Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Sudahlah
Rania yang mendengar perintah mertuanya segera mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Ia mencari nomor Nadira di daftar kontak, kemudian mencoba menghubungi perempuan itu. Namun, belum sempat panggilan tersebut tersambung, terdengar suara wanita dari arah ruang tamu.
"Maaf, Bu. Sebelum itu, saya ingin memastikan bahwa Ibu sudah memahami isi pemberitahuan yang kami berikan."
Imah menoleh dengan tatapan tajam. "Saya tidak perlu memahami apa pun! Saya hanya ingin bicara dengan Nadira. Dia pikir siapa dirinya sampai berani mengusir saya dari sini?"
Wanita itu berusaha mempertahankan sikap profesionalnya. "Baik, Bu. Silakan menghubungi Nona Nadira secara langsung. Namun, saya harap Ibu tetap memahami bahwa unit ini bukan milik Ibu. Kami hanya menjalankan keputusan dari pihak yang memiliki hak atas unit tersebut."
"Memangnya saya tidak tahu!" bentak Imah. "Tapi selama ini saya tinggal di sini! Nadira itu menantu saya sendiri. Seharusnya dia tahu bagaimana menghormati keluarga suaminya!"
Jordi yang sejak tadi berdiri di samping ibunya ikut menyahut. "Benar. Lagi pula, Mas Arhan juga tinggal bersama Nadira. Seharusnya dia mempertimbangkan keluarganya sendiri sebelum mengambil keputusan seperti ini."
Wanita itu hanya tersenyum tipis. "Maaf, Pak. Namun, keputusan ini merupakan hak pemilik unit. Hubungan keluarga tidak mengubah ketentuan yang tercantum dalam perjanjian penyewaan."
Perkataan itu membuat Jordi semakin kesal. Ia melirik kedua pria bertubuh besar yang sejak tadi hanya berdiri diam.
"Kalian juga tidak perlu berdiri seperti itu! Memangnya kami ini penjahat sampai harus dijaga oleh dua orang seperti kalian?"
Salah satu pria tersebut akhirnya angkat bicara. "Kami hanya ditugaskan mendampingi petugas pengelola selama menyampaikan pemberitahuan. Jadi, mohon jangan membuat keributan."
Sementara itu, Rania yang sejak tadi mencoba menghubungi Nadira akhirnya mendapatkan jawaban. Namun, bukan suara Nadira yang terdengar, melainkan suara seorang perempuan.
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat menerima panggilan."
Rania mengerutkan keningnya. Ia mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
"Bagaimana?" tanya Imah tidak sabar.
"Nomornya tidak bisa dihubungi, Bu."
"Telepon lagi!"
"Sudah aku coba berkali-kali, tapi tidak diangkat."
Imah mendengus kesal. Ia kemudian mengambil ponselnya sendiri dan mencoba menghubungi Arhan. Berbeda dengan Nadira, panggilan kepada putra sulungnya itu langsung tersambung.
"Arhan! Kamu di mana sekarang?" tanyanya dengan nada tinggi.
Di dalam mobil, Arhan yang sedang duduk di samping Nadira melirik layar ponselnya. Ia melihat nama ibunya tertera di sana, kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, Bu?"
"Kamu harus segera pulang! Suruh istrimu membatalkan semua ini!"
Arhan menghela napas. Ia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di apartemen tersebut.
"Memangnya ada apa, Bu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Orang-orang dari pengelola apartemen datang ke sini membawa surat pemberitahuan pengosongan unit. Apa maksudnya ini? Kamu mau membiarkan ibu dan adikmu terlantar?"
Arhan memejamkan matanya sejenak. "Bu, apartemen itu milik Nadira. Selama ini dia yang membayar semuanya. Kalau sekarang dia memutuskan untuk tidak melanjutkan penyewaan, Ibu seharusnya bisa memahami."
"Apa katamu? Kamu membela istrimu lagi?"
"Arhan tidak sedang membela siapa pun, Bu. Arhan hanya mengatakan kenyataannya."
Imah langsung meninggikan suaranya. "Arhan! Dia itu istrimu! Seharusnya kamu bisa mengendalikan dia, bukan malah membiarkannya bertindak sesuka hati! Ibu ini orang tuamu!Kamu benar benar anak durhaka!"
Nadira yang duduk di samping Arhan bisa mendengar dengan jelas suara Imah dari sambungan telepon. Ia kemudian mengulurkan tangannya, meminta ponsel suaminya. Arhan menatapnya sejenak sebelum menyerahkan ponsel tersebut.
"Bu Imah," panggil Nadira begitu telepon berpindah ke tangannya.
"Nadira! Apa maksudmu melakukan semua ini? Kamu mau mengusir saya dari apartemen yang sudah saya tempati selama ini?"
Nadira tersenyum kecil. "Saya rasa pihak pengelola sudah menjelaskan semuanya, Bu."
"Kamu tidak punya hati, ya? Saya ini ibu dari suamimu! Apa kamu tidak malu memperlakukan saya seperti ini?"
"Bu, saya tidak pernah melarang Ibu tinggal di sana. Bahkan sejak awal saya sendiri yang menawarkan apartemen itu untuk Ibu tempati. Tapi sepertinya Ibu lupa bahwa semua fasilitas tersebut berasal dari saya."
Imah terdiam sesaat, tetapi kemudian kembali membentak.
"Memangnya kenapa kalau kamu yang membayar? Kamu itu sudah menjadi bagian dari keluarga ini! Sudah sewajarnya kamu membantu saya dan adik adik Arhan!"
Nadira tertawa pelan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Menjadi bagian dari keluarga bukan berarti saya harus terus memberikan semua yang saya miliki kepada orang lain, Bu. Apalagi setelah apa yang Ibu lakukan terhadap anak saya."
"Jangan membawa-bawa Naya!"
"Kenapa? Ibu tidak suka mendengarnya? Padahal justru karena Naya saya mengambil keputusan ini."
Imah menggertakkan giginya. "Kalau kamu punya masalah dengan saya, jangan libatkan tempat tinggal kami! Kamu suka ya saya lontang lantung ga punya rumah?"
"Saya tidak pernah melibatkan siapa pun, Bu. Saya hanya sedang menghentikan fasilitas yang selama ini saya berikan secara cuma-cuma. Ibu masih diberikan waktu sesuai ketentuan kontrak untuk mencari tempat tinggal lain. Jadi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa saya mengusir Ibu secara mendadak."
"Kamu benar-benar keterlaluan, Nadira!"
"Ibu yang keterlaluan! Jika ibu tidak ingin pindah dari apartemen itu, lebih baik kembalikan formulir pendaftaran sekolah Naya!"
Imah terdiam sejenak, ia menatap ke arah Jordi dan Rania. Jordi yang penasaran segera menatap ibunya.
"Nadira ingin apa bu?" tanyanya.
Imah menjauhkan ponselnya, ia menatap putranha dan menantunya itu. "Dia minta formulir pendaftaran sekolah milik Naya."
Jordi segera memutar bola matanya, "Sudahlah bu, berikan saja. Lebih penting juga apartemen ini!" tegas Jordi.
Namun, Imah menggeleng. "Kamu ini, itu sekolah termewah dan termahal. Mana mungkin ibu membicarakan Naya sekolah disana. Sekolah itu cocok dengan Arkan!"
Sedangkan Rania mencoba mencari solusi akan masalah ini, hingga ia teringat dengan apartemen di dekat sekolah. "Sudahlah bu, kita pindah saja ke apartemen yang dibelikan Nadira untuk Naya yang dekat sekolah. Dengan itu, kita tidak usah susah payah mengembalikan formulir itu!"
Imah yang mendengar perkataan Rania langsung menoleh. Ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Benar juga. Kenapa Ibu tidak terpikirkan itu sebelumnya?" gumamnya.
Jordi mengerutkan kening. "Memangnya apartemen yang dekat sekolah itu masih kosong?"
Rania mengangguk. "Seingatku masih. Bukankah Nadira membeli apartemen itu untuk Naya? Selama ini juga belum pernah ada yang menempatinya."
Imah tersenyum tipis. Ia merasa baru saja menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.
"Kalau begitu, kita pindah saja ke sana. Apartemen itu juga dibeli menggunakan uang Nadira untuk anaknya. Jadi, tidak ada salahnya kalau kita menempatinya sementara."
Jordi terkekeh mendengar perkataan ibunya.
"Benar, Bu. Lagipula, kalau kita tinggal di sana, Arkan juga bisa lebih mudah berangkat sekolah nanti."
Rania segera mengangguk. "Iya, Bu. Lokasinya juga dekat dengan sekolah. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari tempat tinggal baru."
Mereka bertiga seolah sudah sepakat dengan keputusan tersebut tanpa sedikit pun memikirkan bahwa apartemen itu dibeli khusus untuk Naya. Sementara itu, Nadira yang masih menunggu jawaban dari Imah mulai kehilangan kesabarannya.
"Bagaimana, Bu? Apa Ibu sudah memutuskan untuk mengembalikan formulir pendaftaran putri saya?"
Imah kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. "Tidak perlu terburu-buru, Nadira. Saya sedang memikirkan jalan keluarnya."
Nadira mengernyitkan kening. "Jalan keluar seperti apa yang sedang Ibu pikirkan?"
"Itu bukan urusanmu. Pokoknya, saya tidak akan mengembalikan formulir itu."
Nadira tertawa kecil. "Baiklah. Kalau begitu, saya anggap Ibu memang tidak berniat menyelesaikan masalah ini dengan baik."
"Memangnya kamu mau melakukan apa lagi?"
"Itu urusan saya, Bu. Sama seperti Ibu yang merasa berhak menentukan apa yang ingin Ibu lakukan, saya juga punya hak untuk menentukan apa yang akan saya lakukan terhadap segala sesuatu yang menjadi milik saya."
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡