Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Titin langsung meraih tubuh Mia dan memeluknya erat. "Ya Allah, Neng..." Suara perempuan itu bergetar. Tangannya mengusap punggung Mia berkali-kali. "Kenapa Edo sampai melakukan itu, Nak?"
"Apa yang sebenarnya terjadi, Neng?" timpal Ayep. Suaranya terdengar berat. "Kenapa Edo sampai menjatuhkan talak tiga?"
Mia tak lantas menjawab. Ia masih terisak dalam pelukan ibunya.
Ayep dan Titin akhirnya tidak memaksa. Keduanya hanya memberikan waktu kepada Mia untuk menenangkan diri.
Beberapa menit berlalu. Tangis Mia perlahan mereda, meski napasnya masih tersengal. Ia menyeka pipinya dengan kedua tangan, lalu menunduk. "Bu... Pak..." panggilnya lirih.
"Iya, Nak?" Titin menjawab cepat.
Mia menarik napas panjang. "Sebenarnya... Edo sudah berubah sejak sekitar satu tahun yang lalu."
Ayep dan Titin saling berpandangan. "Berubah bagaimana?" tanya Ayep.
"Dia mulai jarang pulang." Mia menelan ludah. "Awalnya cuma sesekali. Katanya lembur, ada urusan, kadang menginap di rumah temannya. Tapi lama-lama semakin sering."
Titin mengusap lengan Mia. "Terus?"
"Dia juga sudah nggak pernah lagi memberiku nafkah seperti sebelumnya." Suara Mia bergetar. "Untuk kebutuhan sehari-hari, bayar kontrakan dan cicilan motornya pun, aku harus mengandalkan uangku sendiri. Bahkan ketika aku sakit atau sedang membutuhkan sesuatu, Edo sudah nggak peduli."
Ayep mengepalkan tangan di atas pahanya. "Selama satu tahun itu kamu diam saja?"
Mia mengangguk. "Aku pikir... mungkin dia sedang banyak masalah." Mia tersenyum getir. "Aku terus mencoba memahami dia, Pak. Aku pikir kalau aku sabar, nanti Edo akan kembali seperti dulu."
Titin menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi ternyata?"
"Dia semakin jauh." Mia menunduk lagi.
"Beberapa waktu terakhir, aku mulai merasa kalau ada sesuatu yang dia sembunyikan."
Ayep mengerutkan kening. "Dan semalam kamu akhirnya tahu?"
Mia mengangguk. "Iya." Ia mengusap air matanya. "Aku tahu Edo punya perempuan lain."
Titin spontan menutup mulutnya. "Astagfirullah..."
Ayep mengembuskan napas berat. "Dia selingkuh?"
"Iya, Pak." Mia mengangguk lemah. "Semalam aku bertanya kepadanya. Aku ingin dia jujur. Tapi Edo malah marah." Suara Mia kembali mengecil. "Kami bertengkar hebat."
Titin menggenggam tangan putrinya. "Lalu?"
Mia terdiam cukup lama. "Aku dipukuli, Bu."
Titin sontak membeku. "Apa?"
Ayep pun seketika menegakkan tubuh. "Edo memukuli kamu?"
Mia mengangguk pelan. "Aku juga..." Ia berhenti. Tangannya perlahan menyentuh leher sendiri. "Dicekik sama dia."
"Astagfirullah!" Titin memekik.
Ayep langsung bangkit dari duduknya. "Mia!"
Dengan tangan gemetar, Mia menyingkap kerudungnya. Tampak bekas kemerahan yang masih terlihat di sekitar lehernya.
Ayep terdiam. Wajahnya berubah pucat, sementara kedua matanya memerah menahan emosi.
Air mata Titin berjatuhan dengan deras. "Ya Allah, Nak..." Perempuan itu buru-buru memeluk Mia. Tangannya bahkan gemetar ketika mengusap kepala putrinya.
Ayep yang melihat bekas cekikan tersebut akhirnya tak mampu lagi menyembunyikan emosinya. "Dasar lelaki kejam! Kurang ajar!"
Mia kembali menangis. "Setelah itu... dia menjatuhkan talak tiga kepadaku."
Titin memeluk Mia semakin erat. "Kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita sama Ibu?" Suara Titin pecah oleh tangis. "Kenapa kamu simpan semuanya sendirian, Nak?"
Mia terisak dalam pelukan ibunya. "Aku... aku nggak mau membuat Ibu dan Bapak khawatir."
Ayep mengusap wajahnya yang mulai basah. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Suaranya bergetar. Emosi yang sejak tadi ditahannya perlahan pecah. "Kamu pikir Bapak lebih baik nggak tahu kalau anak Bapak diperlakukan seperti ini?"
Mia menggeleng sambil menangis. "Bukan begitu, Pak..."
"Bapak..." Ayep berhenti sejenak, berusaha mengendalikan suara. "Bapak sedih kamu harus menanggung semuanya sendirian, Mia."
Titin menangis semakin deras. "Seharusnya kamu pulang kalau memang sudah nggak sanggup, Neng. Seharusnya kamu cerita sama Ibu."
"Aku takut Ibu sama Bapak kepikiran."
"Justru sekarang Ibu lebih sakit melihat kamu seperti ini," balas Titin sambil mengusap pipi Mia.
Ayep akhirnya kembali duduk dan menarik Mia ke dalam pelukannya. "Sudah, Nak. Jangan pikirkan perpisahanmu lagi. Lupakan lelaki brengsek itu. Kejadian ini harus dilaporkan ke polisi!" serunya geram.
"Tidak usah, Pak," sahut Mia cepat.
"Kenapa?" Orang tuanya bertanya kompak.
"Kalau kasus ini dibawa ke ranah hukum, prosesnya bakal panjang. Bakal butuh uang banyak juga, Pak, Bu. Sedangkan aku hanya izin tiga hari dari pabrik. Lagian, pernikahanku dan Edo tidak tercatat di negara. Kami kan hanya menikah secara agama. Ibu dan Bapak pasti sudah mengerti apa maksudku..." Mia membagi pandangan ke kedua orang tuanya secara bergantian.
Ayep dan Titin saling pandang, lalu mengangguk.
Tangis Mia makin pecah. "Maafkan aku, Bu... Pak... aku sudah membuat kalian khawatir."
"Jangan minta maaf," kata Ayep cepat.
Titin menggeleng. "Kamu tidak salah, Nak. Kalau kamu terluka, kami juga ikut sakit."
Ketiganya akhirnya larut dalam tangis. Tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada lagi tuntutan agar Mia segera menceritakan semuanya. Ayep dan Titin hanya ingin memeluk putri mereka. Sebab baru sekarang mereka menyadari bahwa selama satu tahun terakhir, Mia ternyata menyimpan begitu banyak luka seorang diri.
Setelah beberapa saat, pelukan itu akhirnya terurai. Ayep mengusap wajahnya, lalu menarik napas panjang. Tatapannya masih menyimpan kemarahan, tetapi kali ini ia berusaha menahannya.
Ayep menatap Mia dengan tegas. "Setelah salat Zuhur, Bapak akan mengajak Pak RT Aceng, Ustaz Husni, dan Wak Haji Junaedi ke Citiis."
Mia mengangkat wajahnya. "Bapak mau ke rumah orang tua Edo?"
"Iya." Ayep mengangguk mantap. "Bapak akan ceritakan semuanya kepada mereka. Tentang Edo yang sudah satu tahun berubah, tidak lagi memberikan nafkah, perselingkuhannya, sampai apa yang dia lakukan kepadamu." Titin terdiam mendengarkan. "Dan Bapak juga akan meminta bukti surat talak tertulis dari Edo," lanjut Ayep. "Kalau memang dia sudah menjatuhkan talak tiga, Bapak ingin semuanya jelas. Jangan sampai nanti akan mempersulit kamu, Nak. Bapak ingin kamu benar-bebar bebas dari dia."
Mia mengangguk pelan. "Iya, Pak."
Titin segera menyentuh lengan suaminya. "Hati-hati, Pak. Jangan pakai emosi."
Ayep menatap istrinya beberapa detik, lalu mengangguk. "Iya. Bapak akan bicara baik-baik. Walaupun Bapak ingin sekali mematahkan kedua tangan si Edo. Tapi Bapak akan menahannya."
"Iya, Pak. Kalau itu, Ibu juga ingin selali mencakar wajah si Edo. Tapi jika kita melakukannya, itu sama saja kita menyulitkan Mia. Biarlah Allah yang membalas. Yang penting sekarang semuanya jelas," ujar Titin.
Ayep kembali mengangguk. "Iya."
Titin menoleh kepada Mia. "Neng, sekarang kita ke kamar, ya. Kamu harus istirahat. Wajahmu masih pucat."
Mia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi melihat tatapan khawatir ibunya, ia akhirnya mengangguk. "Iya, Bu."
Titin menggandeng tangan Mia dan membawanya menuju kamar.
Baru beberapa langkah, Mia tiba-tiba berhenti. "Bu..."
Titin menoleh. "Kenapa?"
"Jam berapa Malik pulang sekolah?"
Titin menggeleng. "Masih lama. Hari ini dia katanya mau tanding sepak bola."
Mia mengangguk kecil. "Oh..."
"Kamu kangen sama adikmu, ya." Titin mengusap puncak kepala Mia.
Mia kembali mengangguk. "Iya, Bu."
"Dia juga katanya kangen sekali sama kamu. Mau minta jajan."
Setelah tadi terus menangis, akhirnya Mia bisa tertawa. "Dasar."
Keduanya pun tiba di kamar. Titin menyuruh Mia tidur. Setelah langkah kaki ibunya menjauh, Mia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia berniat memejamkan mata. Namun, baru saja menarik selimut, tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. "Ya Allah..." Mia membuka mata. "Hari ini aku gajian. Uangnya sudah masuk atau belum, ya?" Ia pun bangkit kembali. Tangannya meraih ponsel yang diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Mia berpikir sejenak. "Tanya Teh Neneng saja kali, ya? Dia sudah menerima slip gaji atau belum?" Ia segera membuka menu pesan, lalu mengetik. Tak lama kemudian, balasan dari Neneng masuk.
Teh Neneng: Sudah, Mi. Slip gaji kamu ada di aku. Kata Bu Susi kamu sakit, ya? Nanti pulang kerja aku ke kontrakan kamu, ya. Mau jenguk.
Mia langsung membalas. "Tidak usah, Teh. Aku pulang dulu ke Pasir Hurang."
Balasan Neneng datang hampir seketika. "Eh, kok pulang? Sakitmu parah?"
Mia menggeleng pelan sambil mengetik. "Nggak, Teh. Cuma ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan."
Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya muncul. "Masalah apa, Mia?"
Mia terdiam. Jarinya menggantung di atas layar. Ia belum siap menceritakan semuanya lewat pesan. Akhirnya, ia mengetik. "Nanti deh aku cerita kalau Teteh sudah pulang kerja."
"Oke, Mia. Awas kalau bohong."
Mia tersenyum tipis. "Iya, Teh." Sebelum meletakkan ponselnya, ia teringat sesuatu. "Oh iya, aku dapat gaji berapa, Teh?"
Tidak lama kemudian, Neneng membalas. "37, Mi."
Mata Mia langsung membesar. "Tiga juta tujuh ratus ribu..." gumamnya pelan. Tanpa sadar, kedua tangannya menangkup di depan dada. "Alhamdulillah... Ya Allah, alhamdulillah." Rasa syukur memenuhi hatinya. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca.
Gaji sebesar itu sangat berarti baginya.
Selama ini, Mia selalu menghitung uangnya dengan cermat. Untuk makan, membayar kontrakan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, sampai menyisihkan uang untuk cicilan motor Edo.
Namun sekarang, ia tidak perlu lagi memikirkan cicilan motor lelaki itu. Tidak perlu menyisihkan jatah untuk Edo lagi.
Rumah tangganya sudah berakhir.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mia merasa uang hasil kerja kerasnya benar-benar bisa ia gunakan untuk dirinya sendiri. Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Ya Allah... ternyata Engkau benar-benar sedang menyiapkan jalan terbaik untukku." Mia kembali merebahkan tubuhnya. Rasa lega memenuhi dadanya.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪