Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta Dan Tempat Berteduh
Setelah menerima vidio call Rio, Winta yang hanya sendiri masuk kamar, hatinya benar benar terluka, nasihat anaknya itu benar, tak semudah membalikkan telapak tangan jika harus meninggalkan istri dan anak untuk menikahi wanita tua yang terpaut usia cukup jauh.
Tapi apakah yang dia dan Rangga rasakan benar² cinta, dia merasa ada kontak bathin Antara dia dan Rangga, atau betul kata Rio bahwa Winta hanya pelarian saat rumah tangga Rangga tidak dalam baik² saja.
Kamar yang sepi itu terasa makin menyempit, menghimpit dada Winta hingga napasnya terasa berat. Di depan cermin rias, ia memandangi wajahnya sendiri, garis-garis halus di sudut mata yang tak bisa membohongi usia, bersanding dengan mata yang kini berkaca-kaca. Nasihat Rio seperti sembilu yang membedah kebenaran, Apakah ia benar-benar dicintai, atau sekadar menjadi pereda nyeri untuk luka orang lain?
Kontak batin yang selama ini terasa begitu nyata dengan Rangga, tatapan mata pria itu yang teduh, perhatiannya yang begitu dalam, seolah dipertanyakan keberadaannya.
Haruskah ia percaya pada getaran hatinya sendiri, atau pada logika dingin sang putra?
Saat benaknya sibuk bertarung, ponsel di atas kasur bergetar hebat. Nama Rangga terpampang di layar.
Jantung Winta berdegup kencang. Dengan tangan bergetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia sengaja tidak menyapa lebih dulu, membiarkan keheningan mengikat mereka.
"Umi? Kamu di mana? Kenapa teleponku dari kemarin susah sekali masuk?"
suara Rangga menyapa, terdengar cemas dan penuh kerinduan yang tertahan.
"Aku rindu sekali, Umi. Seminggu ini rasanya seperti siksaan."
Winta memejamkan mata erat-erat, menahan air mata yang hampir meluncur. Suara itu... suara yang selalu membuatnya merasa diinginkan. Namun kini, bayangan ucapan Rio merusak segalanya.
"Aku di rumah, Bi"
sahut Winta pelan, suaranya dingin dan datar.
Rangga tertangkap basah oleh perubahan nada suara itu.
"Kamu kenapa? Ada yang salah? Suaramu beda sekali. Apa Dinda atau anak-anakmu mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatimu lagi?"
"Tidak ada yang menyakitkan, Bi. Mereka hanya menyadarkan aku dari mimpi siang bolong," potong Winta tenang, namun sarat dengan penderitaan.
Di ujung telepon, Rangga menghela napas panjang.
"Mimpi apa maksud Umi, tolong jangan mulai menarik diri lagi. Kita sudah melewati batas itu. Kamu tahu betul apa yang dirasakan hatiku untukmu."
"Hatimu?"
Winta terkekeuh sumbang, sebuah tawa pahit yang memecah kesunyian kamar.
"Hati yang mana, Abi? Hati seorang pria yang sungguh-sungguh mencintai, atau hati seorang suami yang sedang kelelahan karena rumah tangganya dingin lalu kebetulan menemukan tempat berteduh yang nyaman?"
Hening seketika. Rangga kaget bukan main. "Apa-apaan itu, Umi? Maksudmu aku menjadikanmu tempat pelarian?"
"Memangnya bukan?" bisik Winta, kini tak mampu lagi menahan setetes air mata yang jatuh ke pangkuannya.
"Buka mata Abi. Kita terpaut usia jauh. Abi punya istri, punya anak, punya masa depan yang masih panjang. Sedangkan Umi? Umi hanya wanita paruh baya yang kesepian. Abi datang saat rumah tangga Bi sedang penuh konflik, dan Abi mengira kenyamanan yang kuberikan adalah cinta sejati. Padahal Abi cuma sedang terluka dan butuh penawar sementara!"
"Cukup, Umi!" suara Rangga meninggi, sarat dengan emosi yang tertahan dan rasa terluka karena dituduh sembarangan.
"Jangan pernah mengecilkan perasaan bi seolah abi ini pria dangkal yang tidak tahu bedanya pelarian dan cinta!"
"Tapi itu kenyataannya, Abi!" teriak Winta pelan, suaranya bergetar hebat.
"Abi tidak sedang mencintai Umi ! Abi cuma lari dari masalah bi! Nanti kalau keributan di rumah bi mereda, kalau istri dan anak Abi membutuhkan bi kembali, Abi akan sadar kalau Umi ini cuma persinggahan!"
"Umi salah besar!"
balas Rangga cepat, napasnya terdengar memburu di balik telepon.
" Umi pikir Abi mendekati Umi karena impulsif? Umi pikir Abi mempertaruhkan segalanya cuma untuk 'tempat berteduh'? Kalau ini cuma pelarian, Abi tidak akan sesakit ini tiap kali tidak mendengar suara umi ! Abi tidak akan mengabaikan ego dan harga diri Bi hanya untuk memohon agar Umi mau bertahan di sisi Abi!"
"Lalu kenapa Abj tidak selesaikan dulu masalah rumah tangga Bi sebelum datang pada Umi ?!" tembak Winta menusuk, mengangkat argumen paling mematikan dari Rio.
"Kenapa harus menyeretku ke dalam kerumitan hidup Bi? Kenapa Abi biarkan aku menanggung rasa bersalah dan dihujat orang-orang karena dianggap merusak pernikahan orang lain?!"
Pertanyaan itu menghantam Rangga tepat di dada. Pria itu bungkam sejenak, membuat saluran telepon kembali diselimuti keheningan yang menyiksa.
"Umi..."
suara Rangga menurunkan nadanya, kini terdengar begitu serak dan putus asa.
"Maaf... kalau kehadiran Bi justru memberi beban berat buat Umi. Tapi demi Tuhan, perasaan Bi ke Umi itu nyata. Batin kita tidak pernah bohong, Umi . Umi merasakannya, dan Abi juga merasakannya. Ini bukan pelarian."
"Mungkin batin kita bersatu karena sama-sama kesepian, Abi,"
bisik Winta, menyapu air matanya dengan ujung lengan baju.
"Bukan karena kita memang ditakdirkan bersama."
"Jangan ambil keputusan saat Umi sedang ragu seperti ini,"
cegah Rangga cepat, ketakutan jelas terdengar dari suaranya.
"Abu bakal ke sana sekarang. Kita bicara langsung."
"Jangan ke sini!"
tegas Winta.
"Beri Umi jarak, Bi. Dan lebih penting lagi... beri diri Bi sendiri waktu untuk menyelesaikan urusan rumah tangga Bu tanpa ada Umi di dalamnya. Kalau Abi memang pria dewasa yang bertanggung jawab, buktikan itu dulu."
"Umi, tolong."
" Abi butuh waktu."
Sebelum Rangga sempat membalas, Winta mematikan sambungan telepon itu. Ia memeluk ponselnya di dada, lalu melepaskan tangisnya yang pecah tanpa suara. Di dalam kamar yang hening, Winta meratapi takdirnya, terjepit di antara getaran cinta yang membakar dan kebenaran pahit yang tak bisa ia bantah
Bersambung