpipa lurus berwarna senada. Rambut hitamnya disanggul rapi ke belakang, memamerkan sepasang anting mutiara yang berkilau lembut diterpa lampu ruangan.

Di sisinya, Fandi Prasetyo duduk dengan postur tubuh yang tegap dan berwibawa. Pimpinan itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap. Kehadiran Fandi di samping Annisa tidak hanya menjadi bentuk komitmen atas investasi di Vantara Land, tetapi juga menjadi pelindung alami yang membuat siapapun tak berani bersikap sembrono pada Annisa.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah keriuhan di dalam ruang sidang.

"Sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memeriksa perkara pidana atas nama Terdakwa I Rian Hidayat dan Terdakwa II Eriska Wijaya dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan nada suara yang mantap.

Di tengah ruang sidang, Rian dan Eriska duduk mematung di kursi pesakitan. Keduanya mengenakan rompi tahanan kejaksaan berwarna oranye terang di atas pakaian sederhana. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Setelah peristiwa saling tuding dan adu mulut yang memalukan pada persidangan sebelumnya, pertengkaran itu menyisakan tembok kecanggungan yang amat dingin dan pekat di antara mereka.

Hakim Ketua membacakan amar Putusan Sela:

"Menimbang bahwa nota keberatan atau eksepsi yang diajukan oleh Penasihat Hukum Terdakwa I dan Terdakwa II tidak beralasan menurut hukum dan telah masuk ke dalam materi pokok perkara. Mengadili: Menolak nota keberatan dari Penasihat Hukum para Terdakwa untuk seluruhnya. Memerintahkan Penuntut Umum untuk melanjutkan pemeriksaan perkara."

Tok!

Suara palu yang menghantam bantalan kayu menandai rontoknya harapan terakhir pihak Rian dan Eriska. Putusan sela itu menegaskan bahwa persidangan akan terus berjalan langsung ke tahap pembuktian penuh dan pemeriksaan saksi-saksi kunci dari Vantara Land.

Wajah Rian kian pucat pasi bagaikan kertas. Jemarinya yang terikat borgol besi gemetaran di atas pangkuannya. Sementara Eriska di sebelahnya hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

"Sidang ditunda hingga minggu depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi dari Penuntut Umum," tutup Hakim Ketua seraya mengetukkan palunya.

Begitu Majelis Hakim meninggalkan ruang sidang, keriuhan langsung pecah di antara barisan pengunjung. Para wartawan berdesakan mengarahkan kamera ke arah Rian dan Eriska yang dipapah berdiri oleh petugas kejaksaan.

Namun, sebelum petugas sempat membawa Rian keluar melalui pintu tahanan samping, sebuah teriakan histeris memecah suasana dari barisan pengunjung bagian belakang.

"Riaaannn! Anakkuuu!"

Bu Rini menerobos barikade petugas dengan mata merah bengkak dan rambut yang acak-acakan. Wanita paruh baya itu mengenakan tunik lusuh yang tampak belum disetrika, jauh berbeda dari gaya sosialita yang dulu selalu ia banggakan. Di belakangnya, Sisil berlari dengan raut wajah panik, berusaha memegang gaun ibunya.

"Rian! Anakku!" jerit Bu Rini seraya melemparkan tubuhnya ke arah Rian, memeluk erat bahu putranya yang terikat borgol. "Aduh Gusti ... Kasihan sekali anakku. Pucat sekali mukamu, Nak!"

Rian membeku dalam pelukan ibunya. Matanya berkaca-kaca menahan rasa malu yang teramat sangat. "Ibu ... Ibu ngapain ke sini?"

"Gimana Ibu gak datang, Rian?!" tangis Bu Rini pecah, suaranya meraung-raung di dalam ruang sidang yang penuh sesak oleh awak media dan pengunjung. "Ibu gak sanggup dengar kamu mau dipenjara lama! Kamu kan tulang punggung keluarga! Ibu sama Sisil sudah diusir ke kontrakan kumuh, tidak punya uang buat makan, sekarang kamu mau ditinggal di dalam sel?!"

Sisil ikut menutupi wajahnya sambil menangis di samping ibunya. Beberapa wartawan dengan sigap merekam dan mengambil foto momen histeris keluarga tersebut dari jarak dekat.

Saat petugas kejaksaan mencoba memisahkan Bu Rini dari Rian, mata Bu Rini mendadak menangkap sosok Annisa Septiani yang sedang berdiri dari kursinya di barisan depan VIP.

Seketika, rona duka di wajah Bu Rini berganti menjadi nyala keputusasaan dan emosi yang tak terkontrol.

Bu Rini melepaskan pelukannya pada Rian, lalu berbalik dan berlari terhuyung-huyung menghampiri Annisa.

"Nisa! Annisa!" jerit Bu Rini seraya berlutut secara mendadak di atas lantai marmer, tepat tiga langkah di hadapan Annisa. "Nisa! Lihat Ibu, Nisa! Berlutut Ibu di depanmu! Tolong ampuni Rian, Nisa!"

Tangisan Bu Rini makin melengking, menarik perhatian seluruh orang di ruang sidang.

"Ibu tahu Ibu salah! Ibu ngaku khilaf pernah membentak kamu, pernah memotong uang belanjamu, pernah menyuruh kamu mencuci baju! Tapi tolong jangan hukum Rian seperti ini, Nisa! Cabut laporanmu! Kasihan Rian ... kasihan Ibu. Kamu kan pernah jadi menantu Ibu, masa kamu tega melihat keluarga suamimu hancur seperti ini?!"

Sisil ikut berlari dan bersimpuh di samping ibunya, menangkupkan kedua tangannya di depan Annisa dengan air mata yang mengucur deras. "Mbak Nisa ... tolong Mbak ... Sisil minta maaf pernah jahat sama Mbak Nisa. Kasih Mas Rian kesempatan sekali lagi, Mbak."

Pemandangan dua orang wanita yang dulu selalu bersikap angkuh, sombong, dan semena-mena kini berlutut mengemis maaf di atas lantai pengadilan membuat suasana ruangan mendadak senyap.

Annisa Septiani berdiri tegap. Ia tidak mundur satu langkah pun. Wajah cantiknya tampak sangat tenang, memancarkan keanggunan dan dominasi yang tak tergoyahkan. Tatapan mata indahnya yang bening menatap Bu Rini dan Sisil dari atas ke bawah tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di dalamnya.

Tidak ada rasa dendam meledak-ledak. Tidak ada linangan air mata. Yang ada hanyalah kedamaian dari seorang pimpinan Vantara Land yang telah sepenuhnya lepas dari ikatan masa lalu.

Sebelum Bu Rini sempat meraih atau menyentuh ujung sepatu high heels Annisa, Fandi Prasetyo dengan sigap melangkah satu tapak ke depan.

Pria itu berdiri tegap memagari tubuh Annisa dengan posturnya yang tinggi kokoh. Garis wajah Fandi yang tegas dan sepasang mata cokelat gelapnya menatap Bu Rini dan Sisil dengan aura ancaman dingin yang amat pekat.

"Ibu Rini dan Saudari Sisil," tegur Fandi dengan suara berat nan mantap yang bergema memenuhi ruangan. "Harap jaga etika dan sopan santun Anda di ruang pengadilan."

Bu Rini mendongak, menatap Fandi dengan mata membelalak ketakutan. "P-Pak ... saya cuma mau minta maaf sama menantu saya."

"Saudara Rian bukan lagi suami dari Mbak Annisa Septiani, dan Anda bukan lagi ibu mertuanya," potong Fandi dingin tanpa rasa kasihan sedikit pun. "Proses perceraian telah berjalan dan hukum pidana atas kasus penggelapan uang dua koma tiga miliar rupiah sedang berlanjut di hadapan Majelis Hakim."

Fandi melangkah satu tapak lebih maju, membuat Bu Rini dan Sisil secara refleks tersungkur mundur di lantai karena tertekan oleh aura berwibawa pria di hadapannya.

bersambung...

1
Cicih Sophiana
sudah mau masuk penjara bilang cinta... terus selama selingkuh kemana aja tuh pikiran kamu Rian... kok lupa sama istri yah 😆😆😆
Cicih Sophiana
mungkin memang itu udah takdir mu harus begitu Annisa... kan kamu nikah dgn Rian jg keinginan kamu sendiri...
Cicih Sophiana
jgn gitu dong kalian... kalian juga kan pernah ikut menikmati uang nya... teman lagi susah bukan nya membantu ini malah di bully... teman macam apa kalian
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
kok g update lagi mom 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
itulah pelakor pasti cari kaki laki yg bisa di pirotin walau udah punya istri...
Cicih Sophiana
cakep 👍 ibu dapat balasan nya yg membuat pingsan...
Cicih Sophiana
pak Ginanjar tolong saya pak... saya lapar tp tdk punya yang untuk membeli sesuatu...🫢
Mulaini
Rian dan Eriska sudah pasti dapat hukuman penjara lebih lama.
Mulaini
Rian penangguhan penahanan mu di tolak.
Teh Euis Tea
udah blangsak baru deh ngakuin nisa menantu kemarin2 nisa kalian jadikan babu
Teh Euis Tea
elehh bu rini dulu km punya rasa kemanusiaan ga waktu menindas anisa menantumu
Nar Sih
terima dan jalani nasib mu atas dosa juga kesombongan mu
Nar Sih
jalani saja nasib mu bu rini yg sombong dulu terima kenyataan hukuman untuk ank mu yg mantan suami durjana🤣🤣
Mutaharotin Rotin
kok


🥰🥰🥰🥰🥰
Cicih Sophiana
udah ngabisin uang kantor kamu Rian... sekarang kamu minta di bebaskan? mimpi aja kali
Cicih Sophiana
klo mau menyakiti dan menghina pengangguran... knp dulu kalian menikah?sebelum menikah kan mungkin kamu Rian tadinya sudah pendekatan atau pacaran kan?
Naufal Affiq
penyesalan mu rian terlambat
Naufal Affiq
lanjut mommy
Kar Genjreng
Mak jedurrrr langit runtuh seketika penyesalan bnya sudah tak ada lagi harapan pupus sudah tinggal lah kenangan dan hayalan,,, dengan wajah pucat pasi kedua manusia penghianat
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!