Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Selasa sore di minggu kedua kuliah, hujan deras mengguyur kawasan Jatinangor tanpa henti. Genangan air memenuhi selasar depan Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Suhu udara memburu turun, diiringi hembusan angin dingin yang membuat beberapa mahasiswa yang tertahan hujan memilih mengerumuni area kantin.
Kirana baru saja menyelesaikan kelas Teori Komunikasi Massa. Ia duduk di salah satu bangku kayu selasar bersama Nabila seraya merevisi beberapa poin draf tugas kelompok di laptopnya.
Di sebelah Kirana, duduk Aris senior sekaligus ketua kelompok Ospek-nya dulu yang kini menjadi asisten dosen untuk mata kuliah tersebut.
"Kirana, poin analisis semiotika di halaman empat ini penjelasannya sudah sangat tajam," puji Aris dengan suara hangat. Ia sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat ke arah Kirana untuk menunjuk layar laptop. "Tapi kalau kamu tambahkan referensi dari buku Roland Barthes, nilainya bisa sempurna. Buku itu ada di koleksi pribadi saya. Kalau kamu mau, nanti malam saya bisa antarkan ke tempat kos kamu."
Kirana secara halus menggeser posisi duduknya menjauh beberapa senti dari Aris, menjaga jarak aman yang sopan. Ia lalu tersenyum formal. "Terima kasih atas masukannya, Kak Aris," jawab Kirana dengan nada bicara yang teratur dan tegas.
"Untuk bukunya tidak perlu diantarkan, nanti saya bisa cari versi jurnal digitalnya saja. Lagipula, saya tidak tinggal di kosan, melainkan di rumah bersama suami saya di Dago."
Aris tersenyum tipis, ada raut tidak puas yang tertahan di matanya. "Saya tahu kamu sudah menikah, Kirana. Tapi di dunia akademis, profesionalitas itu penting. Suami kamu kan kuliah di ITB, jadwal dia pasti padat banget. Apa dia gak mengekang kamu kalau kamu selalu dibatas-batasi begini?"
Kirana hendak membalas perkataan Aris dengan tegas, namun sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, sebuah suara bariton yang sangat dikenal bergema dari ujung koridor.
"Istri saya tidak pernah merasa dikekang oleh suaminya sendiri."
Seluruh mahasiswa di selasar seketika menoleh.
Kenan melangkah mendekat membelah rintik hujan yang memercik di tepi selasar. Pria itu memegang payung hitam besar di tangan kanannya. Jas almamater ITB berwarna gading yang dikenakannya tampak sedikit basah di bagian bahu, kemeja hitamnya tergulung rapi, memperlihatkan aura dominasi yang mendinginkan suasana seketika.
Pandangan mata Kenan yang tajam seperti elang mengunci sosok Aris yang masih duduk terlalu dekat dengan Kirana.
"Sayang..." panggil Kirana terkejut sekaligus lega, berdiri menyambut kedatangan suaminya. Dia tak menyangka suaminya datang tiba-tiba, kaget jelas lah.
Kenan melangkah mendekat, menutup payungnya lalu merangkul pinggang Kirana dengan erat, sesegera mungkin menarik istrinya mendekat ke sisinya. Pengawasan Kenan berpindah pada Aris, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Ada urusan akademis lain yang belum selesai dengan istri saya, kak Aris?" tanya Kenan, intonasi suaranya rendah namun mengandung penekanan yang sangat mengintimidasi.
Aris berdiri, berusaha mempertahankan gengsi senioritasnya di depan anak-anak Fikom. "Saya cuma memberikan arahan tugas kuliah sebagai asisten dosen. Gak perlu terlalu posesif sampai menyusul ke kampus orang begini, kan?"
Sudut bibir Kenan terangkat membentuk senyuman sinis yang sangat dingin. "Membantu tugas adalah wewenang kamu. Tapi menawarkan antarkan buku malam-malam ke tempat tinggal wanita berstatus istri orang adalah hal yang melampaui batas. Saya harap kamu cukup berpendidikan untuk memahami etika dasar itu."
Kata-kata Kenan yang tajam nan telak membuat wajah Aris memerah padam. Beberapa mahasiswa baru di sekitar kantin berbisik-bisik, menyaksikan Aris yang skakmat tak berdaya di depan suami Kirana.
Kenan tidak membuang waktu lagi. Ia mengambil alih tas laptop Kirana, merapikan syal istrinya, lalu membimbing Kirana keluar menuju mobil di bawah naungan payung hitamnya.
Sepanjang perjalanan dari Jatinangor menuju Dago melalui Tol Purbaleunyi, suasana di dalam kabin sedan hitam terasa hening yang tak biasa. Hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca depan dan dengungan halus mesin mobil.
Kenan memfokuskan pandangannya pada jalanan tol yang licin. Wajahnya lurus ke depan, garis rahangnya mengeras. Tangan kirinya yang biasanya selalu menggenggam jemari Kirana di atas konsol tengah, kali ini tetap berada di roda kemudi.
“Astaga, mode cemburu on lagi” batin Kirana. Kirana melirik suaminya dari samping. Ini adalah pertama kalinya sejak mereka menikah dimana Kenan diam seribu bahasa dengan aura dingin yang begitu pekat. Ada percikan cemburu dan kekesalan yang tersimpan rapat di dalam dada pria itu.
Kirana menghembuskan napas pelan. Ia menggeser duduknya mendekat, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk melingkari lengan kiri Kenan yang sedang memegang setir.
"Sayang..." panggil Kirana halus, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kenan.
Kenan hanya diam. Matanya tetap menatap lurus ke jalanan.
"Kamu marah ya sama aku?" bisik Kirana lagi, jarinya mengusap lembut kain kemeja Kenan.
Kenan menghembuskan napas panjang melalui hidungnya, berusaha meredam emosi nya. "Aku gak marah sama kamu, Kirana."
"Tapi suara kamu dingin banget, terus dari tadi kamu diam aja..." aduh Kirana dengan nada manja nan bersalah yang sangat halus.
Kenan akhirnya melirik istrinya sejenak saat mobil memasuki area jalur lambat. Raut wajah kaku sang mantan Ketua OSIS itu melunak perlahan melihat tatapan mata Kirana yang penuh penyesalan dan kasih sayang.
"Aku cuma gak suka ada cowok lain yang coba mendekati kamu dengan alasan tugas," aku Kenan jujur dengan suara baritonnya yang serak. "Melihat dia duduk terlalu dekat sama kamu tadi... bikin dada aku panas, Sayang."
Mendengar pengakuan jujur dari suaminya yang biasanya selalu tenang dan rasional, sudut bibir Kirana mengukir senyuman manis.
Rasa cemburu kecil ini justru membuktikan betapa besarnya rasa memiliki dan rasa cinta Kenan padanya.
"Sayang, dengarkan aku ya," ujar Kirana lembut seraya menggenggam jemari Kenan yang berada di kemudi, mengangkatnya dan mencium punggung tangan suaminya dengan khidmat. "Aku tadi udah tolak tawaran dia dengan sangat tegas sebelum kamu datang. Mau ada ratusan senior atau cowok lain di Unpad, mata dan hati aku cuma buat Kenan Alister. Cuma kamu suami aku, dan cuma kamu pria yang aku cintai."
Kenan mematikan lampu sein begitu mobil tiba di garasi rumah mereka di Dago Atas. Mesin mobil dimatikan. Dalam keheningan kabin yang hangat, Kenan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Kirana.
Mata hitam Kenan yang dalam menatap lurus pada Kirana. Tanpa kata-kata lagi, Kenan merengkuh tengkuk Kirana, menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat dan posesif. Kirana menyambut pelukan itu dengan hangat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kenan yang harum.
"Maaf kalau aku terlalu posesif, Sayang," bisik Kenan di dekat telinga Kirana, nafas hangatnya menerpa kulit leher istrinya. "Aku cuma gak sanggup kalau ada orang lain yang coba mengusik milik aku."
"Gak apa-apa, Sayang. Aku malah senang kalau kamu cemburu gini... artinya kamu sayang banget sama aku," balaskan Kirana mesra, menangkup kedua pipi tegas Kenan lalu mendaratkan kecupan manis di bibir suaminya.
Kenan membalas ciuman itu dengan dalam dan hangat, menghilangkan kekesalan dan cemburu sore itu menjadi luapan kasih sayang yang kian membara.
…
Malam harinya pukul 20.00 WIB, hujan di luar telah reda, menyisakan hawa dingin Dago yang menusuk tulang. Di dalam rumah, aroma sup ayam hangat dan teh melati memenuhi ruang makan.
Setelah selesai makan malam dan belajar bersama di ruang tengah, Kenan duduk di sofa besar sambil memeriksa pesan di ponselnya. Tiba-tiba, notifikasi aplikasi pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Kenan.
Sebuah foto dikirimkan.
Foto tersebut memperlihatkan Kenan saat sedang berjalan di selasar ITB tadi siang, di mana Hanni Maheswari tampak berdiri sangat dekat seraya tersenyum manis padanya. Bersamaan dengan foto itu, terdapat pesan.
[Nomor Tak Dikenal]: "Foto ini manis banget kan? Gue denger istri lo kuliah di Unpad. Gimana kalau foto ini sampai ke tangan dia? Hanni Maheswari gak pernah main-main kalau mau mendapatkan sesuatu, Kenan."
Kenan menatap layar ponselnya dengan mata yang seketika mendingin bagai es. Namun bukannya panik atau cemas, Kenan justru tersenyum sinis. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa, melayangkan panggilan balik ke nomor tersebut dalam mode pengeras suara.
Panggilan diangkat pada dering kedua.
"Halo, Kenan? Udah lihat fotonya?" suara seorang pria dari seberang telepon yang rupanya adalah salah satu anggota tim BEM suruhan Hanni.
"Dengar baik-baik," kata Kenan dengan intonasi suara bariton yang sangat tenang namun amat mematikan. "Lo dan Hanni Maheswari boleh mencoba trik murahan apa pun. Tapi kalau Lo pikir foto manipulatif seperti ini bisa menggoyahkan hubungan gue sama istri gue, kalian salah besar."
Kirana yang baru saja berjalan keluar dari dapur membawa dua cangkir susu hangat mendengar percakapan tersebut. Ia melangkah tenang, lalu duduk tepat di pangkuan Kenan. Kenan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Kirana secara alami, mendekatkan ponselnya agar Kirana bisa mendengar.
Kirana mengambil alih ponsel dari tangan Kenan, lalu berbicara dengan suara anggun nan tegas ke arah mikrofon. "Selamat malam. Gue Kirana, istri sah dari Kenan Alister. Kirimkan foto itu ke seluruh kampus kalau kalian mau. Suami gue selalu jujur tentang setiap detil pertemuannya di ITB, termasuk penolakannya pada Hanni Maheswari. Usaha kalian sangat menyedihkan."
Tut... tut... tut…
Kirana langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan memblokir nomornya tanpa ragu sedikitpun.
Di seberang sana, di sebuah kafe mewah dekat ITB, Hanni Maheswari yang mendengarkan rekaman percakapan tersebut langsung membanting cangkir kopinya ke atas meja. Wajah cantiknya memerah padam oleh rasa malu dan kekalahan yang telak. Kirana ternyata bukanlah gadis lemah yang mudah diadu domba oleh gertakan murahan.
Di rumah Dago, Kenan menatap istrinya dengan rasa kagum yang begitu meluap-luap. Ia tidak menyangka Kirana akan merespons ancaman tersebut dengan begitu berani, dewasa, dan penuh rasa percaya padanya.
"Hebat banget istri aku..." puji Kenan dengan senyuman hangat yang membuncah.
Kirana menyandarkan dadanya pada dada bidang Kenan, melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Kan aku udah janji, Sayang. Percaya sama kamu itu harus buat aku. Kita gak bakal bisa diadu domba sama cewek manapun, termasuk Hanni Maheswari."
Kenan menatap mata Kirana yang berbinar indah dibawah pendar lampu ruang tengah. Hatinya diliputi rasa syukur yang amat dalam karena memiliki seorang istri yang tak hanya cantik rupa, tetapi juga memiliki keteguhan jiwa dan cinta yang luar biasa.
"Makasih sudah selalu percaya sama aku, Sayang," bisik Kenan tulus.
Kenan menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat mesra, penuh gairah, dan mengikat kehangatan cinta mereka di tengah dinginnya malam Kota Bandung. Pertengkaran kecil dan cobaan dari luar hari itu justru semakin memperkokoh hubungan mereka.
Bersambung…